"Yakin nggak mau dianter sampe kelas?"
Flo menghela napas panjang. Ini sudah ketiga kalinya Jayden bertanya dengan kalimat yang sama sejak keduanya memasuki gerbang sekolah. Saat ini mereka sudah sampai di anak tangga teratas, tempat mereka seharusnya berpisah karena koridor yang mereka lewati untuk menuju kelas masing-masing berbeda. Flo harus berbelok kiri dari sana sementara Jayden berbelok kanan.
Flo berdiri menatap Jayden yang memandangnya khawatir. Beberapa pasang mata menatap sinis pada Flo membuat Flo sedikit tak nyaman.
"Kan udah gue bilang, gue bukan anak TK lagi, Kak," jawab Flo.
"Itu nggak ngejamin kalo lo nggak bakal digangguin."
"Ih Kak Jay gimana sih. Katanya mau bantuin ngilangin minder gue. Kok malah khawatiran gini?" sahut Flo.
"Ya gimana gue nggak khawatir, lo nggak lihat banyak banget yang ngeliatin lo sinis gitu?"
"Udah biasa kali, Kak. Udah ah nggak usah khawatir gitu. Gue ke kelas dulu ya." Flo berbalik dan melangkahkan kaki kirinya ke koridor kiri.
"Gue anter ya." Lagi-lagi Jayden menawarkan hal yang sejak tadi ditolak Flo.
Flo menghela napas, menghentikan langkahnya dan berbalik lagi. "Nggak usah khawatir, Oke?"
Jayden menghela napas pelan sebelum akhirnya mengangguk. Flo tersenyum lalu melanjutkan langkahnya. Jayden menyandarkan punggungnya ke dinding dan memasukkan kedua tangannya di saku celana. Pandangannya terus mengikuti langkah adik tirinya itu yang semakin menjauh. Jarak antara tempat dirinya berdiri dengan kelas Flo sekitar lima belas meter, karena itu Jayden bisa dengan jelas memperhatikan Flo.
"Jay, ngapain lo di situ?"
Jayden menoleh ke sumber suara. Candra, Rian dan Glenn tengah berjalan ke arahnya. Saat sampai di depan Jayden, mereka bersalaman ala laki-laki dengan Jayden.
"Tumben lo berdua udah berangkat? Biasanya juga sebelas dua belas sama si Rio." Pertanyaan Jayden ini ditujukan untuk Candra dan Glenn yang punya kebiasaan terlambat sama seperti Rio.
Sementara Rian adalah salah satu dari mereka yang paling taat peraturan dan otaknya juga paling encer. Bahkan Rian sering memenangkan olimpiade sains karena orangtuanya merupakan juara olimpiade sains pada masa mereka.
"Sekali kali rajin boleh lah. Ya nggak bro?" sahut Glenn diikuti anggukan Candra sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Lagian si Rio juga udah berangkat," sambung Candra.
"Serius? Terus mana tuh anak?" tanya Jayden sambil mengedarkan pandangannya ke sekeliling.
"Lagi nungguin si doi. Biasa lah." Kali ini Rian yang menyahut.
Rian sudah duduk di bangku yang terletak di sepanjang koridor sambil membuka-buka buku fisika nya.
"Doi? Maksud lo ... si Flo?" tanya Jayden.
"Siapa lagi? Kali ini tuh anak beneran jatuh cinta kayaknya."
Jayden berdecak sebal. "Tau gitu tadi gue anter aja si Flo sampe kelasnya."
"Lebay amat sih Jay. Si Rio juga nggak bakalan ngapa-ngapain Flo, tenang aja kali. Lagian bukannya lo setuju kalo tetangga lo itu dideketin si Rio?"
Jayden termenung. Benar kata Glenn. Dua hari lalu saat Rio mengatakan secara terang-terangan pada mereka bahwa Rio jatuh cinta pada Flo, Jayden mengatakan setuju. Memang Jayden akui kalau Rio adalah pembuat onar dan suka mencari masalah. Tapi bukanlah tipe playboy seperti Candra dan Glenn sehingga Jayden tidak perlu meragukan kesetiaan Rio. Apalagi sikap Rio yang biasanya dingin dan anti perempuan, tiba-tiba mengatakan menyukai seseorang berarti itu memang benar-benar dari hatinya. Karena itu Jayden yakin.
"Walaupun gue ngedukung elo, tapi kalo gue liat Flo nangis sedikit aja karena elo, gue nggak bakalan tinggal diam."
Itu yang Jayden katakan waktu itu. Dan Rio hanya menanggapinya dengan terkekeh. Rio sendiri juga sudah berjanji pada dirinya sendiri bahwa ia tidak akan pernah membuat gadis yang Jayden bilang sudah dianggapnya sebagai adik sendiri itu menangis karenanya.
***
Flo berjalan pelan sambil menunduk karena sejak tadi ia menerima tatapan sinis dari beberapa pasang mata yang dilewatinya. Sekeras apapun dirinya berusaha mengabaikan itu, tetap saja itu membuatnya kurang nyaman.
Awalnya Flo kira hari-harinya di sekolah barunya ini tidak akan berbeda jauh dengan hari-harinya di sekolahnya dulu. Dimana teman-temannya menatapnya dengan tatapan aneh karena dirinya yang difabel. Kemudian setelah itu mereka akan menganggapnya hanyalah seseorang yang tidak penting yang baru saja mereka temui.
Tapi ternyata tidak di sekolah ini. Bukan hanya tatapan aneh karena dirinya yang difabel, Flo juga mendapatkan tatapan sinis terutama dari siswa perempuan di sekolah ini. Pertama, karena setiap hari dirinya berangkat dan pulang sekolah bersama Jayden sang ketua OSIS yang akan segera turun jabatan namun tetap jadi one of the most wanted in this school. Dan kedua, karena salah satu sahabat Jayden yang juga the most wanted dan paling dikagumi di antara yang lain, terus saja menguntitnya kemanapun Flo pergi membuat para fans gilanya iri dan bertekad memusuhinya. Siapa lagi kalau bukan Rio, cowok ter-menyebalkan yang pernah Flo temui.
Flo benar-benar tidak mengerti mengapa Rio Abraham yang banyak dikagumi siswa perempuan di sekolahnya ini senang sekali mengganggu ketenangannya. Sejujurnya Flo sangat tidak menyukai itu. Apalagi Rio selalu mengikuti kemanapun ia pergi seperti seorang penguntit. Dan satu lagi yang membuat Flo kesal bukan main yaitu sikap Jayden. Kakak laki-lakinya itu bukannya membuktikan ucapannya pada Rio bahwa dia tidak akan membiarkan Rio mengganggunya, malah berusaha mendekatkan dirinya dengan cowok menyebalkan itu.
Bagaimana Flo tidak kesal? Jayden bahkan mengatakan terang-terangan padanya bahwa dirinya sangat setuju dan merestui hubungan Flo dan Rio. Hubungan apanya? Flo bahkan tidak suka hanya sekedar menjadi teman cowok menyebalkan itu, apalagi lebih dari itu?
Flo yang tidak memperhatikan jalan spontan memekik saat kruk yang digunakannya menyandung sebuah kaki yang terjulur tepat di depannya sehingga membuatnya hampir terjatuh.
Hampir?
Flo bahkan baru sadar kalau dirinya tidak jadi jatuh dan hanya 'hampir'. Ia merasakan sebuah tangan memegangi bahunya sehingga dirinya tidak terjatuh.
"Hati-hati dong, Flo."
Suara maskulin yang sangat dikenalnya itu menyadarkan Flo. Flo seketika mendongak dan mendapati wajah tampan itu tengah menatapnya sambil tersenyum lebar. Spontan Flo langsung menegakkan tubuhnya. Saat hendak mengambil kruk nya yang terjatuh di lantai, Flo melihat sepatu yang dikenakan cowok di dekatnya ini sama dengan sepatu yang dengan sengaja menyandungnya.
"Untung gue tolongin."
Flo langsung berdiri tegak dan mendongak menatap tajam ke arah cowok di depannya yang baru saja berbicara itu. "Nolongin apaan? Elo yang sengaja nyandung gue."
Bukannya menjawab, Rio malah menatap Flo sambil menaikkan sebelah alisnya. "Harus ya?"
Flo mengerutkan keningnya tidak paham dengan maksud pertanyaan Rio barusan. Tapi Flo tidak ambil pusing karena sedetik kemudian dirinya langsung melangkah meninggalkan Rio.
"Harus gue gangguin dulu ya baru lo mau ngomong sama gue?" sambung Rio yang sudah menyejajarkan langkahnya dengan langkah pelan Flo.
Flo hanya berdecak sebal tanpa mengalihkan pandangannya ke arah Rio di sebelahnya. Memang benar kata Rio, sejauh ini Flo tidak pernah berbicara pada Rio. Flo lebih memilih mengabaikannya meskipun Rio terus saja berbicara banyak padanya.
"Rio!" pekik Flo saat Rio malah mencubit pipinya dan mengganti posisi jalannya menjadi berjalan mundur dan tepat di depan Flo.
"Gemes gue kalo ngeliat lo kesel kayak gini," celetuk Rio dengan terus menatap wajah Flo sambil berjalan mundur.
"Arah kelas lo tuh nggak ke sini," ucap Flo kesal.
"Orang gue mau nganter lo dulu," sahut Rio santai.
"Gue bukan anak TK," ketus Flo.
"Emang siapa yang bilang lo anak TK? Ya kali gue naksir sama anak TK."
"Bisa nggak sih lo berhenti ngeselin bentaaar aja."
"Nggak bisa."
"Mau lo apa sih?"
"Elo."
"Rio!"
"Apa?"
"Ih."
"Bilang aja seneng gue gangguin."
"Pede."
"Biarin daripada nggak pede."
Flo kembali berdecak kesal sebelum akhirnya memutuskan untuk tidak meladeni lagi laki-laki sinting di depannya ini. Ia menyesal seharusnya dari tadi dirinya memilih mengabaikannya saja seperti sebelum-sebelumnya karena ia tahu jelas bahwa tidak ada gunanya berdebat dengan laki-laki ini.
Brukk!
Flo terkejut melihat Rio yang berjalan mundur sudah jatuh tersungkur di depannya.
"Rio, kalo jalan tuh hati-hati bisa nhgak sih?!" suara wanita itu lebih mengejutkan Flo.
Bagaimana tidak mengejutkan? Bu Winda juga ikut tersungkur dengan buku-buku yang sudah jatuh berserakan di lantai. Pasti yang Rio tabrak barusan adalah Bu Winda, wali kelas Flo.
"Buku-buku ibu jadi jatuh kan," lanjut Bu Winda kesal.
Bukannya merasa bersalah, Rio malah cengengesan sambil menepuk celananya yang kotor.
"Maaf Tante nggak sengaja juga."
Kening Flo berkerut. Tante?
"Rio udah berapa kali ibu bilang? Jangan panggil Tante di lingkungan sekolah karena di sekolah ini ibu guru kamu. Nggak ngerti-ngerti ini anak di bilangin ya!"
Rio masih cengengesan sambil menggaruk tengkuknya yang Flo yakin tidak gatal sama sekali. "Iya iya maaf deh Tan...eh... Bu Winda yang cantik."
Bu Winda hanya geleng-geleng kepala sambil merapikan buku-bukunya yang berserakan. Melihat itu, Flo segera meletakkan kruk nya di lantai dan berjongkok di dekat Bu Winda.
"Saya bantuin Bu," ucap Flo sambil mengambil buku-buku itu dan menumpuknya jadi satu.
"Makasih Flo," jawab Bu Winda sambil tersenyum.
Rio yang melihat pemandangan di depannya ini malah tersenyum lebar. "Bener-bener calon pacar idaman."
Bu Winda mengerutkan keningnya mendengar ucapan Rio barusan. Wanita itu mengikuti arah pandang Rio dan tersenyum simpul.
"Flo, kamu jangan mau jadi pacarnya Rio ya. Dia tuh bandel ntar kamu disusahin melulu sama dia," ucap Bu Winda dan dibalas anggukan oleh Flo membuat Rio kesal.
"Tan...eh...Bu Winda apaan sih? Jangan pengaruhin Flo gitu deh."
"Siapa yang pengaruhin? Orang Flo-nya aja emang nggak mau sama kamu. Ya kan Flo?"
Flo membalas senyuman Bu Winda.
"Tuh kan Flo senyum artinya dia bilang iya."
Rio hanya mencebikkan bibirnya dan beranjak hendak pergi.
"Eh mau kemana kamu? Ayo bawain buku-buku Ibu ke kelas kamu. Jangan harap kali ini kamu bisa bolos pelajaran Ibu ya."
"Iya Bu," jawab Rio lesu.
Rio kemudian mengambil tumpukan buku yang sudah dirapikan oleh Flo dan berjalan mengikuti Bu Winda yang sudah berjalan mendahuluinya. Flo pun melanjutkan langkahnya menuju kelas. Flo tidak sadar jika sedari tadi tak jauh dari tempatnya, seorang gadis tengah mengepalkan tangannya dan menatap tajam ke arahnya.
***