"Yakin lo nggak mau makan, Yo?" tanya Candra sekali lagi.
Namun yang ditanya sama sekali tidak menoleh padanya dan terus memandang ke depan dengan dagu yang ditopang kedua tangannya. Dan tahukah kalian apa yang membuat Rio tidak mengalihkan pandangannya dari pemandangan di depannya? Karena pemandangan di depannya jauh lebih menarik daripada bakso yang sedari tadi ditawarkan Candra padanya.
Sementara tepat di depan Rio, seseorang yang sedari tadi terus dipandang Rio semakin merasa jengah dengan tingkah lelaki di depannya yang duduknya hanya dibatasi meja saja. Siapa lagi gadis itu kalau bukan Flo?
Ya. Saat Flo bersama kedua temannya yaitu Disa dan Gita tengah menikmati bakso mereka, lima siswa most wanted yakni Rio, Jayden, Candra, Rian dan Glenn tiba-tiba datang dan bergabung satu meja dengan ketiga siswi itu. Flo sempat melirik sebal ke arah Jayden sedangkan Jayden malah membalasnya dengan cengiran lebarnya.
Dan beginilah sekarang. Saat keempat temannya tengah menikmati bakso masing-masing, Rio yang memposisikan duduknya tepat di depan Flo malah menopang dagu sambil terus memandangi Flo yang sedang makan. Membuat selera makan Flo jadi hilang seketika.
"Gue nggak perlu makan deh kayaknya. Ngeliatin Flo aja udah buat energi gue full jadi nggak perlu makanan lagi."
Sahutan Rio itu benar-benar membuat Flo merasa mual seketika. Sedangkan Jayden, Candra, Rian, Glenn, dan Gita hanya geleng-geleng kepala sementara Disa menanggapinya dengan pura-pura mau muntah.
"Lo beneran Rio kan? Jangan-jangan lo kesambet Mbak Kunti lagi," celetuk Glenn sambil terus menggoyang-goyangkan bahu Rio.
"Apa sih Glenn ganggu aja lo," sahut Rio.
"Abisnya gue kayak nggak percaya aja kalo lo bener- bener temen kita-kita. Sumpah lo beda banget sama Rio Abraham yang kita kenal," sahut Glenn dengan nada bicara yang dibuat-buat. Gita yang melihat tingkah cowok yang ditaksirnya itu hanya tertawa cekikikan.
"Tapi beneran loh gue juga nggak nyangka si Rio yang biasanya dingin sama cewek bisa ngegombal juga," sahut Rian sambil membetulkan letak kacamatanya.
"Iya gue juga nggak nyangka. Sejak kapan lo jadi ketularan gombalnya si Glenn sama Candra? Jijik gue!" sahut Disa.
Ya memang dari sekian banyak perempuan yang mengagumi Rio, hanya Disa satu-satunya yang selalu menunjukkan sikap jengahnya pada Rio. Dan mungkin sekarang bertambah satu, yaitu Flo.
"Sejak gue nemuin tulang rusuk gue yang ilang," sahut Rio enteng tanpa mengalihkan pandangannya dari wajah Flo.
"Iya beneran Rio kok jadi berubah gitu ya? Ih jadi tambah gemes deh gue." Kali ini Gita yang menyeletuk.
"Jadi cuman Rio aja nih yang ngegemesin? Gue enggak gitu?" tanya Glenn pura-pura marah pada Gita.
"Nggak gitu juga. Glenn tetep paling keren dan ngegemesin buat Gita." Gita tersenyum manis pada Glenn membuat Glenn terkekeh pelan.
"Lo hebat Flo bisa ngebuat Rio lebih hidup sekarang. Kalo nggak ada lo mungkin sampe sekarang gue masih nganggep dia suka sesama jenis. Kita harus banyak berterimakasih sama Flo kayaknya atau kalo perlu kita syukuran sekalian," sahut Candra menggebu-gebu dan langsung dihadiahi jitakan di kepalanya oleh Rio.
"Sialan lo kira gue gay?" ucap Rio kesal.
Candra hanya menyengir lebar.
"Kali aja kan?" balas Candra tanpa merasa bersalah sedikit pun membuat Flo mau tak mau jadi ikut tersenyum tipis.
"Senyum lo manis juga Flo." Rio tersenyum lebar menangkap senyum tipis Flo.
Flo memutar bola matanya dan menghembuskan napas panjang. Jika saja dirinya seberani itu, pasti ia sudah menumpahkan kuah bakso ke wajah lelaki menyebalkan ini. Flo sebenarnya ingin segera keluar dari kantin ini tapi ia juga merasa tidak enak karena Disa dan Gita belum juga menghabiskan makanannya. Flo benar-benar tidak nyaman dengan sikap Rio itu.
"Udah Flo mending lo jadian aja sama Rio. Jarang loh Rio bisa romantis gini," bisik Gita yang duduk di samping kiri Flo.
Flo mengernyit menatap Gita.
"Jangan Flo. Rio tuh nyebelin tau. Lo bisa ilfeel lama-lama sama dia. Gue aja jijik sama dia," bisik Disa yang duduk di samping kanan Flo.
"Jangan dengerin Disa."
"Jangan dengerin Gita."
"Dengerin gue aja."
"Dengerin gue aja."
Flo jadi merasa geli sendiri dengan kedua temannya itu. Seolah-olah mereka adalah setan dan malaikat yang membisiki manusia untuk berbuat sesuatu.
"Lo berdua bisikin apaan sih ke Flo?" tanya Candra.
"Kepo!" jawab Gita dan Disa bersamaan membuat semua yang duduk di meja itu tertawa.
"Emang beneran ya Flo kalo si Rio temen lo pas SD?" tanya Rian diikuti anggukan dari Candra dan Glenn.
Mereka memang sudah mendengar jawaban dari Rio, tapi tidak akan puas jika tidak mendengar langsung dari Flo juga.
"Kakak kelas," jawab Flo singkat.
"Kok sekarang bisa sama-sama kelas tiga?"
Semua orang di meja itu juga terheran-heran, tak terkecuali Rio sendiri. Rio sendiri juga heran mengapa dirinya bisa setingkat dengan Flo. Sedangkan Jayden hanya santai sambil menikmati makanannya, karena Jayden sendiri sudah tahu alasannya.
"Rio pernah tinggal kelas kali," celetuk Disa.
"Enak aja lo ngomong. Gini-gini gue gak pernah tinggal kelas kali," sahut Rio tak terima.
"Terus apaan dong alasannya?" tanya Disa mencibir Rio.
"Gue ikut program akselerasi pas SMP," jawab Flo.
Ya, Flo memang mengikuti program akselerasi saat SMP. Alasan utamanya mengikuti program itu karena ia ingin cepat-cepat lulus SMP karena masa-masa SMP adalah masa terberatnya dimana dirinya dibully habis-habisan oleh seniornya saat dirinya kelas satu hingga hampir kehilangan nyawanya sendiri. Karena itu Flo berusaha lulus dari tes akselerasi meski ia harus memeras otaknya dengan keras.
Dan akhirnya itu membuahkan hasil. Dirinya ikut terpilih bersama dua puluh sembilan siswa lainnya untuk dipisahkan dari kelas umum dan dikumpulkan di kelas khusus akselerasi.
Pembelajaran pada kelas akselerasi memang berbeda dari kelas pada umumnya. Jika satu semester dalam kelas umum memakan waktu enam bulan, maka di kelas akselerasi hanya memakan waktu empat bulan. Itu artinya tiga tahun di kelas umum sama dengan dua tahun di kelas akselerasi.
Sebenarnya saat di SMA, Flo juga ingin mengikuti program yang sama tapi sayang SMA nya yang dulu tidak menyelenggarakan program itu.
"Pinter dong lo berarti," sahut Candra.
"Berarti lo sepantaran sama gue juga. Pas SMP kan gue juga ikut akselerasi. Seneng gue akhirnya ada yang nemenin jadi yang paling muda dibantara abang-abang ini," sahut Rian tersenyum lebar dan langsung dijitak bergilir oleh Rio, Glenn dan Candra.
"Nggak sekalian lo juga jitak gue Jay?" tanya Rian kesal.
Jayden yang tadinya diam akhirnya ikut menjitak kepala Rian membuat Rian mencebikkan bibirnya. Gita dan Disa cekikikan sementara Flo hanya tersenyum tipis.
Byurr!
Flo memekik kaget saat baju seragamnya tiba-tiba tersiram sesuatu dari atas. Sepertinya itu kuah bakso karena Flo bisa mencium aroma kaldu sapi dan bajunya kini bernoda merah karena saus dalam kuah itu. Flo pikir mungkin ini balasan karena tadi dirinya sempat berpikir untuk menumpahkan kuah bakso pada Rio tapi sekarang dirinya sendiri yang malah tertumpahi kuah bakso.
"Lo nggak punya mata, hah?!"
***