Flo terus memandang keluar jendela mobil selama perjalanan ke sekolah. Ini hari kedua dirinya masuk ke sekolah itu sebagai seorang murid. Ia sedang berusaha menyiapkan mental untuk kejadian-kejadian tak terduga yang mungkin akan terjadi padanya di hari-harinya ke depan.
"Ngelamunin apa sih, Flo?"
Flo menoleh pada Jayden yang sedang fokus mengemudi. Ya, selama bersekolah dirinya akan selalu berangkat dan pulang bersama Jayden. Sedangkan Chika berangkat sendiri dengan mobil lain. Jayden dan Chika memang sudah diberi mobil sendiri oleh Arya saat usia mereka genap tujuh belas tahun, tepatnya tiga bulan yang lalu. Setelah mendapatkan kartu SIM, mereka langsung diberi kepercayaan untuk mengemudikan kendaraan sendiri.
"Nggak ada," sahut Flo.
Flo mengambil ponsel dari dalam tas selempang yang ia letakkan di pangkuannya. Ada satu notifikasi Line masuk.
Disa Elmira: Flo, pelajaran pertama gue gak di kelas soalnya ada rapat OSIS sama anggotanya juga. Gue anggota OSIS juga soalnya.
"Siapa Flo?" tanya Jayden.
"Disa. Dia bilang pelajaran pertama nggak di kelas. Katanya dia ikut rapat juga."
Jayden mengangguk lalu mengalihkan pandangannya ke depan lagi. Flo segera mengetik pesan balasan pada Disa.
Flora Renata: oke.
Disa Elmira: tapi lo gak papa kan sendirian di kelas?
Flora Renata: gue gak sendiri. Gue sama dua puluh sembilan penghuni XII IPA-2 ?
Disa Elmira: maksud gue bukan itu, Flo. Ish gue makan juga lo! ?
Flo tersenyum geli membayangkan raut wajah Disa yang kesal.
Flora Renata: iya gue ngerti. Gak usah khawatir kan selesai rapat lo bisa nemenin gue lagi.
Hati Flo tersentuh, pasalnya sebelum ini tidak ada satupun teman yang mengkhawatirkannya seperti ini. Flo merasa sangat bersyukur karena bisa langsung akrab dengan Disa dan Gita meskipun baru sehari mereka berkenalan, padahal selama ini dirinya sulit akrab dengan orang yang baru dikenalnya. Flo sadar dirinya bukanlah jenis tipe orang intovert yang sengaja menjauhkan diri dari orang di sekitarnya. Karena sebelum keadaan dirinya berbeda, dirinya termasuk gadis yang periang.
Flo menyimpan kembali ponselnya dalam tas. Ia mendongak dan ternyata mobil Jayden sudah terparkir di parkiran sekolah. Flo segera membuka sabuk pengamannya sementara Jayden sudah keluar dan berjalan memutar menuju pintu penumpang depan. Jayden membukakan pintu untuk Flo setelah sebelumnya mengambil kruk yang diletakkan di jok belakang. Flo segera menapakkan kaki kirinya dan meraih kruk dari Jayden lalu mulai berdiri. Jayden tampak sangat sabar dan telaten membantu adiknya itu.
Suasana sekolah masih sangat sepi, maklum baru pukul setengah tujuh pagi. Karena itu belum banyak siswa yang datang, kecuali beberapa motor yang sudah terparkir di parkiran. Tampaknya pemiliknya juga sama seperti Jayden, yaitu akan mengikuti rapat OSIS. Flo ddan Jayden berjalan beriringan, dengan Flo yang berjalan lambat dan Jayden yang sengaja melambatkan jalannya. Mereka sudah sampai di koridor depan ruang guru.
"Jay!"
Keduanya berhenti melangkah dan mendongak ke arah pemilik suara. Flo sepertinya pernah melihat siswa ini, kalau dirinya tidak salah ingat siswa ini bernama Candra, salah satu dari teman Rio yang sempat mengganggunya kemarin.
Candra menatap Jayden dan Flo bergantian. Saat menatap Flo, tatapan Candra langsung tertuju lama pada kaki kanan Flo. Flo menunduk, sudah terlalu biasa menerima tatapan seperti itu. Jayden yang sadar siapa yang Candra perhatikan, berdehem membuat Candra tergeragap. Laki-laki berkacamata itu mengalihkan pandangannya pada Jayden.
"Kenapa lo manggil gue?" tanya Jayden.
"Oh itu lo udah ditungguin sama Pak Budi di ruang OSIS buat nyiapin rapat ntar," jawab Candra sesekali melirik Flo membuat Flo merasa risih.
Jayden menghela napas panjang. "Baru jam setengah tujuh juga."
"Lo lupa kalo masih jadi ketua OSIS?" sindir Candra.
Jayden menoleh ke arah Flo. Awalnya tadi dirinya ingin mengantar Flo sampai depan kelas.
"Udah sana ke ruang OSIS," suruh Flo pelan.
Ia tidak suka suaranya didengar laki-laki yang belum dikenalnya sama sekali.
"Lo nggak papa ke kelas sendirian?"
Candra sedikit tersenyum mendengar kata-kata Jayden itu. Flo jadi merasa malu kalau seperti ini. Ia akui kalau dirinya memang punya sifat minder, tapi bukan berarti ia kemana-mana harus diantar kan? Memangnya dirinya anak TK apa?!
"Gue bisa sendiri, Kak. Udah deh Kak Jay masuk aja ke sana, aku bisa sendiri kok," ucap Flo.
Jayden memegang pundak Flo. "Ntar kalo ada yang gangguin langsung sms gue." Flo mengangguk. "Kalo ada yang ngomong kasar sama lo, ngomong gue."
Flo menghela napas pelan. "Masih sepi, Kak. Belum ada yang dateng."
"Kali aja ada trouble maker yang udah dateng terus gangguin lo."
"Ck elah Jay lebay amat sih lo. Dia tuh cuman ke lantai dua bukan balik ke rumah," celetuk Candra sambil tertawa.
Jay hanya mendengus. Kalau dipikir-pikir, ucapan Candra ada benarnya juga. Kenapa kakaknya itu jadi se-lebay ini sih? Katanya mau bantu menghilangkan sifat minder Flo, kok malah jadi khawatiran begini?
"Dan soal trouble maker, kayak lo nggak pernah gangguin murid lain aja. Lo kan sepaket ama kita-kita," lanjut Candra.
Flo terkejut dengan ucapan Candra barusan. "Jadi Kak Jay trouble maker juga?"
Flo menyipitkan matanya menatap Jayden membuat Jayden hanya menyengir.
"Dikit, Flo," ucap Jayden sambil mendekatkan jari telunjuknya dengan ibu jari.
Flo menghela napas panjang. "Udah sana ntar dimarahin pak Budi loh."
Jayden akhirnya mengangguk pelan.
"Ya udah gue pergi dulu ya. Lo hati-hati," ucap Jayden sambil mengusap puncak kepala Flo pelan.
Saat Jayden melakukan itu, Flo sempat melirik Candra sekilas. Candra memandang mereka berdua dengan kening berkerut. Jayden pun berjalan bersisian dengan Candra. Flo menatap punggung mereka yang semakin menjauh lalu melanjutkan langkahnya menuju tangga.
"Dia siapanya lo sih? Mesra banget," celetuk Candra sambil merangkul pundak Jayden.
"Kepo!" sahut Jayden.
"Gue emang kepo, napa emangnya? Abis tingkah lo sama dia tuh bikin curiga. Jangan-jangan Rio bener ya, kalo dia cewek lo?"
Jayden menoyor kepala Candra pelan. "Gue kan kemaren udah bilang kalo dia bukan cewek gue." tapi adek gue.
"Terus kenapa lo segitu khawatirnya sama ... siapa tuh namanya?"
"Flo," sambung Jayden.
"Iya ... Flo. Apa alasan lo care banget sama dia?"
"Gue udah dikasih amanah sama bokap nyokap nya dia buat jagain dia selama sekolah di sini," sahut Jayden saat keduanya masuk ke ruang OSIS.
Jayden merasa tidak berbohong karena memang benar kan kalau Arya menyuruhnya menjaga Flo? Jadi ia tidak berbohong. Lagipula, kenapa sih Chika harus semenyebalkan ini? Flo bukan kotoran yang harus disembunyikan dari siapa pun. Dia adik mereka. Adik kandung, meskipun bukan lahir dari Maya. Tapi tetap saja kan, Chika sangat keterlaluan kalau memperlakukan Flo seperti itu. Bagaimana pun keadaan dan statusnya, mereka adalah keluarga yang harusnya saling melindungi.
Ah, saudara kembarnya itu memang sangat batu. Seharusnya Flo saja yang jadi kembaran Jay, kan?
***