Sudah hampir lima menit Flo berdiri tak jauh dari anak tangga terbawah. Wajahnya diliputi rasa kebingungan. Ia tak tahu harus melanjutkan langkahnya atau tetap berdiri dulu di tempatnya. Tadi saat dirinya hampir sampai di bawah tangga, Flo melihat dua orang siswa tengah duduk di tengah-tengah anak tangga. Flo ingat mereka adalah dua orang siswa yang juga teman Rio. Salah satu dari mereka, yang berkacamata, duduk di tengah-tengah anak tangga dan meletakkan sebuah buku di pangkuannya. Tampaknya ia fokus pada tulisan di buku itu. Sementara yang satunya lagi, menyandarkan punggungnya di pegangan kiri tangga dengan siku bertumpu pada pegangan tangga itu dan matanya fokus pada ponsel di tangannya.
Flo menggigit bibir dalamnya. Ia bingung harus lanjut atau tetap berdiri di sana menunggu mereka pergi. Tapi kapan perginya? Flo sedikit menyesal mengapa tadi dirinya tidak menerima saja saat Jayden bersikeras untuk mengantarnya sampai di kelas. Pasti tidak akan jadi seperti ini kalau dirinya bersama Jayden.
Flo menatap jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Tidak lama lagi pasti banyak murid yang akan berdatangan. Flo tidak suka berjalan beriringan dengan teman-teman yang cenderung merendahkan itu.
Flo memejamkan matanya sejenak, lalu melangkahkan kruknya pelan mendekati tangga. Sepertinya kedua laki-laki di depannya belum menyadari kehadirannya. Flo menggenggam pegangan tangga bagian kiri dan tangan kanannya menggenggam erat pegangan kruk. Kaki kirinya mulai menaiki ( lebih tepatnya meloncati) satu anak tangga terbawah.
Tok.
"Hai!"
Flo segera menunduk mendengar siswa yang memegang buku bersuara. Sepertinya mereka menyadari kehadirannya dari suara ketukan tongkat penyangga yang dipakainya saat bersentuhan dengan lantai. Flo menunduk dalam-dalam dan tetap melanjutkan langkahnya.
"Lo anak baru yang kemaren kan?"
Flo berhenti di anak tangga ke lima dan mendongak. Siswa berkacamata itu menatapnya dan berdiri tepat dua anak tangga diatas Flo berdiri. Buku yang tadi dibacanya sudah ia masukkan ke tas yang disampirkan di bahu kirinya. Sementara siswa yang satunya masih sibuk berkutat pada ponselnya dan Flo bisa melihat earphone yang terpasang di telinganya.
"Kalo nggak salah nama lo ... Flo, kan?" tanya siswa itu lagi.
Flo tidak heran kenapa cepat sekali dirinya dikenal. She different!
Flo mengangguk singkat setelah terdiam lama. Ia kembali melanjutkan langkah dan berhenti satu langkah di bawah siswa yang menyandarkan punggungnya di pegangan tangga.
"Permisi, gue mau lewat." Kata-kata itu memantul di dinding hati Flo karena mulutnya sama sekali tak bersuara.
Ia merasa aneh jika harus berbicara lebih dulu pada orang lain, apalagi teman laki-laki. Jujur, terakhir kali dirinya akrab dan nyaman berbicara dengan teman laki-laki adalah saat dirinya masih SD. Itupun tak seakrab teman-teman perempuannya saat berbicara dengan makhluk berbeda jenis dengannya itu. Dan sejak masuk SMP, dirinya benar-benar tidak pernah berbicara dengan teman laki-laki. Bagaimana mau berbicara dengan laki-laki? Dengan teman perempuan saja dirinya jarang berbicara. Katakanlah dirinya aneh, karena memang itulah kenyataannya. Dirinya cukup sadar diri untuk tidak memulai pembicaraan dengan orang-orang yang jelas-jelas tidak ingin berbicara dengannya. Jadi Flo memilih menjauhkan dirinya dari mereka meski itu artinya dirinya hanya ditemani kesepian, sesuatu yang sejujurnya tidak ia sukai.
"Gue Rian."
Flo mengerjap mendengar suara siswa berkacamata yang kini sudah berdiri satu anak tangga dengannya dan tersenyum padanya. Rian mengulurkan tangannya untuk menyalami Flo. Pikiran Flo mulai berspekulasi. Ia curiga antara membalas uluran tangan itu atau membiarkannya saja. Pasalnya, ia agak takut jika Rian hanya berniat untuk menjahilinya saja mengingat dia juga anggota geng trouble maker Rio. Tapi kalau Rian benar-benar berniat berkenalan, nanti dirinya dianggap sombong kalau tidak membalas uluran tangannya.
Dengan sedikit ragu, Flo mengapit kruk nya dan membalas menyalami Rian.
"Flo," ucap Flo pelan sambil langsung menarik tangannya.
Tatapan Flo beralih ke arah teman Rian yang masih menghalangi jalannya sambil asyik mendengarkan lagu. Ia menggigit bibir dalamnya. Tiba-tiba tanpa aba-aba, Rian menarik tangan temannya ke arahnya.
"Gila lo, Yan! Ngapain sih tarik-tarik gue gini?"
Rian tidak menjawab gerutuan temannya, malah menunjuk Flo dengan dagunya. Temannya itu mengikuti arah pandang Rian dan manggut-manggut. Melihat jalannya sudah tidak dihalangi lagi, Flo segera melangkahkan kaki kirinya melanjutkan langkahnya tanpa mengucapkan apa-apa pada dua siswa yang sedang memperhatikannya. Flo tidak ingin berada di dekat laki-laki jadi dirinya ingin segera pergi dari sana.
***
Di atap sekolah, seorang siswa laki-laki sedang duduk di bangku panjang yang diambilnya dari gudang sekolah. Menyilangkan kedua kakinya dan melipat kedua tangan di depan d**a. Kedua bola mata hitamnya menatap langit yang sedikit tertutup awan. Percakapannya semalam lewat telepon dengan salah satu sahabatnya masih terngiang di kepalanya.
"Jay, lo kenapa sih tadi siang? Kayak bukan lo banget," ucapnya semalam sambil menempelkan ponsel ke telinganya.
"Gue lagi kesel aja sama si Chika."
Rio memutar bola matanya. Ia tahu Jayden sedang kesal dengan saudara kembarnya itu makanya Jayden sempat memarahi Chika di hadapan semua teman-temannya di kantin tadi siang. Rio tahu kejadian itu karena awalnya dirinya berniat mengikuti Flo tapi malah melihat kejadian langka dimana Jayden yang kalem bisa marah-marah seperti itu. Dan dirinya menelpon Jayden karena ingin tahu alasannya.
"Sekesel apapun lo sama adek lo itu, nggak pernah lo ngebentak dia di depan banyak orang. Apa ini karena Flo?" tanyanya.
Rio berteman dengan Jayden dan Chika sejak masuk SMP jadi dia sudah menganggap keduanya seperti saudara. Jayden di seberang sana tidak menyahutnya.
"Emang Flo itu siapanya lo sih? Sampe segitunya ngebela dia," ucap Rio lagi. Ia sedikit sebal saat mengatakan itu.
"Gue cuma nggak suka Chika ngerendahin orang lain."
"Dan Flo? Siapanya elo?" Rio mengulang pertanyaannya lagi. Sebenarnya dirinya juga cukup penasaran juga dengan hubungan antara Jayden dan gadis yang pernah dikenalnya itu.
"Tetangga," sahut Jayden setelah diam cukup lama.
"Cuma tetangga?"
"Dia udah kayak adek gue sendiri."
Rio tersenyum miring. "Lo suka sama Flo?"
Rio mengernyit mendengar Jayden terkekeh di seberang sana. "Lo tau gue sukanya sama siapa."
Rio mendesah lega. Mendengar Flo dan Jayden hanya sebatas tetangga membuatnya merasa beban yang sejak tadi mengganjal di hatinya menghilang. Ia tahu apa alasannya. Ya tentu saja karena tidak akan ada kemungkinan untuk bersaing dengan sahabatnya sendiri. Karena bagaimanapun, ia benci kekalahan. Di sisi lain, ia juga tidak mau bermusuhan dengan sahabat. Akan sangat sulit jika Jayden juga menyukai Flo. Tapi ternyata tidak. Ia bisa bebas melanjutkan keinginan hatinya yang sejak dulu terpendam sangat dalam.
Lamunan Rio buyar saat ponsel yang dia letakkan di bangku bergetar singkat pertanda ada pesan masuk.
Glenn Januar: doi udah naik ke kelas tuh
Kedua sudut bibir Rio terangkat. Ia segera berdiri dan berjalan meninggalkan atap sekolah sambil memasukkan kedua tangan di saku celana.
Wait me, Flora Renata.
***