Flo memijat pelan lutut kirinya yang terasa pegal. Meloncati lima belas anak tangga ternyata cukup melelahkan juga. Mungkin lututnya sedikit kaget pasalnya sebelumnya di sekolah lama dirinya tidak perlu melewati tangga untuk bisa sampai di kelas. Setelah merasa agak baikan, Flo melipat kedua tangannya di atas meja lalu menyandarkan kepalanya di dinding tepi kusen jendela yang ada tepat di samping tubuhnya dan memejamkan matanya. Ia ingin istirahat sebentar karena semalam tidurnya tidak terlalu nyenyak karena mimpi itu datang lagi. Entah mengapa semenjak ibunya meninggal, mimpi itu semakin sering datang mengganggu tidurnya.
Suara maskulin orang berdehem itu membuat Flo membuka matanya. Baru terhitung tiga menit saat dirinya mulai memejamkan matanya. Dan saat kelopak matanya terbuka, matanya langsung terbelalak melihat seorang laki-laki tengah menatapnya lekat sambil tersenyum lebar.
Dia adalah Rio. Ya, Rio.
Setelah meninggalkan atap sekolah, Rio berjalan menuju kelas Flo. Untuk apalagi jika bukan menemui gadis yang kedatangannya kemarin ke sekolah membuatnya penasaran setengah mati. Memang itulah alasannya hari ini berangkat pagi-pagi sekali. Kalau tidak, mana mungkin dirinya rela terpisah dengan bantal kesayangannya yang sudah seperti magnet dan selalu menempel dengan kepalanya dan baru mau berpisah setelah pukul tujuh pagi?
Ia memang sudah bertekad untuk mendekati Flo apalagi saat ia merasa sikap Flo jauh berbeda dengan Flo yang dulu dikenalnya. Flo yang sekarang jauh lebih tertutup dan pendiam meskipun dulunya Flo juga bukanlah tipe gadis yang mudah bergaul dengan orang yang baru sehari dikenalnya. Dulu Rio bahkan harus rela ikut bermain dengan Nindi, sepupunya yang notabene perempuan dan sangat akrab dengan Flo, hanya untuk bisa kenal dan sedikit akrab dengan Flo. Jika bukan karena ingin lebih dekat dengan gadis pemilik lesung pipit di pipi kiri itu, mana mau Rio menekan sedikit gengsinya bermain dengan Nindi yang gila Barbie itu.
Entah kenapa saat Rio pindah ke rumah neneknya dan bersekolah disana, Rio yang saat itu baru menginjak kelas dua SD sangat tertarik untuk dekat dengan Flo yang hanya adik kelasnya sendiri di sekolah barunya. Seperti ada sesuatu yang membuatnya ingin berteman dengan seorang Flora Renata, padahal sejak kematian mamanya, seorang Rio Abraham tidak pernah peduli dengan apapun di sekitarnya. Dia hanya peduli pada buku-buku yang tampak lebih menarik perhatiannya.
Bahkan saat rasa penasaran yang begitu menggebu pada Flo kecil, Rio tetap bersikap seperti Rio yang cuek dan dingin di depan gadis kecil itu meski sebenarnya setiap gerak-gerik gadis itu selalu ia perhatikan. Tadi setelah sampai di depan kelas Flo, Rio sedikit mengintip dari jendela kaca untuk mencari sosok Flo. Ia hanya ingin memastikan, bisa saja kan Glenn dan Rian yang ia suruh berjaga di tangga hanya membohonginya saja?
Rio bertanya-tanya bagaimana bisa Flo setingkat dengannya padahal saat SD, kelas Flo satu tingkat di bawahnya. Namun rasa penasarannya ia singkirkan sebentar saat matanya menemukan sosok Flo yang tengah duduk menyandarkan kepalanya tepat pada dinding samping kusen jendela dengan kedua mata terpejam. Rio membuka jendela perlahan berharap Flo tidak terganggu kemudian menaruh dagunya di kusen jendela.
Rio menatap wajah Flo tanpa berkedip. Bulu mata lentiknya, alis tipisnya, hidung yang tidak terlalu mancung dan terakhir bibir tipisnya. Rio merasa terhipnotis yang benar-benar terhipnotis oleh wajah di depannya ini. Menurutnya Flo memiliki penampilan wajah yang pas. Cantiknya pas, tidak berlebihan. Manisnya pas, tidak berlebihan. Mungilnya juga pas, tidak berlebihan. Ya semuanya pas, sama sekali tidak berlebihan. Ditambah, rambut Flo yang dibawah bahu dikepang satu dan mungkin karena terlalu pendek untuk dikepang anak-anak rambutnya berjatuhan di pipi mungilnya. Satu kata yang bisa Rio ungkapkan untuk menggambarkan penampilan Flo dengan rambut seperti itu ... manis. Ya, manis.
Belum pernah Rio merasa penasaran yang sangat besar pada kaum hawa seperti ini. Bukan hanya penasaran, Rio merasa benar-benar tertarik untuk menjadi kekasih gadis di depannya ini. Padahal sebelumnya dirinya tidak pernah tertarik untuk sekedar melirik perempuan-perempuan yang dengan terang-terangan menunjukkan ketertarikan padanya. Jika mau, Rio bahkan bisa mendapatkan gadis manapun yang ia mau sekali kedip. Tapi selama ini Rio merasa belum menemukan gadis yang pas untuknya hingga kemarin gadis dari masa lalunya ini datang. Membuat dirinya bertekad untuk menjadikannya miliknya.
Rio benar-benar tidak menyangka akan bertemu Flo lagi. Setelah lulus SD, Rio memang pindah kembali ke kota ini meninggalkan seluruh kenangan masa kecilnya di kota neneknya. Meskipun dulu dirinya pernah berharap akan bisa bertemu Flo lagi, tapi Rio tidak menyangka harapannya akan benar-benar terkabul.
Tidak ingin semakin terhipnotis, Rio berdehem pelan dan sukses membuat Flo membuka matanya. Rio yang berdiri di luar dengan kepala yang ia masukkan ke dalam jendela dan dagunya ia letakkan di atas kusen jendela. Kepalanya miring tepat ke arah Flo dan kedua manik hitam miliknya seperti berusaha menembus kedalaman manik coklat Flo.
"Pagi!"
Flo mengerjap-ngerjapkan matanya beberapa kali saat Rio menyapanya sambil tersenyum lebar. Reaksi Flo yang seperti itu membuat Rio gemas dan tangannya gatal ingin mencubit pipi yang dulunya chubby itu. Berbeda dengan Rio yang memasang wajah bahagia, Flo malah kesal dan segera membuang pandangannya ke arah berlawanan. Kelas masih kosong, belum ada satupun siswa selain dirinya di dalam kelas ini. Ya, karena Rio berdiri di luar meskipun kepalanya di dalam.
"Flo nengok dong. Gue udah niat banget berangkat pagi cuma buat ketemu lo masak malah dicuekin sih?"
Flo tetap diam tanpa menghiraukan ucapan Rio.
"Elo nggak kangen sama gue? Lama banget loh kita nggak ketemu."
Flo berdecak kesal dalam hati, tetap mengabaikan Rio yang masih setia menatapnya dan memilih mengambil buku pelajaran jam pertama dari dalam tas. Ia membaca-baca buku itu berusaha tidak menganggap kehadiran Rio di dekatnya.
"Ngomong-ngomong, lo kok bisa pindah ke sini sih?"
"..."
"Flo."
"..."
"Flora Renata?"
"..."
"Enak banget yah tuh buku seenggaknya bisa diliatin terus sama lo. Nah gue? Cuma dianggurin gini," celetuk Rio.
Flo mengernyit sebentar sebelum kembali tenggelam pada tulisan di buku paket itu. Sungguh bukannya ingin mengabaikan orang, tapi Flo memang tidak suka dekat-dekat dengan kaum Adam saat ini, kecuali Arya dan Jayden. Lagipula Flo juga tidak tahu apa tujuan Rio mengganggunya seperti ini mengingat ucapan Jayden tentang geng mereka yang sering mem-bully siswa lain. Bisa jadi kan kalau Rio memang berniat mem-bullynya saja? Dan satu poin lagi yang membuatnya mengabaikan Rio, karena Rio adalah salah satu most wanted di sekolah ini yang tentunya banyak siswa perempuan yang mengaguminya. Jadi lebih baik dirinya menghindari masalah, bukan?
"Baru kali ini gue dikalahin sama buku."
Ini adalah celetukan Rio yang kesekian kalinya dan juga kesekian kalinya Flo mengacuhkannya. Matanya masih terfokus ke huruf-huruf yang terangkai dalam buku paket Bahasa Indonesia di depannya.
"Yo, ngapain lo di sini? Dicariin Chika tuh."
Kepala Flo sontak mendongak karena suara perempuan yang baru saja berbicara itu. Angel, teman dekat Chika tengah menatapnya sinis dan Flo yakin yang tadi berbicara pada Rio adalah Angel. Bukan cuma Angel saja yang saat ini menatapnya sinis, tapi juga beberapa teman sekelasnya yang ternyata sudah duduk di bangku mereka. Flo merutuki dirinya sendiri dalam hati karena dengan bodohnya tidak menyadari kehadiran mereka dan malah asyik dengan bukunya. Jangan-jangan mereka sudah lama memperhatikannya dan Rio?
"Emang ngapain Chika nyariin gue?"
Flo semakin tambah kesal karena ternyata Rio bahkan belum pergi dari sana. Tapi tetap saja ia tidak tertarik untuk melirik sedikitpun pada laki-laki di dekatnya itu.
"Mana gue tau? Samperin aja noh di kelas. Sekelas juga!" balas Angel.
"Males. Belum bel juga ini."
"Lagian lo tumben amat sih belum bel udah berangkat. Biasanya juga bel udah bunyi setengah jam baru lo sampe sekolah."
Flo benar-benar tidak percaya dengan apa yang baru didengarnya. Jadi Rio selalu datang terlambat ke sekolah? Benar-benar bukan seperti Rio yang dulu. Beda jauh sekali. Rio yang dulu memang tergolong murid pendiam yang tidak pernah melanggar tata tertib dan hanya tertarik pada buku-buku pelajaran. Bahkan saking tertarik pada buku-buku pelajarannya, Rio jadi cenderung dingin dan tidak peduli dengan lingkungan sekitarnya.
"Kok ngelamun sih, Flo? Mikirin gue ya?"
Flo bahkan tidak sadar jika dirinya melamun. Bahkan tebakan Rio benar bahwa Flo sedang memikirkan Rio.
Tunggu ... apa tadi? Memikirkan Rio?
Flo menggeleng-gelengkan kepalanya. Bisa-bisanya dirinya memikirkan laki-laki ini.
"Nggak usah repot-repot mikirin gue segala. Kan gue udah di depan lo."
Flo memutar bola matanya. Ia benar-benar berharap laki-laki menyebalkan ini segera pergi dari hadapannya.
Dan Flo tersenyum dalam hati. Harapannya terkabul, bel berbunyi tiga kali pertanda jam pelajaran pertama sudah akan dimulai.
"Yaah udah bel. Padahal gue masih mau nemenin lo. Dengan terpaksa, gue harus ninggalin lo dulu. Nggak papa kan?"
"..."
"Jangan sedih gitu dong mukanya. Gue bakal balik lagi kok ke sini ntar pas jam istirahat jadi lo tenang aja ya?"
"Ya udah gue ke kelas gue dulu ya."
"..."
"Bye Flo."
"..."
Flo mengembuskan napas lega saat Rio menarik kepalanya dari dalam jendela. Namun hanya sedetik karena Rio kembali memasukkan kepalanya ke jendela beserta tangan kirinya. Flo yang baru saja menghadap ke depan langsung membuang pandangannya ke arah berlawanan dari Rio.
"Bye Flo!" ucap Rio sambil mengacak-acak rambut Flo membuat Flo mendengus kesal.
"Rio kesambet apaan ya?"
"Iya tuh. Ngapain dia nyamperin cewek cacat."
"Dasar ceweknya aja yang kegatelan."
"Nggak tau diri lagi."
"Nggak punya kaca kali."
Flo mengembuskan napas panjang dan berusaha tidak mendengarkan ucapan-ucapan sinis yang dilontarkan siswa perempuan di kelasnya itu. Jelas sekali ucapan sinis itu ditujukan padanya tapi ia berusaha mengabaikannya. Toh ia sama sekali tak melakukan apa yang mereka tuduhkan padanya jadi Flo akan bersikap tenang. Saat menaruh alat tulisnya, Flo seperti teringat sesuatu. Tangannya mengusap puncak kepalanya pelan. Masih terasa di kepalanya saat tadi Rio mengacak-acak rambutnya.
Dia memang beda jauh dari yang dulu.
***