"Raihlah kesempatan yang datang karena tidak semua orang mendapatkannya."
Colorado, Amerika Serikat.
Seorang pemuda yang tampak gelisah, menatap pantulan bayangan dirinya sendiri di dalam sebuah cermin.
Pemuda tersebut akhirnya memutuskan untuk mengenakan kaus berlengan panjang berwarna hitam dan celana jeans berwarna senada. Ia menyisir helaian rambutnya dengan jemari, merapikan letak bajunya, entah sudah yang ke berapa kali. Sesungguhnya pemuda tersebut ingin sekali mengenakan pakaian formal agar ia dapat tampil lebih resmi. Namun...
"Jika kau ingin ia merasa nyaman, sebaiknya kau tidak membuka jarak, Sayang." Sang ibu menepuk kedua pundak putra pertamanya tersebut. "Kau tahu, baju formal akan membuat situasi menjadi kaku. Lebih baik, kau mengenakan pakaian kasual saja," lanjut sang ibu.
Si pemuda menghela napas. "Mom, aku hanya sedikit... Nervous," ucapnya kemudian, dengan wajah yang tampak merona. Hari ini adalah hari yang penting untuk si pemuda. Ia sangat berharap agar segala sesuatunya dapat berjalan dengan lancar.
"Aku tahu. Tak ada yang perlu kau khawatirkan. Kau kan tampan seperti ayahmu!" goda sang ibu sambil mengedipkan sebelah mata.
Pemuda tersebut tersenyum dan menggelengkan kepalanya karena mendengar perkataan sang ibu.
Ibunya adalah orang yang mampu mencairkan suasana. Tak khayal jika hal tersebut sanggup membuat anak-anak dan suaminya merasa nyaman saat pulang ke rumah.
"Hei, kenapa kalian berdua lama sekali? Para tetua sudah menunggu sejak tadi di bawah," ucap sang ayah dari lantai bawah.
"Okay, Honey. Kami akan segera datang." Sang ibu menggandeng lengan putranya dan segera menariknya keluar dari ruangan tersebut. Ia bisa merasakan kegugupan anaknya karena tangan putranya itu sudah nyaris sedingin es. "Rileks," bisik sang ibu sambil tersenyum.
Si pemuda menggangguk, kemudian memaksakan diri untuk ikut tersenyum.
Pemuda dan ibunya tersebut akhirnya melangkah masuk ke dalam sebuah ruangan yang tampak dipersiapkan dengan sangat indah. Setiap dinding dilukis dengan lukisan tangan, beberapa pilar penyangga berwarna emas penuh dengan ukiran, bahkan lantai di ruangan tersebut terlihat seperti bebatuan yang bagian atasnya dilapisi oleh kaca. Ada banyak tanaman dan bunga yang menghiasi tiap sudut, membuat ruangan beraroma harum dan segar. Secara keseluruhan, ruangan tersebut tampak megah sekaligus asri dan menyenangkan.
Semua mata tampak tertuju kepada kepada si pemuda. Ada sekitar lima belas orang yang berada di dalam ruangan itu, termasuk empat orang pelayan. Si pemuda menghela napas dan berusaha menenangkan detak jantungnya yang mulai tak teratur. Ia sama sekali tak pernah menyangka akan menerima momen seperti ini.
Langkah pemuda tersebut terhenti di depan sebuah batang pohon yang tampak seperti sebuah meja raksasa berwarna coklat tua. Tanaman bunga tumbuh merambat mengelilingi bagian akarnya seperti tahu mana tempat yang sesuai. Beberapa kupu-kupu yang terbang dan hinggap di antara kelopak bunga menjadi tampak sebagai penghias tambahan.
"Upacara akan dimulai!" seru salah seorang Tetua.
Dalam sekejap, suasana berubah menjadi hening dan semua pandangan beralih kepada meja raksasa yang tiba-tiba mengeluarkan cahaya-cahaya kecil berwarna kebiruan.
Kini semua yang telah dipersiapkan tampak begitu sempurna...