“Dan kuharap goresan cat ini menuntunku menemukan jati diri.”
Sudah dua jam lamanya sejak cahaya matahari pagi menembus masuk ke dalam jendela kamar Kimberly, menyinari setengah bagian ruangan. Dari kamarnya, ia bisa mendengar dengan jelas suara kicauan Sweetie, burung parkit kecil berwarna kuning milik tetangga seberang yang selalu dikeluarkan untuk menemani pemiliknya minum teh pagi di teras depan rumah.
Secara garis besar, kamar gadis tersebut tampak sederhana—netral, bukan jenis kamar anak perempuan yang dipenuhi dengan segala macam pernak-pernik lucu berwarna merah muda. Namun, jangan salah, Kim, begitu nama panggilannya, bukan merupakan seorang gadis yang tomboi. Ia cukup feminim, mengerti dunia rias standar ala anak remaja, tetapi hanya saja... ia merasa sudah dewasa. Dan bukankah warna merah muda sudah terlalu biasa untuk seorang anak perempuan?
Banyak anak-anak yang sebaya dengannya memanfaatkan cuaca yang cerah seperti hari ini untuk berkumpul atau berjalan-jalan, menikmati hari-hari terakhir sebelum tahun ajaran baru. Namun, berbeda dengan Kim yang justru enggan beranjak dari tempat duduknya. Ia fokus pada polesan-polesan kuas di atas kanvas, tak mempedulikan arah jarum jam yang terus berputar. Di depan pintunya bahkan terpasang gantungan papan kayu, hadiah ulang tahun yang kedua belas dari Amber, sahabatnya, yang bertuliskan “Jangan Ganggu!” dengan tambahan gambar wanita bertanduk yang tampak elegan yang sengaja ia lukis sendiri.
Gadis tersebut gila melukis. Ia bahkan lebih suka menulis dengan tambahan gambar; mengirim pesan singkat berupa emotikon (terpaksa mengetik huruf bila memang penting); menempel lukisan atau sketsa pada dinding kamar, tetapi menahan diri untuk tak langsung melukis di sana karena belum terlalu percaya diri.
Sampai saat ini Kim masih berusaha mencari aliran atau gaya yang sesuai dengan dirinya. Harapannya, ia ingin segera menemukan ciri khas yang membuat lukisannya memiliki kesan tersendiri, salah satu persyaratan menjadi seniman sejati. Namun, untuk itu ia harus belajar lebih keras karena pejalanannya masih panjang dan berliku.
Sejenak Kim memandangi pantulan dirinya sendiri pada layar ponsel, menyadari bahwa dirinya tampak lelah dengan hadiah kantong mata dan rambut yang berantakan hasil tidak tidur semalaman. Kim mendengus, meletakkan ponselnya lalu kembali fokus kepada lukisannya. Tanpa gadis tersebut sadari, ia menempelkan ujung batang kuas pada pipi kanannya, kebiasaan yang sering dilakukannya jika sedang mengoreksi. Jemari lentiknya menyusuri bagian lukisan yang sudah tampak kering, berusaha memahami setiap goresan.
Biasanya Kim akan menggambar sesuatu yang dekat dengan alam. Entah itu burung, gunung, laut, taman bunga atau semacamnya. Namun, belakangan ini, ia begitu terobsesi dengan gambar yang bertema pintu. Oke, itu sungguh aneh, di luar kebiasaannya. Walau warna setiap pintu berbeda-beda, tetapi ada sebuah kesamaan, yakni semuanya jauh dari kata modern. Entah bagaimana, lukisan-lukisan tersebut terlihat antik, artistik dan menarik seakan berasal dari masa yang berbeda-beda.
Dari semuanya, yang paling menonjol adalah sebuah lukisan pintu berwarna merah menyala seakan melambangkan api dari neraka. Sebagai penetralisasi, Kim menambahkan gambar seorang malaikat bersayap yang terlihat seakan sedang menanti tamu yang datang berkunjung. Terdapat banyak ukiran rumit yang sengaja dibuat detail di bagian tengah pintu sebagai pemanis. Kim tak tahu pernah melihat pintu tersebut di mana atau mengetahuinya dari mana. Namun, menurutnya, mungkin itu bagian dari imajinasinya yang berkembang dan terinspirasi karena tak sabar menunggu “The Festival of The Century” yang mengangkat tema abad pertengahan yang akan diadakan dalam waktu dekat.
Sesungguhnya Kim merasa senang, sekaligus khawatir karena menggambar pintu-pintu tersebut. Apakah ia sedang mengalami pergeseran aliran atau hanya ketertarikan sesaat—labil seperti anak remaja pada umumnya?
Menurut Mom, pencarian jati diri adalah petualangan menyenangkan yang akan di alami oleh setiap anak remaja. Namun, menurut Kim, pencarian jati diri adalah sesuatu yang menggelisahkan dan tak menentu.
Kim sudah mulai menggambar sejak ia balita, tetapi sampai sekarang ia masih tak yakin dengan apa yang telah dikerjakannya. Ia sudah melukis begitu banyak, tetapi masih saja merasa hampa seakan ada sesuatu yang direnggut dari dalam dirinya.