“Persahabatan itu mirip seperti sebuah misi. Harus mengerti, mengisi dan melindungi.”
"Jadi, apa kau tak bisa tidur lagi?" celetuk Amber yang sudah memasuki kamar Kim tanpa mengetuk terlebih dahulu. Dengan cepat, gadis yang selalu dipenuhi dengan semangat tersebut langsung naik ke atas tempat tidur dengan gaya atletik, seakan-akan tubuhnya memang diciptakan agar mudah untuk bergerak.
"Amber! Kau mengagetkanku!" pekik Kim, melempar sebuah bantal yang terletak tak jauh dari jangkauan tangannya tepat ke arah wajah Amber.
Dengan mudah Amber menangkap bantal tersebut, mendekapnya di depan d**a lalu ia duduk bersila. "Jadi, sejak pukul berapa?" tanya Amber cuek, tak menghiraukan Kim yang masih menatapnya dengan kesal.
"Pukul tiga atau mungkin empat," jawab Kim mengalah. Ia membalikkan kursi, membuat posisi duduk mereka menjadi saling berhadapan.
Amber menyunggingkan senyuman khas keluarga Hamilton—senyuman yang membuat bibirnya hanya terangkat setengah.
Kim hanya bisa menanggapinya dengan menghela napas. Bagaimana pun juga ia takkan pernah bisa marah kepada tetangga sekaligus sahabat baik yang sudah menemaninya sejak kecil. Bahkan jika dipikir ulang, hubungan mereka lebih terasa seperti kakak dan adik. Amber yang memiliki tubuh lebih berisi dan tinggi selalu berlaku seperti seorang kakak yang menjaga Kim yang sejatinya merupakan seorang anak tunggal. Semasa kecil dulu, jika ada seseorang yang mengganggu Kim, Amber akan selalu siap menjadi tameng dan dengan berani mengusir orang tersebut. Kim merasa beruntung karenanya.
"Apa kau tidak bisa tidur karena kau juga sedang gugup sepertiku? Kau tahu, aku benar-benar tak percaya jika kita akan berangkat besok pagi!" ucap Amber riang sambil mengusap wajahnya dengan kedua tangan, menampakkan raut wajah tak percaya.
"Ya, maka dari itu aku segera menyelesaikan ini.” Kim menunjuk ke arah belakang tubuhnya.
"Apa sudah selesai?"
"Ya, begitulah. Bagaimana menurutmu?"
Amber menjulurkan kepala dan mengamati lukisan yang dimaksud. "Seperti biasanya, lukisanmu selalu tampak menakjubkan. Ps: Kau orang gila yang romantis!" pekik Amber. "Kau tahu, aku pikir kau sudah mengemasi barang-barangmu. Ternyata kau malah asyik duduk dan melukis untuk ibu yang bertemu denganmu setiap hari, bahkan hampir lima belas tahun lamanya." Amber melipat kedua tangannya di depan d**a, bergaya selayaknya seorang polisi yang sedang menginterogasi tawanannya.
"Hei, aku takkan bertemu dengannya selama beberapa bulan ke depan. Mom bilang ia tertarik kepada lukisanku. Jadi, aku ingin segera menyelesaikannya. Kau tahu sendiri, kan, bahwa ia yang menurunkan sifat agar aku menyukai sesuatu yang antik. Lagipula, aku rasa akan lebih mengherankan lagi jika aku melukis wajahmu!" balas Kim tak mau kalah sambil menjulurkan lidah dan ikut melipat kedua tangan di depan d**a.
"C'mon, Kim! Berhentilah menjadi anak Mommy. Kau terdengar seperti hendak membawanya pergi ke sekolah," komentar Amber dengan nada setengah mencibir.
"Tentu saja tidak!” bantah Kim. “Aku hanya ingin menyenangkan dirinya. Kau tahu, hanya sekadar meninggalkan sedikit kenangan. Aku rasa sama sekali tak ada yang salah dengan hal tersebut."
"Oh, ya ampun, kau mengkhawatirkannya, ya? Buka matamu! Ibumu adalah seorang wanita karir yang mandiri."
"Lalu?"
"Artinya tak ada yang perlu kau khawatirkan. Lagipula, aku rasa ibumu akan senang jika kau pergi," ejek Amber yang kemudian disusul dengan suara tertawa keduanya. "Daripada begitu, lebih baik kau pikirkan cowok-cowok tampan yang akan ada di sekolah! Aku bahkan sudah mempersiapkan hatiku untuk perjalanan kisah cinta romantis yang akan segera dimulai," sambungnya kemudian.
"Hei, apa sekarang kau sudah mulai berpikiran kotor?” goda Kim, tak bisa menahan diri.
Amber segera mengubah posisi duduknya ke tepi tempat tidur, membuat dirinya lebih dekat dengan Kim. "Aku rasa sedikit," katanya sambil memilin helaian rambutnya.
“Aku rasa aku telah salah memilih teman,” komentar Kim sambil memasang raut wajah ngeri, membuat Amber langsung melemparkan bantal yang tadi sempat didekapnya. Namun, beruntungnya gadis tersebut berhasil menghindar sambil tergelak.
"Tapi, sungguh... maksudku, aku masih tak mempercayainya. Kita? dari sekian banyak orang di dunia? Harus kau akui bahwa kita adalah orang yang sangat beruntung!"
Ya, Kim harus mengakui pernyataan tersebut.
Sesungguhnya semua memang berawal dari ide gila Amber. Gadis tersebut membujuk Kim untuk bersama-sama mendaftarkan diri ke Elk Mountains, salah satu sekolah terbaik di Amerika Serikat yang menerima murid berdasarkan bakat tertentu. Amber melihat hal tersebut sebagai peluang besar karena mereka sama-sama mencintai seni walau dengan cara yang berbeda. Amber senang mendalami musik, sementara Kim senang mendalami seni lukis. Dan Elk Mountains yang memiliki konsep dasar untuk mencintai alam dan seni memiliki fasilitas untuk keduanya.
Namun, ide Amber tak hanya begitu saja. Ide tersebut didampingi dengan sebuah syarat yang penting. Jika di antara mereka ada yang tidak diterima, maka yang lainnya harus berlaku bijaksana dengan membiarkan orang yang terpilih menentukan ingin tetap tinggal atau pergi—tak ada paksaan. Walau mereka berdua bersahabat dan lengket seperti perangko, mereka sama-sama tak ingin menjadi penghalang untuk masa depan yang lebih baik.
Ajaibnya, Ibu Kim langsung menyetujui ide gila Amber saat itu juga, bahkan sebelum Kim sempat mencernanya.
“Aku tak harus sekolah di sana, Mom. Aku bisa bersekolah di Aspen,” kata Kim kala itu.
“Tidak, Honey. Amber benar. Kau harus memberi dirimu kesempatan sebesar-besarnya,” begitulah jawaban sang ibu.
Dan karena tak ingin mengecewakan keduanya, Kim akhirnya setuju.
Beberapa minggu kemudian, mereka berdua dinyatakan lolos. Kim dan Amber pun sibuk mengurus surat kepindahan dengan bayang-bayang bahwa mimpi mereka berdua terlalu nyata untuk menjadi kenyataan.
"Okay , hentikan sekarang juga. Kau mulai berbicara seakan-akan aku berjodoh denganmu dan jujur saja itu sedikit membuatku mual!" Dan itu benar, bukan sebuah kebohongan atau candaan. Kim merasa perutnya diaduk-aduk. Ia menyadari bahwa keganjilan dan keberuntungan yang luar biasa tengah terjadi di waktu yang bersamaan. Hal tersebut membuatnya agak cemas. Itu seperti satu banding berjuta-juta.
Amber tertawa geli, kemudian melangkah mendekati cermin kamar Kim yang berbentuk oval-vertikal. "Mungkin inilah yang dinamakan dengan takdir. Sebaiknya kau mulai menerimanya dari sekarang,” katanya sambil membenarkan rambut.
"Okay, cukup. Segera hentikan itu nona Amber Hamilton. Kau bisa membuat aku pergi ke kamar mandi karena memuntahkan sesuatu," tuntut Kim sambil bergidik.
“Anak-anak. Ayo, turun. Sudah waktunya untuk sarapan!” seru Ibu Kim dari arah ruang makan.
“Ya, kami akan segera datang!” balas Kim, kemudian keduanya berjalan meninggalkan kamar. Namun, sesaat sebelum mereka menuruni anak tangga, tiba-tiba Kim menghentikan langkahnya.
“Ada apa?”
“Sejak kapan guci itu ada di sana?” Kim mengamati guci besar berwarna biru yang terletak di sudut ruangan.
Amber menatap Kim dengan begitu heran. “Ada apa denganmu? Guci itu, kan, sudah ada sejak dulu. Lima tahun atau enam tahun yang lalu ibumu membelinya saat kita berlibur ke Jepang.”
Kim pun butuh beberapa detik sebelum akhirnya berhasil mengucapkan kalimat, “Kenapa aku tidak ingat?”
Mendengar hal tersebut Amber justru terkekeh. “Lucu sekali,” katanya sambil setengah mencibir, kemudian merangkul lengan Kim lalu mengajaknya untuk segera menuruni anak tangga.