“Harus banget?” Nathan berputar di kursi lengan yang menempel pas di tubuhnya. Ia menyandar malas sambil memandang Dean yang tinggi dan punya rambut klimis yang rapi dan selalu memegang catatan di tangannya. Cowok itu menghela napas sambil menunjukkan sesuatu dari ponselnya.
“Ini Bu Dianne, Direktur Management, lo harus ketemu mereka dulu sebelum nemuin model-model. Bokap lo datang jam dua siang nanti, kita masih ada waktu buat lo pelajarin briefing konsep Pak Samuel nanti ke Investor sampai jam delapan malam.”
Yang Nathan hindari selama berjanji dengan ayahnya satu tahun yang lalu sebelum lulus dari kampusnya di Amerika. Berkenalan dengan orang-orang kaku yang paling-paling hanya akan membahas betapa keren, pintar, karismatiknya Nathan dan mereka bakal saling melempar pujian atau tatapan penuh tanya kenapa akhirnya seorang anak Samuel Dewanto bisa ada di tengah mereka. Pemandangan itu bagi mereka pasti seperti sebuah penemuan.
Kehidupan perkantoran yang hanya berputar pada dinding-dindingnya, meresap bersama detik jam dinding, lalu tenggelam dalam kesibukan.
“Omong-omong, lo udah ngunjungin orangtua lo?” tanya Dean sambil memandang Nathan yang beranjak malas dari kursinya. Cowok itu menatap setengah berpikir, tatapan yang Dean amat kenal jika Nathan enggan menjawab kebenaran.
Nathan mengerling acuh, ia mengendik untuk menyuruh Dean menunjukkan jalannya sambil menyahut, “nggak perlu. Nanti aja kalau mereka minta—dan kalau emang guenya ada waktu.”
Sambil berlalu, Dean mendecih pelan menahan tawa, “lo emang nggak berubah ya dari dulu.”
“Apanya?” Mereka berdua berjalan ke arah lobi lift, Dean menekankan tombol lift. Sambil menunggu, cowok itu melirik ke arah Nathan yang masih menatapinya pura-pura tidak tahu.
“Nggak usah sok nanya deh lo. Sejak dari Amerika sama sekali belum balik ke Bintaro?”
Kali ini Nathan menghela napas pelan, sangat pelan sampai Dean mungkin tidak begitu yakin mendengarnya.
“Nggak.”
Dean menoleh, “terus sekarang lo tinggal di mana?”
Pintu lift berdenting, Nathan lagi-lagi menyuruh Dean masuk duluan baru menjawab. Mereka ke lantai dua dari lantai tujuh. Ruang besar dan hanya bisa diakses oleh pegawai yang memang punya izin khusus untuk ke ruang Pimpinan Perusahaan.
"Deket Benhill, Aurora Residence. Alamat gue lengkap di dokumen bokap kalau mau lihat."
"Bukan masalah itu," Dean sedikit menahan pandangannya, berusaha membaca Nathan, tapi cowok itu segera melengos. Bertepatan dengan itu, pintu lift terbuka, ruang kerja yang luas bersanding dengan lobi lift yang megah.
Dean menahan Nathan sebentar sebelum masuk ke ruang kerja Divisi Management. Cowok itu menoleh sejenak, menunggu Dean menyahut.
"Lo nggak niat ninggalin keluarga, kan?"
Nathan mendecakkan lidah, ia menarik Dean ke depan untuk kembali fokus menunjukkan arah.
"Ngapain sih mikirin itu sekarang? Ya nggak lah. Gue nggak segitunya juga sampai ninggalin keluarga. Lebay lo, buruan tunjukin ruangan Bu Dianne."
Rasanya masih belum pasti memang, tapi Nathan sendiri tahu ia tidak bakal sejauh itu memisahkan diri dari keluarga. Entah untuk sampai berapa lama, tapi ia lebih nyaman di rumah barunya.
Yah, walau harus diwaspadai sebagai pembunuh oleh satu tetangga. Eh, benarkah tetangga? Kira-kira, cewek tadi tinggal di mana ya? Harusnya di sekitar kompleks juga, kan?
Tangan Nathan seketika disenggol oleh Dean yang sudah menunjuk ke hamparan pekerja yang berdiri menatapnya dari kubikel. Ruangan yang luas dan terang oleh sinar matahari yang masuk lewat kaca jendela yang lebar bersisian dengan dinding kantor. Para pekerja itu menatap penuh antusias, mungkin ada tiga puluh orang lebih? Kubikel yang berjajar rapi dari sisi kanan dan kiri memecah g**g-g**g kecil ruang kerja. Dari ruang kaca yang memojok, seorang wanita paruh baya yang anggun keluar dengan wajah sumringah.
“Selamat datang Pak Nathan,” kata wanita itu membuat Dean agak terbatuk pelan. Nathan meliriknya tipis, tapi lanjut melempar senyum manis.
“Nathan aja. Emang saya kelihatan kayak papa saya, ya? Bapak-bapak gitu?”
Reaksi itu membuat sebagian orang yang mendengar sedikit menunduk dan menutup mulut. Mereka tertawa pelan, bersamaan Bu Dianne yang tergelak riang. Poni rambutnya yang rata dan rambut bergulung ikal membuatnya kental dengan sosok penuh wibawa. Riasannya rapi dan tidak berlebihan. Tidak seperti wanita kurus yang berdiri di barisan kedua kubikel. Tapi Nathan tetap menahan senyumnya.
“Kelihatan seperti Pak Samuel, berwibawa dan punya aura yang berbeda,” kata Bu Dianne cerdik. Membuat Nathan tersenyum bangga, begitu ia melirik Dean, cowok itu malah menggeleng minta ampun.
“Oh ya, ini Luna, Wakil Direktur. Untuk ke depannya, mungkin pekerjaan saya akan diteruskan oleh dia.” Bu Dianne menunjuk ke seorang wanita muda yang dari tadi berdiri di belakangnya dengan sikap santai tapi tetap anggun. Wanita itu mengulurkan tangan, Nathan menyambutnya dengan cengkraman yang pas. Sejauh ini, perusahaan papa tidak pernah berubah. Mereka punya wanita-wanita yang cantik dan penuh wibawa. Berbeda dari Amerika, kebanyakan, wanitanya tidak terlalu cantik, dan jika pun ada, mereka pasti memilih cowok beraroma alkhol. Entah, mungkin Nathan belum berhasil menemukannya saja.
“Selamat datang, Direktur Nathan, saya Luna. Saya yang pegang untuk sebagian besar operasional dan kemajuan teknis dari brand-brand yang sedang berjalan. Biasanya, kalau Wakil Direktur Julian punya brand, beliau akan cari saya untuk menjalankan pemasarannya.”
Mendengar nama itu, Nathan agak terbatuk. Ia melirik Dean yang melengos.
“Oke. Terima kasih,” sahut Nathan singkat, ia menjangkau pandangannya, menatap puluhan pekerja yang masih menatap antusias dan sopan. Sebelum melanjutkan ucapannya, ia memasukkan kedua tangan ke saku celananya, lalu berdeham.
“Sebelumnya, saya di sini nggak suka yang formal-formal. Saya pengin kalian nggak perlu terlalu berusaha, yang penting kelar. Tapi satu—saya cuma minta satu,” kata Nathan sambil menaikkan satu telunjuknya, ia menatap puluhan pasang mata yang setengah bingung, “saya berharap kalian melakukannya dengan sepenuh hati. Terserah kalian mau pulang setelah saya bilang ini, tapi setiap jobdesk yang punya deadline harus tetap selesai. Entah dengan cara apa pun kalian mengerjakannya, saya berharap kalian tetap menyelesaikan itu. Karena saya males, saya akan meniadakan sanksi bolos, terlambat, tapi—“ Nathan melirik Dean yang mengernyit seperti menyuruhnya berhenti bicara omong kosong, tapi ia cukup senang melakukannya, “saya akan cut semua orang yang menyia-nyiakan kebaikan saya. Deal?”
Dean berusaha menahan Nathan sebelum keluar, tapi Nathan mengangkat satu tangannya, menatap Bu Dianne, Luna dan ketiga puluh pekerja yang kini saling menatap bingung, melempar pertanyaan yang sama.
“Saya tahu kalian bingung, tapi inilah cara kerja saya. Nggak perlu formal, jam kerja masih tetap sama, tapi—kalian bisa mengerjakan deadline dengan cara apa pun yang legal, asal, nggak lewat dari deadline. Kalau sampai ada yang gagal, jangan harap bisa menginjak kaki lagi di sini.” Nathan tersenyum, lalu berbalik. Ia mendelik ke arah Dean yang tertegun di tempat. Terdengar bisik-bisik sebelum Nathan keluar ruang kerja itu. Dean setengah mengejarnya ke lobi lift, cowok itu menatap Nathan takjub.
“Lo serius? Pak Samuel udah tahu?”
Nathan berdiri di depan pintu lift, memandangi nomor lift yang bergerak turun. Ia melirik ke asistennya setengah menyengir. “Kok muka lo pucat sih?”
“Ya lo pikir aja, kalau semisal mereka ada yang kerja seenak-enaknya dan ada yang beneran pulang?” Dean nyaris melirik ke belakang, tapi Nathan mengendikkan bahu sambil membuktikan itu dengan santai.
“Tapi nggak ada yang pergi, sekarang, kan?”
**
Meja makan pagi itu penuh oleh setumpuk kain baju yang baru Tante Puspa turunkan. Bersanding dengan panci bubur yang panas dan potongan ayam juga cakwe goreng, Nila menikmati sarapannya dengan tenang. Tangan Tante Puspa sibuk memilah kain-kain ke sisi meja yang lain, sementara mulutnya mengunyah sarapan, ia harus berangkat pagi-pagi karena ada pesanan tiga lusin untuk acara reuni ibu-ibu yang katanya bakal diadakan di Jakarta. Tante Puspa sebenarnya tidak mengikuti acara reuni itu, tapi karena kliennya adalah teman dekat sahabat Tante Puspa, mau tak mau, wanita itu harus mempersiapkan hasil yang maksimal.
“Nila, hari ini kamu ditemani Trisna dulu ya.”
Suara TV dari ruang tengah yang bersebelahan dengan ruang makan membuat Nila tenggelam. Ia tidak mendengar Tante Puspa, malah sibuk mendengarkan suara berita gosip pagi-pagi di salah satu saluran yang tadi ia buka.
“....dilansir dari kabar Agensi DOLLA, Amenila, model yang beberapa bulan lalu jatuh dari lantai dua dan sudah dirawat intens, kini sudah mengalami kesembuhan yang baik. Sebagai pusat perhatian para model muda, Nila yang berharap bisa muncul di beberapa media masih menolak karena urusan mentalnya.”
Jadi Claudia sudah menyebar berita itu?
“Nila?”
Kalau sampai Lyta tahu ia sudah keluar dari rumah sakit, apa cewek itu bakal melakukan hal lain untuk membunuhnya? Kenyataan itu semakin dipikirkan semakin membuat Nila sesak. Ia mengunyah bubur yang terasa pahit, menunduk, memandangi mangkuknya yang sebentar lagi kosong.
“Nila?” Tante Puspa menyentuh pundaknya, seketika Nila terlonjak kaget.
Ia mendongak, melihat wajah Tante Puspa yang sudah dirias rapi, menutupi sebagian gurat kerutan di ujung matanya dengan polesan bedak yang rata. Nila tersenyum kecil.
“Kenapa, tante?”
Tante Puspa mengerut khawatir, ia mengelus pundak Nila lembut. Tekanan itu membuat bubur di mulut Nila terasa enak. Lebih enak daripada bubur rumah sakit yang ia konsumsi hampir tiga bulan perawatan.
“Kamu baik-baik, aja?” tanya Tante Puspa.
Dulu, setiap Nila mendapat pertanyaan itu, ia seolah ketakutan untuk menjawab. Sisi lain diri Nila menjawab kalau ia tidak takut, bahkan ia ingin memusnahkan semua orang palsu yang menyalahgunakan kata-kata bela sungkawa dan memasukkan mereka ke derita yang sebenarnya. Tapi kalau Tante Puspa yang mengucapkannya, Nila seakan mendapat rengkuhan yang jujur. Ia tahu kalau Tante Puspa, satu-satunya orang yang mengerti dirinya tanpa perlu bertanya, tahu perasaan Nila yang sebenarnya. Mungkin Tante Puspa sekarang tahu apa yang ia pikirkan.
“Lagi melamun aja. Kenapa?”
Tante Puspa tersenyum lembut, ia sedikit membungkuk, menyamakan wajahnya dengan Nila yang duduk di kursi roda.
“Tante hari ini bakal seharian di luar. Kamu nanti ditemenin sama Trisna, ya?”
“Oh, Trisna... iya, iya.” Nila beralih fokus ke mangkuk buburnya lagi, menghabiskannya langsung lalu menenggak air putih. Ia menatap tumpukan kain yang sekarang sudah dipilah berdasarkan warna baju. Pemandangan yang tidak pernah asing, tapi cukup membuat Nila tertegun.
“Claudia nggak akan bocorin rumah ini. Tante jamin.”
Nila agak mendongak, menatap Tante Puspa yang masih tersenyum. “Ah?”
Wanita itu melirik TV yang masih menyuarakan berita artis lain. Suaranya sudah dikecilkan, Nila ikut memandang ke arah Tante Puspa, lalu menunduk.
“Kalau itu yang kamu takutkan. Tenang aja. Orang agensi nggak ada yang tahu kamu di sini. Kamu masih aman dari dunia luar. Tapi tante saranin...” Tante Puspa menarik tangan Nila dan menangkupnya hangat, ia menatap ke dalam mata Nila yang berusaha menghindar, “jangan mengucilkan diri dari pikiranmu sendiri. Kamu masih bisa sembuh, oke?”
Nila menelan ludah susah payah. Ia mengusahakan senyum getir, lalu Tante Puspa berdiri dan kembali membungkus baju-baju itu. Sambil bergerak ke sisi wanita itu, Nila membantunya memasukkan baju-baju itu ke koper besar. Menempatkannya dengan rapi menjadi tiga baris. Tante Puspa tidak mencegahnya, ia membiarkan Nila membungkuk di atas kursi roda, menjangkau koper yang tergeletak di lantai.
“Trisna bakal datang jam berapa, tan?”
Koper baju sudah tertata rapi, giliran Tante Puspa yang duduk kembali dan menghabiskan makanannya. Nila mendorong kursi rodanya sendiri lalu menghabiskan susunya.
“Katanya dia hari ini cuma ada kelas pagi, jadi mau langsung ke sini nemenin kamu,” ujar Tante Puspa tersenyum. Mendengar Trisna berkunjung ke sini sebenarnya cukup mengasyikan. Terakhir, sebelum semua ini terjadi, Nila paling senang jika ditanya-tanya gadis itu tentang apa yang seru dari menjadi model. Sebelum Trisna sendiri masuk ke sekolah modeling, ia bahkan tidak tahu kalau Trisna benar-benar banting stir dari hobinya yang memasak, jadi modeling. Kata ibunya sendiri, Tante Puspa, yang punya butik ternama di salah satu mall besar di Jakarta bilang, “buat apa punya banyak baju bagus tapi anaknya sendiri pakai baju chef?” Lalu dorongan itu membuat Trisna mau memenuhi keinginan ibunya dan menikmati jalur hidupnya sekarang ini.
“Oke,” jawab Nila setengah tersenyum. Ia hendak mencuci piring, tapi obrolan itu belum selesai. Tante Puspa menatap Nila serius dari sebrang meja.
“Omong-omong, Pak Jovi bilang kita harus hati-hati sama tetangga depan. Apalagi pas tante pergi nanti, kalau bisa jangan keluar rumah sendiri deh. Kamu lihat kan kemarin tampangnya kayak apa?”
“Maksud tante cowok depan rumah? Yang pembunuh itu?”
Tante Puspa mengangguk, “aduh sebenarnya tante ini agak takut. Tapi Pak Jovi bilang kalau sekarang cowok itu CEO di salah satu perusahaan brand. Mereka udah melacak gitu dan emang benar. Katanya juga nih ya, itu orang juga orang kaya loh,” sambil mendecakkan lidah, Tante Puspa melanjutkan, “bisa-bisanya punya kasus pembunuhan.”
Yang Nila ingat soal cowok tadi pagi, alias tetangga barunya itu hanya tampang bingung, cengiran centil dan rambutnya yang berwarna cokelat gondrong. Setidaknya cukup panjang sampai bisa dikuncir begitu. Bara api yang sekelebat muncul dan kedatangan cowok itu bersamaan dengan pikiran Nila yang diambil alih oleh kesadaran langsung membuatnya setengah tersipu.
“Kamu nggak ketemu dia, kan?”
Nila terperangah, ia menatap Tante Puspa yang keningnya sudah mengerut khawatir, “nggak kok.”
“Kalau sampai ketemu sebenarnya nggak pa-pa. Tapi tetap jaga diri, tante khawatir sama keadaan kamu aja. Walaupun dia sekarang udah jadi orang penting, kita kan tetap nggak tahu usaha orang yang pernah melakukan itu bakal melakukan apa ke depannya.”
Jika cowok itu memang pembunuh menurut catatan kriminal, tapi kenapa tadi pagi dia bisa-bisanya menyelamatkan Nila dari panggilan kematian?
“Sebenarnya,” Nila menyela pelan, ia agak melirik Tante Puspa yang menunggunya sambil mengunyah cakwe goreng. Nila agak membuang wajah, berusaha membuang bayangan cowok yang menyelamatkannya tadi pagi.
“Kenapa?” tanya Tante Puspa mulai membaca pikiran Nila.
Dengan cepat, Nila melempar senyum, “sebenarnya, aku mau makan lumpia goreng tan.”
Tante Puspa termenung sejenak, “lumpia goreng? Se—serius?”
Sebaiknya tidak mengatakan kejadian tadi pagi. Ia sudah hampir tidak sadar, dan ia ingin berhenti membuat Tante Puspa khawatir. Sudah hampir tiga bulan lebih ia membuat wanita itu menanti kesembuhan, berharap cemas ia bisa bangkit dari semua trauma ini. Walau sulit, Nila tetap harus bisa melawan hari-hari kehidupan tanpa arti ini.
“Tumben. Ya udah, nanti tante beliin. Kamu abisin susunya. Tante udah harus berangkat abis ini.”
“Eh biar aku aja tan. Udah, tante berangkat aja, aku yang cuci piringnya.”
“Jangan—“ Tante Puspa berusaha menahan, tapi Nila menatap wanita itu serius, “tante, aku masih bisa cuci piring, jangan nahan aku buat hal-hal normal kayak gini, oke?”
Tante Puspa menarik napas panjang, lalu mengembuskannya pelan. Ia melepaskan pegangannya ke mangkok bubur, lalu membiarkan Nila merapikan alat-alat makan dengan puas. Setidaknya dengan begini, ia masih bisa merasa hidup.
***