Dean meninggalkan setumpuk dokumen dan beberapa kotak data lain di pinggir meja ruangannya. Seraya mengindentifikasi proyek apa saja yang sedang berjalan di perusahaan, berikut dengan brand-brand apa saja yang dikeluarkan ayahnya sejauh ini, dengan teliti dan telaten, ia membaca catatan riwayat proyek. Sebenarnya Nathan tidak begitu paham soal konsep tiap brand yang ayahnya keluarkan sejak lima belas tahun yang lalu. Yang Nathan tahu, sejak Nathan kecil, ayah senang memakaikan Nathan sebuah ikat pinggang hitam yang punya kancing aluminium mewah itu selalu merasa bangga. Kata ayah, ikat pinggang itu cukup terkenal, jadi Nathan harus menjaga benda itu jangan sampai rusak. Ayah juga paling senang jika membawa Nathan ke mal lalu dengan bangga menunjuk sebuah manekin yang memakai ikat pinggang yang sama. Dia bilang, “itu ikat pinggang yang kamu pakai tuh. Yang orang beli mahal, tapi sama papa, buat kamu ikat pinggangnya gratis.” Nathan yang dulu masih umur sepuluh tahun tentu belum paham soal ikat pinggang bagus atau mahal. Yang ia lihat justru manekin yang memakai setelan jas keren—dan Nathan langsung bercita-cita menjadi seperti manekin itu. Manekin yang berdiri di depan toko, yang menjadi pusat perhatian orang-orang lewat. Padahal, setelah sudah besar ia tahu kalau semua orang memandang bajunya, ia cukup menyesal.
Menyesal karena ayah yang dari dulu sudah mengarahkan Nathan ke bidang bisnis ternyata cukup bertentangan dengan hobinya sendiri; menonton. Sejak SMA, Nathan tidak pernah tahu apa yang sebenarnya ia inginkan kecuali membuat dirinya bahagia. Selain bergaul dengan cewek-cewek, bermain di bar, atau menghabiskan energi untuk berpikir di depan tugas-tugas kuliah, Nathan tidak punya hal lain untuk dikerjakan. Nathan sempat mengabaikan arahan ayah, tapi ayah bilang, “lebih baik berguna untuk satu hal, daripada nggak berguna sama sekali,” belum lagi usaha ibu yang selalu mendukung kalau Nathan lebih keren pakai jas ketimbang kaos di rumah. Kata ibu, “cowok pakai jas itu lebih terlihat mahal.” Memang gender orang ada harganya?
Daripada terus mendengar paksaan secara halus itu, akhirnya mau tak mau Nathan pun menuruti keinginan mereka. Menjadi berguna daripada tidak sama sekali. Nathan sendiri tidak perlu usaha besar untuk mendapat kepercayaan ayah. Sejak SMA, rapor Nathan selalu ditinjau ayah. Beliau juga yang mengarahkan minat studi Nathan pada akhirnya. Mendapatkan S1 di Amerika, lalu lanjut S2 untuk memenuhi beberapa syarat sebelum menjabat sebagai Direktur Utama di perusahaan brand fashion milik ayahnya sendiri, menggeser ayah menjadi Presiden Direktur.
Perjalanan yang cukup panjang dan yah... cukup memakan waktu.
Sebelah tangan Nathan membalik-balik lembaran data yang tercatat di pangkuannya. Data-data itu menunjukkan produk-produk apa saja yang sangat disukai pasar dan sesuai market. Ada statistik penjualan setiap tahun. Dilengkapi dengan promosi apa yang selalu menjadi pusat perhatian orang-orang. Baik pelanggan atau konsumen baru. Hal-hal yang tidak asing tapi cukup mengasyikkan untuk dipikirkan.
Ada beberapa produk yang terkenal dan menjadi highlight utama dalam baris daftar koleksi yang menonjol di lima tahun terakhir. Pertama; Beauty Frog dan Glass Step. Beauty Frog menjadi satu kategori dengan produk legendaris Adle.co, baju kodok yang kembali masuk jajaran fashion anak-anak muda dengan gaya yang didesain unik dan menarik. Perpaduan warna dan gaya yang cocok di masanya. Harga pasarannya sangat murah dan masuk menjadi baju yang paling banyak peminat di tahun 2015. Hasil Beauty Frog hampir menyamai pencapaian Day Night yang lain dan tak bukan adalah produk pertama yang membuat brand Adle.co melejit ke pasaran. Day Night merupakan kemeja setengah kaos yang dibuat sederhana namun menarik minat banyak pekerja kantoran di zamannya. Bahkan, ayah masih terus menginovasi produk tersebut ke dalam beberapa tema lain sampai hari ini. Proyek itu tidak luput dari zaman. Selain Beauty Frog, ada Glass Step, yaitu sepatu kets yang dibuat dari plastik kaca dan entah seperti apa rancangannya, yang jelas, Glass Step merupakan produk limited dan Dean sempat bilang kalau produk itu sempat dilelang.
Beralih ke tahun-tahun selanjutnya, perusahaan mengalami penurunan. Paling drastis ada di tahun 2019, produk bernama The Yellow yang merupakan rancangan beberapa produk seperti; gaun malam, baju santai, beberapa set khusus, sepatu, bahkan sampai kosmetik pun ada. Hanya saja, dari semua produk yang diterbitkan setiap tahunnya, The Yellow yang paling mengerikan. Ini dia, yang Dean bilang kemarin. Produk yang hampir punah karena tidak mengalami produksi ulang setelah produksi pertamanya. Nathan meninjau ke salah satu dokumen yang ada di dalam map plastik. Dokumen itu menunjukkan tulisan The Yellow, Sunshine is Right On Yourself, Something is Coming, and Your Life is Never End. Tagline itu cukup serius dan membangun. Dengan tidak percaya diri, Nathan membaca catatan penjualannya.
Tercatat di satu minggu pertama, penjualan produk set baju menurun drastis. Produk yang launching duluan adalah sebuah rok dan blus crop yang cocok untuk lekuk tubuh ramping, lalu ada gaun musim panas dengan model d**a terbuka yang terlihat santai karena dipadukan dengan topi pantai lebar. Diikuti sepatu kets ala converse—Nathan cukup terbelalak waktu melihat itu memang converse dan The Yellow mempunyai desain khusus yang didesain oleh Mikael. Salah satu desainer ayah yang Nathan cukup kenal sebelum pergi ke Amerika. Diurutan yang lain, setelah baju, set gaun santai dan sepatu, muncullah kosmetik. Nathan cukup bertanya-tanya kenapa ayah bisa menyetujui perilisan produk sebagus ini tanpa menimbang pengeluarannya.
Nathan meringis pelan sambil kembali menutup dokumen itu, berharap tidak akan menyentuhnya lagi dan lebih baik, The Yellow dibakar saja. Cukup memalukan untuk ada di sana. Ia kembali membaca urutan terakhir dari produk yang masih berjalan di tahun ini. Rainy May. Dari gambarnya, Nathan tidak yakin konsep produk itu seperti apa, tapi karena produk tersebut launching di bulan Mei dan siapa bilang bulan itu bulan hujan? Entahlah, cukup konyol, tapi di samping data Rainy May, produk tersebut dirilis oleh orang lain. Bukan Samuel Dewanto, melainkan Julian Dewanto.
Julian.
Jadi ini produknya Julian? Dilihat dari statistiknya, penjualan Rainy May cukup tinggi. Bahkan masih ada laporan berjalan mengenai penjualan dan pemasaran produk itu. Begitu Nathan penasaran bagaimana Rainy May bisa laris, dari depan, pintu ruangan tiba-tiba disentak terbuka. Nathan nyaris terlonjak kalau tidak melihat ayahnya berdiri dengan tampang marah dan napas tak teratur.
“Pa?”
Samuel Dewanto melangkah lebar memasuki ruangan dengan napas berat, “maksud kamu apa nyuruh orang-orang pulang?”
Kening Nathan mengerut, “aku nggak nyuruh mereka pulang.”
“Itu—si Mikael pulang, kata Dianne karena kamu bilang orang-orang boleh kerja santai asal deadline beres.”
Hampir saja Nathan tergelak, tapi ia beralih menelannya dan berdiri menghampiri ayahnya. “Pa, tenang dulu dong. Duduk sini,” ia menggiring ayahnya yang langsung menepis pegangan Nathan dingin.
“Papa serius, Nathan.”
Nathan segera memasang tampang tak kalah serius. Ia memandang ayahnya yang kini tingginya sepantar dengannya. Wajah ayah yang sudah sedikit memiliki kerut di ujung-ujung matanya, menatap tegas.
“Ini hari pertama kamu, apa kamu mau Julian yang pegang—“
“Eitssss tunggu dulu dong. Kok ngancemnya ke Julian sih? Lagian, papa dengerin dulu penjelasan aku. Keputusan ini aku buat karena aku udah meninjau apa yang dari dulu Adle butuhin di sini,” jawab Nathan mantap. Menghiraukan kerut tak yakin ayahnya yang kian menebal.
“Butuh apa?”
“Butuh lepas kancing satu, biar nggak ketat-ketat banget. Lagian papa emang harus banget apa sampai harus ngeluarin satu produk satu tahun gitu?”
“Maksud kamu apa? Kamu mau ngajarin papa sekarang?” tantang si ayah yang malah menaikkan dagunya. Nathan menyengir, ia menjangkau dokumen di atas meja lalu menunjukkan statistik penjualan di lima tahun terakhir.
Nathan menunjuk produk The Yellow di dokumen tersebut, “aku baru baca ini. Dan kenapa papa bisa ngeluarin produk sebanyak ini dalam satu tahun?”
“Kamu beneran mau ngajarin papa, hah?” Samuel merebut dokumen itu lalu melemparnya ke atas meja. Kali ini Nathan tidak bisa bergelut lagi, ayah sudah menggulung lengan kemejanya, menatap tanpa menggerakkan sedikit alisnya. Tatapan dingin yang Nathan tahu artinya apa.
“Ini serius Nathan. Lupain dulu penjualan The Yellow. Kamu harus tarik peraturan konyol kamu tadi, lalu suruh Mikael balik.”
“Pa, please stop. Kalo Mikael emang lagi burn out, ya jangan dipaksa nge-desain, dong? Papa mau desainnya jelek? Ide itu nggak bisa dipaksakan loh. Yang penting di sini adalah, Adle masih butuh SDM[1] yang berkualitas, bukan cuma masalah kuantitas. Aku udah pelajarin banyak produk yang sampai sekarang masih jadi kendali perusahaan. Kalau papa nyuruh Mikael pulang, itu artinya papa nggak percaya sama SDM papa sendiri. Mikael udah kerja dari dia umur sembilan belas loh, pa. Dia udah banyak banget ngeluarin desain bagus yang laku di pasaran, masa iya ngasih kebebasan buat hasil Adle sendiri papa sekeras ini? Lagian, ngeluarin produk baru setiap tahun juga cuma buang-buang duit. Mending papa re-build aja, atau bikin tema lain dari produk lama.”
Kedengarannya memang sedikit menggurui, tapi ayah tidak menjawab apa pun. Sebelah alisnya menaik sedikit, mungkin beliau sedang mencerna masukan sekaligus penjelasan sok tahu tapi benar yang biasa Nathan lontarkan. Buat sebagian orang mungkin ucapan itu terdengar sok tahu, tapi Nathan tahu betul kalau ayah bisa mencerna pendapatnya.
“Kalau gitu, kamu mau re-build The Yellow?”
“Hah?” Nathan terlonjak dalam usaha tenangnya.
Kali ini ayah tersenyum miring, “kan kamu yang ngajarin papa buat perbanyak kualitas daripada kuantitas—“
“Pa, pa, udah jam dua nih. Bentar, aku telpon Dean dulu. Kita kan ada meeting sama investor, kan? Iya, ada. Bentar ya, udah papa tunggu di luar aja. Nggak usah bahas yang lain, nanti telat—“
“Eh, eh,” ayah Nathan berusaha membebaskan diri, tapi daripada mengalah sekarang ini, Nathan harus menyelamatkan dirinya dari rencana buruk yang bisa saja datang padanya kapan saja.
***
[1] Sumber Daya Manusia