Kran air dimatikan, Nila mendorong kursi rodanya setelah mencuci buah. Ruang tengah kosong, hanya samar-samar suara TV memberitahukan kalau berita lokal di beberapa kota. Ia membawa sepiring apel yang bakal dikupasnya. Menunggu Trisna yang beberapa menit lagi menemaninya di rumah. Sejak ia keluar dari rumah sakit, rumah baru ini cukup mengisi lembaran hidup Nila yang baru. Ia sudah berjanji pada Tante Puspa kalau ia bakal pindah ke rumah yang sudah ia beli dua tahun lalu. Hanya karena Tante Puspa masih betah di apartmen di tengah kotanya, Tante Puspa masih belum terbiasa kembali tinggal di kompleks perumahan. Padahal Nila memilih tempat ini sengaja untuk menambah suasana baru. Ia suka pemandangan kota dari kamar apartemen setiap pulang dari kantor agensi, hanya saja, kepadatan gedung-gedung di Jakarta membuatnya sesak. Entah kenapa, pemandangan itu membuatnya merasa sendirian. Di tengah atap metropolitan, Nila merasa tersesat. Dan hanya masalah waktu untuk mereka akhirnya pindah ke rumah.
Setelah perawatan dari rumah sakit dan sempat koma satu minggu, Nila yang sudah menerima kondisinya pun langsung meminta pindah ke hunian baru. Ia ingin menghilang dari semua orang, ingin menghilang dari peradaban. Dalam waktu terdekat ini, walaupun masih membenci orang-orang munafik seperti Lyta, ia belum tahu memikirkan cara untuk memusnahkan mereka semua. Jadi, sementara waktu, ia yang mengurung diri, berharap menemukan cara untuk menerima mereka kembali. Entah untuk sampai kapan.
Tepat Nila mengiris apel terakhir, gerendel pagar rumah terdengar dibuka seseorang. Nila mendorong kursi rodanya hendak melihat dari balik jendela, tapi suara Trisna yang ceria dan hangat sudah terdengar lebih dulu.
“Kak Nila! Aku pulang!”
Nila membuka pintu lalu menyambut Trisna yang langsung menyerbu memeluknya. Gadis berumur dua puluh tahun itu memiliki tubuh tinggi semampai dan kulit yang para model biasa miliki. Dari sejak Trisna memutuskan untuk sekolah model, Nila sudah melihat banyak sekali kelebihan dari gadis muda ini. Kata Tante Puspa, Trisna itu nggak cantik, dia itu menarik. Tepat seperti yang dibutuhkan setiap brand untuk menarik minat para konsumen. Walau inti dalam modeling bukanlah itu, tapi Nila tetap memuja kecantikan Trisna yang selalu membawa sengatan semangat itu.
“Mama udah pergi, ya?” tanya Trisna yang mengambil alih kendali, lalu mendorong Nila dengan lembut. Ia meminggirkan Nila di samping sofa depan ruang tengah.
“Udah dari tadi pagi kan, Tris. Eh, aku ada apel, makan gih. Oh ya, udah makan belum? Aku panasin sayurnya—“
“Kak—“cegah Trisna menghentikan upaya Nila yang hendak beranjak. Gadis itu menatap Nila lurus, memastikan ekspresinya cukup serius untuk tidak dilewatkan.
“Kakak udah kasih tahu ke orang agensi kalau kakak keluar rumah sakit?”
Sejenak, suara TV tenggelam dengan isi pikirannya yang kembali terpusat ke berita tadi pagi. Nila terdiam sejenak, ia hendak mengalihkan pikirannya, tapi ia tahu sampai kapan pun, nggak ada yang bisa mengalihkan topik itu. Kalau agensi tahu Nila sudah keluar rumah sakit, mereka akan berbondong-bondong mengeluarkan pertanyaan soal pelaku. Lalu media sosial akan semakin menyebar kembali berita yang sudah hampir hilang itu. Nila tahu sebesar apa tragedi kecelakaannya, tapi untuk saat ini, Nila tidak mau mendengar apa pun. Malah kalau bisa, kenapa ia tidak mati saja, sih daripada harus mendengarkan orang-orang lagi?
“Kak?” kening Trisna agak mengerut, matanya menatap khawatir.
Nila memaksakan senyum, ia menjangkau sebongkah apel lalu menggigitnya pelan. “Claudia yang tahu, mungkin dia sudah mengabari agensi juga.”
Trisna sedikit merilekskan punggungnya ke sandaran sofa. Ia menghela napas pelan, lalu membuang wajah ke arah lain. “Orang-orang itu emang seneng banget kalau dikasih gosip ya. Kenapa sih mereka selalu masih mau tahu urusan orang?” Trisna melahap sebongkah apel dengan kasar.
Kenapa orang-orang senang dengan tragedi? Mungkin memang pada dasarnya saja sifat manusia punya keingintahuan lebih dalam soal hal yang mereka tidak tahu. Bedanya, di dunia ini, apa yang menurut mereka menarik adalah sesuatu yang menimbulkan empati, tantangan karena mereka sendiri pada dasarnya hanya ingin tahu, tidak benar-benar ingin merasakannya juga.
Itu dia, mereka tidak mau merasakan penderitaan, mereka lebih senang melihat orang lain menderita.
Apakah manusia memang sekejam itu?
Di mata Nila, mereka akan selalu sama.
Nila mengalihkan topik, ia melirik ke pakaian yang dikenakan Trisna. Gadis itu mengenakan tank top yang dilapisi kemeja flanel kotak-kotak dan celana jins sobek-sobek. Gaya yang cukup trendi untuk ke kampus.
“Kamu ke kampus pakai ini?” tanya Nila menilai pakaian Trisna. Gadis itu menyelipkan senyum, lalu menuruni pandangannya mengikuti Nila.
“Ini karena tadi pagi aku telat. Terus hari ini seharian jadi model buat baju dari anak-anak desain mode. Aku aja sampai nggak sempat ngerjain tugasku sendiri karena bantuin mereka.”
Membantulah selagi pandanganmu tentang manusia tidak berubah, Na, batin Nila. Ia mengangguk tipis, “desainnya bagus-bagus?”
“Ken yang desain, jadi bagus.” Trisna agak memelankan suaranya, setengah malu waktu menyebutkan nama cowok itu. Sebelum kecelakaan ini Nila mungkin akan antusias untuk memabahas cowok yang mengejar Trisna itu, tapi sekarang, untuk mencari tahu lebih, rasanya ia sama sekali tidak peduli. Ia ingin tidak bertanya, tapi karena dia Trisna, Nila tidak mau membuat gadis itu ikut terjebak bersama pemikirannya yang sekarang.
“Kuliah yang bener, Tris. Jangan sia-siain waktu kamu,” ujar Nila pelan sedikit menyisipkan senyum getir. Ia ingin melanjutkan kalimatnya, tapi menahan pikiran yang mulai berakar ke beragam topik. Sebelum itu meledak, ia harus segera pergi dari hadapan gadis itu. Ia tidak boleh menghasut siapa pun untuk berhenti melanjutkan hidup dan berinteraksi dengan orang. Sejauh ini, Nila hanya menganggap Tante Puspa dan Trisna sebagai malaikat. Bukan manusia.
“Kakak mau ke mana?” Trisna setengah terperangah waktu Nila berbalik dan meninggalkannya.
Nila setengah menoleh ke arah Trisna, “aku mau tidur dulu ya. Capek.”
“Aku bantu—“
“Nggak usah. Kamu kerjain tugas-tugasmu aja. Nanti bangunin aku ya kalau kamu ada perlu.”
**
Bangunin aku ya kalau ada perlu.
Trisna masih ingat bagaimana nada getir Nila yang samar-samar muncul di sela-sela menulis tugasnya. Bagaimana pun, Nila mungkin tidak akan kembali seperti dulu. Menurut Trisna, yang sudah melihat bagaimana wanita itu mengalami kelumpuhan kaki kanannya, Nila yang selama ini berpura-pura tidak membenci kehidupan hanya akan semakin mengiris hatinya kian menipis. Satu hal yang ia rasakan waktu mendengar kecelakaan tiga bulan yang lalu adalah, separuh dari diri Trisna seperti lenyap bersama angin.
Bagi Trisna, Nila adalah sosok yang selama ini ia kagumi. Meskipun Nila jarang membagi pengalamannya sendiri, tapi dari cara Nila yang selalu berusaha tampil mempesona di depan orang-orang yang ia temui, Trisna tahu kalau jiwa seorang model Nila ada dalam dirinya. Seorang model bukan hanya sebuah manekin berjalan, dia bukan hanya seorang yang sempurna. Tapi ia harus menjadi sesuatu yang nyata untuk semua orang.
Citra yang Nila bangun sejak resmi menjadi model menarik semua aura di sekitarnya, membuat Trisna selalu kagum dengan cara Nila bersosialisasi, bekerja dan gaya hidupnya. Walaupun dari kecil tinggal bersama, bagi Trisna, Nila lebih dari kakaknya sendiri. Ia seperti seorang idola yang ternyata kakaknya. Masih terlalu samar untuk mengiyakan kenyataan itu karena Nila sendiri terlalu sempurna. Hanya saja, saking terlalu sempurnanya, ketika semua itu hancur hanya dalam satu kali kejadian, Nila ikut lebur bersama pecahan-pecahannya tragedi itu.
Semua orang dari kalangan model dan brand-brand ternama di Indonesia turut berduka atas kejadian itu. Kecelakaan yang membuat Nila jatuh dari gedung setengah jadi tempat ia melakukan pemotretan untuk salah satu projectnya membuat semua orang bertanya-tanya sekaligus menantikan gosip itu. Kenapa bisa Nila jatuh? Apakah keteledoran atau ada pihak yang mau menjatuhkannya? Terbukti dari beberapa teman kampusnya yang tahu Nila kakak angkatnya mulai sibuk berbisik-bisik di pojok kelas sambil memastikan apakah gosip itu boleh diperjelas oleh sanak keluarganya. Tanpa menghargai privasi dan perasaan korban sendiri.
Walau sampai sekarang agensi tidak ingin menjelaskan lebih jauh soal kecelakaan itu, Trisna masih merasakan kejanggalan. Sama seperti Nila yang sampai sekarang belum membicarakan masalah itu. Berdasarkan gosip yang beredar, meskipun ketenaran Nila tidak sebesar artis papan atas, hanya karena kecelakaan besar itu, semua orang dari beberapa pihak terutama akun gosip di media sosial paling senang melahap berita-berita itu. Belum lagi hoax dan komentar banyak pihak. Mungkin bukan hanya Nila, tapi Trisna juga selalu menghindari itu.
Yang paling Trisna ingat waktu berita Nila masuk ke TV nasional, beberapa media pertama menyerang tempat mereka. Saling berebut mempertanyakan pertanyaan yang sama; kenapa Nila bisa jatuh? Apa ada dalang dibalik ini semua? Tudingan yang sudah sangat biasa terlontar dari paparazi memang satu langkah dari pemikiran orang normalnya. Waktu Trisna mendapat kabar itu malah yang muncul dari benaknya, “bagaimana bisa Kak Nila jatuh? Apa dia tergelincir?” tapi jelas, kebanyakan paparazi hanya senang memanas-manaskan suatu kejadian. Tanpa mengkhawatirkan mereka menanak berita di mana, dan apa yang dirugikan. Bagi mereka, ketelodoran itu adalah penderitaan yang digunakan sebagai contoh bahwa seorang model memang sebaiknya tidak perlu banyak gaya. Padahal Trisna tidak tahu apa yang membuat mereka sampai harus menjatuhkan Nila dengan berita-berita panas dan tidak benar itu.
Begitu headline yang mereka sebarkan. Kalimat-kalimat tuduhan, pertanyaan yang menimbulkan opini buruk dan mempermainkan orang lain dengan menuduh kalau ada pihak yang tidak menyukai Nila. Buat Trisna, kehebohan itu adalah hal pertama yang ingin ia musnahkan dari Nila jika ia sudah bangun dari koma. Waktu itu, Trisna ingin mencegah semua orang, bahkan waktu ia masuk ke kampus, gosip itu ikut simpang siur memenuhi koridor dan gedung-gedung kampus. Seakan mereka yang mendengar berita itu panas oleh api yang dipantik para paparazi, menyudutkan korban seolah-olah menutupi kenyataan yang sebenarnya—Nila memang jatuh. Siapa pun pelakunya, seharusnya mereka menghargai korban dan menyebarkan bela sungkawa.
Tapi, api sudah dipantik, hutan pun sudah lebur oleh api. Tak ada yang bisa meredam berita itu hingga beberapa minggu kemudian Nila mengetahui beritanya sendiri. Yang Trisna tak percaya ialah, Nila sendiri ikut berubah. Wanita yang selalu menatap penuh binar, senyum penuh gugah dan selalu membimbing Trisna seperti biasa, lenyap dalam satu minggu itu.
Nila, bukan lagi Nila yang ia kenal.
Lembaran itu dengan cepat berganti, dan Trisna harus membantunya.
Ken pernah bilang, “ya orang-orang kan emang lebih senang melihat tragedi. Mereka lebih senang ngomongin itu daripada bersimpati. Kamu harus terbiasa. Apalagi Kak Nila kan model yang pernah masuk media Nasional karena bakat influence-nya di brand Shine, anggap aja ini latihan buat dia semakin bersinar semakin ke depannya.” Rasanya Trisna selalu tersengat harapan jika mengingat perkataan itu. Tapi setelah lebih dari tiga bulan, rasanya harapan itu seperti pupus.
Nila masih belum berubah. Ia masih berjuang menepis itu semua. Meski Trisna selalu bilang untuk jangan pura-pura kuat, tapi ia tahu kalau kakaknya yang begitu tangguh dan percaya diri masih belum bisa menerima keadaan yang sebenarnya.
Ponsel Trisna di atas meja kopi ruang tengah berdenting sekali. Ia mengecek pesan masuk, dari ibunya.
“Tris, jangan lupa bawa kakakmu jalan-jalan kompleks bentar ya.”
Trisna menoleh ke pintu kamar yang tertutup. Beberapa jam yang lalu wanita itu memilih mendekam di kamarnya. Ibu bilang, sejak pulang dari rumah sakit, Nila belum pernah jalan-jalan ke luar. Trauma Nila untuk bertemu orang luar masih agak memprihatinkan.
“Oke, ma. Tadi kakak sih masuk kamar, nggak tahu ngapain.”
Pesan ibu kembali muncul, “jangan suruh lama-lama. Kalau udah sore, bagusan kamu ajakin keluar. Dia nggak pernah mau jalan keluar sama mama, siapa tahu sama kamu mau.”
Trisna melirik lagi ke kamar Nila, lalu beranjak untuk mengetuk pintunya pelan. Suara Nila menyuruh masuk terdengar samar, ia mengintip sebelum benar-benar masuk. Wanita itu sedang duduk di kursi rodanya sambil memandang keluar jendela. Wajahnya nampak bersinar ketika sinar matahari menjatuhi sebagian kulitnya yang indah. Trisna tersenyum, lalu dengan langkah pelan dan lembut, ia mendekati Nila.
“Kakak mau temenin Trisna jalan-jalan, nggak?”
Nila mendongak, membuat poni rambut Nila yang sudah kepanjangan bergeser sedikit dari dahinya. “Kakak capek—“
“Sekali—“ Trisna sedikit membungkuk untuk menyamakan pandangan dengan wanita itu. Nila agak menahan senyum, tapi akhirnya pertarungan batin itu dimenangkan oleh Trisna. Bagaimana pun, dari kecil, Nila tidak pernah tidak menuruti keinginan adiknya itu. Alhasil, dengan gerak penuh cekatan, Trisna memutarbalikkan Nila lalu keluar dari rumah.
Udara di sekitar kompleks cukup sejuk. Walaupun rumah-rumah di kompleks nampak besar dan tertutup, memisahkan sosiliasasi dengan dinding-dinding dan pagar tinggi mereka, Trisna cukup menyukai ketenangan ini. Ia melirik Nila yang sesekali mendongak ke arah langit sore yang terang. Burung-burung nampak menghiasi langit biru, suara burung yang sesekali terdengar samar membuat desau angin jadi semakin menenangkan. Derik kursi roda yang beradu dengan jalanan tak rata di kompleks memecah keheningan.
“Kak, kenapa kakak nggak mau jalan-jalan keluar sebelumnya?” tanya Trisna memulai obrolan.
Nila tidak menjawab langsung, seperti kebiasaan barunya. “Mama kamu capek nanti. Lagian, di luar nggak ada apa-apa kok. Sama aja kayak pemandangan dari balik jendela. Terlalu banyak jalan, aku juga belum pengin.”
“Gitu ya. Nggak ada salahnya kok kalau ngider-ngider di sini aja. Lagian, rumahnya pada independent semua. Ketutup gitu. Eh apa jangan-jangan di sini ada rumah artis ya, kak?”
“Mungkin,” jawab Nila, “tapi kata Pak Jovi, polisi yang tinggal di sebelah rumah, tetangga depan rumah kita itu mantan pembunuh.”
Seketika Trisna menghentikan dorongannya lalu menatap Nila yang mendongak, “serius?”
“Serius. Mama kamu yang udah bilang kakak jangan ke luar sendiri,” kepala kakaknya menoleh ke arah sebuah rumah cat beige yang dari luar nampak sederhana dan tidak besar. Mungkin hanya itu rumah yang satu-satunya tidak punya pagar tinggi dan garasi lebar. Rumah itu nampak tertutup beberapa pot besar, ada satu garasi kecil dan jaraknya tidak begitu besar seperti rumah di kompleks ini. Trisna menoleh lagi, merasa kurang yakin.
“Tapi, kenapa Pak Jovi bisa izinin dia tinggal di sini?” Ia beputar ke hadapan Nila, sedikit berjongkok dan memikirkan kenapa bisa ada mantan pembunuh tinggal di kawasan bebas seperti ini.
“Aku nggak tahu cerita lengkapnya gimana, tapi katanya dia itu membunuh pas di bawah umur. Waktu itu dia nggak bisa dipenjara, jadi cuma jadi tahanan rumah,” jelas Nila tenang, tidak khawatir kalau suatu hari pembunuh cilik itu memang sudah dewasa dan tahu bayarannya apa kalau membunuh orang.
“Waktu kecil aja udah membunuh orang,” gumam Trisna memikirkan kenyataan itu. Bisa jadi waktu sekarang dia sudah menjadi pembunuh bayaran di salah satu agensi—brrrr—otak Trisna mulai membayangkan adegan aneh-aneh, membuat Nila terkekeh waktu membaca ekspresinya.
“Aku udah ketemu dia,” sahut Nila membuat Trisna membulatkan matanya. Ia agak mencengkram besi kursi roda.
“Kakak baik-baik aja tapi? Dia nggak—“ telunjuk Nila menyentuh pelipisnya seraya mengisyaratkan takaran kegilaan pembunuh yang diceritakan itu.
Nila tidak menjawab langsung, tapi ketika wanita itu menoleh beberapa menit ke rumah si pembunuh, ia tersenyum kecil.
“Mungkin kakak malah merasa lebih baik waktu ketemu dia.”
***