Pengkhianat atau Keteledoran?
Tulisan merah tebal yang bertajuk di sebuah laman website media dan ditunjukkan secara terbuka di sebuah acara gosip TV lokal jelas-jelas mengarahkan berita tentang Nila pada dampak negatif. Claudia tidak bisa melakukan apa-apa waktu mendengar hampir dari setiap media sosial, media cetak dan beberapa TV lokal kembali menyiarkan gosip Nila. Ia melirik ke arah buku jurnalnya yang masih terbuka. Di lembar sana, tercantum catatan tentang riwayat singkat Nila dua tahun yang lalu—Shining Your Inner Love—pada sebuah lookbook brand Shine di Singapore. Di atas jurnal itu ada sebuah foto yang ditempel sebagai kenang-kenangan terakhir Nila sebelum mengakhiri project bersama brand Shine itu. Foto polaroid kecil ia dan model cantik berbakat, Nila.
Ia mengusap pelan permukaan foto itu, seakan bisa membuat kilasan sendu di atas memori itu. Seandainya ia bisa lebih cekatan waktu itu...
Dari ujung ruang kantor yang hening, seseorang memanggil Claudia. Bilik-bilik ruang kerja meliriknya penasaran, Claudia mengangkat wajah. Dari ujung lorong, Pak Hansen mengibaskan tangan, memanggilnya sekali lagi. Masalah apalagi sekarang?
Claudia melangkah setengah menahan hak sepatunya pecah di atas lantai granit yang mengilap itu. Akhir-akhir ini, sejak ia memberitahu agensi kalau Nila sudah keluar dari rumah sakit, kabar itu menjadi gosip setelah agensi memberitahu perkembangan tragedi ini ke media sosial. Sayangnya, tujuan mereka untuk mendoakan kesembuhan Nila malah jadi pro dan kontra para media massa yang penasaran dan haus akan drama. Pasalnya, dari semua orang yang dekat dengan Nila, hanya Claudia yang bisa menjangkau gadis itu. Kehebohan yang terjadi di kantor agensi beberapa bulan lalu masih menanggalkan banyak sekali fakta sementara Claudia masih belum mau membeberkan banyak fakta yang ia ketahui soal Nila sendiri.
Kenapa Nila bisa jatuh? Kenapa saat Nila jatuh ada Lyta di lokasi yang sama? Apa ada sesuatu yang terjadi dengan mereka berdua? Kenapa sampai sekarang Nila tidak mau angkat bicara? Dan kenapa Lyta selalu tenang-tenang saja padahal semua orang tahu kalau Lyta dan Nila seperti dua siung bawang yang sama-sama menempati singgasana menawan di kursi potretnya?
Semua orang ingin tahu, bahkan jika dinding bisa bicara, mereka juga ingin tahu cerita lengkapnya.
Claudia menyusul ruang Pak Hansen yang ada di sudut lorong. Ruang kerja divisi management agensi DOLLA letaknya terpisah dari ruang pimpinan. Begitu Claudia masuk, Pak Hansen langsung memutarkan sebuah siaran berita gosip yang baru saja dia lihat dari TV tadi.
“Kenapa sih mereka masih memicu berita ini? Masuk TV Nasional lagi. Siap-siap besok kantor kedatangan jurnalis lagi,” tegur Pak Hansen. Setelah kejadian itu, baik Pak Hansen atau pimpinan agensi selalu membujuk Nila untuk menjawab semua kenyataan sebenarnya. Kenapa bisa Nila jatuh dari lantai dua gedung lama yang dipakai untuk pemotretan itu? Tapi sampai hari ini, Nila tidak pernah buka mulut. Claudia sendiri tidak tahu penyebabnya apa, tapi gara-gara itu, semua media yang tertarik mengungkit masalah ini selalu menunggu seseorang setelah pulang kantor untuk menanyakan pendapat mereka tentang Nila di mata mereka. Seakan-akan membujuk opini orang tentang bagaimana mereka menilai Nila yang jatuh sebagai sebuah keteledoran.
Agensi jelas mencari bahan perlindungan. Mereka mencoba mencari Nila, tapi waktu Claudia—manager sekaligus teman terdekatnya dulu tidak tahu tempat tinggal Nila yang baru, ia juga jadi ikut disalahkan. Tidak ada kamera CCTV, tidak ada yang melihat, tidak ada yang tahu bagaimana Nila bisa jatuh. Hanya ada satu pembelaan yang paling nyata keluar dari mulut Lyta. Sahabat Nila selama ini, dua bongkah mawar yang punya bingkai di lantai yang sama.
“Aku lihat dia duduk di pinggir tangga yang nggak ada pegangannya, pas aku mau samperin dia, dia berdiri, dan pas itu aku lihat Nila nggak sengaja nginjak ekor gaunnya yang panjang, lalu semua itu terjadi... begitu aja, di depan mataku sendiri.”
Pahit jika dipikirkan ulang argumen itu, tapi sebagian dari diri Claudia tidak percaya Nila bisa seteledor itu. Lagi pula, baju yang dipakai untuk pemotretan tidak sepanjang itu. Claudia masih ingat dengan jelas kalau gaun itu hanya semata kakinya saja. Claudia yang memasangkan bajunya, Claudia yang melihatnya masih di cermin beberapa menit sebelum kejadian itu terjadi.
Kerongkongan Claudia tersekat. Ia memang belum menemukan kebenarannya sekarang, tapi kejanggalan itu tidak bisa diempaskan begitu saja. Ia menatap ke arah Pak Hansen yang punya mata besar dan wajah mengerut gusar.
“Saya juga... kurang tahu, pak.”
Terdengar Pak Hansen mendengus. Beliau pasti cukup stres untuk menghadapi berita ini. Setelah dituduh agensi yang lalai, tidak bisa menjaga modelnya, DOLLA hampir saja kena kecam beberapa pihak sponsor. Pasalnya, tahun ini adalah tahun Nila bersinar. Selain brand Shine dua tahun yang lalu sempat membuat model Indonesia terkenal di luar negri karena bakat Nila yang memasarkan brand yang ia pakai cukup menarik perhatian—dengan bercerita lewat pose, pulang dari Singapore, Nila jadi pusat perhatian beberapa model muda yang kebanyakan dari mereka seorang influencer di i********:. Mereka sering menyebut kecantikan dan bakat Nila sebagai pacuan semangat mereka. Cita-cita mereka tergambar jelas dalam sosok Nila yang sempurna. Tapi karena itu juga, mereka semua membantu Nila untuk buka suara dan menyalahkan agensi. Pak Hansen pun tak punya pilihan lain selain menerima hujatan itu. Untungnya, masalah itu segera terhalang berita politik yang lagi panas-panasnya, DOLLA masih bisa bernapas sedikit. Pak Hansen, tidak jadi menyewa pengacara untuk membela diri dan uangnya aman.
“Kamu serius belum bisa kasih tahu di mana Nila tinggal?” kali ini suara Pak Hansen terdengar agak berharap. Keputusan Claudia sudah bulat. Ini adalah satu-satunya hal yang bisa ia lakukan untuk menebus kesalahannya akibat kejadian lalai sebagai managernya waktu itu.
“Nggak bisa, pak, maaf. Nila butuh perawatan ekstra. Yang sakit itu bukan cuma kakinya, tapi hatinya juga, pak.” Claudia memohon, berharap mereka semua tahu kalau ada satu berlian yang perlu mereka jaga. Mereka tidak bisa memamerkan benda itu seolah-olah ia adalah penyelamat. Alih-alih meminta pertolongan, kenapa Pak Hansen tidak pernah mengerti dengan kondisi ini dan selalu beranggapan kalau nama agensilah yang tercoreng?
“Saya nggak bisa terus-terusan bikin DOLLA jadi jelek, Claudia. Saya butuh satu jawaban, seenggaknya supaya saya bisa melakukan pembelaan. Saya nggak mau menggugat Nila atas pencemaran nama baik, kan?”
Claudia setengah melotot, ia menahan kebingungannya sejenak, menatap ke dalam mata pria itu bersungguh-sungguh. Pak Hansen serius mau menggugat Nila? Sejauh itu? Setelah Nila dengan apik dan dengan bakatnya membesarkan nama DOLLA dua tahun terakhir ini?
“Bapak mau gugat Nila? Bapak serius?” Pertanyaan penuh tuduhan itu sukses membuat Pak Hansen menghempaskan diri ke kursi lengannya. Wajah pria itu nampak kusut. Jelas terpampang tekanan yang besok akan ia hadapi. Para media, opini yang semakin melebar, simpang siur tanpa bisa dikendalikan kecuali kebenarannya terungkap. Agensi model DOLLA bakal menjadi kambing hitam, tuduhan orang-orang dan para influencer yang mengatakan kalau agensi lah yang teledor akan berkembang, membuat sponsor mencabut investasi mereka, membuat project yang sedang berjalan bakal berhenti dan model kelaparan tak bisa dibayar. Pemikiran itu yang pasti dibaca oleh Pak Hansen atas masalah ini.
“Saya harus apa? Kalau sponsor cabut, otomatis beberapa project bakal cancel. Bukan cuma Nila, tapi semua model yang saya punya bisa jadi mundur dan kamu tahu apa yang lebih buruk? DOLLA bangkrut.”
Mata Claudia menyipit mendengar pemikiran yang benar-benar keluar dari mulut pria itu. “Daripada mikirin kebangkrutan DOLLA, apa bapak nggak berniat ngasih waktu untuk Nila memulihkan hidupnya?” Claudia tahu Pak Hansen tidak berniat menyudutkan posisi Nila. Sebagai pemimpin agensi, beliau juga memuja bakat Nila, ia sangat menghargai wanita itu. Semua ini terjadi karena Pak Hansen tertekan, ia tidak bisa berpikir jernih. Yang ada di otak pimpinannya itu hanya kesedihan akan musibah Nila bercampur dengan kemarahan berita para wartawan yang seenaknya menggiring opini influencer seakan membenarkan kalau itu adalah salah agensi.
“Nila lumpuh pak. Bapak sendiri tahu kalau karir ini hidupnya, impiannya. Bukan buat DOLLA aja, Nila justru yang lebih dulu hancur. Saya memang nggak pernah bicara ini karena banyak project yang masih berjalan dengan model-model lain. Saya selalu berharap Nila cepat sembuh, berharap berita nggak lagi muncul dan semua kesibukan menenggelamkan kecelakaan itu tapi saya nggak bisa, pak. Baik Nila atau agensi sendiri, kalian sedang sama-sama berusaha saling membantu. Bukan malah menyalahkan. Yang justru bikin saya curiga adalah, kenapa Nila bisa selumpuh itu sampai ke dirinya sendiri?”
Pak Hansen mendongak, ia menatap Claudia yang membuang wajah. Memikirkan kejadian itu lebih jauh, Claudia merasa seperti sedang mengupas kulit jeruk. Lapisan luarnya mungkin terlihat seperti Nila memang teledor, tapi ia merasa Lyta sebagai sanksi mengatakan fakta palsu. Gaun yang dibicarakan jelas tidak berekor, hanya semata kaki. Tapi Claudia tidak punya keberanian untuk mengakui itu. Atau mungkin, ia tidak berani untuk mengetahui kenyataan kalau benar-benar Lyta yang mendorong—
“Maksud kamu gimana? Nila lumpuh ya karena jatuh. Atau kamu menyangka berita ini ada yang buat-buat aja? Lalu gimana dengan para influencer i********: yang menggugat? Terlalu campur aduk, Di, saya sampai nggak tahu harus membelah yang mana. Harus menjelaskan yang mana.” Suara Pak Hansen masih terdengar pelan meski terselip nada frustasi di sana. Sembari berpikir, Claudia terus menahan opininya.
“Maksud saya, Nila nggak akan seterpuruk ini. Saya tahu ini kaki yang lumpuh, tapi kenapa Nila berpikir seakan hidupnya nggak lagi berguna dan...” Claudia menahan kalimatnya, semakin dipikirkan, kenyataan itu semakin terasa pahit di ujung lidah. Sebagai manager Nila sejak ia masuk ke agensi dan menjadi model utama, Claudia tahu seperti apa hidup Nila, seperti apa sikapnya jika kedapatan masalah, seberat apa pun itu, Claudia tahu kalau Nila pasti punya satu hal yang membuatnya kembali bangkit dan semangat untuk menjalani karirnya. Claudia tau seberat apa Nila pernah bertahan di salah satu project yang tidak disukainya. Saat Nila sakit dan tifus, kaki terkilir karena mengenakan banyak sepatu yang berbeda, masuk angin karena harus berfoto di depan kipas angin selama satu jam dan sebagainya. Hal-hal itu tidak akan membuat Nila sejauh itu berdiri di dalam kegelapannya sendiri.
Tidak, jika ada sesuatu yang membuatnya terserang langsung ke hati.
Dokter bilang Nila masih bisa sembuh, Nila bisa pulih, asal jangan depresi.
“Saya nggak tahu sebenarnya kamu membantu siapa, tapi kalau kamu merasa ada kejanggalan, seenggaknya kita harus diskusi. Apa yang kamu rasa aneh, apa yang kamu anggap salah? Seenggaknya, kamu juga harus bantu perusahaan, Di.”
Claudia menarik napas panjang sebelum beranjak duduk di depan meja kerja Pak Hansen yang besar. Ia menatap lurus ke arah pria itu, memastikan ikatan ucapan ini bukan keraguan lagi.
“Saya tahu gaun yang dipakai Nila wkatu pemotretan, dan itu bertolak belakang dengan apa yang Lyta bilang.”
Karena suara Claudia terlalu pelan, ia hampir mengira Pak Hansen tidak mendengar. Tapi pria itu mengerutkan kening, bertanya sekali lagi.
“Maksud kamu?”
Claudia tidak tahu sedang melakukan apa, baik kepada Lyta—model yang menjadi tanggungjawabnya, tapi ia hanya ingin Pak Hansen memiliki pilihan lain selain menyalahkan Nila atas trauma itu.
“Saya merasa Lyta mengada-ada.”
Kening Pak Hansen semakin mengerut. “Kamu nggak lagi mengkambing hitamkan, Lyta, kan?”
Claudia menggeleng samar, setengah memohon untuk melanjutkannya bicara, “saya nggak berani untuk berpikiran yang lain, tapi apa bapak nggak merasa harusnya Lyta mencari Nila?”
Pak Hansen tertawa pelan, menatap Claudia dengan tatapan—kamu bercanda? Yang kemudian ditepis Claudia.
“Claudia, mereka sahabatan. Lyta punya banyak project, buat apa dia mau mengada-ada sahabatnya sendiri?”
Selain Nila, model yang diawasinya adalah Lyta. Model cantik dan selalu punya side visual yang memikat dan kulit cokelat eksotis membuatnya paham betul karakter gadis itu. Lyta yang selalu tenang kadang-kadang sulit ditebak. Ia sendiri tidak tahu kenapa Lyta bisa begitu tenang menghadapi kejadian Nila, tapi kenapa sampai sekarang Nila juga tidak menyinggung soal Lyta? Selayaknya sahabat yang saling membutuhkan?
“Jangan menunjuk siapa pun dulu, Di. Kita harus dengar penjelasan lengkapnya dari Nila. Setelah itu baru bisa dipastikan apakah ini memang Nila yang lalai atau memang—seperti katamu—walau saya nggak percaya, Lyta mengada-ada.”
Sejenak Claudia menimbang-nimbang opini yang memang terdengar mustahil meskipun hatinya terus merasa janggal. Tapi setelah itu Pak Hansen menyuruhnya keluar kembali ke kubikelnya. Sepanjang perjalanan menuju ruang kerjanya, mata Claudia terpaku di satu titik kilasan di pikirannya.
***