Suasana di dalam mobil begitu hening. Arora menatap ke arah samping jendela kaca. Sementara Zayn fokus, meski sesekali ujung matanya melirik ke samping.
"Lo itu kalau baru kenal sama orang, jangan gampang dekat. Emang tahu orang itu baik apa gak nya?" celetuk Zayn. Yang membuat Arora menoleh, menatap ke arahnya.
"Maksud lo, Samuel?" Arora langsung menembak ke sasaran.
"Ya, siapa ajalah. Gue cuma ngingetin," pungkas Zayn.
Sudut bibir Arora menukik, "lo cemburu?" ledek Arora. Memiringkan sedikit kepala untuk menatap Zayn.
"Gue cemburu sama Samuel? Pede amat lo," sanggah Zayn, seraya melirik sekilas. Ia mendengus pelan.
Arora tertawa tanpa suara.
"Kalau bukan cemburu, terus apa namanya? Protektif? Atau lo lagi latihan jadi satpam pribadi gue?" Arora masih belum menyerah. Ia melipat tangan di d**a, menikmati semu merah tipis yang muncul di telinga Zayn— pemandangan pertama kali yang ia dapatkan.
Zayn mengembuskan napas kasar, jemarinya mengetuk-ngetuk setir mobil dengan ritme yang tidak beraturan.
"Lo gak tahu seperti apa Samuel. Dia itu sahabat gue yang paling playboy."
"Dan lo suhunya," sela Arora, santai.
Cekiitt...
Mendengar itu, Zayn mendadak menginjak rem sedikit lebih dalam saat lampu lalu lintas berubah kuning.
"Tahu darimana lo kalau gue suhu playboy?" Kali ini Zayn menoleh menatap Arora.
"Samuel kan teman lo, jadi kalau dia playboy, udah dipastikan lo salah satunya."
Sia.l nih cewe.
Zayn menarik sudut bibirnya sedikit. Sifat Arora sangat berbeda, dan itu membuatnya merasa tertantang untuk lebih dekat.
"Jangan kelamaan lo lihat gue, ntar naksir gue gak tanggung jawab," sindir Arora. Menahan senyum yang hampir meledak di di bibirnya.
"Berani banget lo sama gue, ya?" kilah Zayn, mengalihkan pembicaraan. Ia mendekatkan wajah dengan bermaksud menakuti Arora.
Tapi sepertinya Zayn salah dalam hal ini. Arora malah meletakkan tangannya tepat di wajah Zayn, dan mendorongnya.
"Urusan kita di kantor, dan sekarang sudah lewat dari jam kerja. Jadi gue bakal balik ke mode awal, itu pasti."
Zayn semakin menarik sudut bibirnya membentuk senyuman lebar. Kalau bukan karena seruan klakson mobil di belakang sana, sudah pasti Zayn lanjut menguji keberanian gadis ini.
Hingga tanpa terasa laju mobil sudah memasuki kawasan swadana tempat Arora tinggal. Seperti yang dikatakan Samuel tadi, lokasi itu memang tampak sepi. Penerangannya pun tidak terlalu menyala.
"Di mana rumah lo?" tanya Zayn, setelah menghentikan laju mobil.
"Di dalam sana. Tapi gue turun di sini aja gak apa, kok," sahut Arora. Tapi sebelum seat belt yang membelit pinggangnya terlepas, Zayn sudah melajukan kembali mobilnya.
"Zayn, ntar lo terlambat lho," peringat Arora. Menatap dengan dahinya mengernyit.
"Nggak usah lo pikirin. Shandra itu teman masa kecil gue, dan dia pasti ngerti."
Arora akhirnya diam dan membiarkan Zayn mengantarnya sampai ke depan halaman kecil kontrakan.
"Lo tinggal di sini?" Netranya mengedar, memandangi rumah-rumah petak dari dalam mobil.
"Tuh,..." tunjuk Arora pada sebuah rumah bercatkan hijau sage. "Thanks ya, udah anterin gue. Gue juga bisa langsung kerja," ucap Arora, sembari mengembangkan senyum.
Sejenak ke Zayn terpana. Senyum gadis ini manis juga. Ia memandangi rumah hijau sage itu lagi. Ukurannya kecil, mungkin hanya sepertiga dari luas ruang tamu di rumah mewahnya. Namun, ada tanaman gantung yang tertata rapi di terasnya, yang memberikan kesan hangat.
Baru saja Arora hendak melangkah menuju pagar kayu kecilnya, Zayn memanggilnya.
"Ra!"
Gadis itu menoleh, alisnya bertaut heran. "Kenapa?"
Zayn tampak ragu sejenak. "Besok jam 7 lo harus udah ada di kantor." Peringatan yang terdengar klasik.
"Oke," seru Arora, sembari mengacungkan jempol.
"Ya udah sana masuk," titah Zayn, yang langsung dianggukin kepala Arora.
Setelah memastikan gadis itu masuk ke dalam rumah, barulah Zayn membelokkan mobilnya, melaju pergi dari sana.
Arora masih berdiri di depan pintu. Menatap mobil yang semakin menghilang dari balik jendela kaca rumahnya.
**
Baru saja Arora akan menaiki tempat tidurnya, ponsel berdering panjang di atas nakas. Arora meraih ponsel, melihat siapa yang menelpon.
"Hai, Dhin," sapanya.
"Jadi gimana, keterima lo kerja?" tanya Dhini dari seberang sana.
"Iya, gue langsung diterima. Ini gue baru pulang," papar Arora sambil merebahkan kepalanya ke bantal.
"Baru pulang! Kok bisa, sih? Bukannya jam kerja kantor sampai jam lima, ya? Hati-hati lo, jangan mau dikasih kerjaan tambahan diluar konteks kerja. Atau Lo langsung star one night stand?" cerocos Dhini sudah seperti Mak yang menasehati anaknya.
Arora menghela nafas perlahan. Merasakan nikmatnya meluruskan punggung yang seharian tegap.
"Gila lo, mikirnya kejauhan, njir. Ya kali gue mau langsung star, kecuali hidup gue terjamin, masih bisa gue pikir ulang," kekeh Arora. "Lagian gue dianter pulang, kok sama om lo."
"Kampret!" gelak tawa Dhini pecah mendengar guyonan sahabatnya. "Percaya sama gue, Lo bahagia sama om Zyan. Tampan kan, om gue? Ponakannya aja serata blackpink."
"Haha... pede amat Lo. Kalau untuk Zayn, lumayanlah."
"Puji gue, gak bakal buat lo kehilangan om tampan nan kaya. Hihix...."
Gibah malam itu pun semakin seru.
Arora mengubah posisi tidurnya menjadi tengkurap dengan bantal menumpu sebelah wajahnya.
"Tapi gue jadi mikir, masa sih masih jombl, vibes gagah gitu. Eh, lo tahu gak, Dhin. Sebelum itu, mobilnya dia nabrak motor gue, tahu! Mana bareng cewek lagi. Cuma ya itu, katanya bukan kekasihnya, sih." Arora mulai bercerita dengan nada menggebu-gebu, menjepit ponsel di antara bahu dan telinganya.
Di seberang sambungan, terdengar suara Dhini yang baru saja menyesap minuman. "Nah, itu sinyal hijau! Yakin gue bukan pacarnya, mana gak pernah dibawa ke rumah juga. Peluang lo terbuka lebar. Lagian ya, cowok umur tiga puluhan, mapan, punya mobil, dan sopan itu barang langka di zaman sekarang. Lo harus pasang radar. Gue benteng lo."
"Ih, sembarangan main gas-gas aja! Kalau gue diserang ceweknya, lo tanggung jawab?" semprot Arora sambil mengempaskan tubuh kembali terlentang.
"Lo tanggung, gue jawab, deh," sahut Dhini enteng.
"Anjir, benyek gue!"
Suara tawa Dhini pecah, terdengar nyaring dari speaker ponsel Arora. "Aduh, perut gue sakit! Tapi serius, Ra, om Zayn gak punya kekasih. Percaya gue, mana mungkin gue bo'ong sama lo!"
"Percaya, kok. Gue udah buktiin sendiri tadi," seru Arora, sambil mengingat senyum manis Zayn.
"Mantap! Kebayang gak sih, keterima kerja, bonusnya dapet bos ganteng."
Arora senyum-senyum sendiri mengingat manisnya senyum Zayn tadi.
"Dhin, thanks banget ya, berkat rekomendasi lo, gue dapat pekerjaan," ucap Arora bernada haru. Informasi Dhini tepat untuknya.
"Utututu... sans aja, besty. Buat lo apa sih yang gak? Gue pas kebetulan lihat loker di televisi sih. Eh, emang rezeki lo, 'kan?"
Arora mengangguk walaupun Dhini tak melihatnya.
"Lo tenang aja, nanti gue traktir pas gajian buldep, deh," janji Arora.
"Buset dah, berkerak gue nungguin traktiran lo! Mending gue nunggu traktiran jadian lo sama pengusaha muda itu, deh."
"Ish, apaan sih lo. Main klaim aja." Malu-malu Arora menyembunyikan senyumnya.
"Fiks, lo bakal jadian sama dia. Dengan dia nganterin lo aja, itu namanya love at first crash, Ra!"
"Udah ah, makin ngaco aja lo. Gue mau tidur, besok udah di klaim jam tujuh stay di kantor. Pay...."
"Sema-" belum selesai Dhini berbicara, Arora sudah memutuskan sambungan telepon. Bisa dipastikan Dhini mencak-mencak diseberang sana.