Arora sampai di kantor tepat pukul 7 pagi seperti yang dititahkan Zayn padanya. Kehadirannya di gedung pencakar langit itu disambut tatapan aneh security yang berjaga.
"Mbak_" belum sempat security mengutarakan maksud nya, atensinya beralih pada sebuah mobil yang masuk.
Samuel turun dari mobil metalik silver Mercedes nya. Menatap Arora dengan sebelah alis ketarik.
"Selamat pagi, Pak," sapa security.
"Pagi, Pak," sahut Samuel. Tatapannya pun beralih pada Arora.
"Hai, Arora. Lo di sini?" sapa Samuel, sambil menutup pintu mobilnya.
"Iya, dong. Kemaren kan gue udah mulai kerja," sahut Arora, bangga.
Samuel menganggukkan kepalanya perlahan. Melirik jam pintar di pergelangan tangannya.
"Pukul tujuh teng," gumam Samuel. Yang langsung disambut senyum lebar dari Arora.
"Zayn benar-benar angker ya, masalah waktu," sambungnya Samuel.
"Namanya juga kerja, pastinya punya tanggung jawab, 'kan?" timpal Arora, dengan nada ringan. Seringan langkahnya yang mulai mendekati pintu utama lobi.
Pagi ini semangat Arora bertambah dua kali lipat karena sambutan hangat Samuel. Dia akan bekerja lebih giat di kantor itu.
Samuel menghentikan langkah tepat di depan pintu lobi. Membiarkan kacamata hitamnya turun sedikit di batang hidung.
"Btw, gimana semalam? Aman, 'kan? Zayn gak macam-macam?"
"Apanya macam-macam, aman, kok. Pak Zayn nganterin gue sampe ke kosan," sahut Arora. "Malahan gue yang cemas pak Zayn telat ke tempat Shandra," sahut Arora.
"Asal lo tahu aja ya, Ra, itu Zayn gak pernah lho, nganterin karyawannya pulang," papar Samuel dengan info aktualnya.
"Ya, mungkin karena hari udah malam, makanya dia antarin gue," sahut Arora, sembari tersenyum. Ia harus berpikiran positif. Dan ya,-- jangan sampai dia masuk perangkap Samuel.
Berlagak polosan, ntar endingnya malah cari informasi. Arora gak boleh terjebak.
Samuel mengangkat dua jari hingga berbentuk peace. "Gue kenal Zayn dari jaman ingusan. Paham gue itu bos," kekeuh Samuel, memasang wajah serius.
dan diikuti tawa kecil dari Arora.
"Ngakak, eh! Ingusan gak, tuh?" Arora menimpali dengan tawa kecil. "Emang kalian seumuran, ya? Harusnya gue panggil lo pak, juga, dong."
"Ya, beda setahunan lah. Zayn anak terakhir berjarak beberapa tahun dari kakaknya, makanya masih muda. Tampan lagi. Ya, walaupun dibanding gue, jauh lah, ya."
"Pede amat kamu, Om."
"No. Jangan panggil gue om. Cukup Samuel."
Arora tertawa geli. Tak menyangka sikap receh Samuel hingga percakapan pagi itu semakin hangat. Tingkat kepercayaan diri Samuel memang tinggi. Tapi kalau dipikir-pikir Samuel dan Zayn memang sama tampannya. Dan kalau dibolehkan, Arora gak nolak memilih dari salah satunya.
Tanpa mereka sadari, sepasang mata mengintai di setiap alat kecil dari sudut ruangan.
Tanpa terasa langkah mereka sudah di depan pintu lift. Mata Arora masih mengedar ke kanan kiri, merasa ada yang berbeda di lobby lantai dasar perusahaan itu hari ini.
"Tumben jam segini masih sepi," batin Arora. Biasanya jam segitu para karyawan pasti sudah hadir satu persatu. Tapi ini sepi,- bahkan meja resepsionis pun kosong.
"Gue kepagian, ya?" Tak bisa menyembunyikan rasa penasarannya, Arora pun bertanya. Atensinya yang mengedar, kini beralih menatap Samuel.
Ditanya begitu, Samuel kembali melepaskan tawanya lebih keras. Suara baritonnya bergema di lobi yang sepi. Membuat Arora heran dengan sikap humoris yang dimiliki Samuel.
"Lo dikit-dikit ketawa, udah kayak orgil aja. Kenapa, sih?"
Samuel mencondongkan sedikit tubuhnya ke samping, setelah masuk ke dalam lift. Merendahkan suaranya sehingga hanya Arora yang bisa mendengar. "Zayn gak memberitahu lo, ya?" tanya Samuel.
Arora mengernyit. "Maksudnya?"
"Hei nona Arora... lo lupa atau gimana? Ini hari Sabtu. Mana ada kantor yang bekerja." Samuel menarik tegap tubuhnya. Masih dengan tawa yang tak kunjung berhenti.
Arora menatap cengo, wajahnya seketika memanas. Ia merogoh saku tasnya dengan panik, mencari ponsel untuk memastikan tanggal dan hari. Benar saja, di layar terkunci itu tertera dengan jelas: Sabtu, 7 Januari.
"Sial," umpat Arora lirih. Ia menatap Samuel yang masih tertawa puas hingga memegang perutnya. "Tapi Zayn... ngeprank gue, gitu? Awas aja itu bos. Gue benyek-benyek mulutnya."
"Lo mau benyek pake apa? Pake bibir sama lidah lo itu?" Samuel menyeka air mata di sudut matanya karena terlalu banyak tertawa. Mau kasihan tapi lucu dengan kepolosan gadis disampingnya itu.
"Kampret lu, ah! Trus lo ngapain ke kantor kalau libur?" rutuk Arora. Memang kurang kerjaan penguasa perusahaan ini.
"Lha, gue wajib datang kalau Zayn ke kantor. Bisa dipenggalnya bulanan gue kalau gue nolak," papar Samuel. Memberikan pembelaan diri yang terdengar masuk akal. "Kalau lo, ya gue kagak tahu ngapain."
"Sialan! Emang kurang kerjaan itu orang! Kurang warna apa, hidupnya? Seharusnya gue bisa molor hari ini, minimal regangin pinggang!" Arora semakin menumpahkan kekesalannya lantaran dikerjai Zayn. Membuat Samuel tak dapat menghentikan tawanya.
"Arora, Arora... Mahasiswi terbaik dengan nilai memuaskan, tapi bisa-bisanya kena prank di hari pertama kerja. Boleh ketawa gak, sih gue?"
"Berisik lo! Rasa dari pintu utama lo udah ngetawain gue, deh." Bibir Arora maju beberapa senti. Sumpah ya, ketemu Zayn bakal di remas itu mulut yang udah nyuruh datang jam 7 pagi.
Samuel mendadak mengunci mulutnya. Meski menggelembung menahan tawa yang semakin garing di telinga Arora.
"Zayn itu paling males ke kantor selama ini. Gue jadi heran kenapa dia sekarang berubah rajin."
"Kesambet, mungkin!" sahut Arora, asal bunyi.
"Nah bener. Kesambet anak baru." Telunjuk Samuel tertuju ke wajah Arora. Dan lagi lagi melepaskan tawanya.
"Is, males banget gue. Ogah, ya! Sanking rajinnya, hari libur pun dia sikat. Sakit jiwa!" rutuk Arora. Gemas kali dengan tingkah Zayn yang mengerjainya.
Mata Samuel membelalak sempurna. "Gue aduin lo, ya?" tudingnya, sembari terbahak-bahak geli.
"Sana!" tantang Arora. Emosinya sedang tak stabil. Jadi apapun gak bakal konek dalam otak kecilnya.
Ting,
Pintu lift terbuka. Samuel melangkah terlebih dahulu dengan tawa yang tak kunjung berhenti. Meninggalkan Arora yang masih mendengus kesal.
Arora mengepalkan tangan. Rasa malu yang tadi menyelimuti kini berubah menjadi kekesalan yang mendidih. Samuel menertawainya habis-habisan.
"Zayn benar-benar keterlaluan! Pantes aja, pak security tadi ngelihatin gue kayak gitu!" cerocos Arora sambil menghentakkan kakinya di lantai kotak besi berjalan itu.
Kehadiran Arora di ruang CEO itu disambut tatapan mata Zayn, yang langsung melirik jam dipergelangan tangannya.
"Lo terlambat lima menit, Arora," ucap Zayn pelan, matanya yang semula menatap Arora, kini beralih ke dokumen di atas meja. "Sepertinya percakapan kalian sangat seru, sampai lift terasa lamban berjalan, ya?" sindir Zayn, ketara di telinga Arora.
"Masuklah. Kita punya banyak hal untuk diselesaikan sebelum dunia terbangun," sambung Zayn, disaat tak mendapati jawaban dari ucapannya.
"Dunia terbangun kepala lo! Udah siang gini, woy!"
Zayn menarik tatapannya.
"Kenapa?"