RUMBAI hitam terasa menggelitik. Kutahan hasrat untuk menggaruk paha, selagi berkaca dan menahan muntah. Aku belum terbiasa mengenakan busana berkasta tinggi—sejujurnya, aku benci melihat refleksi tubuhku saat ini. Air mukaku masam, terlepas dari topeng pesta yang membingkai secara elegan di netra hijauku. Selain karena aku tidak suka dengan sebagian dadaku yang cukup terekspos, ide Kai tentang melucutkan busana Margorie dan membuatku berpura-pura menjadi petinggi itu cukup mengusik dan menentang etis.
Dengan leher menekuk, aku membelakangi cermin. Segera saja kurampas rantai tas jinjing dari permukaan lantai, kemudian mencantolkannya di pundak. Derap pantofel curianku mulai terdengar begitu aku keluar dari salah satu ruang kosong di kelab malam. Roan rupanya telah menungguku di depan sana. Figur belakang pemuda itu tampak menjulang saat aku membuka pintu.
Pekak dentuman musik tidak cukup membuat indra pendengarnya tuli. Ia langsung menengok ke balik pundak bertepatan tanganku menutup pintu. Netranya membentur milikku sebentar, tidak lama pandangannya turun dari atas—dan aku cukup paham dengan isi benaknya. k*****t, aku merasa telanjang. Segera saja kulangkahkan kaki dan merenggut paksa telapak tangan Roan dari dalam saku celananya.
“Pegang.” Kuserahkan tas jinjing milik Margorie di atas tangan Roan, kemudian tersenyum kilat ketika aku mulai memapasnya. “Detik ini juga, patri di dalam otakmu bahwa aku lah tuan kalian—Margorie Grimm.”
“Terserah kau, Emrys.” Aku bisa merasakan longo dan helaan napasnya sebentar di dalam kalimat pemuda itu. “Sekadar informasi, kau cepat juga mendalami peranmu sebagai si petinggi-tikus-berdasi.”
Permukaan keningku terlipat sempurna. Tadi itu pujian atau hinaan?
*
Selera kaum demontus boleh juga.
Akademi Maleficum rupanya tidak semengerikan tulisan awut-awutan Kai—jauh lebih apik, kalau boleh jujur. Bangunan akademi ini sangat bertolak belakang dengan Asrama Nightfall. Ketika asramaku didominasi oleh warna putih dan berarsitektur klasik, Maleficum sendiri serbahitam—tentu saja, dan berarsitektur barok. Ukuran bangunan ini teramat megah. Atapnya memiliki kubah raksasa dengan puncak runcing di bagian teratas akademi.
Begitu netra hijauku mengintai bangunan lebih lanjut, rupanya atap berkubah tersebut dikelilingi oleh patung-patung cerberus yang tidak ada habisnya. Permukaan keningku yang sebagiannya tertutup topeng pesta lantas saja terlipat dan benakku langsung menarik kembali hipotesis tadi, menggantikan kalimatnya dengan; selera kaum demontus bodoh juga. Sekilas, aku bisa merasakan benda mati itu menjadi hidup, mengintaiku dari atas sana dengan ratusan pasang mata mereka.
Aku merasa tidak aman. Bukan seperti Dewa Cerberus dapat menerawangku dari kejauhan. Sang Penguasa telah mewejangku dengan sebagian besar dari kekuatan-Nya demi membatasi visual Sang Penguasa Kegelapan. Hanya saja, setiap kali aku melihat segala hal berkaitan dengan Cerberus, atmosfer tidak mengenakkan dapat merebak secepat kilat—mendesak benakku untuk kembali teringat dengan konsekuensi yang akan kudapat setelah aku sekiranya mampu menaklukkannya.
Begitu helaan napas lolos dari bibir, sebuah senggolan di permukaan sikuku langsung terasa dan membuat atensiku teralih seketika. Itu kerjaan Kai. Dengan sudut netranya, ia menginstruksikanku untuk menatap lurus ke depan. Kutelan kekesalan lebih dulu, baru menujukan arah pandang di depan sana. Sudah ada seorang gadis—mungkin satu atau dua tahun di bawahku, tengah menundukkan kepalanya patah-patah.
Dari seragam hitam dengan ukiran bordir cerberus pada permukaan sakunya, kutebak ia merupakan salah satu murid di Akademi Maleficum.
Aku segera melirik Kai, sedangkan pemuda bersurai merah itu balas melirikku dengan pelototan. Menahan kesal, langsung saja aku menatap ke balik pundak gadis itu dan mengubah air mukaku dalam arogansi penuh. “Kau tentu tahu siapa aku,” kataku, menyelipkan nada merendahkan di sana. Oh, sepertinya aku akan sangat cocok dalam memerankan keangkuhan Margorie Grimm. “Nah, sekarang aku kewalahan usai berkontribusi untuk kota dan akademi ini. Bisa antar aku ke kamarku sekarang—”
Trivia Spellbrood. Eh, boleh juga.
“—Hm, namamu keren juga, Spellbrood.”
Margorie tidak akan memuji orang. Aku sengaja mengatakan itu tanpa sedikit pun mengurangi nada merendahkan, akan tetapi, reaksi Trivia benar-benar di luar dugaan. Ia tidak lagi menunduk, memandangiku secara terang-terangan dengan suatu binar kebahagiaan yang sulit untuk kupahami. “Suatu kehormatan untuk mendapat pujian dari Anda, Nyonya Grimm.” Trivia merekahkan senyum. “Terima kasih. Nama ini merupakan pemberian dari mendiang Dad saya.”
Aku tertegun. Margorie mungkin tidak akan bisa merasakan simpati atau empati, faktanya aku sama sekali bukan petinggi itu—aku hanya menyamar. Ketika aku harus bersikap masa bodoh dengan ucapan Trivia, ingatanku justru dibuat terlempar menuju gambaran di mana sosok Mom dan Dad masih terperangkap bersama Tedros di ambang hidup dan mati.
“Yah, kuharap pujianku bisa sampai ke telinga Dad-mu,” ujarku, begitu kesadaranku kembali sepenuhnya.
Kai mendeham di samping. Dari dehamnya saja, aku tahu ia sedang mencercaku dengan kalimat, “Kau keluar dari peran, Emrys!”
“Spellbrood! Kau ini—selalu saja lamban bekerja!” Raut girang Trivia seketika raib, tergantikan oleh pias. Ia berputar semata-mata menghadap sosok yang baru saja datang. Tahu-tahu saja, sosok itu menubruk pundak Trivia selagi berlenggang menuju tempat lebih dekat denganku, kemudian merunduk dalam-dalam. “Perkenalkan, saya Elena Lemuel—mewakili Trivia Spellbrood, mohon maaf atas penguluran waktunya, Nyonya Grimm.”
Jemariku terangkat sebentar untuk membetulkan topeng pesta, kemudian mengintainya tajam dengan netra hijauku. “Ya. Tidak apa,” ketusku.
Elena mengangguk patuh. Ia menatap tajam Trivia. “Antar Nyonya Grimm sekarang, Trivia. Sebentar lagi Tuan Raven akan datang.”
Aku refleks memicing saat mendengar satu nama itu. Segera saja kulirik Kai, Roan, dan Fraser secara bergantian. Mengerti maksud dari tatapanku, ketiganya melontarkan seringai dan mengangguk singkat. Aku merotasikan netra, baru beralih pandang menuju Elena yang sudah kembali bersemuka dengan kami dan merunduk sekali lagi, kemudian berlenggang menjauh dari kami dan kawan satu akademinya.
Trivia mengulaskan senyum kikuk. “Mari, saya antar Nyonya Grimm ke ruangan Anda.”
Segera kulipat tangan di depan d**a, membetulkan topeng pestaku sekali lagi—agar tidak tergelincir dari hidung bangirku, tidak lupa juga untuk mendengkus malas. “Yah, aku sudah menanti itu sedari tadi.”
Dan, ya—kurasa aku mulai terbiasa untuk bersikap memuakkan seperti saat ini.
Roan dan Kai mengapit tubuhku di sisi kanan dan kiri, sedangkan Fraser berlagak menjagaku dari belakang. Yang kutahu, Margorie Grimm terus berganti-ganti sentinel. Mudah saja untuk tidak menimbulkan kecurigaan terhadap ketiga pemuda itu dari pihak akademi. Sebetulnya, posisiku paling rentan untuk tertangkap basah jika saja tidak ada topeng pesta yang kerap membatasi petinggi dengan dunia luar.
Jangan lalai dalam bertindak merupakan kata kunci untuk mendapat rasa aman di tempat asing ini.
Pelataran akademi lebih mirip pekuburan saking hening dan tidak hidupnya. Saat ini, waktu sudah terhitung cukup larut—artinya, tidak ada kegiatan belajar dan kemungkinan terbesar, yang lain sudah lelap. Keadaan saat ini setidak-tidaknya agak menguntungkan untuk kami. Peluang tertangkap basah lantaran tengah menyamar menjadi petinggi hampir kedengaran mustahil.
Kami sempat melalui satu buah bundaran dengan beringin raksasa di bagian tengahnya. Hanya sisa beberapa meter lagi untuk kami dapat menjangkau bangunan utama Akademi Maleficum. Sesuai denah dari Kai, letak ruang-ruang pribadi para petinggi memang berada di satu atap dengan kegiatan belajar, pembedanya pada bagian tingkatan saja.
Lantai dua untuk ruang pribadi para tikus berdasi dengan status privilese. Lantai tiga dan empat untuk pelaksanaan kelas biasa. Lantai satu untuk auditorium khusus acara penting, seperti Turnamen Hitam. Dan bagian terpentingnya, lantai dasar untuk melancarkan misi pengambilan kunci. Atas bantuan penguraian dari Fraser tempo lalu, gambaran spasial tentang penempatan ruangan di sepenjuru Akademi Maleficum sudah terpatri jelas di ingatan jangka panjangku. Semoga saja.
Sinar rembulan Incubus Sphere tampaknya sudah menjangkau permukaan lantai saat kami semua memasuki bangunan utama. Aku mendongak, mendapati keberadaan okulus—jendela kaca pada puncak kubah—dengan diameter cukup besar di sana. Lantai marmer hitam merefleksikan bayangan dari segala lekuk yang terdapat di dalam bangunan.
Pantofel curianku paling berisik sepanjang kami menaiki undakan untuk menjamah lantai dua—menuju ruang pribadi Margorie. Kabar baiknya, lantai koridor di tingkat dua ini beralaskan karpet sehingga mampu meredamkan derap. Usai menghabiskan sekitar satu sampai dua menit, kami dapat tiba tepat di depan ruang pribadiku.
Trivia lantas memasukkan kunci ke dalam lubang knop. Ada suara klik sebentar, kemudian ia memosisikan diri agak jauh dengan beberapa langkah pendek dan terputus-putus. Aku menerobos dengan lasak ke dalam ruang pribadi Margorie. Pandanganku jatuh pertama kali di sebuah kursi kebesaran laiknya untuk seorang raja. Jadi, dengan bertingkah seakan-akan aku sudah akrab dengan ruangan ini, aku langsung masuk dan menjatuhkan b****g ke alas duduk.
Kupandangi Roan, Fraser, dan Kai yang nyatanya lebih d***u daripada aku sendiri. Mereka kentara terpukau dengan bagian dalam ruangan Margorie—tidak bisa mengendalikan longo di bibir. Begitu ketiganya akan memasuki ruang sepetak ini lebih dalam lagi, Trivia mendadak mengulurkan satu tangan selagi mengeluarkan suara tertahan.
“M-Maaf, tetapi ruangan untuk para sentinel ada di—”
Aku mengibaskan tangan dengan lagak angkuh, “Biarkan mereka.”
“Namun—”
“Ini ruanganku, Spellbrood.” Kutekankan nada anti penolakan di dalam kalimatku, kemudian mendongak ke langit-langit ruangan yang hitam—dengan harapan Trivia sadar aku tidak menerima penolakan. “Angkat kakimu dari sini. k*****t, aku bau wiski sekali. Aku butuh mandi.”
“B-Baik, Nyonya Grimm. Selamat beristirahat—d-dan mandi.”
Usai suara pintu yang tertutup sampai ke telingaku, lekas saja kurenggut topeng pesta itu yang masih setia membingkai kedua netraku. Tidak lama, tawa Kai pecah. Aku gagal menahan kekesalan, sehingga tanpa berbicara apa-apa, tanganku langsung melemparkan topeng pesta agar mendarat di depan wajah memuakkannya. Kabar buruknya, ia bisa berkelit dan beringsut ke dipan—membanting dirinya sendiri ke atas sana, menimbulkan deritan kayu mahoni dipan.
“Kerja bagus, Nyonya Grimm.” Kai cengar-cengir. “Kelihatan sekali kau sudah terlatih untuk menjadi tikus berdasi, Emrys.”
“Diam lah,” ketusku, meremas pelipis selagi mengintai sekeliling. “Jadi, setelah ini apa?”
“Untuk sekarang, tidak ada.” Roan merenggut topeng pestaku dari atas lantai dan mengulurkannya di depanku. Jantan sekali. “Esok hari, kami akan mulai mencari-cari titik teraman di akademi. Lusa nanti—tepat saat Turnamen Hitam—kita akan melancarkan misi dan menuntaskannya secepat mungkin. Paling tidak, sebelum Purnama Hitam berlangsung.”
Fraser mendatangiku. “Istirahat saja, Candice. Oh ya, tadi itu kau melakukan peranmu dengan sangat baik.”
“Kecuali bagian rasa simpatimu tentang pemberian nama keren gadis Maleficum itu,” timpal Kai.
Sialan. Pemuda itu paling pintar dalam menangani situasi. “Ya sudah,” kataku, singkat.
Hanya itu saja yang bisa kukatakan. Saat ini, otakku tidak ingin memikirkan apa-apa. Kubiarkan ketiga anggota Klan Baja itu berpikir dan berdiskusi sesuka hati mereka, sedangkan aku harus mengabsen kembali energi yang sudah terkuras untuk esok hari. Di saat aku tergugah untuk tidur, bekas bau wiski nyatanya masih melekat dengan setia di busana Margorie—k*****t, semerbaknya benar-benar terasa begitu lancang.
“Ck! Mari kita tebak. Apa tuan rumah ini memiliki baju ganti?”[]