KEWALAHAN membuatku molor laiknya babi hutan. Aku mendapati diri terbangun sendirian di ruangan pribadi Margorie. Kawan satu misiku raib, mungkin saja sudah dari pagi buta. Ini bagian dari misi mereka—mencari-cari titik teraman untuk membuat target menunduk. Bagianku sendiri masih esok hari, bertepatan dengan Turnamen Hitam dan aku berperan dalam penjurian.
Bukan berarti, hari ini aku bisa berleha-leha.
Jemariku mengancingkan jas eksklusif Margorie yang sempat kutemukan dari almari ruang pribadinya—dan satu-satunya atribut paling wajar di antara para isinya. Jelas saja, mana mungkin aku akan mengenakan busana berumbai-rumbai yang menggelitik paha dan mengekspos separuh besar dari anggota tubuhku. Akan lebih baik menutupnya sebelum mengundang atensi para kaum jantan berotak b***t, termasuk ketiga kolega sompretku sendiri.
Netra hijauku berpindah dari cermin menuju nakas, di mana topeng pestaku tergeletak di atas sana. Segera kupungut benda itu dan melekatkan permukaan bagian dalamnya tepat di depan netraku, kemudian melihat refleksi diri lagi dari cela lubang. Diam-diam, aku merasa kekontrasan dalam ragaku—bisa jadi mengalami dismorfia. Topeng pesta membuatku terkesan lebih angkuh, pucat, dan tulang rahangku terbentuk lebih masif dari biasanya.
Ini bukan kau banget, Candice, batinku, mendengkus muak.
Ketukan pintu membuat lamunanku pecah. Aku bergegas menyelipkan tali yang tersimpul di topeng ke bagian belakang cuping telinga, baru berteriak dengan lantang, “Masuk saja!”
Aku masih menghadap cermin ketika akses masuk ruang pribadi Margorie sudah terekspos sempurna beberapa meter di belakangku. Kuamati refleksi tubuh Trivia sedang maju satu langkah dengan kepala tertunduk dan mencari-cari keberadaan batang hidungku dari sana. Aku menggumam singkat. Ia menegang sejenak—seakan-akan ada arus listrik yang sedang mengabsen kembali kesadarannya, baru menatapku ke dalam cermin.
Tidak bisa kumungkir, efek kekuasaan para petinggi berstatus privilese begitu melemahkan kaum berkasta rendah.
Kutahan keinginan untuk mendengkus muak. “Aku ingin menonton pelatihan para kandidat turnamen,” kataku, berbalik memunggungi cermin—bersemuka dengan si murid Akademi Maleficum. “Tatap aku. Kaukira, wajahku menempel di lutut?”
Trivia mengejapkan netra selagi menatap lurus ke arahku. Apa aku salah dalam bertutur kata? Oh ya, tentu saja, Margorie tidak akan sudi netranya dilihat oleh pihak lemah. “Apa? Aku mengubah peraturanku. Keberatan?” tanyaku, agak sewot dengan indra penglihat memelotot. Untuk perkara perubahan peraturan—yang mana aku asal berbicara, itu bisa di lain waktu.
“B-Baik, Nyonya Grimm.” Trivia merekahkan senyum lagi. “Mari ikut saya.”
*
Mari berterus terang, Akademi Maleficum berhasil memikatku dengan magis artifisialnya. Metode pembelajaran akademi menggunakan hologram—mengingat menipisnya sumber kekuatan Incubus Sphere, yakni sinar rembulan. Mendapat kembali kekuatan para demontus hampir mustahil. Maka dari itu, mereka dengan inteligensi tinggi, menciptakan suatu manifestasi yang inovatif dan benar-benar dibuat sedemikian rupa dengan magis asli para kaum demontus.
Hologram di segala sudut pelataran belakang akademi memenuhi atensiku. Magis artifisial itu kerap mengikuti arus gerak tangan para murid. Detektornya terletak di pusat pembebat telapak tangan. Selain itu, mereka harus mengenakan atribut khusus yang berupa sebuah tameng. Pelindung itu dibiarkan melingkar dan membebat tubuh mereka dari serangan tak berwujud—dalam kasus ini—berupa sebuah magnetik.
Ini terdengar rumit, namun betul-betul di luar nalar. Terlepas dari penguasa anjingnya yang tidak berotak, penghuni Incubus Sphere jauh lebih cerdas dalam menggunakan otak mereka. Diam-diam, aku tertarik dengan alam ini. Bukan berarti, aku akan melupakan wejangan dari Sang Penguasa. Dewa Cerberus mengambil kendali alam ini—dan untuk selanjutnya, aku lah yang harus memegang kendali.
Butuh waktu sebentar untukku tersadar, belasan pasang mata terarah padaku. Aku membenahkan topeng pesta sebentar, memastikan agar atribut penyamaran itu tidak jatuh dan kami berempat gagal dalam misi. Kulipat kedua tangan di depan d**a, bersandar di salah satu pilar—menunggu makhluk-makhluk itu untuk melanjutkan pelatihan, akan tetapi, mereka masih menatapku tanpa kedip.
“Teruskan latihan kalian,” titahku, dengan nada lantang. “Atau ada satu dari kalian yang ingin menantangku untuk maju, hm?”
Mereka membuang muka. Lagi, aku mendengkus. Jelas saja, menantang petinggi sama dengan mengadu maut. Namun, untuk sekarang ini, aku jadi penasaran bagaimana rasanya mengenakan tameng dan pembebat tangan untuk melancarkan magis artifisial. Segera saja kulirik sosok Trivia di sampingku. Kami hanya berbeda dua atau tiga langkah, namun aku sangat tahu ia sedang membatasi jaraknya denganku.
“Mau beradu denganku?” tawarku.
Trivia kali ini melompat kaget. Ia memberanikan diri untuk menatap netra hijauku di balik topeng pesta. “Maaf?” tanya gadis itu.
Aku hampir terkekeh saat ia refleks mengorek telinga dan sedikit mencondongkan tubuhnya. Lalu, secepat kilat aku memasang kembali raut angkuh andalanku dalam misi. “Aku ingin kita bersemuka,” kataku, lebih terdengar titahan, alih-alih mengajak.
“T-Tetapi—”
“Jangan menentangku. Kita buat ini menjadi menarik.”
Trivia mengejapkan netra. Ia kelihatan bimbang. Segera saja aku mengeluarkan geram tertahan. Ayolah, kapan lagi ia bisa melawan petinggi—gadungan—macam aku?
“Kita cari tempat sunyi dan bersahabat untuk beradu—jika itu yang kaukhawatirkan, Spellbrood.”
Untuk pertama kalinya, aku dapat melihat sarat setuju yang terkandung di manik matanya. “Bagaimana jika auditorium, Nyonya Grimm?”
“Keputusan yang bagus, Spellbrood.” Aku menggeleng sebentar, hampir melontarkan seringai saat ide terlintas cepat di otakku. “Sangat bagus.”
Baru kali ini, aku sangat menyukai kebetulan. Saat kami berbelok dari pelataran, aku kembali dipertemukan oleh Fraser. Aku butuh pemuda itu—atau kedua koleganya, siapa pun asal itu adalah kawan satu misiku. Kubiarkan Trivia untuk lanjut bergerak ke auditorium dan mempersiapkan segala atribut berkaitan dengan magis artifisial, sedangkan aku menarik lengan Fraser begitu batang hidung gadis itu tidak lagi terlihat.
Netra hijauku jelalatan lebih dulu, memeriksa situasi di sekeliling kami agar memastikan tidak ada telinga lain yang mendengar. “Aku ingin kau menemui kedua kawanmu itu. Katakan kepada mereka bahwa aku akan berada di auditorium setelah ini,” kataku. “Jika hari ini berhasil, maka kita tidak perlu menyudutkan putra pemilik asrama.”
Fraser mengerutkan kening. “Bagaimana bisa kau mendapat akses menuju auditorium?”
“Otakmu menjadi lamban, Mowgli.” Aku melipat tangan, menahan diri untuk tidak menjitak kepalanya. “Tentu saja karena aku adalah seorang petinggi—” jemariku segera menekan pundak kanan pemuda itu saat berjinjit untuk menyejajarkan tinggi bibirku dengan cuping telinganya, “—gadungan.”
Anggota medis Klan Baja itu segera menarik diri dan tersenyum tipis. “Dasar,” balasnya.
“Usahakan jangan lama untuk menemukan dua kacung itu. Kita harus bergerak cepat.” Aku mengingatkan, sebelum akhirnya berbalik badan untuk pergi. Namun, sebuah telapak tangan cepat-cepat menahan lenganku. Segera saja aku menoleh kembali menuju Fraser, menunggu pemuda itu berbicara, namun ia hanya diam di tempat. “Apa lagi, Fraser?”
“Tidak.” Pemuda itu mulai mengendurkan cengkeraman. “Aku hanya ingin kau … untuk berhati-hati saja.”
Aku cukup sadar, sorot netra Fraser mengandung makna lain. Akan tetapi, sebelum aku sempat berbicara, Fraser menarik cepat tangannya dan bergegas pergi dari hadapanku. Mau tidak mau, benakku merasa gelagatnya sedikit mencurigakan jika saja aku tidak berbalik dan mendapati ada sosok lain berjarak beberapa meter agak jauh dari kami.
Surai hitam jelaga menarik atensiku pertama kali, baru aku dihadapkan oleh sepasang netra yang tidak kalah hitamnya.
Otak dan lidahku berusaha mengeja nama pemuda itu, “Raven Savandore.”
“Salvotore, Nona.” Raven merotasikan netranya selagi berjalan mendekati. “Kau tahu aku?”
Aku nyaris menyengir kikuk. “Yah, siapa yang tidak tahu dengan putra pemilik Akademi Maleficum?” tanyaku, balik.
“Yah, benar juga. Kau tentu tahu aku.” Si putra pemilik asrama berhenti melangkah. “Akan tetapi, tidak sedikit juga makhluk-makhluk yang salah dalam mengeja nama belakangku, termasuk kau.”
“Maaf jika itu membuatmu tersinggung.”
“Tidak masalah, Nona—aku tidak tahu namamu, tetapi aku masih ada urusan. Jadi, sampai bertemu di penjurian esok. Atau hari ini, mungkin?”
Alis kiriku lekas terangkat. Ia tahu—tentang misi ini? Mustahil.
*
Trivia tampak kesulitan menenteng atributku. Ia nyaris ciut di antara pembebat tangan dan tameng. Aku menahan keinginan untuk menitahkan gadis itu agar meletakkan saja atributku di permukaan lantai, namun, aku masih menjadi Margorie Grimm—seorang petinggi yang niscaya tak berhati. Jadi, aku sama sekali tidak merepotkan diri sekadar membuka suara, alih-alih aku mendatangi Trivia dengan lagak arogansi Rhett saat kami baru kenalan.
Aku segera merenggut kasar pembebat tangan. Jemariku memasuki cela-cela kosong yang bermukim di pembebat. Ada tekanan dari benda tersebut, sedikit banyak membatasi gerak tanganku. Aku bahkan agak kelimpungan, mengingat betapa lasaknya tangan-tangan murid akademi tadi ketika sedang berada dalam persiapan untuk Turnamen Hitam esok hari.
Usai beradaptasi dengan pembebat tangan, aku kembali meraih tameng. Atribut ini rupanya jauh lebih berat dari dugaanku. Jelas saja, ada kecanggihan di bagian dalam tameng—detektor tekanan yang barangkali jauh lebih kuat dari pembebat, selain itu, ada juga magnetik yang dapat membuat pengguna tameng terpental jauh apabila serangan magis artifisial lawan lebih menguntungkan.
Aku kesulitan dalam mengaitkan tali tameng di punggung. Trivia—yang tadinya sibuk mengenakan atribut, segera menawarkan bantuan. Aku tidak repot-repot untuk menolak dan menaikkan ego diri. Jadi, segera saja aku memunggungi Trivia agar memudahkan jemarinya mengaitkan tali tameng di belakangku. Bisa kurasakan pasokan udara di sekitar kami sedikit menipis, membuatku lantas menarik napas, kemudian mengembuskan udara dari bibir.
“Apakah terlalu ketat, Nyonya Grimm?” tanya Trivia, masih juga mengutamakan nada bicara beradabnya di saat ia bisa saja membunuhku dengan tali-tali memuakkan itu. “Atau perlu saya kendurkan sedikit?”
“Jika itu memang sebuah keharusan dan untuk keamanan, biarkan saja.” Aku menghadapnya lagi. “Kecuali jika kau ingin tameng ini membunuhku dengan magi artifisal tingkat tinggi jika simpulnya kendur.”
Trivia tersenyum manis. “Tentu saja tidak, Nyonya Grimm,” balasnya.
Angguk di kepalaku menandakan percakapan kami berakhir sampai di sana saja. Kubiarkan Trivia mendapat waktu untuk mengurus diri sendiri. Rupanya, persiapan gadis itu tidak memakan waktu cukup lama. Kini, ia sudah bersemuka di hadapanku dengan kekontrasan perawakan yang melejit tinggi. Trivia kelihatan jauh lebih tangguh dan memadai begitu ia telah mengenakan atribut.
Aku sengaja mengintai tubuhnya dari bawah kaki sampai ke atas kepala. Ia kentara tidak nyaman, melihat dari bagaimana ia berusaha untuk mundur dan menghindar. “Kau tampak lebih baik ketika berpenampilan seperti ini. Mengapa kau tidak menjadi kandidat saja?” tanyaku.
“T-Terima kasih, Nyonya Grimm.” Pipi Trivia bersemu merah. “Saya masih terlalu awal untuk mengikuti Turnamen Hitam.”
“Oh ya? Aku akan menanti kehadiranmu di turnamen selanjutnya.” Amit-amit, jangan sampai, batinku langsung meneruskan.
Trivia membungkuk sekali, baru aku beringsut menuju pusat auditorium. Netra hijauku jelalatan sebentar, mencari-cari batang hidung tiga kawan satu misiku. Mereka lamban. Akhirnya, kukorbankan separuh waktuku untuk betul-betul menghadapi makhluk demontus di depanku. Kami sudah berjarak cukup jauh dari satu sama lain.
“Kau duluan,” kataku.
“T-Tetapi—”
“Anggap saja ini turnamen sungguhan—dan kau telah mempersiapkan diri secara matang-matang.” Air mukaku semoga saja cukup serius, meski masih ada topeng pesta yang melekat di wajah. “Jangan pandang aku tinggi, karena lawan sesungguhnya akan selalu memandangmu rendah.”
Skeptis masih kentara di dalam sorot netra Trivia, namun ia sedikit lebih maju. Aku bisa merasakan pikiran gadis itu mulai terpusat. Pembebat tangan mendeteksi denyut jantung dan nadinya. Dari sana, muncul hologram berwujud percikan kecil. Sebelah alisku terangkat, memandang gadis itu rendah—berharap ia akan tergugah untuk membesarkan serangan.
Telapak tangan Trivia menghadapku. Percikan itu memelesat di udara, tidak terlalu cepat, namun mampu mengenai tamengku. Tiada tekanan yang harusnya bisa kudapat. “Sudah? Begitu saja, kemampuanmu?” tanyaku, menyisipkan nada remeh tak berhati di sana. “Sekecil itu, bisa apa?”
Jemari Trivia tremor begitu ia lagi-lagi mencoba untuk mengabsen pemusatan pikiran. Namun, atensiku dengan cepat teralih dari posisinya berdiri—menujukan pandangan kepada arah datangnya ketiga anggota Klan Baja di pintu masuk auditorium. Aku mengedipkan sebelah netraku, menginstruksi mereka untuk menunggu sejenak.
Lalu, percikan datang—dan aku bisa menangkis magis artifisial Trivia dengan begitu mudahnya. Tidak ingin mengulur-ulur waktu lebih lama, tubuhku memelesat di udara kosong. Lawanku sama sekali tidak bergerak, bahkan untuk satu titik saja. Segera kuabsen kembali pusat pikiranku, agar aku bisa memanifestasikan kekuatanku dalam perwujudan sebuah magis artifisial.
Dan kumparan biru laiknya arus listrik itu, kini telah merebak sepenuhnya di atas telapak tangan kananku.[]