INI terasa keliru—magis artifisialku secara mengejutkan terlampau brutal. Erangan lolos dari bibir Trivia, merangsek dengan begitu memprihatinkan di indra pendengar. Kalimat permintaan maaf bahkan tidak bisa kusuarakan saking buncahnya benakku saat ini. Jujur saja, aku sudah berusaha mengatur tekanan sebaik mungkin agar target tidak cedera. Dan rupanya, begitulah pengaruh magis artifisial; dapat melampaui batas dan sedikit lebih mengerikan daripada sihir biasa.
Jemari Trivia menekan tameng bagian d**a. Ia meraup udara dengan bibir mengap-mengap. Lapisan netranya berkaca-kaca dan gadis itu terisak. Aku ingin lebih dulu menghampiri Trivia, berniat mengerahkan kekuatan untuk memulihkan kondisi gadis itu, akan tetapi Roan dan Kai memelesat lebih cepat dari aku sendiri. Kai melepaskan tali tameng di punggung Trivia, sedangkan Roan menginstruksikan kalimat-kalimat yang mungkin bisa menenangkannya—jangan lupakan fakta ia merupakan seorang anggota medis di Klan Baja.
Saat tameng tidak lagi membebat tubuh Trivia, deru napasnya mulai terkendali. Kulihat Kai segera membuang tameng itu ke sembarang arah, kemudian menatapku dan berkata, “Terlambat sedikit saja, kita akan kehilangan target.”
Aku belum sempat melontarkan kalimat defensif ketika aku tahu-tahu saja mendapatinya mengalungkan salah satu lengan Trivia pada lehernya. Roan turut melakukan hal serupa di sisi kanan Trivia hingga posisi gadis itu kini terapit oleh dua pemuda. Trivia masih tidak bertenaga untuk memberontak, sehingga ia hanya bisa mendongak—menatapku dengan sarat ketakutan yang teramat nyata.
“Antar kami ke lantai itu,” ada jeda sejenak, baru Kai mengimbuh, “kau tentu tahu maksudku.”
Indra penglihatku mendeteksi tremornya gadis itu ketika ia menoleh untuk menatap si pemuda bersurai merah. “L-Lantai mana?” tanya Trivia, gugup dan takut.
“Kunci pusaka.”
“Kunci—pusaka?” Ia mengulang dua kalimat itu dengan air muka pias. “A-Aku tidak tahu, sungguh!”
“Jangan berkilah! Kami tahu kau—dan seluruh penghuni akademi pasti mengetahui aksesnya!”
Kulihat Kai menekan lengan Trivia dengan kuku-kukunya. Permukaan keningku mengernyit tidak suka. “Santai saja dengannya, Riverdous.” Tungkaiku beringsut mendekati mereka, kemudian menurunkan tangan Kai dari Trivia. “Beri tahu saja, kau aman bersama kami.”
“A-Anda seharusnya tahu, Nyonya—”
“Aku bukan—dan aku masih jauh lebih berperasaan ketimbang petinggi itu.” Aku tahu mengulur-ulur waktu itu memuakkan, akan tetapi, kami harus lebih dulu mendapat kepercayaan darinya untuk memperoleh hasil akhir yang menguntungkan. Dengan satu tarikan napas, aku segera menambahkan, “Aku merupakan bagian dari Pemilik Kekuatan Tertinggi. Kami kemari untuk misi penyelamatan alam ini. Jadi, sekarang kau tinggal mengantar kami ke lantai dasar.”
Bibir Trivia bergerak seperti ingin mengatakan sesuatu, namun tidak ada yang keluar dari sana.
Segera kuhela napas untuk kali sekian dan berkata dalam kemantapan penuh, “Kau niscaya aman, Spellbrood. Alam ini tidak benar dan kami akan memperbaikinya—namun, aku menginginkan kunci pusaka itu lebih dulu. Sekarang.”
Ia membasahi bibir ranumnya. Bisa kulihat ada beberapa butir keringat berjatuhan dari mercu kepala, mau tidak mau, aku bersimpati dan sedikit merasa bersalah karena telah menggunakan Trivia sebagai target cadangan setelah Raven. Ini jauh lebih menguntungkan ketimbang menggunakan si putra pemilik asrama—karena akan ada tiga kemungkinan yang bisa saja kami dapat: terbunuh oleh magis artifisialnya, menjadi bahan persembahan kepada Dewa Cerberus, atau terkurung selamanya di akademi ini.
Usai keempat dari kami mendapat anggukan kepala si target, Trivia akhirnya setuju untuk mengepalai perjalanan menuju lantai dasar. Ia melontarkan sebuah pengakuan bahwa ia sesungguhnya tidak berkilah. Penghuni Akademi Maleficum selain kaum demontus berstatus privilese mungkin tak ada yang tahu tentang ini. Mereka sebatas mendengar dari buah bibir yang realitasnya masih simpang siur.
“Pernah sekali, aku mendapati para petinggi berbaris memasuki ini,” kata Trivia, begitu kami telah bersemuka dengan dinding di sudut auditorium. “Kemungkinan, di balik dinding akan ada akses untuk turun ke lantai dasar.”
Tidak kumungkir, aku sempat meragukan ucapan Trivia—apalagi Kai, yang entah bagaimana, menjadi sosok paling menggebu-gebu di sini. Fraser lebih dulu memelesat untuk bisa menjamah dinding, mengandalkan jemarinya agar mendapat celah yang memungkinkan kami untuk bisa turun ke lantai dasar. Kendati omongan Trivia kedengaran melindur, secara mengejutkan, ucapan gadis itu seratus persen akurat.
Kuku runcing Fraser berhasil masuk ke salah satu celah. Dengan sekuat tenaga—sampai-sampai ia menggemeretakkan gigi, pemuda itu berusaha membuka serpihan dinding tersebut. Lalu, giginya terkatup dan ia mengulumkan senyum saat dinding itu berhasil dibukanya. Fraser menatapku sebentar, baru menujukan atensi kepada dua kawannya.
“Aku turun duluan,” ujarnya, kemudian memasuki lubang raksasa di dinding yang sudah terekspos sempurna.
“M-Mengapa kalian masih menahanku?”
Aku hendak mengikuti langkah Fraser di saat suara Trivia terdengar. Aku lekas menyoroti gadis itu, mendapati Roan telah kembali memapah gadis itu. “Untuk berjaga-jaga. Agar kau tidak melarikan diri,” balas pemuda itu, hampir tidak terdengar berhati.
Kulirik netra Trivia sejenak. Ia juga menatapku di waktu yang sama. Secepat kilat, aku memutus kontak mata—berusaha untuk tidak menunjukkan rasa simpati kepada gadis itu, baru melangkahi lubang di dinding. Pekat menguasai visualku pada detik itu juga. Namun, semakin aku menuruni undakan, temaram cahaya di bawah sana mulai mengisi atensiku.
Fraser telah sampai di lantai dasar. Netranya jelalatan mencari-cari keberadaan kunci pusaka. Usai aku tiba di undakan paling akhir, segera saja aku bersisian dengan pemuda itu. “Di mana kuncinya?” tanyaku, turut menelisik satu-satu benda bersejarah di bawah sini. Semua benda-benda itu terlihat normal—namun untuk nilainya, bisa ditaksir sendiri.
Kudengar derap sepatu Kai saat cepat-cepat turun dari undakan. “Tidak ada?” timpalnya, agak frustrasi.
“Tenang, kita masih punya waktu.” Roan mengibaskan satu tangan. Netranya segera menyoroti Trivia. “Aku akan melepaskanmu, asal kau tidak kabur.”
Trivia menggeleng cepat, “T-Tidak akan.”
Secepat kilat, pemuda itu tersenyum miring. “Pintar,” gumamnya, kemudian membaurkan diri dengan Fraser dan Kai.
Kepala Trivia tertunduk. Aku mendengkus, memilih untuk tidak memedulikan. Begitu aku hendak mengalihkan atensi, sesuatu menarik perhatianku di sisi tangga. Ada sebuah bulatan menonjol pada bagian samping undakan—kupikir itu adalah sebuah nakas terpencil. Sudah pasti, ada sesuatu di sana. Katakanlah, aku sedang menggunakan nalar. Mengapa pula harus ada nakas di tempat terpencil itu?
Bisa kurasakan netra Trivia mengikuti arah langkahku berjalan. Ia tidak mengatakan apa-apa dan aku juga berharap demikian. Aku meningkatkan lagi kecepatan langkah. Fraser, Roan, dan Kai juga tampaknya sadar. Punggungku terasa panas dingin akibat ditatap oleh empat makhluk sekaligus. Segera saja aku merotasikan netra, menampik mereka dari benak secepat kilat.
Aku bertelut, terapit oleh sisi undakan dan sisi almari berisikan barang-barang bersejarah yang berjarak dekat. Tidak ingin mengulur-ulur waktu, akhirnya segera kutarik bulatan tersebut, namun tertahan dari dalam. Aku lekas menujukan pandangan kepada ketiga kawan satu misiku. Terkunci, aku berbicara tanpa suara. Kai berdecak malas, kemudian mendatangiku saat itu juga.
Ironisnya, ia hampir tergelincir. Buru-buru Kai memosisikan diri agar keseimbangannya kembali, kemudian menggesekkan alas sepatunya beberapa kali di permukaan lantai dengan alis bertaut. “Ada tanjakan di sini,” kata pemuda itu, ragu.
Roan menimpali, “Halusinasimu salah waktu dan tempat, Riverdous.”
Kai tidak mengacuhkan ucapan Roan. Ia berjongkok sedikit dan mengetuk bagian lantai yang menurutnya bertanjak. Hasil ketuk tersebut menimbulkan suara angin kosong di bagian dalam. Kulihat Fraser mulai tertarik dengan suara tersebut. Ia menghampiri Kai, ikut berjongkok di samping pemuda itu, mengetuk lantai satu kali lagi. Mau tidak mau, aku merotasikan netra.
“Ketimbang mengetuk tanpa bertindak apa-apa, lebih baik kalian bantu aku mencari kunci untuk membuka nakas undakan ini.”
Fraser menatapku sejenak, baru menunduk lagi ke lantai bertanjak itu. “Ivanor, aku butuh palu—atau benda apa pun yang dapat menghancurkan lantai ini,” titahnya.
Roan menurut. Pemuda itu tidak lagi banyak tanya. Ia langsung memelesat ke penjuru arah untuk mencari benda-benda yang memungkinkan, sedangkan aku masih berupaya membuka nakas di undakan dengan tangan kosong. Melalui ekor netraku, bisa kulihat Roan kembali dengan sebilah belati. Aku lekas mengamati ketiga kawan itu, menunggu sekaligus berasumsi benda apa yang akan tergeletak di bawah sana.
Satu ketukan cukup keras terdengar. Keningku mengernyit. “Bisa pelan sedikit?” tanyaku.
“Sedang berusaha untuk itu,” Roan kembali mengetukkan belati, memosisikan diri untuk duduk bersimpuh selagi memberikan tekanan pada belatinya, “mulai ada lubang, sedikit lagi—voilà!”
Ujung belati sudah sepenuhnya masuk ke dalam lantai bertanjak. Pemuda itu buru-buru mencungkilnya sampai ada suara gemeretak yang dapat kudengar dari tempatku bertelut. Begitu bagian bawah lantai sudah terekspos sempurna, ia mengangkat kepala untuk menatapku. “Candice, tangkap!” serunya, kemudian sesuatu yang berkilat terlempar ke arah wajahku kala itu juga.
Aku bergegas menangkap benda kecil itu selagi menahan kekesalan. Begitu aku membuka telapak tangan, ada sebuah kunci kecil di sana. Segera saja, aku memasukkan kunci tersebut ke lubang di bulatan nakas, memiringkan sedikit—dan bunyi tak menyusul setelahnya. Aku merekahkan senyum semata-mata menemukan sebuah buku bersampul kulit yang tebal, keras, dan kaku.
Namun, di saat aku akan mengambilnya, suatu percikan listrik menghantarku sejenak. Kutarik tanganku kembali detik itu juga. “Aku tidak tahu kunci pusaka yang kalian maksud adalah sebuah buku. Dan ini lagi-lagi terkunci, sepertinya oleh segel,” kataku.
Fraser mendatangiku, bertelut di samping. Ia hendak mengulurkan tangan untuk menggapai buku. “Kunci pusaka pasti—berengsek!” umpatnya, lalu menarik telapak tangan pemuda itu kembali, baru memakukan pandangan ke arahku. “Apa itu tadi?”
“Mana kutahu,” balasku. “Aku merasakan hal yang sama. Seperti tersengat, mungkin.”
“Bukan hanya tersengat, namun terasa membakar juga.” Tidak lama, alis Fraser terangkat sebelah. “Sebentar, kau tidak merasakan itu?”
Kubalas pertanyaan Fraser dengan sebuah gelengan. “Ya sudah, aku sendiri akan mengangkat buku ini—mungkin reaksi benda ini denganku sedikit berbeda dengan kalian,” aku menyelipkan telapak tangan ke bawah permukaan buku, “dan sekarang aku tidak merasakan apa-apa.”
“Itu pasti kunci pusakanya,” timpal Kai. “Lantaran kau merupakan Pemilik Kekuatan Tertinggi, mereka berada di pihakmu.”
“Bagus kalau begitu.”
Di saat aku akan beringsut dari tempat terpencil itu, netraku menemukan sebuah perkamen lusuh berukuran kecil tergeletak di bawah buku tadi. Dengan tangan kanan, aku segera memungutnya dan memindai apa saja yang tertera di sana. Bukan huruf, melainkan simbol-simbol rumit yang tidak dapat kupahami. Belum sempat aku berbicara, Kai tahu-tahu saja sudah mengambil alih perkamen itu dari tanganku.
“Kurasa ini Bahasa Mavra-Kuno,” katanya, masih agak skeptis.
Fraser dan Roan melongok di balik pundak Kai untuk melihat tulisan lebih jelas. “Ya, ini Bahasa Mavra-Kuno. Kita mungkin tidak bisa memahaminya—namun kurasa murid Maleficum itu bisa,” saran Roan, menunjuk Trivia di belakang sana dengan ibu jari.
Merasa tersebut, Trivia kembali dibuat menegang. Kai segera menghampiri gadis itu tanpa memedulikan gurat paniknya di sana. “Jangan berkilah lagi. Kami tahu kau pernah mempelajari bahasa ini,” titah pemuda bersurai merah itu.
Kuamati Trivia yang segera menerima perkamen itu dengan gemetaran. Ia berusaha mengintai satu per satu tulisan simbolik tersebut. Keningnya mengernyit selagi bibir Trivia mulai mengeja simbol demi simbol dengan bacaan asing. Ia membutuhkan waktu cukup lama, sampai-sampai Kai dibuat geram oleh Trivia.
Kai mengusap wajahnya, “Cepat! Itu hanya satu kalimat, Spellbrood!”
“Cukup menunggu saja, oke?” Sungguh, aku tidak tahan dengan Kai yang begitu menggebu-gebu. “Ia sedang berusaha!”
Kai mendengkus, “Ya, ia sedang berusaha begitu lama, sedangkan posisi kita di sini tidak aman.”
Aku segera meremas pelipis, kemudian menoleh ke arah Trivia yang bacaannya terhenti akibat amukan Kai. “Lanjutkan,” pintaku, sehalus mungkin agar ia bisa mendapat kembali rasa amannya. “Waktu adalah milikmu.”
Usai mengangguk singkat, Trivia kembali mengintai perkamen, hingga akhirnya bibirnya mengucapkan, “T-Tiga tetes darah—d-dan eloknya rupa.”
Kini, semua atensi kami terpusat untuk Trivia. Roan bersuara paling pertama, sekaligus mewakili keheranan kami, “Eloknya rupa?”
“Bukankah itu—” Tidak lama, Kai mengatupkan bibir, memilih untuk tidak meneruskan.
Secara kebetulan, aku dan Fraser sama-sama berkata dalam satu irama, “Tumbal?”[]