ANGIN menderu dan sekejap, pemuda itu sadar saat ini ia hanya seorang diri. Entah bagaimana ceritanya, Tristan terpencar dari yang lain. Baru pemuda dua darah itu mengingat bila dirinya sempat teralih saat kabut mulai merayap dari sisi kanan hutan. Alhasil, Tristan akhirnya terjebak di tengah-tengah pepohonan dan semak belukar, tanpa siapa pun, terbelenggu oleh pekat—dan senyap.
Meski demikian, afeknya tetap datar. Tidak ada kegentaran yang berselimut di balik manik netranya yang kini merah, berusaha menerawang sejauh mungkin dengan mengandalkan insting kedua darahnya selagi melangkah lurus ke depan. Sorot Tristan menajam, mendadak intuisi pemuda itu mendeteksi keberadaan makhluk lain, entah apa. Lantaran Tristan merasa makhluk tersebut bukan ancaman, ia berniat untuk meneruskan langkah.