PERUT Marianne terasa diperas habis-habisan. Netranya terpicing sampai keningnya mengerut dalam. Untuk mencegah ringis lolos dari bibirnya, Marianne menggigit lidahnya keras-keras, berharap rasa sakit itu akan pergi secepatnya. Tatapan gadis itu memandang kosong punggung Graham, diam-diam berharap Graham tidak akan sadar bahwa ia tengah membutuhkan pertolongan.
Namun, asanya tidak terkabul. Tidak lama setelah Graham merasa langkah Marianne terhenti di belakang, pemuda itu segera melongok ke balik pundak. Pendar keheranan di sepasang netra Graham berganti cemas. Ia langsung beringsut menghampiri Marianne, merangkul leher gadis itu agar kepalanya dapat bersandar di pundak Graham, kemudian telapak tangannya mencengkeram subtil tangan Marianne di lingkaran perutnya.
“Ada apa?” t