Good reading
.
.
.
Gio sudah nangkring di atas motornya waktu aku dan Widi keluar dari gedung kantor. Anak itu menyugar rambutnya, kemudian melambaikan tangan dengan gaya sok keren yang membuatku memutar bola mata.
"Pacar kamu?" tanya Widi.
Aku terkekeh geli. "Aku belum berminat pacaran sama brondong. Terlebih adikku sendiri."
Raut wajah gadis yang umurnya di tiga tahun di atasku ini kelihatan terkejut. "Serius? Kupikir seumuran."
"Iyalah, mukaku kan baby face." Aku menangkup wajah dengan kedua tangan, tersenyum jahil.
"Narsis!" Widi mendorong bahuku sambil mendengus.
Aku tertawa. "Udah ah, aku balik dulu ya. Maaf nggak bisa nemenin nunggu jemputan suamimu."
Widi mengacungkan jempol lalu aku segera menghampiri Gio yang sekarang sibuk dengan gawai. Kutepuk bahu anak itu, membuatnya berjengit sebelum kemudian tersenyum lebar.
"Nggak bisa ya lihat kakaknya bernapas dikiit aja?" tanyaku, sambil memakai jumper yang diulurkannya untukku.
"Kapan lagi sih kita bisa ngedate, kalau bukan Kak Ana lagi nggak lembur gini?" Gio mencebikkan bibir. "Mending Kak Ana nggak usah dapat kerjaan aja kalau ujung-ujungnya bikin aku diselingkuhin gini."
"Bahasanya dikondisikan, ya!" Aku mendelik, tapi anak itu malah cengengesan.
Hari ini aku memang tidak lembur, hal yang sangat kunanti-nantikan setelah hampir sebulan aku jadi asisten Kendra. Dan bukan cuma aku saja, Gio juga sangat girang mengetahui itu waktu aku iseng mengabarinya tadi. Anak itu langsung memanfaatkan kesempatan dengan mengajakku jalan.
Akhirnya setelah tiga puluh menit perjalanan, kamu sampai di sebuah mall. Kami memang tidak pernah pergi ke tempat-tempat spesial untuk menghabiskan waktu bersama. Karena yang penting kualitas kebersamaan itu sendiri, bukan?
"Rambutnya jangan diikat gitu, ah!" Gio protes waktu aku turun dari motornya dan melepaskan helm.
Aku menghela napas, melepas cepolan rambutku dan membuatnya tergerai sampai punggung. Gio memang tidak suka rambutku diikat seperti itu. Katanya aku jadi kelihatan seperti gadis berumur dua puluh tiga tahun. Demi apa, memang benar kan umurku segitu?
Tapi mau bagaimana lagi, anak itu memang selalu ingin aku berpenampilan seperti anak SMA agar bisa kelihatan seumuran saat kami berjalan bersama. Itulah kenapa tadi dia langsung menyuruhku memakai jumpernya untuk menutupi kemeja kerjaku. Untungnya, aku memakai rok tutu yang cocok untuk remaja maupun wanita dewasa jadi tidak perlu ganti bawahan.
Huh, ribet sekali kan cuma untuk jalan dengan anak ini? Untung aku sayang.
"Aku mau beli sepatu." Gio berkata saat kami masuk.
"Hm."
Aku tahu maksudnya. Dia ingin aku memilihkan sepatu yang cocok untuknya. Kami pun berjalan menuju toko sepatu di lantai dua. Tidak butuh waktu lama, karena anak itu akan selalu percaya dengan apa saja yang kupilihkan saat berbelanja. Sebenarnya bukan cuma sepatu saja, tapi juga dalam hal lain seperti pakaian, tas, buku, bahkan makanan. Karena hampir semua kesukaan kami mirip.
Bahkan aku selalu berpikir kalau kami memang ditakdirkan untuk jadi saudara sesungguhnya, meskipun lahir dari orang tua yang berbeda.
"Makan dulu ya?" ajak Gio setelah kami keluar dari toko sepatu.
Aku menggeleng. "Beli KFC tapi bawa pulang aja. Lebih enak makan di rumah, kali."
Gio memberengut tapi akhirnya mengangguk juga. Sebenarnya alasanku ingin makan di rumah juga karena ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan mengobrol ringan bersama roomate-ku. Siapa lagi kalau bukan Widya? Karena sejak aku mengasisteni Kendra, kami jarang bersantai bersama. Dia juga sibuk dengan kerjaan di kafe, bahkan tak jarang, lembur sama sepertiku. Sehingga kami hanya bisa mengobrol waktu sarapan saja.
"Timezone bentar, yuk!" Gio merangkul bahuku sementara satu tangannya menenteng plastik berisi sepatu.
Aku mendesah. "Pulang, Gio!"
"Bentar ajaa!" Dia mulai merengek dan itu beneran bikin kesel.
"Ya udah, bentar aja beneran. Kalau kelamaan, aku tinggal!"
"Siap bos!"
Dengan girang, Gio menarikku ke lantai di mana Timezone berada. Kami memainkan beberapa game, dari yang mudah sampai sulit. Dan aku sama sekali tidak memenangkan satu permainan pun. Meskipun begitu, itu cukup mengurangi kepenatanku, sih. Tapi harus kami akhiri karena tanpa terasa sudah hampir satu jam terlarut dalam keseruan.
"Gio!"
Aku dan Gio menoleh ke arah seseorang yang memanggil itu, tepat ketika kami sampai di basement. Seorang remaja perempuan mendatangi kami, dengan mata menyipit penasaran.
"Oh, Lita." Gio mengangkat tangannya. "Hai."
Remaja yang kutebak bernama Lita itu menatap kami bergantian, lalu pandangannya tertuju ke kantong plastik yang dipegang Gio. "Kamu habis beli sepatu?"
"Iya." Gio menjawab santai.
"Katanya malam ini nggak bisa? Sampai nolak ajakan aku?" Lita memajukan bibirnya.
Aku mengernyit heran. Kedua anak ini punya hubungan apa, sih? Teman?
"Nggak bisanya karena lo yang ngajak!"
Aku langsung menyikut pinggang Gio karena anak ini berbicara dengan cuek cenderung sinis. Sampai Lita-Lita ini kelihatan sedih.
"Ngomong sama cewek tuh harus sopan!" Aku menjiitak kepala Gio yang malah memutar bola mata. Lalu beralih pada Lita yang mengamati kami. "Halo. Kamu temannya Gio, ya?"
Lita malah mengangkat dagu sambil menatap tidak suka padaku. "Kamu siapanya Gio?"
"Ng ... aku-"
"Pacar gue."
Aku menoleh terkejut. Tapi Gio dengan cueknya malah menyelipkan jemarinya ke jemariku.
"Kenalin, ini Ana. Pacar gue."
Aku melotot pada anak itu dan mendesis, "Gio!"
"Jadi ... jadi," Lita memandang kami dengan mata berkaca-kaca. "Kamu beneran udah punya pacar?"
"Hm. Lo aja yang nggak percaya!"
Aku menggeram lirih. Ini aku lagi terjebak di drama percintaan dua bocah SMA? Really?!
"Jadi mending lo berhenti ngejar-ngejar gue kayak cewek nggak tahu malu dan coba lihat orang lain yang selama ini layak buat lo lihat."
Lita mulai terisak dan kelihatan tidak berniat menyembunyikannya. "Tapi aku sukanya sama kamu, Gio!"
"Dan gue nggak suka lo. Gue sukanya ke Ana!" bentak Gio yang membuat Lita makin terisak.
Aku memukul punggung anak itu. "Jangan kasar!"
Gio tidak mempedulikan ucapanku dan tetap menatap tajam pada Lita. "Dan mulai besok jangan bersikap kayak lintah yang terus nempelin gue kemana-mana, ngerti?!"
***
"Besok kamu harus minta maaf sama si Lita-Lita itu!" Aku kembali membuka suara saat kami menaiki tangga samping toko. "Dia pasti sedih."
"Emang itu yang aku mau." Tidak seperti sebelumnya waktu di jalan di mana hanya diam saja, kini Gio menyahuti.
"Jangan jahat, dong. Nolak perasaan orang lain itu boleh, tapi jangan nyakitin juga. Ditolak pakai bahasa lembut aja sakit, apalagi kasar gitu." Aku mendelik padanya. "Nanti kamu nggak wooh keren, ah!"
Gio mendengus dan menoleh padaku. "Dia nggak bakal ngerti kalau nggak dikasarin!"
Aku berdecak. "Dan kamu sendiri yang galau karena udah ngasarin dia."
"Ngaco!"
"Alah, ngaku aja. Itu muka ditekuk terus semenjak ninggalin Lita yang nangis itu. Dan kamu diem aja pas aku ngajak ngomong di jalan, pake ngumpat-ngumpat lagi." Aku menunjuk mukanya. "Hayo, sebenarnya kamu suka juga kan sama dia?"
"Nggak!"
Aku berdecih. Mulut boleh berkata begitu, tapi muka Gio jelas menunjukkan hal lain. "Lagian, kenapa nggak diterima aja sih? Lita cantik dan manis, gitu. Pasti wooh keren kalau jadi pacar Gio yang ganteng tapi jahil dan emosian gini."
"Dan bikin persahabatanku dan Kevin berantakan?" Gio menoleh sinis.
Aku ber-oh panjang. "Jadi karena Kevin? Kamu mengorbankan perasaan kamu sendiri demi persahabatan? Wooh lumayan keren!"
Gio mengedikkan bahu, lalu melanjutkan langkah dengan cepat. Aku menghela napas, mengikutinya masuk ke dalam rumah. Dan terkejut karena keberadaan dua orang di ruang santai.
"Kalian ngapain di sini?" Gio berkacak pinggang.
"Nemuin Kak Ana, lah!" jawab Rafa, remaja lima belas tahun itu yang langsung bangkit dan memeluk lenganku.
"Ada maunya, ya?"
"Ya elah, curigaan mulu, Bang!"
Aku mengembuskan napas pelan, menoleh pada sosok lain yang sedang fokus ke layar laptopnya. "Bapak ngapain bawa-bawa laptop ke sini? Mau nyuruh saya ngerjain tugas? Jam kerja udah lewat ya, Pak!"
Gio dan Rafa langsung terbahak mendengar cara bicaraku.
"Kakak ngomongnya gitu kalau lagi di kantor?" Rafa tertawa lagi. "Kocak banget, sumpah!"
"Tapi cocok kok. Om Aa kan udah bapak-bapak!" timpal Gio.
Kendra menatapku ala Pak Ken Lucifer. "Ann!"
Aku hanya tertawa sambil menaruh tas dan seember besar KFC di atas meja. "Oh ya, Widya mana?"
"Pamit keluar tadi."
"Ke mana?"
Rafa mengangkat bahu. "Tadi aku lihat ditungguin cowok gitu. Tapi nggak tahu siapa soalnya kita lihatnya dari atas."
Aku manggut-manggut dengan bibir cemberut. Dasar Widya. Aku buru-buru pulang biar bisa santai sama dia, tapi dia malah pergi. Pasti sama Raihan!
"Kak, ngecover lagi, yuk!" Rafa makin menggelayuti lenganku.
"Nah kan, ada maunya!" Gio langsung menjitak kepala Rafa tanpa ampun. "Nggak bisa. Kak Ana capek!"
"Kalau Abang nggak ajak Kak Ana jalan, pasti nggak bakal capek!" balas Rafa tak mau kalah.
"Jangan ribut, ah." Aku melotot pada mereka berdua.
"Ya udah makanya ayo ngecover." Rafa mulai merengek sambil menggoyangkan lenganku. "Temen-temenku pada muji cover kita kemarin. Di ig juga banyak yang komentar. Pokoknya aku yakin kita bakal jadi selebgram bentar lagi kalau rajin posting coveran. Lagian, Kakak tuh cantik. Anak-anak di sekolahku pada ngefans sama Kakak. Suer!"
"Iya-iya!" Aku segera melepaskan lenganku dari belitannya. "Aku mandi dulu tapi. Kalian makan KFC itu, sana. Awas jangan ribut!"
"Oke, Kak Ana cantik dan baik hati kayak peri. Makin cinta jadinya!"
Aku bergidik mendengar pujian lebay itu dan memilih langsung masuk ke kamar untuk mengambil handuk dan pakaian bersih, lalu keluar lagi menuju kamar mandi. Tidak perlu waktu lama untuk membersihkan badan, karena ini sudah malam dan aku tidak mau sakit kalau terlalu lama terkena air dingin.
"Malam-malam gini keramas?" Kendra bertanya, waktu aku keluar sambil mengeringkan rambut dengan handuk. Dia menatap lama pada pakaianku-celana piyama sebagai bawahan dan jumper sebagai atasan-, tapi aku hanya mengedikkan bahu.
"Rambutku lengket."
Aku tidak perlu canggung keluar dalam keadaan rambut basah dan berantakan begini, karena mereka sudah biasa melihat sisi lainku yang nggak selalu rapi. Termasuk Kendra, bosku. Tapi kan kita sudah kenal, meskipun di awal-awal aku jarang berkomunikasi dengannya.
"Jangan dibiasakan."
Aku hanya mengangguk, lalu mengambil sepotong ayam goreng dan menggigitnya. "Gio sama Rafa mana?"
"Di luar."
Aku mengangguk. Segera menghabiskan ayam itu dan keluar. Gio sedang bertelepon dengan entah siapa sambil bersandar di pagar pembatas. Sedangkan Rafa duduk di dipan, memetik gitar.
"Mau lagu apa?" tanyaku.
Rafa menyengir senang waktu sadar aku duduk di sebelahnya. "Senja Yang Baru."
"Wooh keren. Oke."
Tanpa banyak bicara, anak itu langsung menyiapkan kamera untuk merekam, lalu mulai memetik gitar.
Senja selalu sempurna
Seperti kisahku dan dia
Saling menatap tak bicara
Dia membisu melayang
Kucinta kau, kau cinta dia
Di mana letak salahnya
Dirimu yang harusnya jawab
Aku mengernyit di sela-sela lagu. Lirik ini, ya ampun!
Kau pernah bilang kepadaku
Jangan terlalu berharap
Senja sudah tidak seindah dahulu
Pernah bilang kepadaku
Carilah senja yang baru
Tapi entah mengapa aku tak bisa
Duh, ini lagu benar-benar something!
Kadang kudengar suaramu
Sayup merdu dalam pikirku
Kucinta kau, kau cinta dia
Di mana letak salahnya
Dirimu yang harusnya jawab
Kau pernah bilang kepadaku
Jangan terlalu berharap
Senja sudah tidak seindah dahulu
Pernah bilang kepadaku
Carilah senja yang baru
Tapi entah mengapa aku tak bisa
Lagu selesai, tanpa sengaja aku melotot pada Rafa. "Kamu sengaja ya?"
"Apaan?" sahut Rafa innocent.
Aku mengatupkan bibir, menggeleng. Kuembuskan napas kasar. Kekuatan lagu benar-benar hebat, ya? Bisa jadi sihir penyemangat, tapi juga bisa mengingatkan kita akan beberapa hal yang seharusnya sudah lama jadi sampah.
"Wow, ngena banget suara Kakak." Rafa mulai berkomentar saat memutar video kami. "Pengalaman ditolak cowok, ya?"
Aku mendengus, memilih beranjak dari sana dan mendekati pagar. Gio sudah masuk ke dalam waktu aku menyanyi tadi. Kedua tangan kulipat di depan d**a, memandangi kendaraan-kendaraan yang berlalu lalang di jalan depan.
Manusia, waktu dan keadaan bisa saja berputar dan berubah. Tapi tidak dengan kenangan. Dia abadi.
Aku tersenyum tipis saat teringat kalimat yang entah ditulis siapa itu. Kenangan, ya?
"Woah, baru sebentar diposting aja udah banyak komennya. Dan hampir semuanya muji suara dan muka Kak Ana. The best lah peri cantikku!"
Aku mengeluarkan gawai, membuka pesan dari Widya yang pamer kalau saat ini sedang nonton film sama si brondong. Bagus sekali!
"Weih, ngapain dia juga komen?"
"Siapa?" tanyaku tanpa menoleh.
"Ini Kak, abangnya temenku. Dia nanya Kakak tuh siapanya aku. Eh nanya akun ig Kakak juga. Ini Bang Vigo tertarik ke Kakak, gitu?"
Aku menoleh dengan amat cepat. Jantungku berdebar. "Si-siapa?"
Rafa menatapku bingung. "Bang Vigo. Abangnya Sam."
Aku mengepalkan tangan. Nama seperti itu, sudah pasaran ya?
Ting!
Aku membuka layar gawai. Dan langsung terkesiap.
@narendravigo mengirim permintaan mengikuti
"Rafa, kamu ngasih tahu akun aku ke a-abang temenmu itu?" Aku yakin suaraku bergetar.
Rafa menggeleng cepat. "Pasti si Sam k*****t itu. Bentar aku telepon dia!"
Aku termangu memandangi punggung Rafa yang menghilang di balik pintu. Mendesah, kupandangi langit yang malam ini ditaburi banyak bintang dan terlihat wooh keren. Ada yang terang, dan ada juga yang agak redup. Seperti manusia, ada yang high profile, tapi juga ada yang memilih tidak terlihat.
"Kamu percaya kalau bintang adalah perwujudan dari orang-orang kesayangan kita yang sudah meninggal?"
Aku berjengit. Mendapati Kendra sudah berdiri di sebelahku, entah sejak kapan. Dia memandangku, menunggu jawaban.
"Pas masih kecil, percaya. Tapi setelah bisa ngaji, aku jadi tahu kalau itu bohong." Entah kenapa bibirku ikut tertarik ke atas saat melihat senyum simpul Kendra. "Kalau Om Aa?"
Dia menggeleng. "Sejak kecil, Mami selalu mengajarkan kalau itu nggak benar."
Aku manggut-manggut, kembali mengalihkan pandangan ke arah langit.
"Kalau boleh sekali saja menganggap hal itu benar, kamu pilih yang mana?"
Keningku berkerut, berpikir. Kutunjuk dua bintang bersisian yang memisahkan diri dari kumpulannya. "Itu Mama dan Papa."
"Kenapa?"
"Karena mereka selalu berdampingan dan bersama walaupun terpisah dari keluarga." Aku mengembuskan napas berat, mengenyahkan rasa sesak dan tersenyum lebar. "Kalau Om?"
Aku mengikuti arah telunjuk Kendra pada sebuah bintang besar dan sebuah lagi yang kecil. "Yang besar Papi, dan yang kecil, Kanaya."
Aku tersenyum tipis. Eyang Papi dan Kanaya. Katanya mereka adalah orang yang baik. Sayangnya aku tidak sempat mengenal mereka.
Kendra tiba-tiba menunjuk satu bintang lagi. Yang ada di dekat rasi bintang pari. Dengan ekspresi sendu dia berkata, "Dan itu-"
"Teh Devita?" sambungku.
Kendra mengangguk dan berkata lirih. "Ya, Devita."
"Ke-kenapa yang itu?" tanyaku gagap.
Sambil menerawang, dia menjawab, "Dia bersinar, tapi bukan yang paling terang. Mungkin nggak semua orang memusatkan perhatian padanya, tapi dia adalah cahaya penerang bagi seseorang."
Aku menggigit bibir, memalingkan pandangan dari wajahnya yang sendu sambil berbisik 'wooh keren' dengan lirih. Dadaku bergetar. Hell, gara-gara lagu tadi, aku jadi melankolis!
***