Good reading
.
.
.
Kulirik jam di pergelangan tangan. Ternyata sudah lama juga aku terjebak di ruangan ini bersama seluruh anggota divisi marketing di perusahaan ini, dan juga pria di sebelahku yang terus saja mengeluarkan aura dinginnya. Kontras dengan hawa panas yang menyelimuti, meskipun suhu AC sudah dinaikkan ke tingkat paling tinggi.
"Saya minta nanti jam sembilan malam laporan sudah ada di meja saya."
Aku bisa melihat wajah-wajah tegang di ruangan ini berubah jadi pias. Hanya ada satu-dua yang bisa mengendalikan ekspresi.
"Maaf Pak." Pak Toni, manajer marketing itu mengangkat tangan. "Bagaimana bisa tim kami menyerahkan laporan itu, sedangkan sekarang saja sudah hampir jam pulang kerja?"
Aku menelan ludah saat menyadari ekspresi Kendra makin menggelap. Bibirnya terkatup rapat. Di film animasi, mungkin saja sekarang di kepalanya sudah tumbuh dua buah tanduk merah dengan api menyala.
"Apa anggota divisi Anda ke semuanya adalah adalah anak di bawah umur, di mana mereka tidak diperbolehkan orang tuanya untuk kembali ke rumah di atas jam lima sore?"
Aku meringis. Si bos mulai mengeluarkan kata-kata bon cabenya. Wooh keren!
"Bukan begitu, Pak. Kami-"
"Atau Anda ingin menyerahkannya jam lima sore nanti?" Nada suara Kendra makin tajam.
"Baik, jam sembilan malam, Pak." Pak Toni langsung memotong.
Kendra mengangguk tegas. "Kalau begitu, meeting saya akhiri. Pak Toni, saya tunggu."
"Baik, Pak."
Kendra bangkit dari duduknya, melirikku sekilas. Mengerti isyaratnya, aku buru-buru membereskan berkas-berkas miliknya dan langsung mengikuti pria itu, setelah sebelumnya pamit pada semua orang yang sama sekali belum beranjak dari kursinya. Di dalam lift, aku bisa melihat Kendra benar-benar lelah. Dia memijat keningnya sambil mengembuskan napas berat.
Aku bisa mengerti sih kenapa sepanjang meeting dia marah-marah dan tidak memberikan kesempatan pada semua orang di ruangan itu untuk membela diri. Divisi marketing melakukan kelalaian yang sangat fatal sehingga membuat perusahaan terancam mengalami kerugian besar.
Wajar sebagai pimpinan dari para manajer, dia sampai emosi tingkat dewa begitu. Lha wong Kendra juga yang akhirnya dapat teguran dari dewan direksi. Padahal dia sudah memberi waktu pada Pak Toni dan timnya untuk secepatnya memperbaiki kesalahan-kesalahan yang mereka buat. Tapi mereka malah bergerak lamban. Aku jadi makin yakin dengan rumor bahwa divisi marketing merupakan divisi termalas di GM. Kasihan perusahaan ini, kan?
"Dafa, ke ruangan saya sekarang!"
Perintah tegas Kendra yang diucapkannya sedetik sebelum masuk ke ruangan, membuat Dafa terlonjak dan melotot padaku. Aku hanya meringis, meletakkan dua jari telunjuk di samping kepala membentuk tanduk. Aku bisa melihat pria manis itu menelan ludah, dan membawa sebuah berkas ke ruangan si bos dengan terburu-buru.
"Ngamuk?" Lisa berbisik waktu aku duduk dan menyalakan komputer.
Aku mengangguk. "Ruang meeting panas banget. Padahal auranya si bos bisa bikin semua orang jadi es, loh."
Lisa bergidik. "Tugasku harus cepat selesai sebelum diomelin Pak Bos nih."
"Kayak Dafa?" Widi ikut berbisik.
Aku tertawa tanpa suara. Kami memang bisa menebak jika di dalam, Dafa sedang jadi sasaran pelampiasan kemarahan si bos. Bukannya tidak kasihan, tapi aku tadi juga sudah dapat giliran waktu di ruang meeting. Kendra banyak menegurku saat diskusi berjalan. Kalau sikapnya sedang begini, aku jadi curiga kalau dia bukanlah Om Aa. Atau ... dia berkepribadian ganda?
Ting!
Aku membuka layar gawai. Sebuah notifikasi direct message i********:, membuatku mendesah malas. Membukanya, ibu jariku bergerak men-scroll pesan-pesan yang masuk sejak kemarin.
rajendravigo: hai Ana. Apa kabar?
rajendravigo: pgi, na. slma ini aku berusaha nyari kamu. Tp kamu ngga ada dimana2. Di sss Twitter dan ig semuanya gagal. Ternyata kamu pakai nama lain. Hhh pantas ngga ketemu
rajendravigo: siang, km udh maksi?
rajendravigo: aku lg mkn batagor. jadi ingat masa2 kita dulu☺️
rajendravigo: lg apa na? udh plg kerja kan?
rajendravigo: udh tidur ya? sleep tight then
rajendravigo: pagi, na. Tidurmu nyenyak?
rajendravigo: knp cuma diread? Kamu msh marah?
rajendravigo: aku jg di Jakarta. Ayo ketemu
Aku menyeringai. Anak ini! Apa dia tidak kesal, pesan-pesannya kuabaikan? Dan apa tadi katanya? Ketemu? Memangnya kita se-okay itu untuk bertemu begitu saja?
rajendravigo: we need to talk, please
Kututup gawai dengan kesal. Aku tidak akan bertemu dengannya, kecuali kalau itu merupakan ketidaksengajaan. Titik!
"Na, disuruh bawain kopi si bos!"
Suara ketus Dafa membuatku mendongak. Pria itu melempar berkas ke mejanya, lalu berjalan keluar. Aku meringis pada Lisa dan Widi sebelum mengekori Dafa yang kutebak menuju pantry juga. Dan benar saja, pria itu sedang menuangkan kopi instan ke cangkir.
"Dimarahin, ya?" tanyaku, mengambil posisi di sebelahnya dan meraih cangkir.
Dafa mendesah. "Padahal pagi tadi kita lagi hepi karena gajian. Sorenya udah diginiin. Berasa diterbangin tinggi-tinggi buat dijatuhin di bebatuan. Ugh!"
Aku tertawa geli. Tanganku urung mengambil bubuk kopi dan beralih ke minuman lain. "Udah sih. Bukannya kalian udah khatam sama sifat si bos? Aku aja yang newbie mulai adaptasi dijejelin omelan hampir tiap hari."
"Oh iya. Adek Ana kan asisten paling kuat jiwa raga." Dafa tersenyum mengejek.
Aku mencebikkan bibir sambil menuangkan air panas ke cangkir. "Kalau bukan karena tuntutan hidup mah ogah kali."
"Ke KUA sama Uda Dafa aja, yuk. Nggak perlu lagi deh mikirin biaya hidup."
"Mas kawinnya lamborghini, tapi ya?" Aku mengerling.
"Tunggu Uda ngerampok bank dulu."
Kami berjalan beriringan sambil tertawa. Dafa kembali ke mejanya, sedangkan aku masuk ke ruangan Kendra. Seperti biasa, pria itu sedang memelototi layar laptop seolah benda itu bakal hilang kalau ditinggal berkedip.
"Ini Pak."
Kendra mendongak. Matanya memicing pada cangkir yang kutaruh di mejanya. "Ini bukan kopi."
Aku mengangguk dan berkata dengan ragu, "Maaf, Pak. Tapi cokelat panas setahu saya lebih efektif untuk memperbaiki mood."
Kendra menyorotiku dengan mata hitam gelapnya yang setajam elang saat dalam mode Lucifer, tapi bisa sangat lembut saat jadi Om Aa. Dan itu sukses membuatku meringis takut. Jangan sampai niat baikku jadi bumerang!
Kendra menyeruput pelan minuman itu sambil tetap memandangiku intens, yang membuatku grogi dan ketar-ketir sendiri.
"Not bad." Lalu senyumnya terbit, meskipun tipiiis sekali. Itu cukup melegakan.
Aku ikut tersenyum dan membatin. Sama-sama, Pak!
"Hari ini kamu lembur."
Senyumku luntur seketika. Hell!
***
Apakah ada hari tersial selain hari ini? Dimulai dari rentetan DM dari Vigo yang mengganggu banget, seabrek pekerjaan dari bos Lucifer yang harus selesai secepatnya, ikut meeting dengan potensi membuat kepala mendidih, dilanjut lagi dengan ikut lembur si bos yang ingin menghukum divisi bermasalah. Belum cukup sampai di situ, sekarang aku harus terjebak di pinggir jalan padahal sudah lewat jam sebelas malam.
Mama, Ana nggak nyangka ternyata kerja itu seberat ini!
"Capek." Aku bergumam lirih, menempelkan pelipis ke jendela
sembari memandangi Kendra yang selesai memeriksa mesin mobil. Dia kini sedang menelepon entah siapa.
"Burgernya dimakan dulu." Kendra kembali duduk di kursi kemudi dan mengelap tangannya dengan tisu.
Aku mendesah, mengambil satu burger yang kami beli di jalan tadi, mengunyahnya dalam diam.
"Mesinnya nggak mau nyala. Aku udah telepon Bang Galang buat jemput kita sekaligus panggil mobil derek," kata Kendra sambil ikut memakan burgernya.
Aku mengangguk. Dalam hati menghitung berapa lama Om Galang bisa sampai sini, padahal jarak rumahnya cukup jauh. Ditambah mampir ke bengkel dulu.
"Kamu marah?" tanyanya sambil mengangsurkan sebotol air mineral yang sudah dia bukakan tutupnya.
"Nggak punya tenaga lagi buat marah." Aku meneguk minuman itu dan mengelap bibir dengan punggung tangan. "Capek. Ngantuk. Untung udah nggak lapar."
Ya elah, Na. Suara aja ketus gitu, masih bilang nggak marah? Batinku mengejek.
"Maaf, ya. Aku akan lebih khawatir kalau kamu naik taksi online selarut ini." Kendra meringis, menatapku penuh rasa bersalah. "Kamu tidur aja. Nanti aku bangunin kalau Bang Galang udah sampai."
Aku mengembuskan napas pelan, menyandarkan kepala ke sandaran kursi. Kupandangi Kendra yang meletakkan dahi ke kemudi. Matanya terpejam. Wajahnya kelihatan kuyu. Penampilannya sudah tidak serapi tadi pagi. Yah, meskipun berantakannya dia nggak bikin kadar wooh kerennya berkurang sedikit pun. Tapi aku jadi sadar, mungkin dia jauh lebih lelah daripada aku.
"Maaf, Om." Aku berkata pelan. "Nggak maksud kesal."
Kendra membuka mata, menoleh padaku. Dia tersenyum lembut, lalu tanpa sempat kuhindari, dia mengusap-usap kepalaku. "Nggak apa-apa."
"Om Aa, kenapa suka ngelakuin ini?" tanyaku, agak ragu.
"Apa?"
Aku menunjuk tangannya yang masih nangkring di kepalaku. "Elus-elus."
Kendra memiringkan kepala, tampak berpikir. Kedua alisnya bahkan sampai menyatu. "Kamu nggak suka?"
"Suka kok!" Aku menggigit lidah. Ini kenapa mulut jujur banget, sih? Lihat saja, Kendra bahkan sudah tersenyum geli. Duh! "Bukan gitu. Maksudnya-"
Dia sengaja memotong segala apa pun yang akan kugunakan sebagai pembelaan, dengan tawa renyahnya. Bodohnya, aku membiarkan mulutku sedikit menganga. Kendra sering tersenyum simpul, memang sudah biasa. Tapi tertawa? Itu langka, guys! Di situ saya nggak tahu gimana caranya buat nggak terpesona.
"Pipi kamu merah." Kendra menusuk pipiku dengan ujung telunjuknya, sembari tersenyum geli.
Aku cemberut, menepis tangannya.
Melihat itu, Kendra berdehem keras dan berkata, "Maaf."
Ya elah ini orang. Umumnya seorang pria gengsi sekali cuma buat minta maaf. Lha dia? Membuatku kesal sedikit saja langsung minta maaf. Dalam mode Om Aa, tapi. Gimana kalau tiap di kantor dia juga melakukan itu? Bisa habis maafku diminta terus sama dia.
"Om Aa ingat pertemuan pertama kita?"
Dia menaikkan sebelah alis. "Yang kamu mukulin aku pakai gagang sapu?"
Aku mengangguk sambil tertawa. Aku teringat kejadian tepat sebulan aku tinggal di rumah Om Iqbal.
Malam itu, semua orang termasuk seluruh anggota keluarga Eyang Mami, sedang berkumpul di halaman belakang rumah untuk merayakan tahun baru. Aku yang waktu itu pamit ke toilet, kaget setengah mati mendapati seorang pria berbalut pakaian hitam-hitam berdiri di dekat dapur. Spontan, aku berteriak 'maling' sambil memukuli orang itu. Aksi brutalku dihentikan waktu orang itu mendekapku kuat-kuat.
Semua orang datang tergopoh-gopoh, dan di situlah aku tahu kalau orang yang kupukuli adalah adiknya Om Galang yang kuliah di Singapura. Alih-alih marah karena si kalem kuaniaya, Om Galang dan Eyang Mami malah terpingkal-pingkal. Aku malu setengah mati dan minta maaf berkali-kali pada Kendra. Dia hanya tersenyum sambil mengusap lembut kepalaku. Dan itu jadi kebiasaan sampai sekarang, tiap kami bertemu.
"Kenapa waktu itu Om Aa nggak marah?" tanyaku.
"Kan cuma salah paham," jawabnya kalem.
"Padahal di kantor, Om pemarah banget," cetusku.
Dia tersenyum. "Tegas di keluarga, beda dengan tegas di lingkungan kerja. Kalau sama keluarga, saling memaafkan adalah hal yang paling penting. Di kantor, ada tanggung jawab yang harus diemban jadi toleransi sekecil apapun harus diperhitungkan."
Aku mengangguk mengerti. Bijak dan wooh keren sekali orang ini. "Tegasnya Bapak Bos aja udah bikin jantung jumpalitan. Gimana kalau lagi marah? Semoga aja saya nggak mengalami dimarahi Bos."
Kendra tersenyum geli. "Asal bertanggung jawab dan nggak ngulang kesalahan, Ann nggak akan dimarahi."
"Kalau soal typo dan lain-lain, saya nggak janji." Aku menyengir, dan Kendra pura-pura mendengus. "Oh ya, Om Aa kenapa kalau sama aku, selalu pakai aku-kamu? Beda kalau sama Gio, Rafa dan Nara."
Kendra mengubah posisi menjadi menyandarkan punggung di sandaran kursi. Tatapannya masih fokus padaku. "Selisih umur kita nggak sejauh itu untuk jadi om dan keponakan, kan?"
"Terus, kita apa dong?" Loh-loh, kok kedengarannya seperti sedang minta status ke gebetan, ya?
Kendra menatapku lama. Aku memiringkan kepala, menahan debaran entah apa yang tiba-tiba muncul saat iris hitamnya menembus iris coklat tuaku. Lalu senyum lembutnya terbit saat dia berkata, "Kita ya kita. Ken dan Ann."
Aku mengerjapkan mata. Rasa hangat mulai merambati telinga sampai kedua pipiku. Hening menyelimuti. Aku tidak mengerti kenapa kehilangan kata-kata setelah dia melontarkan jawaban itu. Sama tidak mengertinya aku kenapa kemudian memilih memalingkan wajah ke arah jalan, dan pura-pura tidur. Sampai usapan-usapan lembut di kepala yang selama bertahun-tahun selalu membuatku seperti tersetrum listrik, mengantarku ke alam mimpi.
***
I'm in love with the shape of you
We push and pull like a magnet do
Although my heart is falling too
Kelopak mataku yang tertutup rapat mulai bergerak-gerak. Ed Sheeran kembali berusaha membangunkanku dari mimpi berkencan dengan Mike Angelo. Aku mengerang, menggerakkan tangan ke sisi kiri kasur untuk mencari asal suara. Benda segiempat itu langsung kutemukan, dan aku segera mematikan suara dengan volume tinggi yang merusak gendang telinga itu.
Yang nyetel volumenya juga kamu sendiri kali, Na!
Aku mendengus, mengabaikan ejekan sang dewi batin. Mataku belum sepenuhnya terbuka, tapi aku memaksa tubuhku untuk duduk. Hidungku mengendus-endus aroma maskulin yang amat kukenali, tapi logikaku mengingatkan bahwa kamarku tidak beraroma seperti ini. Apa aku tersasar di kamar Widya? Tapi kamar gadis bar-bar itu beraroma lemon, bukan kopi bercampur pinus begini.
"Pagi, Putri Tidur."
Sapaan itu membuatku tersadar sepenuhnya. Aku menoleh perlahan, lalu memekik saat menemukan sosok pria berdiri di ambang pintu yang terbuka. Punggungnya bersandar di kusen pintu, sedangkan kedua tangannya terlipat di depan d**a.
"O-om ... ngapain di s-sini?!" tanyaku, gagap. Kedua tanganku mencengkram erat tepi selimut.
"Ini kamarku, Ann."
"Hah?!"
Aku mengedarkan pandangan ke sekeliling. Dinding dilapisi wallpaper abu-abu tua dan putih, lemari kayu berwarna hitam, langit-langit tanpa hiasan glow in the dark, dan ranjang king size. Ini wooh keren, tapi bukan kamarku!
"Ngapain aku di sini?!" pekikku ngeri.
Masih dengan wajah innocent, dia berkata, "Bang Galang kelamaan jemputnya. Jadi aku bawa kamu pulang ke sini aja. Nggak tega juga bangunin kamu."
"Terus kalau aku tidur di sini, Om tidurnya di mana?" Jantungku berdegup kencang. Please, jangan berpikiran buruk, Ana!
Tapi mana bisa kalau sekarang saja Kendra memasang wajah menyesal sambil menjawab panjang lebar, "Di rumah ini nggak ada kamar tamu. Aku juga nggak nyaman tidur di sofa. Jadi, menurut kamu?"
Aku megap-megap. Mama!
***