Tirai dibuka meloloskan cahaya mentari pagi memenuhi kamar bernuansa putih cokelat dengan seorang remaja berdiri menarik senyum pada sapaan pagi. Perlahan nafas beraturan ia tarik kemudian mengembuskan dengan lembut. Seragamnya terlihat aneh dengan berbagai ornamen menggelikan terpasang di tubuhnya. Sejenak, ia mengejek pantulan cermin di hadapannya dengan sedikit u*****n.
"Segitu kurang kerjaan gue make aksesoris seperti ini," desisnya tak percaya.
Jari-jari lentik miliknya mulai melepas papan nama dari kardus yang terpasang di lehernya, topi dari karton yang sudah ia bentuk sedemikian rupa lalu meletakkan barang tersebut di meja belajarnya.
Tak bisa dideskripsikan betapa ia kesal dengan semua barang terkutuk itu, kalau kamar dan segala isinya bisa berbicara mungkin gadis itu telah kenyang dengan olokan dari ornamen cantik penghias kamarnya atau dari pohon kaktus mini yang ia pajang di meja belajar.
Perlahan ia beranjak ke dapur untuk sarapan, bukan hal lucu jika nantinya ia tiba-tiba pingsan di lapangan karena tidak sempat sarapan. Seperti biasa, sarapan rapih tertata di meja dengan deretan kursi kosong sebagai temannya.
Lingkaran bundar di tangannya telah menujukkan pukul 06.00 pagi yang artinya masih ada 30 menit waktu yang bisa ia gunakan untuk berangkat menuju sekolah barunya.
Talia Vanendra nama gadis itu, Talia yang berarti hujan dari surga dan Vanendra berarti awan yang berkelana.
Serasi dengan dirinya yang begitu menyukai hujan dengan bau tanah yang selalu berhasil menyejukkan hatinya dan dia juga menyukai awan karena dapat melindunginya dari terik, menurutnya awan itu bentuk nyata dari seorang pelindung.
Derap langkah kembali membawanya ke depan meja belajar lalu menarik malas aksesoris Orientasi Siswa miliknya. Dengan senyum mengejek ia memakai kaus kaki tidak senada dengan tali sepatu sama anehnya.
Talia merutuk, tidak seharusnya Masa Orientasi dilakukan seperti ini—sama sekali tidak ada untungnya. Motor hitam putih yang siap mengantar ke sekolah baru, perlahan Mbak Wati menarik gas dan menaikkan kakinya.
Selain suka hujan, awan dan kaktus, Talia juga menyukai angin sepoi yang bertiup sejuk. Sederhana, cukup sederhana untuk ukuran gadis remaja yang seharusnya menyukai baju-baju cantik, aksesoris lucu, atau hal-hal mewah lainnya.
Setelah diantar Mbak Wati di sebrang jalan, Talia mengembuskan napas berat. Gedung yang akan mengukur ceritanya selama tiga tahun kedepan sudah didepan mata.
"Mbak langsung ke pasar ya, heheh nggak papa adek nyebrang dikit?" Tanya Mbak Wati sedikit tak enak.
"Iya nggak masalah mbak," jawab Talia singkat.
Masa orientasi memang tidak diperbolehkan membawa kendaraan sendiri alhasil Talia diantar oleh Mbak Wati yang merupakan asisten rumahtangganya.
Perlahan Talia berjalan menyebrang, gedung putih itu semakin dekat membuat Talia menarik napas berharap hari ini cukup baik untuk dilewati.
Ketika Talia ingin menyebrang ke ruas kanan jalan, tiba-tiba dari arah belakang muncul seorang ibu-ibu tanpa aba-aba langsung menyerempet tubuh Talia. Talia dan Ibu terjatuh bersamaan di badan jalan. Talia meringis, kakinya tertindih body motor yang ia yakini pasti akan memar.
"Sini gue bantu," ucap seseorang langsung menegakkan motor yang menindih kaki Talia. Si Ibu telah berdiri dengan lecet di bagian kiri yang tadi menimpa kaki Talia.
"Maaf nak, ibu benar-benar tidak sengaja." Lembut jari ibu tersebut menyentuh punggung Talia.
Dengan tersenyum Talia menjawab, " Tidak apa, Bu. Lain kali lebih hati-hati ya bu."
Setelah memastikan Talia tidak apa-apa, Ibu tersebut pamit karena terburu-buru ke rumah sakit untuk menemani anaknya. Hal tersebutlah yang menjadi penyebab ia tak fokus dan berakhir menabrak seorang siswi.
Tatapan Talia beralih pada seorang siswa berpakaian rapih di hadapannya. "Terimakasih kak," ujarnya tulus. Laki-laki yang baru ia ketahui bernama Rafa tersebut hanya tersenyum lalu mengemudikan motornya ke parkiran sekolah.
Jangan kira ini drama korea ya si cowok akan memberikan tumpangan kemudian mereka berpacara. Tidak semudah itu!
Talia meringis ngilu, sebenarnya kaki Talia sangat sakit. Ia bisa saja berteriak kesakitan pada ibu tersebut agar bertanggungjawab, tapi ia cukup punya hati untuk membiarkan ibu tersebut sesegera mungkin tiba di rumah sakit tanpa perlu berlama-lama berurusan dengannya.
Talia telah masuk barisan siswi baru yang sama-sama menggunakan aksesoris ane—sebentar, sepertinya Talia melupakan sesuatu. Di mana aksesoris aneh yang sebelumnya ia bawa, Talia memijat pelan kelopak matanya merutuki dirinya yang begitu ceroboh. Ia tak tahu apakah aksesoris tersebut tertinggal di rumah atau malah jatuh ketika ia diserempet tadi.
"Kamu!" panggil seorang siswi yang dari seragamnya Talia yakini adalah kakak kelas sontak membuat Talia terkejut. "Kamu tidak dengar atau benar-benar tuli?" sarkas gadis itu s***s. Talia kira ini bukan awal yang baik.
Telinga Talia panas dengan u*****n, omelan dan teriakan yang gadis tertulis "Cantika Aulia Putri" di seragam OSIS tersebut. "Untung kakak kelas," Talia membatin.
Lain Talia, lain pula laki-laki yang kini berjalan di depan Rafa yang sebelumnya menolong Talia. Dengan tatapan lurus kedepan, cukup kontras dengan siswa lain yang menunduk karena aturan aneh dari pengurus OSIS.
Diketahui ternyata lelaki tersebut—Sagara Harendra datang terlambat dan berakhir sama seperti Talia berdiri di depan dengan tatapan sinis kakak kelas.
Di samping kiri, berdiri seorang gadis cantik dengan wajah ditekuk kesal karena dihukum. Sementara lelaki berperawakan jangkung, berkulit kuning langsat, tersenyum jahil sembari menggoda. Mereka dihukum karena ribut di barisan dan tentu saja laki-laki yang bernama Shaka tersebut penyebabnya. Gadis cantik dengan papan nama bertulis "Keyra Sarafina" kesal bukan main hingga ia dengan sengaja menginjak keras kaki Shaka yang berdiri di sampingnya.
"Seneng ya dihukum?" sinis gadis yang tadinya meneriaki Talia—Cantika. Kini ia sudah berdiri di depan Keyra yang tertunduk dengan wajah memerah malu bercampur takut.
"Punya malu nggak?" teriaknya.
"Saya yang mengganggunya, Kak." Shaka tidak terima sahabatnya dibentak sedemikan rupa. Bukan rahasia lagi, Shaka dan Keyra memang sering ribut karena Shaka yang jahil tapi mereka tetaplah sahabat dan Shaka tidak suka ada yang mengganggu sahabatnya. Mereka terbiasa bersama sejak bangku SD, bertengkar namun selalu bersama.
"Fa, anak baru sekarang sudah tidak ikut aturan ya?" sinisnya menengok Rafa yang ternyata merupakan ketua OSIS dengan Cantika sebagai wakilnya. Talia mengerutkan keningnya, ia harap respon Rafa tak merusak ekspektasi karena tadi pagi telah menolongnya.
"Lari keliling lapangan 10 putaran! Cepat!" teriak Rafa membuat mereka berempat terkejut dan mengikuti perintah Rafa.
Talia terdiam sejenak mencerna perintah tersebut, apa benar yang meneriakinya adalah orang yang sama dengan yang menolongnya tadi pagi? Sedetik kemudian Talia tersadar lalu mengikuti instruksi tersebut.
Sagara berjalan santai di belakang Talia tatapannya sedingin es, datar dan kentara wajah tak suka. Talia berusaha menyelesaikan hukuman meski kakinya begitu sakit, Ia tak sempat melihat apakah kakinya hanya memar atau benar-benar terluka.