"Lari keliling lapangan 10 putaran! Cepat!" teriak Rafa membuat mereka berempat terkejut dan mengikuti perintah Rafa. Talia terdiam sejenak mencerna perintah tersebut, apa benar yang meneriakinya adalah orang yang sama dengan yang menolongnya tadi pagi? Sedetik kemudian Talia tersadar lalu mengikuti instruksi tersebut. Sagara berjalan santai di belakang Talia tatapannya sedingin es, datar dan kentara wajah tak suka. Talia berusaha menyelesaikan hukuman meski kakinya begitu sakit, Ia tak sempat melihat apakah kakinya hanya memar atau benar-benar terluka.
"Kamu sakit?" tanya Keyra menyadari Talia tidak berjalan tegak melainkan dengan sedikit menyeret kakinya.
"Dasar lemah," ejek Shaka yang langsung mendapat tatapan sinis dari Keyra. Keyra tahu Shaka hanya main-main tapi menurutnya tidak tepat Shaka mengejek orang yang tengah kesulitan apalagi Talia baru saja mereka kenal, mereka tidak tahu apakah Talia tersinggung atau tidak.
Talia tak merespon, dia tahu Shaka hanya bercanda. Mereka masih melanjutkan mengelilingi lapangan sebagai bahan tontonan dari kakak kelas dan siswa seangkatan dengan mereka. Rasa ngilu semakin terasa di kaki Talia, ia masih melanjutkan hukuman yang saat ini baru 5 putaran. Ia tak selemah yang orang kira, meski kesakitan ia tetap akan menyelesaikan hukumannya. Tak adil kan, jika nantinya dia diringankan hukuman hanya karena kakinya. Talia bukan orang yang suka dikasihani, selagi ia bisa ia tak akan merepotkan orang lain. Tiba-tiba Talia terjatuh, sontak membuat semua orang beralih menatapnya.
"Gausah caper deh!" sinis Cantika tak suka.
Rafa hendak mendekat menolong namun langsung saja Cantika hentikan. Memang sudah aturannya, kakak kelas harus memberikan pelatihan mental ketika siswa baru datang ke sekolah mereka. Tak main-main, setiap tahun pasti akan ada siswa yang pindah karena tak tahan aturan yang dimiliki sekolah tersebut. Tapi, sebanding dengan hasil yang didapat. Jebolan sekolah mereka selalu berhasil mendapat lulusan-lulusan terbaik dan siap melanjutkan ke tingkat pendidikan universitas, menjadi abdi negara, tenaga kesehatan, tenaga pengajar ataupun jurusan-jurusan yang terkenal sulit didapat dengan mudah. Hal itu pula yang menjadi daya tarik tersendiri SMA Garuda dibanding sekolah lain.
"Berdiri, tidak ada keringanan hukuman!" lanjut Cantika. Tangan Talia geram rasanya ingin mencakar wajah Cantika tanpa ampun.
"Kenapa muka kamu, berani kamu?" tanya Cantika tak percaya mendapat tatapan tak suka dari Talia.
Sagara berdecak, membuat Talia menatapnya. Sejenak tatapan itu beradu namun Sagara segera memalingkan wajah.
"Mata itu," batin Sagara ngilu ketika tak sengaja menatap mata Talia.
Kini ia berbalik menatap Cantika, gadis yang dengan kekuatannya sebagai wakil ketua OSIS membuat badan itu tegap berani dan cukup mengerikan bagi siswa baru, tapi tidak dengan Sagara.
"Gausah drama," ujarnya kepada Cantika lalu menyuruh Shaka dan Keyra membantu Talia. Jelas saja Cantika tidak terima dengan perkataan Sagara, meski berwajah tampan tak pelak ia akan menjadi musuh bebuyutannya. Cantika mendekat lalu meminta Sagara push up, Sagara tidak takut tapi ia malah tersenyum mengejek.
"Gak cocok sok galak," ejek Sagara membuat Cantika garuk kepala. Cantika sepertinya mengenal sosok tersebut, tapi ia ragu. Meski terkesan tak sopan, Sagara tetap melakukan perintah Cantika.
Tadinya Cantika ingin marah, namun ia urungkan karena Sagara melakukan perintahnya. Jika saja, Sagara tidak melakukan hukuman darinya tentu ia akan marah besar. "Jaga mulut kamu, kesopanan dinilai di sini." Cantika memberi wejangan namun tak dihiraukan oleh Sagara.
"Kaki kamu kenapa?" tanya Keyra lembut. Ia menurunkan kaos kaki Talia dan mendapati memar di sana. Shaka masih berdiri di tempatnya, ia tak suka dengan orang-orang yang berlaku semaunya seperti para kakak kelas yang semakin lama semakin sinis pula tatapan ke arah mereka.
"Siapa suruh kalian berhenti?" tanya Rafa yang kini berjalan mendekat. "Kamu!" Tunjuk Rafa ke arah Sagara yang telah selesai melakukan push up lalu tatapan beralih pada Keyra dan Shaka. "Siapa suruh berhenti? Cepat lanjutkan hukuman kalian." Tanya Rafa dingin mengintimidasi.
Di sudut lapangan, berdiri seorang guru menatap Sagara mengisyaratkan agar tak membuat masalah. Bukannya takut, Sagara malas didebat oleh Tantenya yang merupakan pembina OSIS SMA Garuda. Sagara sudah tahu peraturan yang dimiliki SMA tersebut, ia sempat menentang tapi Tantenya sangat pintar berdebat sedangkan Sagara malas mendebat. Ia sempat ingin bersekolah di tempat lain hanya saja Tante dan kedua orangtuanya tidak setuju.
Rafa berjalan mendekati Talia lalu berkata, "Kamu silahkan selesaikan hukuman." Talia tak habis pikir, ia kira Rafa akan membiarkannya ke UKS untuk mengobati kaki yang memar ternyata tidak. Walaupun Talia tidak akan menerima bantuan tersebut karena dia akan menyelesaikan hukuman dengan cara apapun, tapi tetap saja rasanya tidak suka dengan perlakuan Rafa. Keyra baru saja ingin protes tapi Shaka langsung menghentikan, ia tahu ini salah tapi bukan hal yang dibenarkan untuk saat ini Keyra mendebat ketua OSIS sok berkuasa itu. Bisa-bisa Keyra malah mendapat masalah nantinya. Tapi, satu yang Talia pegang erat ia tak butuh belas kasih seorang Rafa. Toh ia masih bisa menyelesaikan hukuman meski dengan kaki yang memar. Talia tak begitu berharap kakak-kakak kelas tersebut akan berubah baik hanya karena kakinya sakit. Akhirnya mereka melanjutkan hukuman meski dengan keterpaksaan, apalagi Talia dengan kaki memarnya.
Hukuman telah selesai, hari itu berlanjut semakin buruk. Para pengurus OSIS menjadikan mereka sasaran dari contoh pembentukan karakter yang kuat. Setiap tindakan yang mereka lakukan selalu dipantau, tentu saja banyak kesalahan yang mereka lakukan karena aturan tersebut sungguh mengekang dan membuat mereka tak berdaya.
Talia menatap Sagara yang selalu membuang muka tak ingin bertatapan dengannya. Ia tak paham, apa karena kejadian tadi pagi yang membuat Sagara seperti itu atau ada hal lain. Talia meminjat pelan kelopak matanya, mungkin hanya perasaanya saja.
Kegiatan berlangsung dengan pembentukan kelompok dan secara sengaja para pengurus OSIS menjadikan Sagara, Talia, Shaka dan Keyra satu kelompok ditambah Fattan dan Alana. Tujuan mereka tak lain hanya ingin mengkambinghitamkan kelompok tersebut untuk menjadi korban percontohan. Memang tujuan mereka tak semua buruk, ingin melatih dan membentuk karakter tangguh, mandiri, pekerja keras dan disiplin dari setiap siswa. Hanya saja, cara tersebut yang salah. Meski banyak berhasil, tetap saja cara sedemikian tidak bisa dibenarkan.
Hari ini cukup buruk untuk menjadi hari pertama di sekolah baru. Banyak hal yang membuat mereka dihukum, dimarahi dan itu membuat Talia bertekad ingin mengubah sistem orientasi tahun depan. Keinginannya menjadi bagian terpenting dari pengurus OSIS sudah bulat. Masa orientasi yang seharusnya dimanfaatkan untuk saling mengenal antar siswa, mengenal lingkungan sekolah, beradaptasi dan mengembangkan diri tidak seharusnya malah ditakuti.