Tidak hanya sampai di sana, setelah masa orientasi selesai. Kegiatan berlanjut ke masa latihan kepemimpinan yang berlangsung di salah satu hutan pinggiran kota. Kegiatan ini bertujuan melatih keberanian, kemampuan bertahan di alam, kepemimpinan, rasa tanggungjawab, kekompakan dan tentunya acara tersebut memang bagian dari program kerja tahunan pengurus OSIS.
Kelompok mereka masih sama, setelah sampai di lokasi mereka berbagi tugas. Fattan dan Shaka membuat dua tenda untuk kelompok mereka, Alana dan Keyra mempersiapkan makan siang, Sagara dan Talia mencari kayu bakar untuk memasak dan persiapan api unggun malam nanti. Setiap dari mereka mempunyai tanggungjawab masing-masing, karena memang itu tujuan dari kegiatan tersebut. Kaki Talia sudah berangsur membaik setelah diobati, kini Talia dan Sagara menyusuri area hutan yang tak jauh dari tenda. Tidak hanya berdua, perwakilan kelompok lain juga turut serta dengan diawasi Rafa dan beberapa pengurus OSIS lainnya.
Setelah mendapat cukup banyak ranting, Sagara mengajak Talia kembali ke tenda namun dari arah belakang Rafa muncul dan mendekati Talia.
"Gimana, sudah sembuh?" tanya Rafa melirik kaki Talia. Dalam hati Talia merasa geram dengan sikap Rafa yang seperti memiliki kepribadian ganda.
Di situasi tertentu ia bisa menjadi orang yang sangat baik, namun di situasi lain ia bisa menjadi kakak kelas yang tanpa belas kasih kepada adik kelasnya. Dan Talia tidak menyukai hal tersebut. Baginya Rafa adalah wujud dari ketidakmampuan menjadi diri sendiri karena terikat peraturan pengurus OSIS. Bukankah dia seorang ketua? Seharusnya ia memiliki peran penting dan dapat mengajukan perubahan atas peraturan di sekolah mereka. Tapi tidak, Rafa malah menjadi bagian dari aturan tersebut.
"Sudah, kak." Jawab Talia sebisa mungkin tidak membuat masalah, lagi.
"Lo—" ucapan Rafa dipotong langsung oleh Sagara. "Ayo kembali ke tenda," ujarnya singkat tanpa menoleh ataupun meminta izin kepada Rafa. Sagara tak peduli anggapan tak sopan atau apapun cap yang diberikan pengurus OSIS padanya. Talia yang memang tak berminat berlama-lama di sana langsung saja mengikuti langkah Sagara meninggalkan Rafa.
Sementara tenda telah berdiri kokoh, Fattan dan Shaka telah menyelesaikan tugas mereka.
"Shaka, sana pergi jauh-jauh. Gausah ganggu deh!"
Seperti biasa, perdebatan seperti itu memang biasa terjadi antara Shaka dan Keyra. Shaka mencomot potongan sosis yang siap dimasak membuat Keyra lagi-lagi menerikainya. Alana hanya geleng kepala melihat kelakuan pasangan Tom and Jerry di hadapannya. Sementara Fattan membantu mengambilkan air dari sungai yang tak jauh dari tempat berdirinya tenda. Tak lama, Talia dan Sagara tiba dengan ranting yang mereka bawa. Beberapa mereka kumpulkan di dekat tenda pengurus OSIS dan sisanya menjadi bahan bakar kelompok mereka.
"Ini airnya udah gue angkut," ujar Fattan meletakkan ember air di dekat Keyra. Keyra meminta Shaka menghidupkan api tapi Shaka malah terus saja mencomot sosis yang ingin Keyra masak. Alana yang melihat hal tersebut hanya bisa tersenyum geli, Sagara menangkap senyum tersebut lalu tanpa sadar ikut menarik senyum di wajahnya. Fattan yang melihat tak ada pergerakan dari Shaka akhirnya beranjak menghidupkan api dan disambut senang oleh Keyra. "Sekali-kali kamu contoh Fattan donk, Ka. Jangan jadi manusia nyebelin terus," ujar Keyra menarik mangkuk berisi potongan sosis di hadapan Shaka. Shaka ingin protes tapi wajah lain kelompoknya menatapnya dengan wajah lebih protes lagi karena Shaka terus saja memakan sosis yang harusnya menjadi makan siang mereka. Dengan menggaruk tengkuknya, Shaka tersenyum dan mendapat hadiah timpukan dari Sagara.
Hembusan angin malam ditemani nyanyian jangkrik dan hewan penghuni hutan lainnya menjadi pengiring malam.
"Semua keluar dari tenda! Dalam hitungan 10 detik semua harus sudah membentuk lingkaran di lapangan." Suara Rafa terdengar jelas melalui pengeras suara yang membuat setiap orang lekas berlari menuju lapangan tak terkecuali kelompok Sagara.
"Gilak 10 detik, dikira kita kilat apa," rutuk Keyra yang kini beranjak dari duduk santainya di depan tenda.
"Udah ikutin aja," ujar Alana. Lagi Sagara mengukir senyum, entah sejak kapan ia begitu menyukai suara Alana.
"Sepuluh, sembilan, delapan," pengeras suara kembali berbunyi. Talia kelabakan mencari sendal miliknya karena ia baru saja melaksanakan sholat isya dan lupa meletakkan sendal di mana. "Tujuh, enam," lanjut Rafa membuat Talia semakin kelabakan. Fattan yang baru keluar dari tenda melihat Talia kelimpungan mencari sendal, ia menawarkan sendal miliknya karena ia membawa dua pasang sendal. Talia menerima dengan senang hati, kemudian mereka menuju lapangan tepat di hitungan ke satu mereka telah berada di lingkaran.
"Malam ini kita semua akan mendengarkan sedikit kisah dari Pak Arya mengenai latarbelakang aturan yang mungkin sebagian besar dari kalian ingin sekali memprotes aturan tersebut. Seperti biasa, sebelum acara dimulai marilah kita berdoa menurut agama dan kepercayaan masing-masing. Berdoa mulai." Rafa memimpin doa dengan hikmat. Langit malam berbintang cerah dengan rembulan bercahaya sebagai temannya. "Selesai," lanjut Rafa.
"Aturan dari kegiatan ini mudah, jangan ada yang ribut dan bersiap setelah kegiatan saya akan memilih acak dari kalian untuk menerangkan ulang apa yang dijelaskan oleh Pak Arya. Paham?" tanya Rafa langsung dijawab paham oleh para siswa baru.
Cerita dimulai dengan latar tahun 2000 di mana para siswa dan siswi SMA Garuda beraktivitas sama dengan siswa di SMA lainnya. Rambut panjang bagi laki-laki bukanlah hal yang asing di SMA tersebut, tawuran, berkelahi antar geng, antar kelas bahkan pembulian masih menjadi hal biasa. Banyak siswa dan siswi berhenti sekolah karena kasus kriminal ataupun hamil diluar nikah. Tahun krisis kepribadian, akhlak bukanlah hal utama yang dikejar. Hanya akan tersisa sedikit siswa berhasil lulus dan melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi. Sisanya? Tentu saja banyak yang berakhir di jeruji, menikah bahkan bunuh diri. Semua itu terjadi karena nilai moral, agama dan norma-norma yang lemah dalam diri mereka. SMA mereka di cap buruk, begitu terkenal dengan hal-hal buruk sampai akhirnya sekolah mereka digenjot menjadi sekolah unggulan dan mendapat perhatian khusus dari Dinas Pendidikan pada tahun 2003. Tidak mudah, tapi berkat kerjasama antar guru, pihak keamanan, dan Dinas Pendidikan semakin hari SMA tersebut menunjukkan tanda-tanda perubahan. Berkat hal tersebut, sekolah mereka berhasil masuk deretan sekolah unggulan yang banyak diincar baik siswa siswi di kota mereka maupun dari luar kota. Kejuaraan nasional maupun internasional banyak mereka yang raih, hanya saja sistem yang begitu keras tersebut masih mereka pertahankan hingga sekarang. Bukan tanpa alasan, selain mempertahankan integritas sekolah hal tersebut juga sangat membantu pendidikan di sekolah mereka. Di akhir cerita sang Guru berharap mereka semua dapat mempertahankan pencapaian sekolah mereka karena tanpa bantuan dari para siswa mustahil pencapaian tersebut dapat mereka pertahankan.
Talia mendengarkan dengan seksama tanpa ingin ketinggalan setiap detail cerita. Penjelasan Pak Arya cukup mengubah sudut pandang Talia namun di sisi lain ia tetap merasa sistem tersebut sudah tidak cocok dilanjutkan karena zaman sudah berubah dan tentunya terlalu keras sistem tersebut juga dapat berdampak terhadap psikologis para siswa yang bersekolah di sana.
Dengan berdirinya Pak Arya, berakhir pula cerita mengenai asal mula peraturan keras di sekolah mereka. Kegiatan kini dilanjutkan oleh pengurus OSIS karena pak Arya sedang ada hal yang harus ia urus. Rafa kembali mengambil alih kegiatan dengan menunjuk beberapa orang untuk menjelaskan ulang cerita Pak Arya dan dia juga meminta beberapa pendapat siswa baru mengenai sistem mereka.
Rafa yakin banyak dari mereka yang menganggap sistem tersebut sangat tidak cocok dilanjutkan karena berbeda dengan sistem sekolah lain. Perbedaan kelas, perbedaan tingkat juga salah satu bagian dari hal yang berbeda di SMA Garuda. Perbedaan tersebut bermakna, semakin tinggi tingkat yang kita pijak maka semakin mudah pula akses kita terhadap sekitar contohnya jika dua kelas sedang ingin melakukan praktikum di laboratorium yang sama maka kakak kelas yang berhak mendapatkan fasilitas tersebut karena tingkat adalah prioritas semakin tinggi tingkat yang dipijak maka semakin diprioritaskan.
"Saya cukup terkesan dengan cerita Pak Arya, perubahan drastis itu kini dapat kita bersama nikmati dan guru-guru serta setiap orang yang terlibat sangat berhasil dan sukses mengubah pola hidup dan memperbaiki masa depan banyak siswa. Tapi, untuk saat ini zaman telah berubah dan sistem semestinya diperbarui sesuai situasi yang sedang berjalan. Bukan hanya berdampak pada psikologis karena k*******n verbal yang hingga kini—" ucapan Talia segera saja Cantika potong karena menurutnya Talia terlalu banyak bicara dan seolah mengerti tahu segalanya padahal baru kelas sepuluh.