"Saya rasa kamu sudah terlalu banyak bicara," potong Cantika.
Hal tersebut juga salah satu hal yang Talia tak suka dari sistem di sekolah mereka, kakak kelas terlalu merasa sok pintar dan merasa selalu benar karena tingkat X tidak boleh memberikan pembelaan jika terjadi perdebatan. Alasannya mudah, kakak kelas selalu benar.
Malam panjang berlalu cukup tak mengenakkan bagi Talia. Kebebasan berpendapat dibabat habis oleh peraturan, akal sehat kini tak lagi digunakan selayaknya karena terlalu bungkam dengan sistem-sistem yang siap membatasi banyak hal mengikat dan memenjarakan mereka hingga waktu yang tak bisa diperkirakan. Talia memijat pelan kelopak matanya, geram karena tak bisa berbuat apa-apa padahal rasanya kepala Talia sudah siap meledak dengan aturan yang baru saja ia temui di lingkungan baru ini.
Kegiatan telah diakhiri tapi Talia beserta kelompoknya saat ini tengah menjadi bagian dari hiburan malam ini. Mereka tengah berdiri di dekat api unggun dengan tatapan-tatapan yang siap menerkam dari para pengurus OSIS. Hal tersebut tidak lain karena mereka menganggap Talia cukup angkuh, kepala tak mau menunduk jika berhadapan dengan kakak kelas, terlalu sombong untuk menyapa, semua kesalahan ada pada Talia. Saat ini ia tampak seperti ladang kesalahan, namun demi solidaritas jadilah kelompok mereka ikut terkena imbasnya. Untung saja, mereka semua cukup paham bahwa bukan Talia yang berbuat salah hanya saja memang para kakak kelas sedang mencari tumbal dan sialnya Talia yang menjadi sasaran.
"Maaf gue nggak bermaksud buat kalian semua ikut kena hukum," ujar Talia tulus. Saat ini mereka tengah duduk di dekat tenda setelah kejadian yang takkan bisa mereka lupakan.
"Lo cuma jadi kambing hitam," jawab Fattan disetujui kelompok mereka. Sagara melihat kebiasaan Talia jika sedang ada masalah atau gugup pasti akan memijat pelan kelopak matanya. Sedikit aneh, tapi rasanya ia pernah melihat kebiasaan yang sama.
"Dikit doang hukumannya." Dengan entengnya Shaka berbicara membuat Keyra langsung protes karena kakinya sungguh terasa pegal dan pinggangnya terasa sudah akan berpisah dengan tubuhnya.
"Enak aja!" Protes Keyra.
Alana hanya diam, ia juga paham tanpa Talia melakukan kesalahan pasti akan ada seseorang yang menjadi tumbal malam ini. Sagara seringkali kedapatan memperhatikan Alana, meski tak merespon ataupun merasa bahwa Sagara memang sengaja memperhatikannya. Alana pikir memang mereka seringkali tidak sengaja bertatapan hanya karena ketidaksengajaan bukan karena Sagara memang memperhatikannya dan ketahuan olehnya.
"Kalian laper nggak?" Tanya Keyra dengan wajah polosnya. Tentu saja Shaka langsung mengangguk antusias, ia sudah kegeeran berpikir bahwa Keyra ingin memasak untuk mengganjal perut mereka.
"Yaudah, sana masak!" pinta Keyra pada Shaka yang langsung saja ditolak mentah-mentah oleh Shaka. Tentu saja ia lapar, tapi ia samasekali tak berniat menyentuh peralatan memasak.
"Sebagai permintaan maaf, gue bakal masakin buat pengganjal perut kita malam ini," ujar Talia tulus masih dengan rasa bersalah yang langsung saja disambut sorakan gembira dari Shaka.
"Ayo, gue bantu." Fattan beranjak—siap membantu Talia.
Talia sangat senang karena Fattan bersedia membantunya, Fattan jika dibandingkan dengan teman sekelompok yang lain dialah yang paling dewasa, pengertian dan sering mengalah. Sifat itu sangat jarang ditemui di kalangan kaum laki-laki, bersyukur karena Talia berhasil menemukan manusia langka tersebut.
Persediaan air di tenda mereka telah habis, rencananya Fattan akan mengambil air sendirian ke sungai yang tak jauh dari tenda namun Talia sungguh tak enak hati karena rencana memasak ini merupakan ide darinya dan ia tak tega melihat Fattan yang jadi ikut repot membantu. Meski Fattan menolak, Talia tetap bersikeras ingin menemani untuk mengambil air. Setidaknya ia dapat membantu menyenteri Fattan, begitu pikirnya.
"Sistem aneh, kenapa masih dipertahankan?" Talia yang pertamakali membuka suara. Ia masih merasa jengkel dengan kejadian malam ini.
"Gimana kisah dari Pak Arya?" balas Fattan malah balik bertanya. Alis tebal, rambut dipangkas pendek rapih, wangi, murah senyum dan tidak terlalu banyak bicara. Begitulah Talia memandang sosok di sampingnya.
"Menurut gue, pada awalnya emang bagus sih sistem itu banyak membawa dampak positif, memberikan perubahan, dan tentunya bukan rahasia lagi sudah berhasil meloloskan siswa siswi berprestasi dan mampu masuk ke universitas ternama baik di dalam dan di luar negri. Tapi, kalau dilihat lebih seksama dampak psikologis yang ditimbulkan juga nggak main-main sih." Talia yang memang sudah lama memendam kata-kata itu akhirnya mengungkapkan pada sosok Fattan yang menurutnya bisa diajak berdiskusi. Fattan tak langsung mendebat, tanggapan Talia memang tak sepenuhnya salah. Jika dilihat dari sisi psikologis, tentu guncangan-guncangan perasaan itu pasti ada bahkan depresi ringan hingga sedang juga tak dipungkiri pernah dialami oleh sebagian siswa meski pada akhirnya mereka akan berterimakasih pada hal-hal yang membuat kepala rasanya ingin meledak. Orang bijak berkata, ketika seseorang lelah karena belajar maka ia akan lebih lelah jika berhenti belajar. Bukan betapa sibuknya kita melainkan seberapa kita bisa memanfaatkan apa yang sudah diberikan oleh guru-guru yakni ilmu, ilmu menjadi seorang pemimpin, ilmu menjadi kuat bertahan dalam masalah, ilmu menjadi seseorang yang bijak dalam berkelakuan, dan semua ilmu itu yang akan menuntun ke masa depan dengan alur yang berbeda setiap individunya.
Pembahasan tak hanya sampai di sana, ternyata Talia tak salah memilih Fattan sebagai temannya berdiskusi. Selama perjalanan pulang pergi dari sungai, banyak pembahasan yang mereka bicarakan. Semua disambar lahap oleh Fattan, sambung menyambung, obrolan itu benar-benar terasa hidup.
"Gimana sih, airnya bisa tinggal setengah gitu," ujar Talia sambil tertawa. Fattan juga ikut tertawa renyah, ternyata saking serunya obrolan mereka membuat tak sadar banyak air yang tumpah. Untung saja, air tersebut masih cukup jika digunakan untuk memasak.
"Kita ketinggalan apa nih?" Tanya Shaka melihat gelagat keduanya yang makin akrab.
"Emang apa?" Talia malah balik bertanya, biasanya ia hanya diam jika dijahili atau diolok Shaka. Mungkin karena obrolan dengan Fattan, membuat Talia lebih berani mengeluarkan bersuara. Biasanya hanya diam dan tak tertarik dengan kekonyolan yang Shaka lakukan. Talia bukanlah pribadi yang sombong dan tak mau bergaul, hanya saja bukankah kesan pertama seringkali salah? Talia sudah berusaha menjadi ramah dan berbaur, tapi tetap saja tak semudah itu mendekatkan diri kepada orang baru. Maka dari itu dibutuhkan sebuah proses.
Shaka bersorak kegirangan karena Talia menjawab ejekannya, ia merasa berhasil membuat gadis berambut terikat itu bersuara. Keyra hanya menatap jengah, Shaka memang jenis manusia kurang kerjaan yang mau-mau saja ikut campur urusan orang. Tapi Keyra sudah terbiasa dengan kekonyolan itu, bahkan rasanya jika sehari saja tidak melihat kekonyolan yang Shaka lakukan terasa seperti ada yang kurang.
"Kurang kerjaan!" ujar Keyra yang ternyata sudah memotong beberapa sayur untuk dimasak. Ia tak enak hati jika hanya ikut makan dan Talia yang memasak, jadilah selama Fattan dan Talia mengambil air Keyra menyiapkan bahan yang akan dimasak.
"Syirik aja, huu!" Sorak Shaka dengan wajah menyebalkan. Sagara menepuk pundak Shaka dan menyeretnya ke dekat potongan kayu samping tenda. Meski Shaka mengoceh tak terima, Sagara tak peduli.
Keyra berkata dengan senang, "Akhirnya ketemu pawang!"