"Sini gue bantu," ujar Alana.
Meski Talia menolak, Alana dan Keyra tetap membantunya. Fattan ikut bergabung dengan Sagara dan mendengarkan ocehan-ocehan Shaka yang samasekali tak ada habisnya. Diam-diam ia sesekali menatap arah Talia, tanpa sadar ia ikut tersenyum melihat Talia tersenyum entah sedang membicarakan apa. Sementara Sagara mulai jengah dengan ocehan Shaka.
"Tau nggak, lo itu udah mirip om-om yang nyamar jadi tante-tante di lampu merah!" Ujar Sagara pedas tanpa pikir panjang.
Shaka segera saja memprotes. "Gue ganteng yah gak kaya mereka di pertengahan gitu! Cantik enggak, ganteng gak nyampe," balas Shaka tak terima.
"Daritadi udah kaya uget-uget gabisa diem, ga kasihan apa sama Fattan stres dideket lo," lagi Sagara membalas, sebenarnya bukan Fattan lebih tepatnya dia sendiri yang pusing mendengar ocehan Shaka.
"Eh btw, ada yang PDKT kayaknya." Shaka tak membalas ucapan Sagara. Meski terkesan pedas, Shaka tahu Sagara tak bermaksud menyinggung. Lagipula, bagi Shaka semakin orang terganggu karena tingkahnya maka dia akan semakin senang mengganggu orang tersebut. Contoh Keyra, gadis itu selalu menjadi sasaran kejahilannya. Shaka mengedipkan matanya, sungguh absurd manusia satu ini. Fattan mendengar hal tersebut mengangkat sebelah alisnya seolah bertanya.
"Ya lo sama Talia lah!" lanjut Shaka bersemangat. Mendengar nama Talia, Sagara menoleh dan mendapati Talia, Alana dan Keyra yang masih sibuk berkutat dengan kuali yang telah terisi masakan yang tak Sagara tahu. Tatapannya beralih pada mata Talia yang saat ini fokus dengan masakan di hadapannya. Sagara mengalihkan fokusnya, sejenak ia menarik nafas. Ia meyakinkan dirinya, manusia memang bisa terluka, manusia memang jenis mahkluk yang sulit ditebak, tapi akankah ia membawa luka itu sampai akhir hayatnya? Bukankah tak adil, dia tersiksa sendiri karena pikiran sendiri? Rasanya Sagara ingin mengutuk dirinya sendiri.
"Uy! Ngapain ngelamun, kesambet baru tau rasa!" Suara penunggu lampu merah itu menarik Sagara dari lamunannya. Siapalagi kalau bukan Shaka Adriansyah, manusia setengah jadi yang baru ia kenal.
"Apa!" Tanya Sagara sedikit terkejut.
"Liat apa? Alana? Sikat sana, masih jomblo juga dia." Shaka bersemangat hingga Alana yang masih membantu Talia mendengar namanya disebut sejenak menoleh ke arah Shaka. Segera saja Sagara tutup mulut Shaka dengan telapak tangannya dan bertingkah tak ada apa-apa dan mengalihkan pandangannya ke arah lain asal tak bertatap dengan Alana.
"Diem!" gertak Sagara. Bukannya diam, Shaka malah semakin meneriakkan nama Alana dengan mulut tersumpal. Fattan terkagum melihat kekonyolan yang Shaka lakukan, seakan tak kehabisan cara untuk memancing tawa.
"Syukurin!" teriak Keyra puas melihat Shaka yang akhirnya dapat Sagara taklukan. Tentu saja dia senang, orang yang biasa menjahilinya kini menemukan seseorang yang bisa memaksa laki-laki itu menutup mulut.
"Udah, kasihan kehabisan napas nanti. Sini makanannya udah siap," ujar Alana menengahi. Sagara yang oertamakali berdiri meninggalkan Shaka dan Fattan. Shaka kembali mengoceh tah terima karena menurutnya wajah tampan miliknya ternodai dan ia meminta pertanggungjawaban dari Sagara. Dengan wajah tanpa dosa, Sagara tak menghiraukan Shaka seolah tak ada yang sedang memprotes dirinya.
Talia menuangkan mie ke masing-masing mangkuk, asap masih mengepul karena barusaja diangkat dari kuali panas. Udara malam yang dingin dipadukan dengan semangkuk mie, sederhana namun terasa bermakna. Setelah hari yang panjang, dihukum, dimarahi, diteriaki, rasanya semangkuk mie adalah penawar hari.
"Boleh bicara sebentar?" Kalimat tersebut berhasil menginterupsi keriuhan yang kelompok Talia timbulkan. Talia mendongak mendapati laki-laki berperawakan tinggi itu menatapnya, ingatannya kembali saat laki-laki tersebut membantunya ketika ditabrak. Rafa, dialah yang menginterupsi kesenangan kelompok Talia. Sagara melirik sejenak dengan tatapan tak suka. Jika saja mata dapat membakar, mungkin Rafa sudah hangus terbakar tatapan Sagara. Talia menatap kelompoknya satu-persatu dan tak ia dapatkan alasan untuk menolak. Tatapannya beralih pada Fattan, dengan ragu Fattan mengangguk.
Dengan berat hati Talia beranjak dari duduk nyaman dengan semangkuk mie yang belum habis. "Di sini saja, kak." Talia bukan jenis manusia yang mudah menyembunyikan rasa tidak sukanya, kentara sekali dengan gerak-gerik penolakan yang ia tampakkan.
Awalnya Rafa menolak, namun ia juga tak ingin berdebat. Tanpa aba-aba, Rafa langsung mengeluarkan sebungkus cokelat.
"Gue alergi cokelat, kak." Tentu saja itu adalah sebuah kebohongan, bukan cokelatnya tapi yang memberikannya.
Rafa garuk kepala, strateginya salah. Ia menarik kembali tangannya lalu memasukkan cokelat tersebut ke sakunya, tangannya meraih tangan Talia.
"Gue suka lo, Talia. Lo mau jadi pacar gue?"
Kalimat yang Rafa ucapkan sungguh diluar dugaan, dengan sorot tak percaya, alis sedikit terangkat. Talia masih berdiri mematung berusaha mencerna perkataan Rafa, mimpikah? Nyatakah? Talia sontak mundur dan menarik tangannya. "Kak Rafa becanda?" Kalimat itu yang akhirnya lolos dari tenggorokannya yang tercekat.
Rafa kembali mendekat, tangannya kembali berusaha meraih Talia namun segera gadis itu menolak. Talia rasa, lelaki di hadapannya ini tak waras. Tiba-tiba marah, tiba-tiba baik, dan dengan lebih mengejutkan lagi tiba-tiba mengajak berpacaran. "Kayaknya Kak Rafa kembali ke tenda aja," lanjut Talia masih dengan keterkejutannya. Tapi, Rafa tak semudah itu menyerah. Dengan tatapan dalam, senyum tertahan, dalam hati ia merutuki kalimat yang baru saja ia ucapkan. Pasti ini terlalu cepat, Talia pasti terkejut dengan ungkapannya yang terlalu terburu-buru.
"Lo nggak perlu jawab sekarang, lo bisa pikirkan dulu."
"Gue ... Gue gabisa, Kak." Tanpa pikir panjang, Talia dengan mudahnya mematahkan hati Rafa. Gadis dengan rambut terikat itu memang benar-benar tak bisa, lagipula ia tak mau menggantungkan perasaan seseorang untuk dirinya yang dia ketahui tak bisa menjalankan hubungan dengan keterpaksaan. Talia bukanlah gadis lugu yang takut menolak dan menyakiti hati seseorang yang tidak ia suka. Baginya, lebih baik ia menolak dari awal daripada memberi harapan dan pada akhirnya ia menyakiti lebih dalam.
Baru kali ini Rafa merasakan penolakan, tak dipungkiri sakit pasti terasa namun rasa malu itu lebih besar dibandingkan rasa sakit yang ia terima. Bahkan tanpa pertimbangan gadis di hadapannya menolak perasaannya dengan begitu mantap. Rafa harap itu hanya halusinasi, tapi tidak! Ini sungguh nyata. Ini nyata, Rafa benar-benar menjadi sosok menyedihkan yang baru saja ditolak gadis kelas X disaksikan beberapa siswa dan siswi baru.
"Kenapa?" Tanya Rafa, hatinya jatuh sejatuh-jatuhnya bahkan terhempas dalam yang Rafa tak tahu apa bisa muncul ke permukaan lagi ataukah tidak. Ia mencoba menenangkan pikirannya yang mulai kalut, tarikan nafas yang jelas terdengar telinga Talia itu bukti nyata betapa hatinya terluka. Rafa akui, ini memang terlalu cepat tapi tidakkah Talia sudi memberikan sedikit harapan, membukakan pintu di bagian terkecil di hatinya untuk Rafa usahakan? Meski senyum tak pudar dari wajah tampan itu, hatinya sungguh terluka.