Talia diam, ia tak memiliki alasan menolak lelaki tampan, berwibawa, gagah, seorang ketua OSIS, dan terkenal dikejar banyak siswi SMA Garuda. Lebih tepatnya ia tak bisa memberi alasan. Angin malam bertiup menghasilkan sensasi geli sekaligus merinding di pori-pori kulit Talia. Jangkrik berpesta seolah merayakan suasana canggung antara dirinya dan Rafa. Talia yakin mulut Shaka sudah menganga saat ini memperhatikan mereka, sedikit ia mengalihkan pandangannya. Manik hitam teduh itu menyorot ke arahnya, pandangan itu bertemu. Talia tak tahu bagaimana ekspresinya saat itu, tapi satu yang ia lihat Fattan menarik segaris senyum yang mungkin hanya ia sendiri yang menyadarinya.
"Perasaan kak Rafa pasti salah." Kalimat random keluar begitu saja dari mulutnya. "Rasa suka ataupun cinta nggak mungkin datang secepat itu," lanjut Talia dengan tatapan yakin. Tak sedikitpun Rafa temukan keraguan dari wajah dan kata-kata Talia.
"Apa lo percaya cinta pandangan pertama?" Rafa kembali membuka suara penuh kehati-hatian.
Sementara seseorang yang mendengar kalimat tersebut sudah merasakan gejolak di perutnya seperti akan mengeluarkan semua isi perutnya saking geli dengan kalimat tersebut—Sagara berdiri membawa mangkuk miliknya. Gemelatuk gigi atas dan bawahnya beradu, pandangan Alana menangkap perubahan sikap Sagara.
"Tidak ada namanya cinta pandangan pertama, Kak. Cinta itu bertumbuh, bukan secara random datang dan bisa langsung disebut cinta. Ini reallife, Kak. Bukan dunia fiksi karangan manusia," pungkas Talia mengungkapkan pikirannya.
Rafa cukup takjub dengan kalimat tersebut, Talia gadis yang berbeda. Bibirnya tertarik membentuk lekuk senyum, ia tak salah menyukai gadis tersebut. "Mungkin memang butuh perjuangan ekstra," Rafa membatin.
"Oke gue tunggu," tutup Rafa menyerahkan kembali cokelat dari sakunya. Tentu saja ia tahu Talia tidak alergi cokelat, gadis tersebut sangat menyukai cokelat. Terbukti dari beberapa postingan Talia di i********: beberapakali menunjukkan Talia sedang menggenggam ataupun memakan makanan manis tersebut.
Talia membiarkan Rafa pergi begitu saja tanpa ingin memperpanjang percakapan yang sungguh tak ia suka. Bisa-bisanya Rafa secara random menyukainya dengan semudah itu, bohong. Talia yakin itu sebuah kebohongan. Tarikan napas panjang itu kemudian menarik Talia dari pikirannya. Ia kembali ke tempat duduknya, mie di dalam mangkuk sudah dingin dan sedikit mengembang tapi Talia tetap melanjutkan untuk menghabiskannya karena jujur sebelum Rafa datang ia memang sudah sangat lapar ditambah kejadian tadi membuatnya semakin lapar.
Secara tiba-tiba Shaka mengambil cokelat yang tergeletak di karpet. "Berhubung lo alergi cokelat, jadi buat gue aja!" serunya bersemangat. Tanpa perlu menunggu jawaban Talia, Shaka sudah membuka cokelat tersebut dan memotongnya menjadi beberapa bagian sebelum akhirnya ia berikan kepada Keyra, Alana dan tentunya potongan terbesar adalah miliknya.
Talia membiarkan begitu saja, lagipula ia samasekali tak ada niat untuk memakan cokelat tersebut. Keyra dengan senang hati menerima potongan cokelat meski sedikit protes karena milik Shaka lebih besar daripada potongan yang diberikan kepadanya. Alana tak mau ikut campur, sebenarnya ingin menolak namun Shaka memaksa agar Alana menerima cokelat itu dan itulah alasan mengapa potongan cokelat itu berada di genggamannya.
"Kamu kenapa nggak terima kak Rafa, dia itu bentuk nyata dari kesempurnaan mahkluk ciptaan Tuhan yang paling seksi," seru Keyra menggebu-gebu. Rasanya jika ia berada di posisi Talia, ia akan tanpa ragu menerima Rafa menjadi pacarnya. "Udah ganteng, keren, pinter, berwibawa agh ... Gaada celah banget!" lanjut Keyra masih dengan nada tak santai. Kini ia sudah mendekatkan dirinya tepat di samping Talia. "Apa buat aku aja?" tanya Keyra dengan wajah serius.
Shaka yang berdiri di belakang Keyra tak habis pikir isi dari otak sahabatnya itu, bisa-bisanya ia menawarkan diri menggantikan posisi Talia. "Mana mau kak Rafa sama lo," sanggah Shaka pedas. Keyra yang mendengar hal tersebut langsung cemberut menampilkan jurus merajuk terampuh miliknya.
"Kenapa nggak mau? Keyra kan cantik!" balas Keyra dengan percaya diri.
"Cantikan juga Alana!" pekik Shaka semakin menggoda Keyra. Alana tak ambil pusing dengan perdebatan yang sudah menyerempet namanya, membiarkan begitu saja nama suci miliknya ternoda oleh pertengkaran tak berfaedah.
"Yaudah Shaka pacaran aja sama Alana!" kesal Keyra. Fattan langsung garuk kepala, bukan karena gatal tapi kepalanya mendadak pusing mendengar perdebatan tersebut.
"Gue terlalu ganteng buat Alana!" lanjut Shaka tak mau kalah.
Perlahan, Talia dengan hati-hati meninggalkan perdebatan yang tak ia tahu akan merembet kemana lagi. Fattan dan Alana ikut menyingkir menyisakan Shaka dan Keyra yang masih beradu verbal. Mereka sudah paham, beberapa hari mengenal Shaka dan Keyra membuat mereka mengerti sehebat apapun pertengkaran antara keduanya pasti nanti akan baikan lagi dan tentunya akan bertengkar lagi. Jadi mereka membiarkan saja, toh tak ada gunanya menjadi penengah di antara mereka berdua bisa-bisa bukannya menjadi penengah malah menjadi sasaran amukan.
Talia mengumpulkan mangkuk dan cangkir kotor, sepertinya sudah terlalu malam jika berniat mencuci piring di sungai jadi ia hanya mengumpulkan saja di ember samping tenda. Ingatannya kembali pada kejadian beberapa saat yang lalu, masih tak habis pikir dengan jalan pikiran Rafa.
"Seneng banget abis ditembak?"
Suara berat itu berhasil mengalihkan perhatian Talia dari api sisa memasak. Di hadapannya berdiri sosok dengan tatapan datar dan raut yang tak bisa talia jelaskan—cukup aneh.
Talia tak membalas, ia tak peduli dengan topik yang lelaki itu suguhkan. Sagara mendekat, langkahnya perlahan namun Talia dapat mendengar derap langkah samar mendekatinya.
"Hati-hati," tutup Sagara lalu berbalik menuju tenda laki-laki. Dahi Talia berkerut tak mengerti maksud Sagara, dia memang tak begitu dekat dengan sosok tersebut tapi apa maksud kalimat yang baru saja Sagara ucap.
"Bodoamatlah," lirih Talia kembali menggosok-gosokkan tangannya mencari kehangatan di dekat tungku tersebut.
Malam semakin larut, Talia hendak menghentikan aktivitas menghangatkan tubuhnya. Baru saja ia akan beranjak, Fattan datang dan membuat ia mengurungkan niatnya.
"Nggak ngantuk?" Tanya Fattan lalu ikut menggosok-gosokkan tangannya di dekat api.
Talia menggeleng, memang belum merasakan kantuk lagipula ia senang menghirup udara malam di tempat tersebut. Sejuk dan pemandangan bintang di langit semakin memanjakan mata setiap yang memandang.
"Masih shock ditembak kak Rafa?"
Tentu saja Talia langsung menggelengkan kepalanya. Bahkan ia hampir lupa kejadian tersebut, samasekali taka da terbesit di benaknya bersanding dengan Rafa. Talia akui, Rafa sangat menawan, tampan, dan jika mendengar beberapa percakapan teman seangkatannya ia juga tahu bahwa Rafa sangatlah pintar. Tapi semua itu tidak cukup menarik hatinya, perkara hati tak bisa dipaksa. Jika tidak suka untuk apa memberi rasa? Begitu pikirnya.
"Nggaklah, ngapain."
Fattan langsung menyemburkan tawa melihat ekspresi kesal Talia. Menurutnya Rafa dan Talia cukup serasu menjadi sepasang kekasih, tapi jika Talia tak mau ya bukan urusannya juga.
"Kenapa bisa nyasar di sekolah ini? Kelihatannya lo nggak begitu tertarik?" Fattan mengalihkan pembicaraan. Ia sadar sepertinya Talia tidak nyaman dengan topik yang sebelumnya ia singgung.
Talia tak langsung menjawab, lirikan matanya menatap bintang di langit. Ia sedang menyusun kalimat yang tepat untuk menjawab pertanyaan tersebut, memang benar Talia tidak begitu tertarik bisa menjadi bagian dari sekolah tersebut.
"Gatau, mungkin takdir."