"Kenapa kakak ngasih boneka awan, kan awan kesukaan kakak? Gue nggak suka awan," ujar gadis kecil sambil memanyunkan bibirnya.
"Karena kakak suka awan, kakak kasih orang yang paling kakak sayang," balas lelaki yang diperkirakan tiga tahun lebih tua.
"Gue gasuka kak!" Pekik gadis itu berlari ke kamarnya.
"Woi lo bisa ngelamun juga? Tuh orang yang lagi dipikirin!"
Teriakan Shaka menarik Talia dari lamunannya. s**l, dialog-dialog di kepala Talia memang selalu bisa merusak moodnya.
"Shaka gausah gangguin Talia, sana pergi!" Usir Keyra mendorong tubuh Shaka menjauh.
"Kenapa? Lo cemburu yah?" Kali ini Shaka tersenyum memamerkan deretan giginya, sungguh menggoda Keyra adalah hal yang paling menyenangkan.
Sagara meletakkan tas yang ia sampirkan di bahu kanannya ke atas meja, ia samasekali tak tertarik masuk dalam percakapan Shaka. Ini masih terlalu pagi untuk mendengar ocehan manusia setengah jadi seperti Shaka.
"Gar, gue bawa brownies. Nih buat lo," ujar Alana menyodorkan sekotak brownies yang kelihatannya sangat lezat.
Sagara menerima kotak tersebut sembari tersenyum. "Makasih ya," ujarnya.
"Woi lo mau selingkuh ya?!"
Sagara terkejut, sejak kapan Shaka sudah berada di sampingnya?
"Sini, biar gue aja yang makan!" Shaka merebut kotak tersebut dengan seenaknya. "Ntar lo diamuk bininya," lanjut Shaka menatap Alana.
Alana memberengut kesal. "Shaka, itu kan buat Sagara. Gue masih bawa banyak kali!" Protes Alana yang tak dihiraukan oleh Shaka.
Dengan kesal, Alana mengambil beberapa kotak di tas lalu membagikan kepada teman-teman kelasnya.
"Oh ... Gue kira tadi cuma bawa buat Sagara," ujar Shaka tersenyum kikuk.
Sebenarnya Alana sudah menyiapkan brownies spesial untuk Sagara tapi ia tak enak jika hanya memberi Sagara jadilah ia membawa beberapa kotak.
"Talia lagi mikirin apa?" Tanya Keyra lebih peduli kondisi Talia daripada keributan yang diciptakan Shaka.
Gelengan kecil menjadi jawaban Talia, peduli apa Keyra pada hidupnya? Talia berpikir sebagian orang akan senang melihat kesedihan kita dan sebagian lagi akan menjadikannya bahan obrolan di belakangnya, jadi lebih baik memendam. Memang hanya diri sendiri yang bisa dipercaya.
"Kenapa sih kakak sering ngelus kelopak mata Talia?"
"Jangan liat sesuatu yang buat Talia sakit ya, tutup mata aja," perintah anak lelaki itu tersenyum menenangkan.
Refleks Talia menyentuh kelopak matanya, dialog itu kembali lagi. Jika tidak ingat bahwa ia sedang berada di kelas, mungkin Talia akan melempar seluruh barang di hadapannya.
***
Jam istirahat adalah waktu yang paling ditunggu seluruh pelajar Indonesia, termasuk para siswa siswi SMA Garuda. Setiap angkatan memasuki kantin dari pintu yang berbeda, jangan lupakan aturan yang ada di sekolah ini.
Tingkat X masuk melalui pintu yang terhubung dengan gedung deretan kelas X begitu pula kelas XI dan XII, semua masuk dengan teratur tanpa berdesakan—maklum kesopanan dan aturan yang ketat menjadikan mereka sangat disiplin.
"Talia mau pesan nasi goreng bang Ucok ya?" Tanya Keyra.
Talia mengangguk. "Iya," jawabnya singkat.
"Keyra mau beli bakso bang Maman, biasa sekalian cuci mata!" Ujar Keyra bersemangat.
Sudah beberapa bulan mereka sekolah, Talia cukup mengenal karakter Keyra yang energik, ceria dan tentunya penggemar para cowok ganteng. Kebiasaan Keyra cuci mata bukan hanya di kantin sekolah bahkan ia beberapa kali mengajak Talia nongkrong hanya sekedar melihat objek tampan yang sedang keluar malam mingguan tak peduli sudah bawa gandengan atau jomblo Keyra tetap menikmatinya.
"Bang, nasi goreng pedes pake telor kecapnya dikit aja sama sayurnya dikurangin ya bang."
"Oke neng, aman itu!" Balas bang Ucok bersemangat.
Setelah memesan jus jeruk, Talia kembali menuju penjual nasi goreng yang bernama Ucok tersebut. Talia memang lebih sering memesan nasi goreng ketimbang makanan seperti bakso dan yang lainnya karena ia tak pernah sempat sarapan paling hanya memakan roti dengan selai kacang setiap paginya. Makanan memang tersedia lengkap di meja, bahkan semua yang disajikan adalah makanan kesukaan Talia tapi rasanya selalu hambar karena kesendirian. Jarang sekali kursi meja makan terisi.
"Ini neng," ujar Ucok menyerahkan nampan berisi nasi goreng pesanan Talia.
Talia menerima nampan tersebut lalu membayar makanannya.
Sudah sekitar lima menit Talia duduk menikmati makanannya tapi Keyra belum juga kembali. Terkadang Talia heran, untuk apa Keyra membuang-buang waktu melihat hal tak penting yang ia sebut cuci mata.
Dari kejauhan Keyra tampak melambai, ia berbincang sejenak dengan seorang siswa yang tidak Talia kenal lalu berjalan ke arah Talia.
"Dapat buaya lagi dia," lirih Talia yang pastinya tidak bisa Keyra dengar.
"GILA LO YA!" Teriak seorang gadis disertari suara benda kaca yang beradu dengan lantai.
Dengan gemetar Keyra berkata, "mamaaf kak aku bebeneran nggak sengaja." Rasa takut membuat Keyra terbata, ia merutuki kecerobohannya—mati mati mati.
Gadis itu tertunduk memeras jari-jari tangan miliknya dengan gugup, tak pernah terpikirkan dalam benaknya membuat masalah dengan Jessica—kelas XII yang terkenal suka melakukan perundungan.
"Lo kira dengan minta maaf, sepatu gue bisa bersih lagi?" Tanya Jessica dengan nada tinggi.
Keyra semakin menunduk, tak berani berkata apapun. Ia tak sengaja menabrak gerombolan kelas XII itu dan lebih parahnya yang ia tabrak adalah Jessica. Kalau saja Jessica tak terlalu rusuh dengan teman-teman mungkin kejadian ini tak akan pernah terjadi.
Rahang Jessica mengeras hingga menampakkan urat-urat lehernya jenjang miliknya, tangan Jessica tergenggam membentuk kepalan dengan buku-buku tangan yang sudah memutih saking kuatnya. Dengan berang ia menarik rambut Keyra sampai gadis itu mendongak sempurna.
"Sakit kak," lirih Keyra.
"Siapa nama lo?" Tanya Jessica tepat di telinga Keyra.
Belum sempat Keyra menjawab, tangan Jessica mendorongnya hingga berlutut di lantai kantin yang kotor dengan kuah bakso.
"Punya mulut gak?" Lanjut Jessica.
"Kekeeyraa kak," jawab Keyra terbata.
Tanpa ia sadari air mata lolos begitu saja di pipinya, rasa perih di kepalanya akibat tarikan Jessica tak ada apa-apanya dibandingkan rasa malu yang ia terima.
"Sindi, lo tau kan apa yang mesti lo lakuin?" Tanya Jessica kepada temannya yang diketahui bernama Sindi.
Dengan senyum bahagia Sindi membalas memberikan dua jempol kepada Jessica. Ia bergerak cepat ke meja dan meleparkan kotak tisu tepat di hadapan Keyra.
"Lo ga terlalu begok kan mesti gue jelasin?" Jessica menyeringai sambil berbisik di telinga Keyra.
Talia berjalan cepat menembus kerumunan, s**l orang-orang ini bukannya membantu malah menjadikan objek di hadapan mereka sebagai tontonan gratis.
Lagi air mata Keyra lolos, wajahnya kian memerah dan tertunduk dalam. Dengan berat hati ia mengambil tisu yang sebelumnya Sindi lempar, dalam hati ia merutuki hari ini—hari paling s**l sepanjang sejarah hidupnya.
Sedikit lagi tangan Keyra menyentuh sepatu kets putih milik Jessica, tapi terhenti karena Talia merebut tisu tersebut lalu melemparkan ke wajah Jessica. Sontak kantin semakin riuh, atmosfer kian panas dan tentunya wajah Jessica benar-benar marah tak terima.
"Gila, berani lo ya? Anak baru sok jagoan!" Bentak Jessica hendak menampar wajah Talia sayangnya gadis itu terlalu tangkas menangkap tangan lentik Jessica. Cengkraman Talia begitu kuat, sampai yang melihatpun yakin ujung kuku talia pasti menancap di kulit putih milik Jessica.
"Auh ... Sakit anjing!" Ujar Jessica meringis. Sindi berusaha membantu Jessica tapi kekuatannya kalah telak. Jika saja tak berlindung di bawah ketiak Jessica, sungguh Sindi bukanlah apa-apa.
"Kelakuan lo lebih buruk daripada binatang," balas Talia dengan nada tenang.
Dengan keras Talia menghempaskan tangan Jessica lalu menarik Keyra pergi dari sana hingga gadis itu terseret-seret.
Tentu saja Jessica tak terima, ia mengejar Talia dan Keyra sampai di lorong kelas X dan berteriak meminta berhenti. Sayangnya, Talia menulikan diri tak peduli dan Keyra hanya bisa ikut kemanapun Talia menyeretnya.
Langkah Jessica terhenti, dengan rasa kesal yang begitu besar ia akhirnya memilih berbalik dan kembali ke gedung kelas XII.
"s**l, pinter banget dia menghindar," ujar Jessica tak terima.
Talia membawa Keyra duduk di depan ruang guru, cara terpintar tanpa perlu membuang banyak tenaga. Setelah memastikan bahwa Jessica dan teman-temannya tak lagi mengejar, Talia membawa Keyra ke kamar mandi.
Keyra menangis sesenggukan, ia memeluk Talia dengan tubuh yang bergetar. "Keyra takut," rintihnya.
Hanya tepukan di punggung yang Keyra terima, Talia kembali bungkam.
"Jangan kasi tau Shaka ya, nanti Shaka buat masalah lagi," pinta Keyra. Meski ia tak yakin bahwa Shaka tak akan mendengar berita tersebut dari orang lain, tetap saja ia meminta Talia merahasiakan.
"Gue nggak janji," jawab Talia.
"Keyra mohon," ujar Keyra melepaskan pelukan lalu menangkupkan kedua tangannya.
"Bersihin baju lo," pinta Talia. Ia tak menggubris permintaan Keyra, meskipun ia tak ada niat memberitahu Shaka tetap saja ia tak mau membuat janji.
***
Susasana kelas masih ricuh seperti biasa Shaka menjadi center dari keributan. Keyra bernapas lega, sepertinya Shaka belum tahu mengenai kejadian di kantin.
"Boneka Barbie jadi-jadian dari mana aja lo, ke kantin lama amat betelor?" Tanya Shaka menghampiri Keyra.
Gadis itu tak menjawab, ia berjalan melewati Shaka begitu saja kemudian duduk di bangku. Ia benar-benar tak ingin menguras tenaga untuk ribut dengan Shaka. Keyra juga ingin menghindari Shaka karena ia tak yakin bisa lama-lama menyimpan kejadian tadi jika berdekatan dengan Shaka. Ia tak ingin selalu melibatkan Shaka dalam masalah yang ia buat.
"Woi ... Gue dicuekin!" Kesal Shaka mengikuti Keyra. Talia diam saja sibuk berkutat dengan gawai sementara Keyra sibuk dengan pikirannya.
"Keyra nggak kenapa-napa? Gue denger tadi lo kena masalah sama kak Jessica ya?" Adit yang baru masuk kelas langsung menghujami Keyra dengan pertanyaan.
Rasanya Keyra benar-benar ingin menimpuk wajah Adit dengan kotak pensil merah muda miliknya.
Shaka langsung memeriksa tubuh Keyra sampai ia memutar-mutar tubuh tersebut dan melihat beberapa bercak cokelat di seragam Keyra—bekas kuah bakso.
Tatapan Shaka berubah marah, ini yang Keyra takutkan. "Keyra nggak kenapa-napa, Shaka nggak perlu khawatir," ujar Keyra suaranya tercekat kentara habis menangis.
Shaka langsung berbalik, kemarahannya semakin besar dan ia berniat menghampiri kelas XII. Jessica memang terkenal suka melakukan perundungan terhadap adik kelas bahkan sesama angkatannya dan Shaka benar-benar tak terima hal tersebut menimpa Keyra.
Dengan sigap Keyra menarik Shaka. "Talia bantuin Keyra tadi, Shaka nggak perlu cemas keyra nggak kenapa-napa kok," lanjut Keyra memaksakan senyum.
"Jangan minta gue nggak cemas karena itu nggak akan bisa gue lakuin, Keyra." Shaka mencengkram kedua pundak Keyra membuat gadis itu semakin takut akan apa yang Shaka lakukan.
"Nggak usah nyari masalah, Keyra masih butuh lo di sekolah ini." Tanpa mengalihkan tatapan dari gawai Talia berucap, Keyra mengangguk setuju.
Belum sempat Shaka menjawab perkataan Talia, gadis itu telah ditarik seseorang keluar kelas. Talia mengempaskan tangan tersebut dengan kesal lalu bertanya, "apa?"
"Lo gamau bilang terimakasih gitu sama gue?" Tanya Sagara dengan tampang datar.
"Buat apa?"
Tatapan sengit Talia membuat Sagara tersenyum meremehkan. "Tiba-tiba amnesia," ujar Sagara memilih duduk di bangku yang tersedia di depan ruang kelas.
"Kurang kerjaan," jawab Talia masih tak mengerti.
"Lo udah terima boneka awan? Sekarang hutang budi lo nambah lagi," lanjut Sagara menyenderkan kepalanya dialasi tangan ke tembok.
"Kalo nggak ikhlas gausah ngasih, lagian gue nggak minta." Talia bersandar ke tembok dengan tatapan jengah.
"Hindari berurusan dengan Jessica," ujar Sagara lalu melengos masuk kelas.
"Ngapain ngatur-ngatur!" Pekik Talia yang dapat didengar jelas oleh Sagara.
Talia tak peduli perkataan Sagara lagipula bukan dirinya yang mencari masalah, Jessica memang gadis berbahaya tapi mustahil Talia membiarkan Keyra diperlakukan seperti kejadian di kantin.
Ketika Talia menyusul ke dalam kelas, ia mengurungkan niatnya melanjutkan obrolan dengan Sagara. Lelaki itu kini tengah asik berbicara dengan Alana, Talia tak peduli apa yang mereka bicarakan ia lebih memilih kembali ke bangkunya.
Keyra nampaknya berhasil menahan Shaka untuk tidak menemui Jessica, wajah ceria itu juga berangsur kembali. Tidak tahu jurus apa yang Keyra berikan membuat lelaki absurd itu menurut.
Semakin mendekat ke tempat duduk, Talia baru sadar ternyata keduanya malah berdebat hal yang tak penting.
"Shaka ga mandi tadi pagi!" Ejek Keyra lalu menyemburkan tawa. Jelas saja Shaka membantah, bisa rusak harga diri dan kegantengan yang ia bangga-banggakan.
"Enak aja, wangi gini dibilang nggak mandi," jawab Shaka mencium baju yang ia kenakan.
Talia memutar bola mata jengah, perdebatan itu sudah kemana-mana. Sepertinya Keyra telah lupa bahwa ia baru saja mendapat masalah, dan Shaka juga demikian sepertinya lelaki itu telah lupa akan kemarahannya tadi—mungkin juga karena ingin menjaga perasaan Keyra.
PAPA
Maaf papa nggak jadi pulang.
Talia menarik napas lelah, sudah ia duga.