Talia menatap miris semua kaktus-kaktus yang terpajang di luar jendela kamar minimalis miliknya. Seperti hari biasa, terlalu sepi untuk disebut rumah. Tak ada canda, tawa bahkan tak ada suara. Terlalu sendiri untuk ukuran anak yang masih memiliki ayah dan ibu seperti Talia.
Key jemput Talia 30 menit lagi, okey.
Dering pesan w******p di ponsel Talia mengalihkan kekosongan hidupnya. Yah hari ini dia memiliki janji untuk pergi bersama Keyra, Talia tak tahu kemana gadis itu akan membawanya hari ini yang pasti Talia tahu Keyra tak akan membunuhnya. Sedikit tercengang, Talia sadar ia semengerikan itu selalu berburuk sangka pada orang baru. Andai orang-orang di sekitarnya bisa membaca pikiran tentu saja tak akan ada yang mau mendekatinya. Memang seburuk itu ia memandang dirinya sendiri.
Oke
Balasan singkat dari tangannya yang ogah-ogahan mengetik.
Kakak mau jadi awan
Biar terbang terus jatuh
Naik lagi terus jatuh lagi
Kecanduan jatuh dan gak pernah berhenti
Terus ngumpul di laut abis itu nguap lagi
Gak pernah merasakan sakit
Oke hidup semonoton itu
Dialog di kepala Talia terhenti, ia kembali merutuki dirinya sendiri yang sering mendengarkan ocehan tak berguna di kepalanya. Ia beranjak ke kamar mandi, Keyra bisa ngamuk jika ia belum siap saat gadis itu datang ke rumahnya.
Kenapa nggak jadi hujan aja
Dia lebih tangguh
Bangkit nggak pernah kesakitan
Setelah jatuh
Pelangi yang orang-orang suka bakal muncul di langit
Luka yang membawa kebahagiaan untuk orang lain
Keren kan?
Talia merutuk, s**l pikiran itu muncul lagi.
***
Keyra keluar dari mobil disusul manusia abstrak yang harusnya Talia sadar jika dua manusia di hadapannya ini tak terpisahkan.
"Ayo berangkat," ajak Keyra yang Talia balas anggukan.
Mereka masuk ke dalam mobil di bagian penumpang dengan wajah tanpa dosa.
"Dikira gue supir apa," rutuk Shaka menatap miris kedua manusia di belakangnya.
"Shaka kan emang supir, ayo jalan pak!" Balas Keyra senang melihat wajah ternista milik Shaka.
Meski kesal setengah mati, Shaka tetap menjalankan mobilnya. Sesekali ia merancau tak jelas dengan wajah kesal.
"Mau ke mana?" Tanya Talia memecah keheningan.
Keyra menoleh memberikan cengiran khas miliknya, "nyari cogan yang lagi olahraga di lapangan basket."
"Ngapain?" Lagi Talia bertanya tak habis pikir apa yang sedang Keyra dan Shaka rencanakan.
Kali ini wajah Keyra berubah serius. "Semalem group kelas ribut, Talia nggak baca?" Tanya Keyra dengan wajah curiga.
Talia cukup malas membaca candaan dari manusia-manusia gabut di kelasnya. Biasanya group diisi pembahasan absurd nan unfaedah, jelas saja Talia lebih memilih mengurus tanaman kaktusnya yang lumayan banyak di pekarangan.
"Kak Rafa nantang kelas kita." Bukan Keyra yang menjawab, melainkan Shaka yang kini tengah mengunyah sebuah biskuit.
Jika dilihat-lihat memang cukup aneh, Shaka menggunakan baju basket. Tidak mungkin kan mereka mau jalan-jalan menggunakan baju olahraga?
"Kak Rafa itu ternyata ngeri ya, tapi tetep aja mukanya itu ganteng banget. Keyra gabisa berhenti suka!" Pekik Keyra membuat Talia menutup telinganya—terlalu nyaring bisa-bisa gendang telinga Talia pecah nantinya.
"Ganteng juga gue!" Balas Shaka tak terima.
Keyra mencebik, menurutnya Shaka samasekali tak ada ganteng-gantengnya malah setiap melihat muka Shaka ia merasa ingin mencakarnya.
"Kalo Shaka ganteng, bumi bisa muter balik dari porosnya!" Pekik Keyra mengejek.
Tentu saja Shaka tak terima, perdebatan itu muncul lagi. Talia mengalihkan tatapannya lalu meraih jendela mobil kemudian ia buka, atmosfer mobil terasa panas ditambah perdebatan yang membuat telinga Talia berdengung.
Mereka tiba di lapangan basket yang telah disewa kedua kelas. Ekor mata Talia menangkap Sagara di tengah lapangan sedang bertatapan sengit dengan seseorang yang beberapa hari ini mengusik kehidupan Talia, Rafa.
Rafa tersenyum menyeringai melihat Talia, ia melangkah meninggalkan lapangan. Langkah itu semakin mendekat, Talia mematung di tempat—apalagi yang akan manusia gila ini lakukan padanya?
Tarikan kuat memaksa Talia berjalan dengan tertatih ke tengah lapangan. s**l, Talia rasa Rafa memang sudah gila.
Sagara melirik malas, ia sudah menebak sparing yang diajak kelas Rafa tidak akan menjadi pertandingan persahabatan antara kakak kelas dan adik kelas. Rahang sagara mengeras, kebenciannya terhadap Rafa bertambah sepuluh kali lipat.
"Gue mau kalau lo kalah, lo harus putusin Talia!" Tegas Rafa dengan tatapan permusuhan.
Talia langsung saja menolak. "Gue bukan barang taruhan!" Jawab Talia tak terima.
"Kenapa? Lo takut cowok gaberguna lo ini gabisa ngalahin gue?" Tanya Rafa menyeringai.
Tak bisa Talia pungkiri, tentu saja ia sedikit ragu. Ia dan seluruh siswa siswi SMA Garuda pasti tahu jika Rafa adalah salah satu kebanggaan di tim basket sekolah mereka, dan Sagara? Bagaimana Talia tahu kalau lelaki itu bisa diandalkan untuk melawan bintang lapangan seperti Rafa.
"Gue semakin yakin nolak kak Rafa adalah salah satu hal yang nggak akan pernah gue sesalin." Kini tatapan Talia penuh kebencian, ia benar-benar tak sudi jika harus bersanding dengan manusia tak waras di hadapannya.
"Persiapin mental lo buat kalah!" Suara dingin menusuk itu menginterupsi. Tatapan Talia beralih pada Sagara, ia tak terima jika dirinya dijadikan taruhan.
"Gue nggak mau jadi taruhan!" Pekiknya tak terima.
Tanpa permisi, Sagara menarik Talia menepi dari lapangan.
"Lo gaakan jadi taruhan, lagian sejak kapan kita jadian?" Tanya Sagara membuat Talia kicep tak bereaksi. Benar, mereka tak pernah punya hubungan apapun tapi tetap saja semua orang berpikir bahwa mereka berpacaran.
"Kalo ga jadi taruhan, apalagi? Gue bukan barang dan selamanya nggak bakal sudi jadi taruhan!" Lagi Talia berbicara, kali ini dengan nada dingin. Tatapannya berubah mengerikan, Sagara tak terpengaruh samsekali.
"Siapin gue minum, dan lihat hasilnya." Sagara pergi meninggalkan Talia yang masih berteriak tak terima.
Keyra menarik Talia ke kursi penonton, dia yakin seratus persen Sagara dan Shaka akan mengalahkan manusia-manusia sombong itu. Meski tak bisa ia sembunyikan kekagumannya terhadap wajah Rafa, kali ini ia sangat berharap Shaka dapat mengalahkan Rafa.
Oke Keyra cuma kagum sama kegantengan kak Rafa, bukan sama sifatnya—monolog Keyra dalam hati.
Pertandingan berlangsung sengit, skor kelas Rafa jauh lebih unggul bahkan hingga babak pertama berakhir skor mereka tetap ketinggalan jauh.
Talia menyerahkan botol air mineral kepada Sagara dengan cara melemparnya untung Sagara tangkas menangkap botol tersebut, tatapannya kesal Talia membuat Sagara tak kuat menahan tawa.
"Lo bener-bener gila ya!" Hardik Talia. "Kalau lo ga yakin menang, gausah terima tantangannya!" Lanjut Talia murka.
"Pernah denger pepatah, semakin tinggi seseorang terbang maka akan semakin sakit ketika jatuh," balas Sagara misterius.
Talia tak tahu sejak kapan mereka jadi lebih sering mengobrol, mungkin karena kesalahpahaman yang ia timbulkan membuat mereka mau tak mau jadi sering terlibat masalah.
"Ini bukan perkara main-main, gar. Gue bener-bener berharap lo bisa nyelamatin harga diri gue sebagai seorang cewek." Kali ini nada suara Talia melunak, wajahnya tersirat kecemasan.
Sagara meneguk habis air mineral yang Talia berikan. "Selama lo berstratus pacar gue, lo gak akan kenapa-napa," ujar Sagara serius.
Perhatian mereka teralihkan, Keyra menjitak keras kepala Shaka. "Kenapa ga menang?" Tanya Keyra menggebu-gebu.
Shaka meringis mengelus kepalanya yang berdenyut, memang Keyra tak pernah tanggung-tanggung jika melakukan k*******n terhadapnya. "Sakit elah," ringisnya.
"Biarin! Siapa suruh Shaka kalah, Shaka kan jago main basket gaboleh kalah lah!" Lanjut Keyra membuat Shaka tutup telinga.
"Sini minum," ujar Shaka merampas paksa minuman di tangan Keyra. Tentu keyra langsung protes ia belum selesai bicara.
Keyra menarik paksa minuman yang sedang Shaka minum hingga Shaka tersedak. Keyra tergelak puas.
"Kejam banget lo, gue pecat jadi sahabat!" Pekik Shaka tak terima lalu kembali merebut botol minum tersebut.
Keyra membiarkan Shaka minum dengan tenang, tatapannya menyorot serius. "Udah?" Tanya Keyra gemas. "Sana ke lapangan lagi, kali ini gaboleh kalah!" Ujar Keyra lebih seperti perintah.
Shaka berlalu ke lapangan dengan wajah jenaka setelah merusak tatanan rambut milik Keyra. Sagara sudah berdiri di lapangan siap melanjutkan pertandingan.
Di sudut lapangan Talia menatap ragu, ia sangat berharap kelasnya dapat menyelamatnya hidupnya.
"Tenang aja, kita jagain lo kok." Lamunan Talia terganggu, Fattan menepuk pundak Talia lalu kembali ke lapangan. Talia tak bisa menahan senyumnya saat itu, kini ia akan meyakinkan dirinya seperti kata Fattan.
Sagara menatap datar dari kejauhan seperti tak berminat. Tujuannya hanya membuat Rafa menderita hanya itu.
Pertandingan kembali berlanjut, Talia kembali berdiri di dekat Keyra dengan tatapan yang sulit ditebak.
"Talia mending duduk aja deh, Keyra pusing liat Talia berdiri kaya penyambut tamu di pernikahan," protes Keyra menarik ujung baju Talia.
Permainan semakin panas, keringat nampak jelas mengalir di wajah para pemain. Detik-detik menengangkan sudah di depan mata, babak terakhir permainan memang menjadi atmosfer mengerikan di setiap pertandingan.
Kali ini Talia dapat bernapas lebih lega, sesuai janji Sagara kelas mereka berhasil memenangkan pertandingan. Talia tak tahu mengapa ia sangat senang. Sagara mendekat dengan keringat bercucuran, tanpa sadar karena terlalu bahagia Talia memeluk laki-laki penuh keringat itu.
Sontak saja lapangan langsung riuh, Rafa yang melihat hal tersebut tak bisa menyembunyikan kekesalannya. Ia lempar botol air mineral yang ia pegang sampai tumpah berceceran di lapangan lalu pergi membawa kekesalan.
"Gausah modus!"
Talia langsung kaku, s**t apa yang baru saja dia lakukan? Sagara tersenyum miring. "Suka lo sama gue?" Tanya Sagara menelisik.
"Gugue gasengaja!" Pekik Talia mundur dua langkah. "Gausah kegeeran," lanjutnya.
Sagara langsung tergelak melihat ekspresi Talia. "Lo pulang sama gue," ujar Sagara tetap tenang.
"Tapi gue berangkat sama Keyra," bantah Talia.
"Sampai kapan lo mau jadi nyamuk?" Tanya Sagara yang dibenarkan Shaka dalam hati.
"Udah sana lo pulang sama pacar lo aja," ujar seseorang menepuk pundak Talia, Shaka. Talia tak tahu sejak kapan lelaki itu sudah ada di belakangnya diikuti Keyra dengan wajah cemberut—pasti habis bertengkar dengan Shaka.
"Keyra gamau cuma berdua sama Shaka! Shaka ngeselin," protes Keyra.
"Gue sama Keyra aja," balas Talia.
"Big no," tutup Shaka lalu menarik paksa Keyra ikut bersamanya.
Sekarang Talia tak punya alasan lagi menolak ajakan Sagara. "Oke kali ini aja," ujar Talia dalam hati.
***
"Ngapain ke sini?" Tanya Talia ketika motor Sagara berhenti di salah satu toko boneka.
"Pilihin gue satu," ujar Sagara menunjuk toko boneka dengan dagunya. "Bukan buat lo," lanjut Sagara.
"Siapa juga yang mikir buat gue?!" Tanya Talia kesal. Ia berjalan lebih dulu masuk ke toko boneka meninggalkan Sagara yang tersenyum senang melihat wajah kesal Talia.
Talia memilih sebuah boneka beruang berwarna cokelat berukuran sedang lalu menyerahkannya kepada Sagara. Tanpa pikir panjang Sagara membawa boneka tersebut menuju kasir kemudian membayarnya.
"Lucu banget," lirih Talia menoel-noel sebuah boneka awan.
Sagara memperhatikan gerak-gerik Talia, ternyata gadis galak itu menyukai boneka awan pikir Sagara dalam hati. Talia tak berniat membeli boneka tersebut karena ia sudah mempunyai cukup banyak di rumah.
"Ayo," ujar Sagara di belakang Talia. Gadis itu mengangguk lalu mengikuti langkah Sagara keluar toko.
Mereka tak langsung pulang, Sagara mengajak Talia makan terlebih dahulu. Gadis itu tak menolak karena jujur ia memang sedang lapar. Ia belum sempat sarapan saat Keyra dan Shaka menjemputnya.
Setelah makan, Sagara langsung mengantar Talia pulang. Talia manut saja karena memang dia berstatus sebagai penumpang, ke mana lelaki itu pergi otomatis dia ikut. Sesampainya di rumah Talia, lelaki berjaket hitam itu langsung pergi dengan motornya. Ia tak langsung pulang.
***
"Permisi, paket!"
Talia yang sedang merapikan tanaman kaktus di halaman rumah sedikit heran karena tidak merasa membeli apapun.
"Mbak Talia Vanendra?" Tanya sang kurir sambil tersenyum ramah. Talia mengangguk dan menerima paket tersebut.
"Sudah lunas ya, mbak."
Talia menebak-nebak apa isi dari paket tersebut, mungkin dari ibunya.
Ataukah isinya bom yang akan segera meledak jika dibuka? Ah s**l pikiran buruk Talia muncul lagi.
Dengan hati-hati ia membawa paket tersebut ke kamar mandi, jika benar itu bom segera setelah paket dibuka ia akan mencelupkannya ke dalam bak mandi—begitu pikirnya.
Perlahan ia menggunting plastik yang menutupi paket tersebut, tapi ia tidak merasa bahwa di dalam paket adalah sebuah bom mana mungkin bom akan terasa empuk. Tapi bisa saja kan?
Setelah dibuka, Talia membelakkan matanya.
"Boneka awan!" Serunya bahagia lalu keluar dari kamar mandi. Dibuangnya plastik ke dalam keranjang sampah di samping meja belajar.
Kira-kira siapa yang berbaik hati memberikannya boneka awan?
SAGARA
Gue tau lo lemot, itu boneka dari gue sebagai ucapan terimakasih karena lo udah milihin gue boneka tadi.
Talia merutuki pesan yang baru saja ia baca, tidak bisakah dia mengucapkan terimakasih dengan benar?