Selaras dengan nama pos 3 yakni pos fisik dan mental, kedua aspek tersebut benar-benar diuji di sini. Keyra dan Alana bahkan sudah tak kuasa menahan air mata karena bentakan yang diberikan, bedanya Alana menangis sesenggukan, sedangkan Keyra gadis tersebut lebih parah dengan wajah basah air mata ditambah warna kemerahan yang dapat dilihat jelas di wajahnya, suara serak dan kepala tertunduk tak berdaya. Talia mendongak, kini tatapannya beralih prihatin terhadap Keyra. Sudah satu jam mereka meninggalkan pos fisik dan mental tapi gadis dengan rambut terikat itu masih menangis.
Awalnya keadaan berjalan baik, tapi tanpa disengaja Keyra membuat masalah. Bukan sepenuhnya salah Keyra, bayangkan saja jika disuruh melakukan gerakan berguling-guling yang disebut guling botol di area becek berlumpur siapa yang akan tahan? Meski semua anggota kelompok ikut terkena hukuman, tapi Keyra lah yang berhenti di tengah jalan karena sudah tak kuat melanjutkan hukuman. Rasanya semua isi perut Keyra sudah berontak ingin dikeluarkan dan tentu saja kepalanya sangat pusing ditambah lagi tubuhnya yang gatal-gatal karena lumpur. Lengkap sudah penderitaan mereka hari ini, mereka sempat berpikir apakah masa orientasi di sekolah lain sama parahnya dengan sekolah mereka?
Hukuman Keyra ditambah karena berhenti sebelum menuntaskan berbolak balik bagai botol yang digulingkan, belum lagi ia dibentak kelima pengurus OSIS yang berjaga tak terkecuali Rafa. Hawa panas matahari saat ini bukan menjadi sumber utama panas bagi mereka, apalagi Shaka lelaki itu sudah berhasil memancing keributan di pos fisik dan mental. Tentu saja ia tak terima sahabatnya dibentak sedemikian rupa, bahkan dirinya yang sejak kecil bersama Keyra tak pernah melihat gadis itu menangis sesenggukan parah seperti hari ini. Rasa kesal, marah, dan tak terima bercampur menghasilkan emosi yang tak terkendali. Alhasil, Rafa mendapat bogem mentah yang tentu saja berasal dari Shaka.
Marahnya orang humoris itu sangat berbahaya, hari ini Shaka telah membuktikannya. Wajah babak belur Rafa sudah menjadi bukti telak kemarahannya, jika saja Fattan dan Sagara tak menghentikan Shaka mungkin saat ini tiada lagi orang yang bernama Rafa sang ketua OSIS dapat menghirup napas bebas.
"s****n!" Umpat Shaka dengan wajah sungguh mengerikan, tak mereka dapati wajah Shaka humoris yang sering memancing tawa.
"Good job!" ujar Sagara menepuk pundak Shaka. Sudah sejak lama Sagara ingin melakukan hal demikian kepada Rafa, selalu ia tahan. Tapi hari ini, Sagara dapat tersenyum karena ulah Shaka. Rasa tak suka yang ia miliki masih sama tak sedikitpun berkurang, wajah Rafa masih terekam jelas di ingatannya. Lelaki s****n yang selalu berhasil membuat Sagara merasa gagal, gagal menjadi seseorang yang berguna.
"Selama gue hidup, nggak pernah sekalipun gue bakal biarin orang semacam sampah seperti mereka menggangu sahabat gue. Nggak punya hati, otak juga udah nggak kepake!" Lagi Shaka mengumpat.
Mereka sudah tak peduli karena gagal mendapat bendera di pos ketiga, emosi sudah mendominasi. Tanpa pikir panjang setelah membuat keributan mereka langsung meninggalkan pos ketiga, dan di sinilah mereka sembari menenangkan pikiran. Kembali lagi di rute awal, sungai jernih mereka jadikan tempat membersihkan diri dari sisa tanah di pos fisik dan mental. Dinginnya air tak mampu meredam kekesalan Shaka, untuk kali ini mungkin ia akan mengatakan bahwa mendaftakan dirinya dan Keyra di SMA Garuda adalah sebuah kesalahan.
"Shaka, Keyra minta maaf. Gara-gara Keyra Shaka jadi berantem, Keyra beneran takut liat Shaka kayak tadi," ujar Keyra mendekati Shaka.
Seketika emosi Shaka menurun, amarah ikut meredah. Ia samasekali tak pernah terpikir emosinya bisa lepas kendali seperti tadi. Mungkin siapapun yang menyaksikan kejadian tadi tanpa perlu menebak-nebak mereka telah tahu seberapa besar rasa sayang yang Shaka miliki untuk sahabatnya.
"Shaka luka?" Lagi Keyra bertanya.
Tak ada respon dari Shaka, ia masih diam berusaha menetralkan emosinya agar tak merembet kemana-mana.
"Lo nggak luka?"
Bukannya menjawab pertanyaan Keyra, Shaka malah balik bertanya. Baginya keadaan Keyra lebih penting daripada keadaannya sendiri. Raut khawatir tampak jelas dari wajah tegang Shaka.
"Key nanya Shaka, kok malah balik nanya!" Kesal Keyra.
Dan perdebatanpun berlanjut.
Talia, Alana dan Fattan tersenyum bergantian saling tatap. Jika perdebatan telah dimulai berarti keduanya baik-baik saja.
***
Pos keempat atau pos kemenangan adalah bagian akhir dari penjelajahan hari ini. Sesuai dengan namanya, di pos ini adalah tempat untuk merayakan kemenangan karena telah berhasil melewati tantangan dari pengurus OSIS. Makanan, minuman dan berbagai macam camilan tersedia gratis bagi mereka.
Talia telah selesai memuaskan perutnya, kini ia tengah terduduk di tenda sembari memijat kakinya yang benar-benar terasa pegal.
"Gimana hari ini?"
Ternyata belum menyerah, Rafa ikut duduk di sebelah Talia yang tak merespon.
"Minum," ujar Rafa menyodorkan air mineral kepada Talia yang langsung saja ditolak.
Tak sedikitpun Talia memberi celah, tak ada niat memberi harapan, sekali ia berkata tidak maka jawabannya akan tetap tidak. Apa sesulit itu Rafa mengerti?
Talia berdiri hendak meninggalakan Tenda, kini niatnya untuk beristirahat telah diusik. Rafa dengan tergesa ikut berdiri dan menahan tangan Talia.
"Kenapa menghindar?" Tanya Rafa menuntut penjelasan.
"Kenapa kakak memaksa, kan gue udah bilang gue nggak suka sama Kak Rafa. Sesulit itu buat ngerti?" ungkap Talia menohok.
"Nggak semudah itu buat gue nyerah, Talia."
"Cuma orang bodoh yang sudah ditolak berkali-kali masih juga memaksa!" Geram talia. Kalimat-kalimat pedas itu sudah tak bisa ia tahan lagi, ia sunggu geram dan merasa terganggu atas kehadiran Rafa.
"Dan cuma orang t***l yang bisa seenaknya nolak gue!" Balas Rafa tersinggung.
Talia tersentak, sedikit kaget tapi ia senang karena berhasil membuat Rafa kesal.
"Mending kak Rafa pergi, semua yang Kak Rafa lakuin itu percuma," lanjut Talia masih dengan ekspresi setenang mungkin.
"Gue nggak akan pergi sebelum lo terima gue."
"Bodoh!" Talia menjeda kalimatnya. "Cuma orang bodoh yang jelas-jelas ditolak masih berharap! Gue nggak akan pernah suka sama Kak Rafa."
"Gue nggak peduli," ujar Rafa mengeratkan cengkraman tangannya.
Talia meringis kesakitan, s**l lelaki di hadapannya benar-benar tak akan pernah bisa merebut hatinya apalagi dengan tingkah sekasar ini.
"Gue nggak bakal bisa suka sama orang kasar semacam lo!" Pekik Talia kesakitan.
Di samping tenda Talia, ada seseorang yang terusik tidurnya. Sejak lama ia berada di sana mengistirahatkan tubuh yang terasa pegal, suara pertengkaran itu sungguh mengganggu.
"Lo nggak bakal tenang di SMA ini sampai lo nyerah dan berlutut minta maaf sama gue!" putus Rafa dengan raut menyeramkan. Ternyata ini sifat asli seorang ketua OSIS, cukup memalukan sampai jabatan tersebut bisa berada di tangannya.
"Kakak kira gue takut?" Tantang Talia dengan mata menyala.
Sudah cukup telinga Sagara terusik, segera ia beranjak ingin meninggalkan tenda mencari tempat lain untuk beristirahat.
Mata Talia sangat jeli menangkap adanya kesempatan lolos dari cengkraman Rafa. Ketika baru dua langkah Sagara akan beranjak dari tenda, Talia mengeluarkan kalimat tak terduga.
"Gue udah pacaran sama Sagara!"
Seketika langkah Sagara langsung terhenti, matanya menatap Talia seolah minta penjelasan sedangkan Rafa sudah dengan cepat memberi bogem mentah di wajah Sagara. Tentu saja Sagara langsung tersungkur karena tak siap mendapat serangan mendadak.
"s****n!" umpat Rafa menarik kerah baju Sagara.
Sagara tersenyum miring, sudah lama ia menanti kesempatan ini. Rahang Sagara mengeras, tatapannya mengerikan seolah akan membunuh orang di hadapannya. Tanpa aba-aba ia langsung menyerang Rafa dengan membabi buta. Hari ini dua orang berhadapan dengan Rafa di lain waktu. Pertama Shaka, belum juga kering memar dan luka akibat berkelahi dengan Shaka kini Rafa kembali berulah.
"s****n!" Ujarnya memukul wajah Rafa. "b*****t! Anjing!" Lanjutnya memberi tendangan di perut Rafa.
Talia mematung di tempat, terkejut bukan main melihat kejadian di hadapannya. Shaka, Fattan dan beberapa pengurus OSIS melihat kejadian tersebut langsung berusaha memisahkan keduanya. Rafa dibawa pengurus OSIS kembali ke tenda sedangkan Sagara ditahan Fattan dan Shaka di tempat.
"Wowowoi ... Ngapain! Ada apa? Kenapa?" Tanya Shaka heboh sambil memegang lengan Sagara.
Sagara tak menjawab, napasnya memburu dengan d**a naik turun. Sudah lama ia tak mengeluarkan tenaga untuk berkelahi, dan yang paling ia suka yang menjadi lawannya adalah Rafa.
"Lo pacar gue kan? Ikut gue obatin," hardik Sagara membawa Talia pergi dari kerumunan setelah mengambil kotak P3K dari tangan Alana.
"Woe kapan lo bedua jadian?" Teriak Shaka merasa ketinggalan informasi.
"Brisik Shaka, panas kuping Keyra denger Shaka teriak!"
"Mereka pacaran?" Tanya Alana, s**l mengapa Alana merasa kesal.
"Mana saya tahu saya kan Shaka!"
***
"Gue minta maaf," ujar Talia memecah keheningan.
Sagara hanya menoleh sejenak lalu berkata, "obatin." Sambil menyodorkan kotak P3K yang sempat ia ambil dari tangan Alana. Sebagai wujud rasa bersalah Talia terhadap Sagara ia segera mengambil kotak P3K itu dan mulai mengobati luka Sagara.
"Gue nggak bermaksud manfaatin lo," lagi Talia berbicara.
"Tapi lo udah manfaatin gue," balas Sagara dingin.
Talia terdiam, benar. Tanpa sengaja ia telah memanfaatkan Sagara untuk menghindari Rafa.
"Gue minta lo balas budi," lanjut Sagara.
Untuk kali ini mata Talia langsung membulat sempurna—apa maksud dari semua ini.
"Apa mau lo?" Tanya Talia cukup ragu. Apa Sagara akan meminta Talia mentraktirnya selama sebulan, setahun, atau selama mereka bersekolah di SMA Garuda? Atau Sagara akan menjadikannya pesuruh seperti di film drama? Atau lebih parah Sagara akan memanfaatkannya? Talia tak tahu, kepalanya sudah mengatur beberapa kemungkinan yang akan terjadi.
Sagara diam, membuat rasa penasaran yang Talia miliki semakin besar. Seringai misterius di wajah Sagara membuat Talia bergidik ngeri—gue salah milih orang.
"Kita lihat aja nanti," jawab Sagara semakin misterius lalu pergi meninggalkan Talia.
"Woi! Gue belum selesai ngomong!" Teriak Talia tak terima ditinggal tanpa penjelasan.
Dengan tergesa Talia mengejar langkah Sagara untuk meminta penjelasan. Setidaknya berikan penjelasan jangan digantung tak jelas seperti ini—Talia membatin.
"Talia," panggil seseorang berhasil menghentikan langkah Talia.
"Kenapa Al?"
Ya, dia adalah Alana.
"Kapan lo jadian sama Sagara?" Tanya Alana tanpa basa basi.
"Gue nggak—"
Pengumuman!
Semua berkumpul membentuk barisan segera! Dalam hitungan Sepuluh detik semua telah berbaris di lapangan.
Kalimat dari pengeras suara berhasil menginterupsi pembicaraan Talia dan Alana.
"Kita semua telah menyaksikan dua kejadian tak terpuji hari ini, maka dari itu kita akan mengadakan sidang."
Cantika memimpin sidang hari ini. SMA Garuda memang selalu mengadakan sidang jika terjadi masalah antar siswa seperti yang terjadi antara Sagara dan Rafa yang berhasil membuat gempar perkemahan.
"Pertama, Rafa gue tau lo ketua OSIS tapi lo gabisa nyerang orang semaunya kayak tadi. Lo pasti punya alasan, jelaskan?" Dengan wajah datar Cantika mulai bertanya. Talia sudah kaku di tempat, rasanya aliran darah tak mengalir normal di tubuhnya mendadak kepala Talia terasa pusing. Ia tak pernah menduga kalimat asal yang ia keluarkan bisa berakibat sefatal ini.
"Oke untuk permasalahan lo sama Shaka gue kira kelas X belum terbiasa sama aturan SMA Garuda, gue harap lo—Cantika menunjuk wajah Shaka. Gue juga harap kalian semua kelas X bisa lebih beradaptasi dengan peraturan SMA Garuda. Sejak awal kalian mendaftar, kalian sudah pasti tahu konsekuensi memilih sekolah ini. Dan untuk masalah kedua, antara Rafa dan Sagara," Cantika menjeda ucapannya.
"Gila lo ya! Cuma gara-gara cewek lo bisa membabi buta kayak tadi?" Begitulah respon Cantika setelah mendengar duduk perkara yang Rafa jelaskan. Rasanya sebagai wakil ketua OSIS Cantika benar-benar merasa malu atas perbuatan Rafa, ketua kebanggaan organisasi mereka telah berhasil mencoreng nama baik pengurus OSIS SMA Garuda.
"Gue hargai karena lo ketua OSIS, tapi ini terakhir kali, Fa. Dulu lo juga pernah ngelakuin hal gila semacam ini karena seorang cewek, gue harap lo bisa lebih bijak ngambil keputusan. Lo mesti inget kalau lo disini punya kedudukan terhormat, ga malu lo sama para pengurus?" hardik Cantika geram dengan permasalahan Rafa.
Sagara tersenyum miring, itulah alasannya tak menyukai Rafa. Kebencian yang telah lama ia pupuk karena sosok gadis yang sempat Cantika singgung.
"Gue nggak peduli aturan SMA Garuda, tapi kali ini lo harus minta maaf sama Sagara," putus Cantika akhirnya.
Harga diri Rafa tergores, tentu saja ia menolak meminta maaf dengan sosok anak baru yang baru saja dihajarnya. "Lo lupa aturan SMA Garuda?" Tanya Rafa licik.
Tentu saja Cantika ingat betul aturan bahwa setiap masalah yang akan menjadi kambing hitam adalah tingkat bawah atau anak baru seperti Sagara, tapi kali ini nurani Cantika menolak. Ingatannya terhadap sahabat dekatnya itu mengusik jiwa Cantika yang biasanya sangat patuh terhadap aturan SMA Garuda.
"Lo tinggal minta maaf sama akuin kesalahan lo, semua masalah beres."
"Gue nggak mau! Ingat ya, lo itu cuma wakil. Punya hak apa lo ngatur gue?" Dengan wajah lebam Rafa melengos meninggalkan sidang. Jika saja Cantika tak ingat bahwa Rafa adalah ketua OSIS mungkin ia tak akan mau bertemu manusia busuk itu lagi. Sialnya mereka terikat organisasi.
Sidang kali ini tak berhasil menyatukan pikiran empu masalah, Cantika tak mau memperpanjang. Dengan tatapan datar ia menutup persidangan yang berhasil menjatuhkan harga diri Rafa. Lelaki itu berjanji tak akan membiarkan "Mereka" bersekolah dengan tenang di SMA Garuda.
***
"Gue bener-bener bangga sama lo," ujar Shaka dengan wajah sumringah.
Hari ini perkemahan berakhir, setelah acara penutupan satu jam yang lalu kini mereka telah kembali ke tenda dan mengemasi barang untuk pulang keesokan pagi.
"Lo beneran jadian sama Talia?" Lagi mulut beo Shaka mengacaukan ketenangan Sagara.
Belum juga ada sahutan, Fattan tak ikut dengan pembicaraan ia hanya sibuk mengemasi barang miliknya agar tak ada yang tertinggal.
"Dosa apa sih gue dicuekin gini?" ratap Shaka mulai sadar karena tak kunjung mendapat respon.
"Gue heran kenapa Tuhan nyiptain lo dengan tingkat keingintahuan tinggi sama urusan orang." Sagara masih sibuk mengemasi barang miliknya tanpa ada niatan memperjelas kesalahpahaman yang Talia timbulkan.
"Rasa keingintahuan itu bukti nyata kalo gue itu sebenernya cerdas!" Shaka tersenyum jenaka membuat Sagara bergidik ngeri ditempat.
"Gila lo ya!" Balas Sagara datar.
"Gue gila, lo stres. Kesimpulannya ... Kita itu sama-sama ganteng!" Pekik Shaka menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
"Ogah gue samaan sama lo!"
Kepala Fattan cukup berdenyut jika kelamaan mendengar perdebatan tidak penting kedua manusia absurd itu, ia lebih memilih keluar tenda mencari angin segar.
"Gue kira lo yang bakal jadian sama Talia," ujar seseorang dari belakang berhasil menghentikan langkah Fattan.
Ia terkekeh lalu berkata, "gue nggak pernah kepikiran buat jadian sama Talia."
Alana mengangguk mengerti, obrolan berlajut dan keduanya tampak senang dengan semua obrolan yang mereka bahas. Dari kejauhan Talia melihat kedekatan Fattan dan Alana, ia menatap datar.
"Suka lo sama Fattan?" Sagara keluar dari Tenda mendekati api di samping tenda yang masih menyala.
"Lo nggak ada niatan ngelurusin kesalahpahaman ini? Lo ga bener-bener niat jadiin gue pacar lo kan?" Tanya Talia mengalihkan pembicaraan. Ia lebih tertarik mengapa Sagara anteng-anteng saja dengan rumor yang kini beredar.
Sagara tersenyum misterius, "gue kira lo masih butuh sandiwara ini." Kembali Sagara tersenyum misterius dan benar saja dari kejauhan Rafa menatap tak suka ke arah mereka. Kali ini Talia mengangguk setuju.
"Oke apa mau lo?" Tanya Talia merasa yakin ada udang di balik batu. Mana mungkin seorang Sagara mau mengurusi masalah hidup Talia yang jelas-jelas tidak akrab dengannya.
"Gue mau Rafa menderita."
Damn! Talia bungkam. Sagara sepertinya mempunyai dendam kesumat terhadap Rafa, Talia rasa akan semakin tak sehat jika melibatkan Sagara dalam permasalahannya.
Setelah itu Sagara langsung pergi meninggalkan Talia dengan sejuta tanda tanya dalam kepalanya. Sepertinya ia harus mengakhiri sandiwara ini, dia tak mau melibatkan Sagara yang bisa membuat masalah semakin rumit. Tapi tiba-tiba saja Rafa mendekat dengan seringainya.
"Lo gaakan tenang, Talia." Bisik Rafa tepat di telinga kanan Talia membuat gadis itu merinding penuh kengerian. Nada rendah itu berhasil membuat bulu kuduknya meremang.
"Gila!" Balas Talia meninggalkan perapian. Rafa tersenyum penuh kemenangan, kepalanya telah mengatur banyak skenario jahat.