Semakin lama jalan yang mereka lewati menjadi lebih bersih dan ternyata tak jauh di depan sana sudah tampak pos kedua dengan lima pengurus OSIS termasuk Cantika sedang berjaga. Sampailah mereka di pos kepemimpinan, akhirnya Keyra dapat berhenti mengumpat. Kali ini ia memuji otak absurd milik Shaka yang berhasil menuntun mereka menuju pos kedua.
"Baiklah, hari ini kakak nggak kedapetan nguji mental jadi kalian lumayan beruntung. Di sini kakak juga nggak bakal nguji fisik karena itu bukan bagian kakak. Jadi kita cukup fun karena di pos ini cuma nanya-nanya kepemimpinan dasar di diri kalian. Tapi ... Ada tapinya ya, adik-adik yang berminat masuk kepengurusan OSIS tahun ini akan mendapat pertanyaan lebih spesifik karena poin pos ini akan disimpan untuk oprec OSIS tahun ini."
Jika pada awalnya kita berpikir bahwa Cantika adalah pribadi yang semaunya, galak, dan tidak punya hati. Hari ini semua anggapan itu dibabat habis karena sikapnya yang lemah lembut dan tampak bersahabat di pos kepemimpinan ini. Sagara tersenyum, begitulah Cantika yang ia kenal bukan Cantika pada hari pertama mereka masuk SMA. Gadis yang pandai, berjiwa pemimpin, bertanggungjawab, dan cantik, begitulah Cantika di matanya. Mungkin Cantika tak mengingatnya, tapi Sagara ingat betul siapa Cantika.
Talia sedikit terenyuh, hari ini anggapannya kembali dipatahkan. Pertemuan pertama memang tak selalu menunjukkan sikap sebenarnya, dan Talia merasa salah beranggapan bahwa Cantika adalah sosok kakak kelas yang hanya bisa melakukan hal semaunya.
"Oke, sebelum dimulai ... berbaris di sebelah kanan untuk yang berminat masuk kepengurusan OSIS tahun ini dan sebelah kiri untuk yang tidak berminat," ujar Cantika kembali dengan nada tegas. Pintar sekali gadis ini mengubah dirinya, beberapa menit yang lalu dia bersikap friendly dan sekarang kembali dengan sikap berwibawa layaknya Cantika sang wakil ketua OSIS.
Pos kepemimpinan berfungsi melatih jiwa kepemimpinan dan tanggungjawab dari setiap siswa. Kegiatan dimulai dengan pertanyaan-pertanyaan ringan hingga pertanyaan berat. Jawaban dari mereka terkhususnya yang ingin menjadi pengurus OSIS menjadi nilai tambah di oprec tahun ini. Talia, Alana dan Fattan hanya mereka bertiga yang berminat masuk kepengurusan OSIS. Tentu saja, pertanyaan yang diajukan akan lebih spesifik.
"Seandainya kalian terpilih menjadi pengurus OSIS dan mendapat jabatan tinggi di keanggotaan, di waktu bersamaan OSIS sedang mengadakan persiapan untuk acara penting dan di sisi lain kalian sedang mempersiapkan ujian kenaikan kelas. Apa yang akan kalian lakukan?" Tanya Cantika.
Secara bergantian Fattan, Alana dan Talia menjawab. Cantika mengangguk-anggukkan kepalanya sebagai respon, terkadang ekspresinya seperti tak percaya dan terkadang tersenyum mendengar jawaban ketinganya. Bukan hanya satu dua pertanyaan, melainkan banyak pertanyaan yang Cantika ajukan.
"Oke ... Jawaban yang bagus, kakak lanjut ke ruas kiri." Cantika berbalik menghadap Sagara, Keyra dan Shaka di ruas kiri. Pertanyaan tak jauh berbeda yang ia ajukan hanya saja tidak sebanyak pertanyaan kepada yang berminat masuk kepengurusan OSIS.
Satu lagi bendera merah yang mereka dapatkan, itu artinya mereka sudah siap melanjutkan perjalanan ke pos selanjutnya—pos terberat. Rasa senang bercampur tegang menyapa, bagaimana tidak pos yang akan mereka hadapi selanjutnya adalah pos fisik dan mental. Kalian tahu kan betapa horornya jika sudah berkaitan dengan fisik dan mental? Belum lagi yang berjaga di pos tersebut adalah ketua OSIS atau Rafa. Ingat kejadian malam tadi? Habislah mereka, Talia kira kelompoknya akan terkena dampak kejadian malam tadi.
Perjalanan kali ini tidak begitu berat karena mereka hanya menghadapi bukit dan lembah, setelah itu mereka akan menemukan pos ketiga—begitu pikir mereka. Saat ini matahari sedang di puncaknya, jelas saja keringat langsung bercucuran apalagi mereka berjalan mendaki bukit dan menuruni lembah.
"Naik naik ke puncak gunung, tinggi ... Tinggi sekali," rancau Shaka tak jelas.
"Matahari aja udah buat panas, Shaka jangan ngerebut kerjaan matahari donk!" Pasti kalian sudah tahu kalimat tersebut dari siapa, yah tentu saja Keyra. Perdebatan kembali terjadi kali ini tak ada yang menengahi mungkin mereka juga butuh hiburan atas kekonyolan keduanya.
"Gue adalah matahari yang akan menyinari hidup Keyra," ujar Shaka lalu mengedipkan mata kepada Keyra yang langsung saja disambut ekspresi seperti ingin muntah dari Keyra.
"Euuu ... Shaka ngapain ngomong kaya gitu, Keyra nggak cocok bersanding sama orang jelek!" Ejek Keyra menohok.
"Ganteng gini dibilang jelek, gimana kalo jelek beneran Ya Allah," ratap Shaka dengan wajah dibuat sedih.
"Ganteng juga bang Maman yang jualan bakso di kantin!" Lanjut Keyra sambil tertawa puas.
"Auhh ... " Teriak Shaka hiperbola sambil menekan dadanya. "Sakit sekali everybody!" Lanjutnya yang sontak membuat kelompok tersebut tertawa tak terkecuali Keyra. Benar kata orang, jika sudah dekat maka selera humor akan cenderung sama. Bahkan yang menurut orang lain biasa saja, menurut orang sedang bertengkar, tapi malah kebalikannya mereka sedang bercanda. Lihat saja Shaka dan Keyra, setiap hari bertengkar tapi tentu saja itu bukanlah sebenar-benarnya pertengkaran.
Tiba-tiba terdengar suara cukup keras dari arah belakang, ketika mereka menoleh ternyata cukup jauh jarak antara mereka Talia terduduk di rerumputan. Wajahnya pucat dan menyiratkan ketakutan, keringat dingin juga nampak jelas mengalir di pelipisnya. Seketika pandangan tertuju pada satu titik.
"Ular!" Teriak Talia ketakutan. Salah satu hewan beracun yang paling Talia takuti, tentu saja ia langsung terkejut sekaligus takut mendapati hewan itu yang bergerak semakin mendekat.
Sagara yang berada di paling belakang langsung bergerak kedepan dan mengabil ranting asal lalu mengusir hewan tersebut. Setelah beberapa saat, hewan tersebut hilang masuk ke dalam semak-semak yang membuat mereka langsung bernafas lega.
"Masih bisa berdiri?" Tanya Sagara. Alih-alih menanyakan apakah Talia baik-baik saja, ia malah bertanya dengan kalimat tersirat. Yap! Sagara bukan orang yang suka menunjukkan perhatian, dia lebih suka mendapat penjelasan tanpa banyak bertanya. Jika Talia masih bisa berdiri tentu saja dia baik-baik saja.
Talia mengangguk yakin, ia hanya terjatuh karena terkejut jadi tidak masalah. Segera saja ia bangkit dan mengajak kelompoknya untuk melanjutkan perjalanan.
"Talia kenapa takut ular, harusnya lo takut Keyra. Lebih serem! Aum ...," Tanya Shaka lalu menirukan suara harimau bermaksud mengejek Keyra yang terkesan galak.
"Nggak ada kerjaan lain, pak. Selain gangguin orang?" Sinis Keyra merasa dibawa-bawa.
Shaka langsung tergelak senang karena merasa berhasil membuat Keyra kesal. Talia hanya geleng-geleng kepala melihat kelakuan Shaka yang semakin hari semakin absurd.
"Kalian ini ribut terus, awas jodoh," goda Fattan yang berada di antara keduanya. Keyra langsung berekspresi seperti ingin muntah sedangkan Shaka hanya tertawa.
Perjalanan terus berlanjut, rasa lelah mereka cukup tetutup dengan obrolan-obrolan serta pemandangan indah. Mereka memilih beristirahat sejenak di bawah pohon besar dengan pemandangan pepohonan terlihat jelas di puncak bukit. Nyanyian-nyanyian burung serta tiupan angin sejuk menghilangkan penat.
"Kalian ngerasa nyesel nggak masuk SMA Garuda?" Tanya Alana memecah keheningan. Sedikit terkejut dengan pertanyaan tersebut bisa keluar dari mulut Alana.
"Kalo gue pribadi sih, enggak." Fattan yang pertamakali menjawab.
"Gue belum tau, semoga enggak." Talia ikut berkomentar.
"Keyra nyesel banget!" Pekik Keyra mengejutkan kelompoknya. "Nyesel banget! Ini semua salah Shaka ngapain daftarin Keyra di sini!" Teriaknya lagi.
Shaka tertawa puas, memang dirinya yang mendaftarkan Keyra di sekolah tersebut. Berkat nilai Keyra yang tinggi, tentu saja tak sulit untuk diterima. Ketika orangtua Keyra tahu Keyra sudah lulus di salah satu SMA favorit tentu saja permintaan Keyra ingin masuk SMA lain ditolak. Tapi, keberadaan Shaka yang juga bersekolah di sana cukup meredam kekesalan Keyra. Karena jika bersekolah di SMA lain tentu mereka akan berbeda sekolah karena Shaka yang malas mencari SMA lain. Secara random ia mendaftarkan dirinya dan Keyra di sekolah tersebut alasannya karena sekolah ini tak jauh dari rumah mereka.
Jalan perbukitan mereka hadapi, kini matari sudah lebih condong ke barat. Mereka yakin malam ini pasti akan merasakan pegal luar biasa di sekujur tubuh karena perjalanan hari ini yang sangat melelahkan. Hijau perbukitan memanjakan mata, pemandangan dari ketinggian ditemani candaan serta keriuhan menjadi teman perjalanan hari ini. Tibalah mereka di pos fisik dan mental. Tak ada samasekali senyum yang tampak di wajah pengurus OSIS yang berjaga, semua tampak menyeramkan.
Tatapan Rafa beralih menembus manik mata Talia, dalam hati ia bersorak—selamat datang Talia.