25 OKTOBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Javar berdiri bersandar di mobilnya di depan gedung kantor, dengan kemeja yang sudah digulung sampai siku dan wajah yang berusaha terlihat seperti orang yang sedang "lewat". Tidak ada yang percaya dengan "lewat"-nya, dan aku yakin dia juga tahu tidak ada yang percaya, dan kita berdua memutuskan untuk tidak membicarakannya.
Aku memperhatikannya dari kejauhan untuk beberapa detik sebelum mendekat—kebiasaan buruk yang sudah lama tidak kulakukan, memperhatikannya tanpa ia tahu. Delapan tahun tidak mengubah caranya berdiri. Masih dengan bahu yang sedikit miring ke kiri. Masih dengan tangan di saku. Masih dengan cara memandang langit-langit gedung seperti sedang menghitung lantainya, padahal aku tahu dia tidak menghitung apa-apa. Dia hanya gugup. Javar selalu memandang ke atas saat gugup. Itu satu-satunya hal yang tidak berubah dari dirinya, dan aku benci bahwa aku masih mengingatnya. Benci karena mengingatnya berarti dia tidak pernah benar-benar pergi, dan aku sudah lama berpura-pura bahwa dia sudah pergi.
"Kantung matamu," ucapnya begitu aku mendekat. Bukan "hai", bukan "apa kabar", tapi langsung "kantung matamu". Pria ini tidak pernah berubah dalam hal-hal kecil seperti itu—selalu melihat hal-hal yang seharusnya tidak dilihat, dan mengatakannya dengan polos seperti tidak tahu bahwa perempuan bisa tersinggung olehnya.
"Kantung mataku bagus, terima kasih," jawabku ketus, masuk ke mobilnya dan membanting pintu dengan lebih keras dari yang seharusnya.
Dia tertawa kecil, masuk ke sisi kemudi, dan menyalakan mesinnya. "Aku tidak bilang jelek. Aku hanya bilang ada. Kau tidak tidur lagi semalam?"
"Aku tidur."
"Berapa jam?"
"Cukup."
"Berapa jam, Lovia?"
Aku menatap keluar jendela, tidak menjawabnya. Dia juga tidak memaksa. Dia menyetir dengan pelan, dan mobilnya berbau seperti mobilnya selalu berbau—minyak wangi kayu-kayuan yang entah sudah berapa tahun tidak diganti, yang seharusnya sudah habis sejak lama, tapi masih ada di sana, seperti sebagian hal-hal dalam hidupnya yang tidak pernah pergi.
Perjalanan itu hening untuk beberapa menit. Bukan hening yang canggung—hening yang penuh. Kami berdua tahu ada pembicaraan yang tertunda dari kemarin, dan kami berdua sedang menunggu siapa yang mulai duluan, dan kami berdua kalah dalam permainan menunggu itu.
"Aku sudah berpikir semalam," ucapnya akhirnya, matanya tetap ke jalan. "Tentang yang kubilang kemarin. Tentang kau yang tidak pernah menghargai usahaku."
Aku menegakkan punggungku tanpa sadar. Inilah dia.
Aku sudah menyiapkan pembelaan diriku di kepala sejak semalam—kumpulan argumen yang sudah kususun rapi: bahwa aku tidak bermaksud seperti itu, bahwa aku hanya kaget, bahwa aku tidak tahu harus bersikap bagaimana, bahwa dia juga salah datang tanpa pemberitahuan. Argumen-argumen itu sudah siap di ujung lidahku, seperti pasukan yang sudah berbaris.
Tapi Javar tidak memberi mereka kesempatan untuk maju. Dia berbicara lebih dulu, dengan cara yang tidak pernah bisa kuprediksi dari orang yang kukenal.
"Aku salah mengatakannya seperti itu," lanjutnya. "Bukan salah maksudnya—maksudku benar—tapi salah waktunya, salah tempatnya, salah caranya. Kau sedang bekerja, dan aku datang seperti badai, dan aku berharap kau menjatuhkan segalanya untukku. Itu bukan menghargai. Itu menuntut."
Aku memandanginya dengan mulut yang sedikit terbuka. Javar Adiwangsa yang sedang mengakui kesalahannya dengan analisis seperti laporan penelitian. Delapan tahun berpisah ternyata juga mengajarinya hal-hal yang baru.
Pasukan argumenku yang sudah berbaris rapi di ujung lidah membubarkan diri mereka satu per satu, tanpa perlawanan, tanpa suara. Karena tidak ada yang bisa kau katakan untuk melawan orang yang sudah mengakui kesalahannya sendiri sebelum kau sempat membela diri.
"Dan kau," lanjutnya, sebelum aku sempat menjawab, "juga salah. Kau salah karena tidak pernah berterima kasih untuk hal-hal kecil. Tapi aku tidak seharusnya memintanya dengan cara seperti itu. Jadi kita sama-sama salah, dan sekarang sudah selesai. Titik."
"Titik?" ulangku, setengah tidak percaya. "Semudah itu?"
"Semudah itu," jawabnya, menoleh sekilas dengan senyum kecilnya yang selalu menjadi masalah terbesar dalam hidupku. "Aku tidak suka berlama-lama marah padamu. Itu buang-buang waktu. Dan aku sudah kehilangan delapan tahun. Aku tidak mau kehilangan satu hari lagi untuk hal-hal yang bodoh."
Aku menatapnya lama. Lalu aku menatap keluar jendela lagi, supaya dia tidak melihat wajahku, supaya dia tidak tahu bahwa kalimat barusan itu—kalimat yang sederhana, yang tidak romantis, yang tidak dirancang—adalah kalimat yang paling berbahaya yang pernah ia ucapkan kepadaku.
"Kau juga sudah berubah," ucapku akhirnya, pelan.
"Kita semua berubah, Lovia. Pertanyaannya hanya: ke arah mana," jawabnya, dan dia menghentikan mobilnya di lampu merah, dan dia menoleh kepadaku dengan tatapan yang seharusnya tidak boleh dimiliki oleh orang yang baru saja bertemu kembali setelah delapan tahun. "Aku ingin berubah ke arahmu. Itu saja. Sisanya terserah kau."
Lampu hijau menyala. Dia melanjutkan menyetir seperti tidak pernah mengatakan apa-apa. Dan aku duduk di sana dengan jantung yang seperti digilas, berpikir bahwa pria ini—pria yang sama yang dulu meninggalkanku tanpa penjelasan—seharusnya tidak boleh memiliki hak untuk mengatakan hal-hal seperti itu dengan wajah setenang itu.
Tapi pria itu memilikinya. Dan aku, sialnya, tidak punya pertahanan apa pun terhadapnya.
Sisa perjalanan itu berjalan dengan radio yang menyala pelan—lagu-lagu lama dari tahun-tahun yang sama dengan tahun-tahun kami dulu. Dia tidak mengganti salurannya. Aku tidak memintanya mengganti. Dan lagu-lagu itu bermain di antara kami seperti jembatan-jembatan kecil yang tidak perlu dikatakan—jembatan ke masa-masa yang dulu, masa-masa yang sudah rusak, masa-masa yang sedang kami coba bangun kembali dengan hati-hati.
"Rumahmu," ucapnya, menghentikan mobil di depan pagar. Tapi ia tidak membuka kunci pintunya, dan aku tidak membuka pintunya. Kami duduk di sana sejenak, di mobil yang mesinnya masih menyala, dengan lagu lama yang masih bermain pelan.
"Terima kasih untuk antarannya," ucapku akhirnya.
"Terima kasih untuk mau diantar," jawabnya. "Dan Lovia—tentang yang kubilang di lampu merah tadi. Aku tidak menariknya kembali. Tapi aku juga tidak menunggu jawabannya malam ini. Tidurlah yang nyenyak. Kantung matamu sudah sangat membutuhkannya."
Aku turun dari mobilnya tanpa menjawab, dan mendengar mobilnya pergi di belakangku, dan berdiri di depan pagar rumahku untuk waktu yang lebih lama dari yang seharusnya—di malam yang dingin, dengan jantung yang tidak tahu arah, dengan lagu lama yang masih berputar di kepalaku.
Aku masuk ke rumah, mengunci pintu, bersandar ke pintu itu, dan memejamkan mataku. Tidak ada Bunda yang menyambutku malam ini—Bunda sedang berkunjung ke rumah Abang untuk bermain dengan cucunya. Rumah yang sepi. Rumah yang biasa kucintai kesepiannya, dan malam ini terasa seperti rumah yang menunggu sesuatu untuk diisi.
"Aku ingin berubah ke arahmu," bisikku, mengulang kata-katanya kepada kegelapan ruang tamu. Kata-kata itu terdengar berbeda di kegelapan—lebih jujur, lebih berat, lebih menakutkan. Aku membuka mataku dan menatap langit-langit, dan untuk pertama kalinya sejak Javar datang kembali ke dalam hidupku, aku tidak berlari dari kalimat itu di kepalaku.