26 OKTOBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Launching produk tinggal enam hari lagi, dan seisi kantor sudah seperti kapal yang sedang menuju badai—semua orang berlari ke segala arah dengan dokumen di tangan, semua orang berbicara dengan nada yang lebih tinggi dari biasanya, dan semua orang pura-pura tidak panik dengan cara yang sangat panik.
Tim kami—tim promosi—sudah bekerja dua shift sejak kemarin. Banner baru sudah disetujui, slogan sudah dikunci, dan sekarang tinggal detail-detail kecil yang sebenarnya tidak kecil sama sekali: balon gate di pintu masuk acara, daftar tamu undangan, rundown acara, dan yang paling mengerikan—gladi bersih dengan Pak Bos yang dijadwalkan dua hari lagi.
Kami bekerja sampai kantor mulai sepi—sampai suara lift tidak lagi sibuk, sampai lampu-lampu di lantai lain mulai padam satu per satu. Ratih dan aku adalah dua titik kecil yang masih menyala di lantai kami, dengan layar-layar yang masih terang, dengan mata yang mulai berat tapi dengan tangan yang tidak boleh berhenti. Enam hari bukan waktu yang lama untuk acara sebesar ini. Enam hari hampir bukan waktu sama sekali.
"Gladi bersih. Dua hari lagi. Dengan Pak Bos," ulangku seperti sedang membaca vonis hukuman.
"Kamu bisa," ucap Ratih dengan nada yang seharusnya menenangkan tapi gagal total. "Kemarin saja kamu sudah bisa. Sekarang tinggal menambah satu hal: jangan salah bicara."
"Saran yang sangat membantu, Ratih. Terima kasih atas dukunganmu yang tidak tulus," jawabku sinis.
Ratih tidak tersinggung. Dia tidak pernah tersinggung. Itu salah satu bakat terbesarnya di dunia ini. "Eh, ngomong-ngomong, apa kabar Mas Javar? Sudah minta maaf? Kapan mau jadian? Aku perlu tanggal pastinya untuk menghitung kapan aku bisa mulai pendekatan dengan Pak Bos."
Aku memutar kursiku menghadapnya dengan ekspresi yang seharusnya sudah cukup untuk membuatnya mundur. Ekspresi itu tidak bekerja. Ekspresi itu tidak pernah bekerja pada Ratih, karena ekspresi membutuhkan rasa malu untuk bekerja, dan Ratih tidak memilikinya.
"Aku tidak menjawab pertanyaan yang disusun seperti daftar undangan pernikahan," jawabku, menyeret kembali layar rundown acara ke depan wajahku. Tapi tentu saja dia tidak berhenti.
"Dia mengantarmu pulang semalam. Itu fakta yang kulihat dengan mataku sendiri dari jendela lantai tiga. Kalian bicara apa di mobil? Jangan bilang tidak bicara apa-apa. Tidak ada pasangan yang menghabiskan empat puluh menit di dalam mobil tanpa bicara apa-apa, Lovia. Empat puluh menit, aku hitung!"
"Kita tidak bicara soal jadian," jawabku, dan itu bukan bohong. Kita tidak bicara soal jadian. Kita bicara soal perubahan, soal arah, soal delapan tahun yang hilang. Hal-hal yang jauh lebih berat dari jadian, dan jauh lebih sulit dijelaskan kepada Ratih.
Dia menyipitkan matanya seperti detektif yang mencium bau kebohongan, tapi untungnya ponselnya berbunyi sebelum dia sempat menggali lebih dalam. Dan aku kembali ke rundown acaraku dengan perasaan bersyukur yang tidak pada tempatnya.
Aku membaca ulang setiap baris rundown itu sampai aku hafal urutannya tanpa perlu melihat: pembukaan jam sembilan, sambutan Pak Bos jam sembilan lima belas, pemotongan pita jam sembilan tiga puluh, sesi foto jam sembilan empat puluh lima, presentasi produk jam sepuluh, dan penutup jam sebelas. Semuanya harus berjalan seperti mesin jam—atau seperti mesin jam yang sudah diminyaki dengan baik—karena satu kesalahan kecil saja akan terlihat oleh ratusan pasang mata tamu undangan dan, yang lebih menakutkan, oleh sepasang mata Pak Bos.
Sore itu, menjelang pulang kantor, ada satu hal lagi yang membuat hari-hariku semakin tidak bisa ditebak. Pak Bos memanggilku ke ruangannya—sendirian, tanpa Ratih, tanpa siapa pun.
Aku berdiri di depan mejanya dengan tangan yang sedikit dingin. Pengalaman kemarin masih segar di tulangku.
"Duduk," ucapnya. Dan aku duduk.
Aku duduk di tepi kursi dengan punggung yang tegak seperti siswa yang menghadap kepala sekolah. Pak Bos memperhatikan amplop itu sejenak sebelum mendorongnya—amplop tebal berwarna krem, dengan segel lilin kecil di ujungnya yang sudah kering, yang terlihat seperti amplop yang sudah disiapkan sejak lama. Bukan amplop yang ditulis tergesa-gesa. Amplop yang sudah menunggu.
Dia memperhatikanku sejenak—bukan dengan mata menghakimi seperti kemarin, melainkan dengan mata yang sedang menimbang-nimbang sesuatu—lalu ia membuka laci mejanya dan mengeluarkan sebuah amplop.
"Ini untukmu," ucapnya, mendorongnya ke seberang meja. "Buka setelah acara. Bukan sekarang."
Aku menatap amplop itu tanpa berani menyentuhnya. "Boleh saya tahu isinya, Pak Bos?"
"Tidak boleh," jawabnya singkat. "Itu sebabnya aku bilang buka setelah acara. Sekarang kembali bekerja. Dan jangan terlalu banyak begadang. Kantung matamu sudah seperti kantung belanja."
Aku keluar dari ruangannya dengan amplop di tangan dan kepala yang penuh dengan tanda tanya yang tidak akan terjawab selama enam hari ke depan. Amplop dari Pak Bos, untuk dibuka setelah acara. Hal-hal seperti ini biasanya kabar baik atau kabar yang sangat buruk, dan tidak pernah ada di antaranya.
Di tengah lorong, aku berhenti dan menatap amplop itu lagi. Kertasnya tebal, bagus, dengan segel di ujungnya—bukan amplop kantor biasa, amplop yang disiapkan dengan sengaja. Amplop yang isinya sudah diputuskan sejak lama, yang hanya menunggu waktu yang tepat untuk dibuka. Hal-hal seperti itu bukan hal-hal yang remeh. Hal-hal seperti itu adalah hal-hal yang mengubah arah.
Sepanjang lorong menuju mejaku, aku memperkirakan isinya satu per satu. Surat promosi? Terlalu kecil kemungkinannya—aku baru dua tahun di sini. Surat pemecatan? Terlalu besar kemungkinannya setelah presentasi kemarin, tapi pemecatan tidak perlu menunggu sampai setelah acara. Surat peringatan? Mungkin. Bonus? Terlalu optimis. Tugas baru? Mungkin juga. Daftar tamu yang harus kuhubungi? Terlalu sederhana untuk sebuah amplop bertuliskan "buka setelah acara".
Tidak ada yang masuk akal. Itulah yang paling tidak masuk akal dari semuanya.
Ratih mencoba mengintip isinya sampai aku memasukkannya ke laci mejaku dan menguncinya. "Bukan untuk dilihat sekarang. Nanti. Setelah acara."
"Awas saja kalau itu surat promosi dan kau tidak menceritakannya padaku duluan," ancamnya.
"Dan awas saja kalau itu surat pemecatan dan kau tertawa," balasku, dan kami berdua tidak tertawa, karena kami berdua setengah serius.
Sisa sore itu, pekerjaan kami berjalan dengan latar belakang tanda tanya dari amplop itu. Setiap kali aku membuka laci untuk mengambil sesuatu, amplop itu ada di sana, menatapku, menunggu waktunya. Aku mulai membencinya dengan cara yang sehat—membencinya seperti orang membenci film yang belum selesai, buku yang belum sampai ke bab terakhir, pertanyaan yang belum dijawab. Enam hari. Aku hanya harus bertahan enam hari tanpa membukanya. Enam hari yang sudah pasti akan terasa seperti enam tahun.