28 OKTOBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Gladi bersih hari itu tiba dengan cuaca yang mendung—cuaca yang sangat tidak membantu untuk acara outdoor yang sudah direncanakan berminggu-minggu. Aku berdiri di lokasi acara sejak jam enam pagi, dengan kopi di satu tangan dan rundown di tangan yang lain, memastikan balon gate terpasang dengan benar, sound system berbunyi dengan benar, dan tidak ada satu pun kursi yang miring ke arah yang salah.
Jam enam pagi adalah jam yang seharusnya tidak pernah ada dalam kalender orang normal. Aku berdiri di sana dengan jaket yang menahan dingin subuh, dengan kabut yang masih menggantung rendah di atas lapangan, dengan sepatu yang sudah basah oleh embun. Tapi ada sesuatu yang ajaib dari lokasi acara di jam-jam seperti itu—sesuatu yang hanya dimengerti oleh orang-orang yang pernah menyiapkan sesuatu dengan tangannya sendiri: tempat ini, yang besok akan penuh dengan ratusan orang, sekarang hanya milik kami. Dan aku mengambil waktu sejenak untuk berdiri di tengahnya, sendirian, sebelum semua orang datang.
"Uji suara, uji suara, satu dua tiga," terdengar suara dari panggung. Bagus. Suara bekerja.
"Meja VIP jangan terlalu dekat panggung, Pak Bos tidak suka menengadah terlalu tinggi," ucapku kepada tim dekorasi. "Dan bunga di meja tiga tukar dengan yang lebih rendah. Terlalu tinggi, menghalangi pandangan."
Semuanya bergerak. Semuanya bekerja. Dan aku berdiri di tengah-tengah semuanya dengan jantung yang berdebar seperti sedang berlari maraton—karena dalam dua jam, Pak Bos akan datang, dan dalam dua jam, semuanya harus sempurna, atau setidaknya mendekati sempurna dengan cara yang tidak bisa dikritik terlalu keras.
Ratih datang membawakan sarapan untukku—roti yang sudah dingin tapi tetap berharga seperti emas saat itu. "Makan. Kau belum makan sejak kemarin sore."
"Aku tidak lapar."
"Kau lapar. Kau hanya tidak sadar. Makan," perintahnya, menyodorkan roti itu sampai ke wajahku, dan aku makan dengan terpaksa yang tidak terlalu terpaksa.
Di sela-sela makan roti itu, aku memperhatikan lokasi acara dari sudut pandang tamu untuk pertama kalinya—berdiri di tempat yang akan menjadi tempat mereka, melihat apa yang akan mereka lihat. Balon gate yang megah. Panggung yang bersih. Meja-meja yang tertata. Dan untuk sesaat, di tengah semua kepanikan itu, aku merasakan sesuatu yang sudah berminggu-minggu tidak kurasakan: bangga. Kecil, tapi bangga. Ini semua kami buat. Ini semua kerja kami. Dan besok, ini semua akan dilihat oleh ratusan orang.
"Lovi," panggil Ratih, membuyarkan lamunanku. "Pak Bos-nya datang."
Dan kebanggaan kecil itu langsung menguap, digantikan oleh sesuatu yang lebih akrab: teror.
Jam delapan, gladi dimulai. Pak Bos datang dengan jasnya yang rapi dan matanya yang seperti elang—mata yang tidak melewatkan apa pun, tidak pernah melewatkan apa pun, tidak akan pernah melewatkan apa pun. Dia berjalan menyusuri lokasi dengan kami berjalan di belakangnya seperti pasukan yang menunggu perintah.
Aku berjalan tepat dua langkah di belakangnya dengan catatan di tangan, mencatat setiap hal yang ia sentuh atau ia perhatikan lebih dari tiga detik—karena tiga detik adalah batas aman Pak Bos, dan lebih dari itu berarti ada yang salah. Meja bunga, empat detik, tapi tidak ada komentar. Kabel sound, dua detik, aman. Tirai panggung, lima detik, dan aku sudah menyiapkan jawaban sebelum pertanyaannya keluar—tapi pertanyaannya tidak keluar.
Dia memperhatikan balon gate. Dia memperhatikan panggung. Dia memperhatikan meja VIP. Dia memperhatikan toilet tamu—ya, dia benar-benar memeriksa toilet tamu, sampai ke dalamnya, sampai ke kaca dan handuk dan pengharum ruangannya—dan dia tidak mengatakan apa-apa tentang semuanya. Tidak ada kritik. Tidak ada ledakan. Tidak ada boncabe level tiga puluh.
Di belakangnya, kami saling bertukar pandangan dengan mata yang tidak percaya. Ratih mengangkat alisnya kepadaku dengan ekspresi yang tidak salah tafsir: ini tidak normal. Pak Bos tanpa kritik adalah Pak Bos yang paling menakutkan dari semua versi Pak Bos—karena berarti dia sedang menyimpan sesuatu untuk nanti, atau dia benar-benar puas, dan tidak ada yang tahu mana yang lebih mungkin.
"Ini semua kerja tim kalian?" tanyanya akhirnya, menoleh ke kami.
"Ya, Pak Bos. Tim promosi dengan bantuan semua divisi," jawabku, dengan jantung yang berhenti sebentar.
Dia mengangguk. Hanya mengangguk. Tapi dalam bahasa Pak Bos, mengangguk adalah pujian tertinggi yang bisa diberikan kepada manusia, dan seluruh tim kami menahan napas mereka untuk tidak bersorak di depannya.
"Untuk acara besok," lanjutnya, sebelum pergi, "satu hal. Pembawa acara diganti. Gunakan orang yang biasa menangani acara korporat. Kalian tahu siapa yang kumaksud. Atur hari ini juga."
Dan dia pergi, meninggalkan kami dengan satu masalah baru: pembawa acara korporat, dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam, untuk acara yang sudah dijadwalkan berminggu-minggu. Siapa yang bisa dihubungi dalam waktu sesingkat itu? Siapa yang bersedia? Siapa yang mampu?
Tim kami berpencar seperti semut yang sarangnya ditendang. Ratih langsung menelepon daftar nama-nama pembawa acara yang sudah pernah bekerja dengan kantor—semuanya sudah penuh jadwalnya, atau di luar kota, atau tidak mengangkat. Dua jam kami mencari, dan hasilnya adalah daftar panjang penolakan yang sopan dari orang-orang yang sangat ingin membantu tapi tidak bisa dalam waktu sesingkat itu.
Aku berdiri di tengah lokasi dengan otak yang berputar mencari nama-nama, dan kemudian—entah bagaimana, entah mengapa, entah karena takdir memang suka bercanda—satu nama muncul di kepalaku. Satu nama yang dulu pernah menjadi pembicara di aula kampus di depan ratusan mahasiswa yang berteriak-teriak. Satu nama yang suaranya bisa membuat ruangan diam mendengarkan.
Javar.
Aku memikirkan nama itu dan mencoba menghapusnya, dan gagal. Karena tidak ada nama lain yang masuk akal. Pembawa acara korporat yang profesional membutuhkan waktu dua minggu untuk booking. Orang kantor tidak ada yang cukup berani untuk berdiri di atas panggung itu besok. Dan aku—aku hanya tahu satu orang yang bisa berdiri di depan ratusan orang dan membuat mereka semua mendengarkan, karena aku sudah pernah melihatnya, bertahun-tahun yang lalu, di aula yang penuh dengan mahasiswa yang berteriak-teriak mendengarkannya berbicara tentang perubahan.
Javar Adiwangsa. Pembicara terbaik yang pernah kudengar. Dan orang yang baru saja kemarin kumaki-maki di depan kantornya sendiri.
Ratih menatapku dengan mata yang sudah mengerti sebelum aku mengatakannya. "Jangan bilang padaku bahwa kau sedang memikirkan apa yang sedang kupikirkan."
"Aku sedang memikirkan apa yang sedang kau pikirkan," jawabku, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku meminta bantuan Javar untuk hal yang benar-benar besar—dan aku tidak tahu apakah ia akan mengatakan iya, mengingat aku adalah orang yang baru saja kemarin memakinya di depan kantornya sendiri.