28 OKTOBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Aku menatap nomornya di layar ponselku selama tiga menit penuh sebelum menekan tombol panggil. Tiga menit untuk meyakinkan diriku bahwa ini bukan tentang Javar—ini tentang pekerjaan, tentang acara, tentang ratusan tamu yang akan datang besok dan pembawa acara yang tidak ada. Tiga menit yang sia-sia, karena tentu saja ini juga tentang Javar. Semua hal akhir-akhir ini selalu tentang Javar.
Ratih berdiri di sampingku dengan ekspresi penonton bioskop yang menunggu adegan klimaks. "Telepon saja. Paling dia bilang tidak. Kalau dia bilang tidak, kita cari orang lain. Kalau dia bilang iya—" dia berhenti dengan senyum yang lebar, "—kita menang."
"Kalau dia bilang iya, aku berhutang padanya," jawabku.
"Kau selalu berhutang padanya, Lovi. Itu bukan hutang. Itu tabungan cinta. Beda tipis, tapi beda."
Aku tidak menjawabnya, karena menjawabnya berarti mengakui bahwa kalimat itu masuk akal, dan aku tidak akan memberinya kepuasan itu.
Aku berjalan ke sudut lokasi yang lebih sepi—sudut di belakang panggung, di mana kabel-kabel berserakan dan kursi-kursi kosong berbaris seperti penonton yang belum datang—dan aku menatap nomornya di layar ponselku sekali lagi. Bukan karena aku ragu dia akan membantu. Tapi karena meminta bantuannya berarti membuka pintu yang sudah kucoba tutup sejak ia kembali—pintu yang akan membawanya masuk lebih dalam ke dalam hidupku, ke dalam pekerjaanku, ke dalam hari-hari yang sudah kujaga jaraknya dengan hati-hati.
Dan kemudian aku menekan tombol panggil itu, sebelum otakku menemukan alasan baru untuk tidak menekannya.
Satu dering. Dua dering. Tiga—
"Halo, Lovia." Suaranya langsung terdengar. Tidak ada "halo siapa", tidak ada jeda. Dia menyimpan nomorku dengan namaku, dan entah mengapa hal kecil itu terasa seperti hal yang sangat besar.
Aku menutup mataku sebentar. Tarik napas. Keluarkan. Ini hanya tentang pekerjaan. Ini hanya tentang acara. Ini bukan tentang aku yang meneleponnya dengan tangan yang sedikit gemetar di tengah lokasi acara yang sepi.
"Javar, aku butuh bantuanmu," ucapku langsung, tidak berbasa-basi, karena berbasa-basi akan membuatku kehilangan keberanian di tengah jalan. "Acara kantorku besok. Pembawa acara kami—" aku tidak melanjutkan kalimatnya, karena tidak sopan untuk mengatakan bahwa pembawa acara yang sudah dijadwalkan tiba-tiba tidak bisa dan penggantinya juga tidak bisa dan sekarang aku memintanya. "Aku butuh pembawa acara. Korporat. Besok. Dan aku tidak tahu harus meminta siapa lagi."
Hening sebentar di seberang sana. Hening yang membuatku menggigit bibirku dan menahan napasku dan menyiapkan diriku untuk penolakan yang sopan.
Aku sudah menyiapkan jawaban untuk penolakan itu juga—jawaban yang akan membuat semuanya baik-baik saja, yang akan mengatakan "tidak apa-apa, aku mengerti", yang akan menutup telepon dengan harga diri yang utuh. Karena penolakan dari Javar setelah delapan tahun tidak seharusnya lebih menyakitkan dari penolakan mana pun. Tidak seharusnya. Tapi entah bagaimana, seharusnya itu berdiri di sudut yang berbeda dari yang seharusnya lainnya.
"Jam berapa?" tanyanya.
Aku hampir menjatuhkan ponselku. "Jam sembilan pagi. Di lokasi yang sama dengan gladi hari ini. Aku bisa kirimkan rundown dan catatan lengkapnya malam ini juga. Javar, aku tahu ini mendadak, dan aku tahu aku tidak punya hak untuk meminta, tapi—"
"Lovia," potongnya, dan suaranya tenang, terlalu tenang untuk orang yang baru saja diminta untuk menjadi pembawa acara korporat dalam waktu kurang dari dua puluh empat jam. "Kirimkan rundownnya. Aku akan datang jam tujuh untuk persiapan. Dan berhenti meminta maaf sebelum aku menjawab. Itu kebiasaan burukmu sejak dulu."
Aku tertawa—tawa kecil yang lepas, tawa yang lega, tawa yang sudah berhari-hari tidak keluar. "Terima kasih. Javar, terima kasih banyak."
"Jangan berterima kasih dulu. Kau belum melihatku gagal di atas panggung," jawabnya, dan aku bisa mendengar senyumnya di suaranya. "Tapi satu syarat."
Apa pun. Aku akan melakukan apa pun. "Apa syaratnya?"
"Kau hadir saat makan malam dengan orang tuaku minggu depan. Sebagai Lovia. Bukan sebagai teman, bukan sebagai rekan kerja, bukan sebagai siapa-siapa. Sebagai Lovia yang pernah kukenal dan masih kukenal. Kau mau?"
Jantungku berhenti untuk sesaat. Makan malam dengan orang tuanya. Delapan tahun yang lalu, aku tidak pernah sampai ke meja makan itu—perpisahan kami datang sebelum itu, dan meja itu tidak pernah terjadi. Sekarang dia menawarkannya lagi, delapan tahun terlambat, dengan syarat yang bukan syarat sama sekali.
"Aku mau," jawabku, sebelum otakku sempat berdebat dengan hatiku. "Aku akan datang."
"Bagus. Sekarang kirim rundownnya dan tidurlah. Kantung matamu butuh istirahat lebih dari kau butuh apapun di dunia ini," ucapnya, dan dia menutup teleponnya dengan tawa kecil di ujungnya, dan aku berdiri di tengah lokasi acara dengan ponsel di tangan dan wajah yang tersenyum seperti orang bodoh.
Orang bodoh yang bahagia. Orang bodoh yang baru saja dijanjikan dua hal sekaligus dalam satu telepon: pembawa acara untuk acara terbesar dalam kariernya, dan meja makan yang sudah ia tunggu selama delapan tahun tanpa pernah berani mengakuinya.
Ratih muncul dari entah di mana—dia selalu muncul dari entah di mana pada saat-saat seperti ini—dengan mata yang sudah membaca semuanya dari wajahku. "Dia bilang iya."
"Dia bilang iya," jawabku.
"Dan kau bilang apa?"
"Aku bilang... aku akan makan malam dengan orang tuanya minggu depan."
Ratih membuat suara seperti ketel yang mendidih—suara melengking yang seharusnya tidak keluar dari manusia—dan menangkap kedua bahuku dengan tangan yang gemetar karena kegembiraan. "LOVIA SARADIKA. KAU AKAN MAKAN MALAM DENGAN ORANG TUANYA. ITU BUKAN KENCAN, ITU LAMARAN VERSI HALUS."
"Ini bukan lamaran, Ratih. Ini makan malam. Orang-orang makan malam setiap hari," jawabku, mencoba melepaskan tangannya tanpa berhasil.
"Orang-orang tidak makan malam dengan orang tua mantan setelah delapan tahun pisah, Lovia. Itu tidak termasuk kategori 'setiap hari'. Itu termasuk kategori 'sekali seumur hidup'. Dan kau—" dia menunjukku dengan jari yang bergetar, "—kau bilang iya. TANPA BERPIKIR. AKU MENDENGARNYA DARI LORONG."
Aku tidak bisa membantahnya. Aku memang bilang iya tanpa berpikir. Dan yang lebih menakutkan dari itu: aku tidak menyesalinya sedikit pun.
Malam itu, setelah mengirim rundown dan catatan lengkapnya ke Javar, aku berbaring di tempat tidurku dan tidak bisa tidur—lagi. Tapi kali ini bukan karena rasa bersalah. Kali ini karena sesuatu yang lebih rumit: rasa deg-degan yang tidak masuk akal tentang besok, tentang Javar di atas panggung itu, tentang acara yang entah bagaimana akan berjalan dengan pria itu di tengah-tengahnya.
Aku membalikkan badan dan menatap jam dinding yang berdetak dengan tidak sopan. Jam satu lewat dua belas menit. Besok jam sembilan, acara itu dimulai. Besok jam sembilan, Javar akan berdiri di atas panggung itu. Dan besok jam tujuh—dua jam lebih awal dari itu—dia sudah akan ada di sana untuk persiapan. Dia bilang begitu. Dia sudah berkomitmen untuk itu. Dan komitmen itu, dari Javar, selalu berarti sesuatu.
Dan tentang makan malam minggu depan. Tentang meja makan yang tidak pernah terjadi delapan tahun yang lalu. Tentang orang tuanya yang tidak pernah sempat kukenal. Tentang apa artinya semua ini, dan apakah aku sudah siap untuk jawaban-jawaban yang akan datang dengan semuanya.
Aku menatap langit-langit kamarku dan mengakui satu hal kepada diriku sendiri—hal yang sudah berhari-hari mencoba tidak kuakui: aku sudah jatuh lagi. Ke tempat yang sama. Dengan orang yang sama. Delapan tahun kemudian, dengan cara yang sama persis.
Dan kali ini, aku tidak tahu apakah aku ingin melawannya.