29 OKTOBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Aku tiba di lokasi acara jam enam kurang sepuluh menit, dengan dua gelas kopi di sistem tubuhku dan rundown yang sudah kusorot sampai hampir tidak terbaca lagi. Balon gate sudah terpasang. Sound system sudah hangat. Langit sudah memutuskan untuk tidak hujan—keputusan yang sangat kuhargai dari langit hari ini.
Jam tujuh kurang dua menit, sebuah mobil berhenti di depan lokasi, dan Javar keluar dari dalamnya dengan jas yang rapi, dengan map kulit di tangannya, dengan wajah yang sudah menjadi wajah pembawa acara—wajah yang sudah kukenal sejak aula kampus, wajah orang yang sudah memutuskan bahwa hari ini akan berjalan dengan baik.
Aku memperhatikannya dari kejauhan untuk beberapa detik sebelum menyapanya—kebiasaan buruk yang sudah menjadi kebiasaan baik belakangan ini. Dia berjalan dengan langkah yang tidak tergesa-gesa tapi tidak lambat, langkah orang yang sudah menghitung waktunya dengan sempurna. Dan ketika matanya menemukanku di antara para pekerja yang sibuk, senyumnya berubah—lebih lembut, lebih pribadi, lebih seperti senyum yang disimpan untuk satu orang saja.
"Kau datang jam tujuh kurang dua menit," ucapku saat dia mendekat.
"Aku selalu datang dua menit lebih awal dari janjiku," jawabnya, tersenyum. "Kebiasaan yang kubawa dari dulu. Ada yang tidak berubah, kau tahu."
Dia meletakkan map kulitnya di meja persiapan dan membukanya dengan gerakan yang sudah dilatih—rundown yang sudah dipenuhi catatan-catatan kecil di pinggirnya, rundown yang sudah ia pelajari semalam lebih dari yang kuminta. Aku melirik catatan-catatan itu dan merasakan sesuatu yang hangat di dadaku: dia tidak hanya bilang iya. Dia sudah mempersiapkan dirinya seperti ini adalah acara miliknya sendiri.
Dua jam berikutnya adalah dua jam yang akan kuingat selamanya tentang Javar Adiwangsa. Dia tidak hanya membaca rundownnya—dia membedahnya. Dia bertanya tentang setiap tamu VIP, setiap segmen, setiap jeda, setiap kemungkinan yang bisa salah. Dia berbicara dengan tim sound seperti dia sudah bekerja dengan mereka bertahun-tahun. Dia mengubah dua segmen yang menurutnya akan membuat tamu bosan, dan ketika Pak Bos datang dan mendengar perubahannya, Pak Bos menyetujuinya tanpa satu kata pun.
Yang juga kuingat dari dua jam itu: bagaimana tim kami berhenti memandangnya sebagai "orang luar" dan mulai memandangnya sebagai bagian dari tim. Dia tidak memerintah. Dia bertanya—dan bertanya dengan cara yang membuat orang merasa penting, bukan diinterogasi. Aku memperhatikan cara para teknisi muda menjawabnya dengan lebih banyak detail dari yang biasa mereka berikan, dan aku memahami bahwa Javar memiliki sesuatu yang tidak bisa diajarkan: kemampuan untuk membuat orang ingin bekerja dengan baik di hadapannya.
Di sela-sela persiapan itu, aku membawakannya kopi—kopi ketiga untukku, kopi pertama untuknya—dan dia menerimanya dengan senyum yang lelah tapi hangat. "Kau juga tidak tidur semalam," ucapnya, melirik kantung mataku yang sudah tidak bisa diselamatkan oleh concealer mana pun.
"Aku tidur dua jam," jawabku.
"Itu bukan tidur. Itu berbaring sambil berpura-pura tidur," jawabnya, dan dia meminum kopinya, dan kami berdiri di sisi panggung itu bersama untuk beberapa detik—di tengah semua kesibukan, di tengah semua orang yang berlari ke segala arah—dan untuk beberapa detik itu, tidak ada acara, tidak ada pekerjaan, tidak ada apa pun selain kami berdua dan kopi yang panas dan pagi yang baru saja dimulai.
Pak Bos menatap Javar lama, lalu menatapku, lalu kembali menatap Javar. "Kau yang Lovia rekomendasikan?"
"Javar Adiwangsa, Pak Bos. Senang bisa membantu," jawab Javar dengan jabat tangan yang mantap.
Pak Bos mengangguk pelan. "Kau teman baik dari ayahmu," ucapnya, dan Javar tidak menjawab dengan kata-kata—hanya dengan senyum kecil yang sopan—dan aku berdiri di samping mereka dengan kepala yang penuh dengan satu pertanyaan yang tidak bisa kujawab: Pak Bos kenal dengan ayah Javar. Tentu saja dia kenal. Pak Bos kenal dengan semua orang di dunia ini, rupanya.
Jam sembilan, acara dimulai. Dan Javar—astaga, Javar—berdiri di atas panggung itu seperti panggung itu memang dibangun untuknya. Suaranya mengisi lokasi tanpa mikrofon yang berlebihan, tanpa nada yang dibuat-buat, tanpa satu detik pun yang membuat tamu melirik jam mereka. Dia membuat Pak Bos tertawa dua kali. Dia membuat para tamu VIP berdiri dan bertepuk tangan untuk pemotongan pita dengan antusiasme yang tidak biasa untuk acara peluncuran produk minuman.
Aku menatapnya dari sisi panggung dan untuk sesaat aku kembali ke aula kampus—bertahun-tahun yang lalu, mahasiswa-mahasiswa yang berteriak-teriak, Javar muda dengan mikrofon di tangannya, suara yang bisa membuat ratusan orang diam mendengarkan. Tidak ada yang berubah dari suaranya. Tidak ada yang berubah dari caranya memegang ruangan. Yang berubah hanya ruangannya—dari aula kampus ke lapangan acara ini, dari mahasiswa yang berteriak ke tamu korporat yang berdasi, dari aku yang duduk di barisan belakang ke aku yang berdiri di sisi panggung dengan jantung yang sama seperti dulu.
Aku berdiri di sisi panggung dengan jantung yang tidak bisa diatur. Ratih berdiri di sampingku dengan mulut yang sedikit terbuka. "Lovi," bisiknya, "Mas Javar itu... dia bukan pembawa acara. Dia pertunjukan."
"Dia memang selalu begitu," jawabku, tanpa bisa menyembunyikan nada bangga di suaraku—nada yang seharusnya tidak ada, yang tidak berhak kumiliki, yang keluar tanpa izin.
Acara itu berakhir jam sebelas lebih sepuluh menit—tepat sesuai jadwal, tidak lebih, tidak kurang. Pak Bos menepuk bahu Javar di akhir acara dan mengatakan sesuatu yang tidak bisa kudengar dari kejauhan, tapi Javar mengangguk, dan mereka berjabat tangan lagi, dan kali ini jabat tangannya lebih lama.
Di belakang panggung, tim kami bertemu dengan mata yang berbinar dan tangan-tangan yang tidak bisa berhenti bersorak pelan-pelan—sorakan yang ditahan, sorakan orang-orang yang sudah menang tapi belum diizinkan untuk merayakannya dengan keras. Pak Bos berdiri di dekat pintu keluar VIP dan berbicara dengan para tamu yang pergi dengan wajah yang tidak pernah kulihat sebelumnya di acara-acara sebelumnya: wajah yang puas. Dan aku tahu, tanpa ada yang memberi tahu, bahwa acara ini sudah masuk ke dalam buku catatan baiknya—buku yang sangat sulit untuk dimasuki.
Dan kemudian Javar menemukan mataku dari seberang lapangan, di antara ratusan orang, dan dia tersenyum—senyum yang kecil, senyum yang hanya untukku, senyum yang mengatakan "sudah kuselesaikan bagian kita"—dan aku tersenyum balik, tanpa bisa berhenti, tanpa ingin berhenti.
Ratih menyikut lenganku. "Jangan senyum-senyum di depan tamu VIP. Nanti mereka mengira banner-nya bagus."
"Aku tidak senyum-senyum," jawabku, masih tersenyum.
"Kau senyum-senyum. Aku menghitungnya. Empat menit terakhir tanpa berhenti," jawabnya, dan dia benar, seperti biasanya, dan menyebalkan, seperti biasanya.