29 OKTOBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Acara itu selesai dengan semua orang lelah dengan cara yang bahagia. Tim kami berdiri di tengah lokasi yang mulai kosong, menatap sisa-sisa acara dengan mata yang lelah tapi puas—kursi-kursi yang sudah kosong, balon gate yang mulai mengempis, panggung yang sudah selesai dengan tugasnya. Pak Bos mengumpulkan kami semua sebelum membubarkan, dan dia mengatakan satu kalimat yang akan diingat oleh seisi tim sampai bertahun-tahun:
"Ini acara terbaik yang pernah kalian kerjakan. Dan aku menuliskannya di catatan evaluasi kalian tahun ini."
Kami tidak bersorak. Kami terlalu lelah untuk bersorak. Tapi ada rasa hangat yang mengalir di antara kami semua—rasa hangat orang-orang yang sudah bekerja berminggu-minggu dan akhirnya mendapatkan kata "terbaik" dari mulut yang paling sulit di dunia untuk mengatakannya.
Dan kemudian, saat semua orang sudah pergi dan lokasi sudah hampir kosong, aku membuka laci mejaku di kantor—kami kembali ke kantor untuk membereskan laporan akhir—dan menatap amplop itu. Amplop yang sudah menunggu enam hari. Amplop dengan segel lilin kecil di ujungnya. Amplop dari Pak Bos yang hanya boleh dibuka setelah acara.
Tanganku gemetar saat membuka segelnya.
Di dalamnya ada satu lembar kertas. Satu lembar, terlipat dua, dengan kop surat resmi perusahaan di atasnya. Aku membukanya dengan jantung yang berdebar lebih keras dari saat aku maju presentasi kemarin.
"SURAT PERJANJIAN PENAWARAN POSISI," baca judulnya di atas. Dan di bawahnya, dengan huruf-huruf yang jelas dan resmi: "Dengan hormat, kami mengajukan penawaran posisi: Kepala Tim Promosi Produk, efektif per 1 November 2020."
Ada lampiran di bawahnya juga—satu halaman lagi, dengan tulisan tangan Pak Bos di pinggirnya: "Lovia, acara hari ini adalah konfirmasi, bukan penilaian. Kau sudah dinilai sejak lama, dan kau sudah lulus. Sampai jumpa di hari pertama kerja barumu. —PB."
Aku membaca tulisan tangan itu lebih lama dari surat resminya. Konfirmasi, bukan penilaian. Acara yang sudah kusiapkan berminggu-minggu dengan air mata dan kopi instan itu bukan ujian—itu adalah perayaan yang sudah direncanakan untuk hal ini. Pak Bos sudah mengetahuinya sejak awal. Pak Bos sudah mengetahuinya sejak sebelum aku tahu bahwa aku sedang dinilai.
Aku membaca kalimat itu tiga kali. Empat kali. Lima kali. Kepala Tim. Promosi. Setelah semua yang terjadi, setelah banner yang dihujat, setelah gladi bersih, setelah acara hari ini—Pak Bos sudah memutuskan ini sejak lama, sejak sebelum aku tahu, sejak amplop itu diletakkan di lacinya.
Tanggal surat itu. Aku menatapnya lagi. Tanggal suratnya seminggu yang lalu—sebelum acara, sebelum gladi bersih, sebelum banner yang dihujat. Pak Bos sudah menuliskan tawaran ini sebelum dia menyemprotku habis-habisan di presentasi itu. Dia sudah memutuskan untuk mempromosikanku bahkan saat dia sedang menghukumku dengan kata-kata pedasnya. Dan itu—itu adalah hal yang paling Pak Bos dari semua hal yang pernah dilakukan Pak Bos: menilai orang dengan tangan kanan, menghukum orang dengan tangan kiri, dan tidak pernah mencampur keduanya.
Ratih menemukanku di depan laci terbuka dengan kertas itu di tanganku dan wajah yang tidak bisa bergerak. "Lovi. Lovi, kau kenapa?"
Aku menyerahkan kertas itu kepadanya tanpa suara. Dia membacanya, dan matanya membesar sampai aku takut matanya akan keluar dari wajahnya. "KEPALA TIM. LOVIA. KAU—" dia berhenti, menutup mulutnya dengan tangan, lalu berbisik dengan suara yang lebih keras dari berteriak, "—KAU JADI BOSKU."
"Aku belum menandatanganinya," jawabku akhirnya, dan suaraku terdengar seperti suara orang lain.
"KAU BELUM MENANDATANGANINYA?" ulangnya dengan nada yang tidak bisa dipercaya oleh siapa pun di planet ini. "Lovia Saradika, tandatangani itu sekarang sebelum aku yang menandatanganinya untukmu. Aku tidak peduli dengan formalitas. Aku akan mencuri penamu kalau perlu."
Dia benar-benar mengambil pena dari mejaku dan menyodorkannya kepadaku dengan gerakan yang tidak bisa dibantah, dan aku memegang pena itu di tanganku, dan aku menatap surat itu lagi—surat penawaran yang sudah menunggu enam hari di laci, yang sudah diputuskan sejak seminggu yang lalu, yang sekarang hanya butuh tanda tanganku untuk menjadi nyata.
Aku tertawa—tawa yang lepas, tawa yang gugup, tawa yang masih tidak percaya—dan aku duduk di kursiku dengan surat penawaran itu di hadapanku, dengan pena yang sudah ada di tanganku tanpa aku sadari kapan aku mengambilnya, dengan satu keputusan yang seharusnya sulit tapi tidak sulit sama sekali.
Aku menatap tanggal efektifnya: 1 November 2020. Dua hari lagi. Dua hari untuk berubah dari anggota tim menjadi kepala tim, dari Lovia yang bekerja menjadi Lovia yang memimpin, dari gadis yang dimarahi Pak Bos di presentasi menjadi gadis yang ditawari posisi oleh Pak Bos yang sama. Hidup bergerak cepat dengan cara-cara yang tidak pernah bisa kau prediksi.
Aku menandatanganinya.
Ratih mengangkat tangannya untuk tos, dan aku mengangkat tanganku, dan tangan kami bertemu dengan suara yang keras di kantor yang sudah sepi—suara yang mengatakan bahwa sesuatu yang baik sudah terjadi, sesuatu yang sudah lama, sesuatu yang pantas.
Setelah tos itu, Ratih tidak segera melepaskan tanganku. Dia menggenggamnya sejenak dan menatapku dengan wajah yang untuk pertama kalinya hari itu tidak bercanda. "Kau pantas mendapatkannya, Lovi. Aku sudah melihat kau bekerja selama dua tahun, dan aku tidak pernah melihat orang yang lebih pantas. Itu bukan kata-kata manis. Itu fakta."
Aku tidak menjawabnya, karena menjawabnya akan membuatku menangis di kantor, dan kepala tim yang menangis di hari pertamanya sebagai kepala tim adalah kepala tim yang buruk. Tapi aku menggenggam tangannya kembali, lebih erat dari tos mana pun, dan dia mengerti.
"Selamat, Kepala Tim Lovia Saradika," ucapnya dengan senyum yang lebar.
"Jangan memanggilku begitu. Kedengarannya tua," jawabku, masih tertawa, masih tidak percaya, masih dengan tangan yang gemetar.
"Kepala Tim Lovia Saradika yang tua," koreksinya, dan aku melemparinya dengan kertas tisu, dan dia tertawa, dan aku tertawa, dan hari itu—hari yang dimulai dengan dua gelas kopi dan rundown yang kusorot habis—berakhir sebagai hari terbaik dalam hidup profesionalku sejauh ini.
Malam itu, aku pulang dengan surat penawaran yang sudah kutandatangani di tasku, dan aku meletakkannya di meja makan rumahku dan menatapnya lama—surat yang akan mengubah banyak hal dalam hidupku, surat yang datang di tengah-tengah semua hal lain yang juga sedang berubah. Promosi di satu tangan, Javar di tangan yang lain, dan aku di tengah-tengahnya, mencoba untuk tidak jatuh dari semua arah sekaligus.
Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, aku tidak merasa seperti sedang jatuh. Aku merasa seperti sedang dibangun—dengan hati-hati, dengan orang-orang yang tepat, dengan bahan-bahan yang sudah kupilih sendiri.