30 OKTOBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Hari pertama sebagai Kepala Tim dimulai dengan realisasi yang tidak menyenangkan: jadi bos itu ternyata tidak menyenangkan.
Bukan karena pekerjaannya—pekerjaannya sudah biasa kulakukan, hanya sekarang dengan tanggung jawab yang lebih besar—tapi karena orang-orangnya. Ada senior-senior yang sudah bekerja bertahun-tahun lebih lama dariku yang sekarang harus melapor kepadaku, gadis berusia dua puluh tujuh tahun dengan dua tahun pengalaman. Dan aku bisa merasakan tatapan-tatapan itu, tatapan yang menimbang, tatapan yang bertanya-tanya apakah promosi ini pantas atau tidak.
Pagi itu, di mejaku, sudah ada tiga map baru yang menunggu: laporan mingguan yang sekarang harus kutandatangani, jadwal meeting yang sudah berubah dengan namaku di baris penyelenggara, dan daftar anggota tim yang sekarang adalah timku. Timku. Aku membacanya dua kali, merasakan beratnya di tanganku, dan aku berdiri dari kursiku dan berkata kepada seisi ruangan—dengan suara yang lebih tegas dari yang kurasakan—"Selamat pagi semuanya. Mulai hari ini, aku kepala tim kalian. Aku tidak tahu segalanya, dan aku tidak akan berpura-pura tahu. Tapi aku tahu pekerjaan kita, dan aku tahu kita bisa mengerjakannya dengan baik. Mari bekerja."
Ada jeda kecil setelah kalimat itu—jeda yang menentukan segalanya—dan kemudian salah satu senior mengangguk dan kembali ke pekerjaannya, dan yang lain mengikutinya, dan ruangan itu mulai bergerak lagi. Bukan sambutan yang hangat, tapi bukan juga penolakan. Itu adalah kesempatan. Dan kesempatan adalah satu-satunya hal yang kuminta dari mereka hari ini.
Tidak ada tepuk tangan. Tapi ada anggukan-anggukan. Dan anggukan-anggukan itu, dari senior-senior yang menatapku dengan tatapan menimbang itu, adalah anggukan yang lebih berharga dari tepuk tangan mana pun.
Mbak Inggrid kembali bekerja hari itu, dan dia datang ke mejaku dengan wajah yang tidak bisa kubaca. Aku berdiri, siap untuk menjelaskan, siap untuk membela diri, siap untuk apa pun—tapi Mbak Inggrid hanya mengulurkan tangannya.
"Selamat, Lovia. Kamu pantas mendapatkannya," ucapnya, dan tangannya mantap di tanganku, dan matanya tulus.
"Mbak Inggrid, aku tidak—" aku tidak tahu bagaimana menyelesaikan kalimat itu. Aku tidak mencuri posisimu? Aku tidak meminta ini?
"Jangan mulai," potongnya, tersenyum. "Aku yang mengajukanmu ke Pak Bos. Enam bulan yang lalu. Promosi ini tidak datang dari langit, Lovia. Ini datang dari catatan kerjamu selama dua tahun, dan aku yang menuliskan sebagian besar catatan itu."
Aku menatapnya dengan mulut yang tidak bisa bergerak. Mbak Inggrid. Mbak Inggrid yang namanya sudah dua kali kucemar dalam sehari kemarin. Mbak Inggrid yang sudah mengajukan promosi untukku enam bulan yang lalu, tanpa pernah mengatakannya, tanpa pernah meminta apa pun.
Aku memikirkan semua kali aku mengeluh tentang pekerjaan-pekerjaan yang diberikannya, semua kali aku menganggapnya sebagai bos yang hanya memberi beban, semua kali aku tidak melihat bahwa beban-beban itu adalah kepercayaan yang berbentuk pekerjaan. Mbak Inggrid tidak pernah membebaniku. Mbak Inggrid sedang mempersiapkanku, dengan caranya sendiri, dengan catatan-catatan yang tidak pernah ia bicarakan.
"Kenapa Mbak tidak pernah bilang?" tanyaku akhirnya, dengan suara yang lebih kecil dari yang kumaksudkan.
"Karena kalau aku bilang, kau akan menolak. Kau selalu menolak hal-hal yang baik untukmu, Lovia. Itu kebiasaanmu sejak dulu," jawabnya, dan dia menepuk bahuku, dan dia kembali ke mejanya seperti tidak pernah mengatakan apa-apa.
Aku berdiri di sana beberapa detik setelah dia pergi, dengan kata-kata itu tinggal di kepalaku seperti batu yang hangat. Kau selalu menolak hal-hal yang baik untukmu. Aku memikirkan promosi yang hampir tidak kutandatangani. Aku memikirkan Javar yang sudah bertahun-tahun mencoba untuk baik untukku dan aku yang terus menutup pintu. Mbak Inggrid benar, tentu saja, dan menyebalkan, tentu saja, seperti semua orang yang benar tentang hal-hal yang tidak ingin kudengar. Dan aku berjanji pada diriku sendiri, di lorong yang sepi itu, untuk berhenti menolak—mulai hari ini, mulai dari hal-hal kecil, mulai dari orang-orang yang sudah lama menunggu untuk diterima. Mulai dari Javar, kalau aku cukup berani. Dan aku mulai merasa berani, akhir-akhir ini.
Sore itu, aku mengirimkan pesan kepada dua orang. Pertama kepada ibuku—karena kabar seperti ini harus sampai ke Bunda sebelum sampai ke mana pun—dan kedua, setelah berhenti sejenak dengan jari menggantung di atas keyboard, kepada Javar.
Sebelum mengirim pesan kepada Javar, aku menatap layar ponselku untuk waktu yang lama, menimbang kata-kata yang tepat. Terlalu formal akan terasa aneh setelah semua yang terjadi. Terlalu santai akan terasa seperti tidak menghargai keseriusan promosi itu. Pada akhirnya aku menulis sederhana: "Aku baru dipromosikan menjadi kepala tim. Hari ini. Aku ingin kau tahu, karena kau yang pertama kali bilang aku bisa."
Balasan dari Bunda datang dengan serangkaian emoji dan suara panggilan yang tidak bisa kutangkap dengan baik karena Bunda berbicara terlalu cepat saking senangnya. Balasan dari Javar datang lebih sederhana: "Sudah kuduga. Orang-orang yang bekerja seperti kau tidak bisa tersembunyi selamanya. Selamat, Kepala Tim Lovia. Sampai jumpa minggu depan—di meja makan."
Aku mengetik balasan untuknya. Menghapusnya. Mengetiknya lagi. Dan akhirnya mengirimkan: "Terima kasih. Untuk hari ini juga. Untuk acara kemarin. Untuk semuanya." Terlalu pendek untuk semua yang ingin kukatakan, tapi cukup untuk malam itu. Balasannya datang beberapa menit kemudian: "Berhenti berterima kasih. Itu juga kebiasaan burukmu. Tidur, Kepala Tim. Besok adalah hari pertamamu." Dan aku tersenyum kepada ponselku seperti orang bodoh, di meja kerjaku yang sekarang adalah meja kepala tim.
Di meja makan. Minggu depan. Orang tuanya.
Aku menatap pesan itu dengan perasaan yang campur aduk—kegembiraan tentang promosi yang masih segar, dan kegugupan tentang makan malam yang sudah semakin dekat. Dua hal yang sangat berbeda, dalam hari yang sama, dari dua arah yang sama sekali berbeda dalam hidupku.
Ratih muncul di samping mejaku dengan kopi—selalu dengan kopi, selalu pada waktu yang tepat—dan menatap layar ponselku tanpa permisi seperti biasanya. "Minggu depan. Meja makan. Sudah memilih baju?"
"Ratih, ini hari pertama aku sebagai kepala tim. Ada seribu hal yang harus kupikirkan sebelum baju," jawabku, dan itu bohong, dan kami berdua tahu itu bohong.
"Kepala tim yang memakai baju yang salah di makan malam pertama dengan calon mertua adalah kepala tim yang buruk," jawabnya sok serius. "Prioritas, Lovi. Prioritas."
Aku tidak menjawabnya, tapi malam itu, di rumah, aku membuka lemari pakaianku dan menatapnya dengan perasaan yang tidak bisa kujelaskan—perasaan seperti sedang memilih senjata untuk pertempuran yang tidak kuinginkan tapi tidak bisa kuhindari. Dan aku membenci bahwa Ratih benar tentang satu hal: aku memikirkan baju itu jauh lebih lama dari yang seharusnya.