05 NOVEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Minggu itu berjalan dengan kecepatan yang tidak adil. Hari-hari kerja berjalan lambat—setiap jam terasa seperti tiga jam, setiap meeting terasa seperti seumur hidup—tapi malam-malamnya berjalan cepat, dan setiap malam membawa meja makan itu semakin dekat dengan kecepatan yang membuatku ingin menghentikan waktu.
Menjadi kepala tim juga berarti hari-hari yang lebih penuh. Rapat dengan Pak Bos yang sekarang mengharapkan jawaban dariku, bukan dari Mbak Inggrid. Keputusan-keputusan kecil yang dulu diambil orang lain dan sekarang berhenti di mejaku. Dan aku belajar dengan cepat bahwa rahasia menjadi bos yang tidak dibenci adalah bertanya lebih banyak daripada memerintah—bertanya pada senior-seniorku apa pendapat mereka, dan kemudian memutuskan dengan tegas setelah mendengar. Mereka menghargainya. Aku bisa melihatnya dari cara mereka mulai datang ke mejaku dengan pertanyaan, bukan hanya dengan laporan.
Ratih dan aku menghabiskan Sabtu untuk berbelanja—karena menurutnya, dan sayangnya menurutku juga setelah dua jam berdebat, baju yang kumiliki tidak ada yang cukup untuk "makan malam dengan orang tua calon suami setelah delapan tahun berpisah". Itu kategori yang sangat spesifik, dan lemari pakaianku tidak dirancang untuk kategori spesifik seperti itu.
Sebelum berbelanja, aku sudah mencoba setiap baju di lemariku—empat belas baju, empat belas penolakan. Yang ini terlalu resmi. Yang itu terlalu santai. Yang ini terlalu tua. Yang itu terlalu muda. Yang ini membuatku terlihat seperti sedang melamar pekerjaan. Yang itu membuatku terlihat seperti sedang tidak peduli. Empat belas baju, dan tidak ada satu pun yang berkata "ini aku". Ratih menemukanku di lantai kamar, dikelilingi oleh pakaian yang berserakan seperti medan perang kain, dan dia tidak mengatakan apa-apa selain: "Aku akan mengambil dompetku."
"Ini," ucapnya, mengangkat sebuah dress berwarna biru gelap dengan potongan sederhana yang elegan. "Bukan terlalu resmi, bukan terlalu santai. Orang tua akan melihatmu dan berpikir: perempuan ini menghormati kami tanpa berusaha terlalu keras. Itu yang kita mau."
"Kita mau aku tidak terlihat seperti sedang melamar pekerjaan sebagai menantu?" tanyaku sambil memegang dress itu di depan cermin.
"Kita mau kau terlihat seperti Lovia yang pantas untuk Javar mereka. Itu semua. Tidak lebih, tidak kurang," jawabnya, dan untuk sesaat, Ratih berhenti bercanda, dan wajahnya menjadi wajah sahabat yang sebenarnya. "Lovi, kau akan baik-baik saja. Orang tua akan menyukaimu. Tidak ada yang tidak suka padamu. Kau menyebalkan, tapi dengan cara yang menyenangkan."
"Itu seharusnya pujian?" tanyaku.
"Itu pujian tertinggi yang bisa kuberikan," jawabnya, kembali bercanda, dan aku membeli dress itu, dan kami pulang dengan dua kantong belanjaan dan satu perasaan yang tidak bisa dibeli di toko mana pun: persiapan yang sudah selesai, setidaknya di bagian pakaian. Dan satu hal lagi yang tidak bisa dibeli: Ratih yang berdiri di lorong butik itu, menepuk bahuku sebelum kami pergi, tanpa berkata apa-apa—tepukan yang mengatakan semuanya tanpa perlu kata-kata.
Di perjalanan pulang dari butik, Ratih tidak melepaskan topiknya. "Sepatu. Kau sudah memilih sepatu?"
"Sepatu yang biasa kupakai."
"Sepatu yang biasa kau pakai ke mana? Ke kantor atau ke tempat tidur?" Dia menatapku dari kursi penumpang dengan ekspresi yang menilai. "Bawa dua pasang. Sepatu yang rapi untuk masuk, dan sandal yang nyaman untuk pulang—kalau-kalau kau ingin tinggal lebih lama dari yang kau rencanakan. Orang-orang yang meninggalkan makan malam seperti ini lebih awal selalu menyesal."
Aku tidak menjawabnya, tapi aku membawa dua pasang sepatu, dan dia tahu aku akan membawa dua pasang sepatu sejak sebelum aku memutuskannya. Itulah Ratih: selalu tahu lebih dulu, selalu tidak mau mengakuinya.
Malam sebelum makan malam itu, Bunda menelepon. Bunda yang sudah tahu segalanya tanpa diberi tahu segalanya—Bunda yang punya radar khusus untuk hal-hal yang menyangkut kehidupan putrinya. Bunda yang selalu menelepon tepat pada saat aku paling membutuhkannya, dengan waktu yang tidak pernah bisa dijelaskan oleh siapa pun selain seorang ibu.
"Kau akan bertemu dengan orang tuanya besok," ucapnya. Bukan pertanyaan. Bunda tidak pernah bertanya tentang hal-hal yang sudah ia ketahui.
"Iya, Bunda."
"Kau gugup?"
"Aku tidak gugup."
"Lovia."
"Aku sangat gugup, Bunda."
Bunda tertawa pelan di seberang sana. "Bunda bertemu orang tua Ayahmu pertama kali di acara keluarga yang salah. Bunda datang dengan sepatu yang salah warna—satu hitam, satu cokelat. Dan Ayahmu memutuskan bahwa dia ingin menikahi Bunda di hari itu juga. Jadi kau tenang saja, Nak. Orang yang tepat tidak peduli dengan sepatu. Mereka hanya peduli dengan orangnya."
Aku memikirkan itu setelah telepon ditutup—tentang sepatu Bunda yang salah warna, tentang ayahku yang memutuskan di hari itu juga, tentang bagaimana hal-hal yang paling salah terkadang menjadi hal-hal yang paling benar. Delapan tahun yang lalu, aku pikir perpisahan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Sekarang aku mulai berpikir bahwa mungkin perpisahan itu adalah jalan panjang yang diperlukan untuk sampai ke meja makan besok.
Aku menatap langit-langit kamarku setelah telepon itu, dengan dress biru gelap yang sudah tergantung rapi di pintu lemari, dengan jantung yang sudah berhenti mencoba untuk tenang, dan aku memikirkan satu hal yang tidak bisa kutahan untuk tidak kupikirkan: delapan tahun yang lalu, Javar pergi tanpa penjelasan, dan meja makan itu tidak pernah terjadi. Sekarang meja makan itu akan terjadi—besok, dengan dress biru gelap, dengan orang tuanya, dengan semua yang sudah menunggu delapan tahun untuk terjadi.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak bertanya apakah aku pantas untuk itu. Aku hanya bertanya apakah aku sudah siap. Dan jawabannya—yang mengejutkanku sendiri—adalah iya.
Iya, dengan catatan kecil. Iya, dengan tangan yang masih sedikit dingin. Iya, dengan jantung yang masih berdebar lebih cepat dari yang seharusnya. Tapi iya—dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, "iya" itu tidak terasa seperti kebohongan yang kukatakan pada diriku sendiri untuk terlihat kuat. Itu terasa seperti kebenaran yang akhirnya kutemukan di tempat yang sudah lama kucari.
Aku tertidur malam itu dengan dress biru gelap yang masih tergantung di pintu lemari, dengan wajah yang lebih tenang dari yang kumiliki selama berminggu-minggu, dengan satu pikiran terakhir yang tidak bisa kutahan sebelum mataku tertutup: besok, di meja makan itu, ada orang-orang yang sudah menunggu selama delapan tahun untuk bertemu dengan seorang Lovia. Dan aku akan datang. Bukan sebagai Lovia yang dulu—Lovia yang lari—tapi sebagai Lovia yang sekarang. Yang sudah belajar untuk tidak menolak hal-hal yang baik untuknya.
Besok, akhirnya, adalah hari yang sudah kutunggu selama delapan tahun. Dan aku sudah siap untuknya. Hampir sepenuhnya.