06 NOVEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Javar menjemputku jam enam sore dengan mobil yang sudah dicuci—aku bisa tahu dari pantulan catnya yang mengilap, yang tidak pernah mengilap seperti itu sebelumnya—dan dia membuka pintu untukku dengan senyum yang tenang, tapi tangannya yang memegang gagang pintu sedikit lebih erat dari biasanya. Javar juga gugup. Itu membuatku merasa sedikit lebih baik tentang kegugupanku sendiri.
Perjalanan ke rumahnya tidak terlalu lama, tapi terasa seperti perjalanan yang sangat panjang. Kami tidak banyak bicara di mobil—kami berdua terlalu sibuk dengan pikiran kami masing-masing, dengan daftar-daftar di kepala kami tentang hal-hal yang bisa salah, dengan latihan-latihan kecil tentang jawaban-jawaban untuk pertanyaan-pertanyaan yang mungkin tidak akan pernah ditanyakan. Radio bermain pelan, lagu-lagu yang sama seperti kemarin, dan aku membiarkan lagu-lagu itu mengisi keheningan supaya keheningan itu tidak menjadi terlalu besar untuk dibawa.
"Kau cantik," ucapnya saat aku masuk.
"Kau juga cantik," jawabku refleks, sebelum otakku mengejar kalimat itu, dan dia tertawa—tawa yang melepaskan ketegangan di mobil itu seperti jendela yang dibuka di ruangan yang pengap.
Rumah orang tuanya berada di kompleks yang tenang, dengan halaman yang rapi dan lampu-lampu yang hangat. Di depan pintu, Javar berhenti sejenak sebelum menekan bel, dan ia menoleh kepadaku. "Ibuku sudah menanyakanmu sejak aku bilang kau akan datang. Ia sudah memasak sejak siang. Kau tidak perlu menjadi siapa pun selain dirimu sendiri."
"Dan kalau dirimu sendiri itu bukan orang yang mereka harapkan?" tanyaku, sebelum aku bisa menahannya.
Dia menatapku dengan tatapan yang tenang—tatapan yang selalu menjadi masalah terbesar dalam hidupku—dan berkata, "Maka mereka salah mengharapkan. Tapi mereka tidak akan salah. Percayalah padaku."
Pintu itu terbuka, dan seorang wanita dengan rambut yang dikepang rapi dan mata yang sama seperti mata Javar berdiri di sana dengan senyum yang lebar. "Lovia. Astaga, akhirnya. Masuk, masuk, jangan berdiri di luar."
Sebelum aku sempat menjawab, tangannya sudah di lenganku dan aku sudah ditarik masuk—ke rumah yang berbau masakan, ke lorong yang penuh foto-foto keluarga di dindingnya. Foto-foto Javar dari kecil sampai dewasa, dan di salah satunya—foto yang sudah kusam oleh waktu—Javar muda dengan rambut yang lebih pendek dan senyum yang lebih lebar, dan di sampingnya ada foto kelulusan dengan toga, dan di salah satu sudut bingkai itu, setengah tersembunyi, ada foto lain yang lebih kecil: Javar di aula kampus dengan mikrofon di tangannya, dengan mahasiswa-mahasiswa di belakangnya, dengan wajah yang sama seperti wajah yang kulihat di atas panggung kemarin.
Ibuku mengikuti arah pandangku dan tersenyum. "Itu foto kesukaan Ayahnya. Dia selalu bilang, anaknya lebih baik berbicara di depan orang daripada berbicara di depan cermin."
Dan aku masuk—ke rumah yang hangat, ke meja makan yang penuh dengan masakan rumahan yang berbau seperti masakan ibu di mana-mana, ke sebuah keluarga yang menyambutku seperti aku sudah lama menjadi bagian dari mereka.
Ayah Javar duduk di kepala meja dengan surat kabar yang sudah dilipat rapi di sampingnya—tanda bahwa ia sudah menunggu dan sudah berusaha untuk tidak terlihat menunggu. Ia mengangguk kepadaku dengan senyum yang lebih pendek dari senyum istrinya tapi tidak kalah tulus. "Jadi ini Lovia. Javar tidak pernah berhenti membicarakanmu."
"Ayah," ucap Javar dengan nada yang memperingatkan.
"Apa? Aku hanya berkata yang sebenarnya," jawab ayahnya, dan istrinya menepuk lengannya dengan handuk yang sudah ada di tangannya sejak dulu, dan meja itu tertawa—termasuk aku, yang tidak bisa berhenti tersenyum sejak pintu itu terbuka.
Aku duduk di kursi yang ditunjukkan oleh ibu Javar—kursi di samping Javar, berhadapan dengan kedua orang tuanya—dan aku meletakkan tanganku di pangkuanku dengan hati-hati, dengan napas yang sudah kuatur dengan hati-hati, dengan wajah yang sudah kulatih untuk tidak terlihat seperti orang yang sedang menjalani ujian terbesar dalam hidupnya. Tidak ada ujian di meja ini. Hanya ada keluarga. Hanya ada makanan. Hanya ada orang-orang yang sudah menunggu delapan tahun untuk duduk di sini bersama.
Makan malam itu berjalan dengan hangat dengan cara yang tidak pernah kubayangkan. Ibu Javar bercerita tentang Javar kecil yang keras kepala, tentang demo-demo di kampus yang dulu membuatnya khawatir setiap malam, tentang surat-surat yang ditulis Javar di tahun-tahun perpisahan itu—surat-surat yang tidak pernah dikirim, yang ditemukannya di laci mejanya, yang dibacanya tanpa izin karena seorang ibu selalu membaca tanpa izin.
Di sela-sela cerita-cerita itu, makanan terus mengalir—sayur asem yang asamnya pas, ayam bakar yang bumbunya meresap, sambal yang pedasnya membuatku berkeringat sedikit dengan cara yang menyenangkan. Aku makan lebih banyak dari yang kurencanakan, dan ibu Javar terlihat sangat senang dengan itu, dan aku berhenti mencoba untuk makan dengan sopan setelah piring kedua karena tidak ada gunanya berpura-pura di meja seperti ini.
"Ibu tidak seharusnya membaca surat-surat itu," ucap Javar, wajahnya sedikit merah.
"Ibu sangat seharusnya membaca surat-surat itu," jawab ibunya dengan tegas. "Karena dari surat-surat itu Ibu tahu bahwa anak Ibu tidak pernah berhenti mencintai seseorang. Dan sekarang seseorang itu ada di meja makan Ibu, dan Ibu tidak akan membiarkannya pergi lagi."
Meja itu tertawa, dan Javar menutup wajahnya dengan tangannya sebentar, dan ayahnya menepuk punggungnya dengan gerakan yang sudah sangat terlatih oleh bertahun-tahun menjadi ayah dari anak yang keras kepala. Aku memperhatikan mereka semua dan merasakan sesuatu yang hangat dan asing sekaligus: rumah yang seperti ini, rumah yang tertawa seperti ini, rumah yang membicarakan anak-anaknya dengan cinta yang tidak disembunyikan. Rumah yang sudah lama tidak kukenal, dan yang sudah lama kurindukan tanpa pernah kupikirkan bahwa aku merindukannya.
Aku menatap Javar dengan wajah yang sudah tidak bisa dikendalikan oleh siapa pun—wajah yang sudah terlalu banyak ditanya untuk dijawab—dan Javar menatapku balik dengan wajah yang sama merahnya, dan ayahnya tertawa di ujung meja, dan ibunya tersenyum seperti orang yang sudah memenangkan sesuatu yang sudah lama ia perjuangkan.
Delapan tahun. Meja makan ini menunggu delapan tahun. Dan aku duduk di sana, dengan dress biru gelap dan jantung yang penuh, memikirkan bahwa beberapa hal memang harus menunggu delapan tahun untuk menjadi benar.
Saat kami berpisah di pintu, ibu Javar memegang tanganku lebih lama dari yang diperlukan dan berkata dengan suara yang lebih pelan, "Datang lagi, Lovia. Tidak perlu undangan. Pintu ini tidak pernah tertutup untukmu." Dan aku mengangguk, dan aku tidak menangis, dan aku berjalan ke mobil Javar dengan wajah yang sudah tidak bisa menyembunyikan apa pun lagi.
Di dalam mobil, Javar tidak langsung menyalakan mesinnya. Dia duduk sebentar dengan tangan di setirnya, dan ia menatapku, dan ia berkata dengan senyum yang lelah dan bahagia sekaligus, "Mereka menyukaimu."
"Mereka menyukai masakan ibumu," jawabku, dan kami berdua tertawa, dan mesin itu akhirnya menyala, dan kami pulang dalam malam yang sudah tidak sedingin tadi pagi.