07 NOVEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Aku terbangun keesokan paginya dengan satu pikiran yang tidak bisa kutahan: kemarin itu benar-benar terjadi. Meja makan itu benar-benar terjadi. Orang tua Javar benar-benar ada, dan mereka benar-benar menyukaiku—atau setidaknya mereka berpura-pura menyukaiku dengan tingkat keterampilan berpura-pura yang sangat tinggi, dan aku memutuskan untuk mempercayai yang pertama.
Aku menghabiskan pagi itu di dapur dengan kopi dan ingatan—mengulang setiap detailnya satu per satu seperti orang yang memeriksa ulang mimpi untuk memastikan itu bukan mimpi. Tangan ibunya yang memegang tanganku lebih lama dari yang diperlukan. Surat-surat yang tidak pernah dikirim di laci mejanya. Ayahnya dengan surat kabar yang sudah dilipat rapi. Dan Javar yang berdiri di pintu dengan senyum yang tidak bisa disembunyikannya. Tidak ada yang seperti mimpi. Semuanya terasa seperti hal yang sudah lama tertunda yang akhirnya diizinkan untuk terjadi.
Javar mengantarku pulang semalam, dan di depan pagar rumahku, kami duduk di mobil lebih lama dari yang seharusnya—tidak berbicara banyak, hanya duduk, dengan radio yang pelan, dengan malam yang sudah sangat larut, dengan sesuatu yang sudah berubah di antara kami yang tidak perlu diucapkan untuk diketahui oleh kami berdua.
"Sampai jumpa," ucapnya akhirnya, saat aku membuka pintu mobil.
"Sampai jumpa," jawabku. Bukan "selamat malam", bukan "terima kasih", tapi "sampai jumpa"—kata-kata yang mengandung janji untuk bertemu lagi, kata-kata yang delapan tahun lalu tidak pernah sempat kami ucapkan sebelum perpisahan itu.
Aku menghabiskan hari Minggu itu dengan bekerja—pekerjaan kepala tim yang menunggu tanpa peduli pada hari Minggu—dan menahan diri untuk tidak terus memikirkan malam itu. Menahan diri dengan hasil yang bervariasi, kebanyakan gagal.
Di sela-sela laporan-laporan itu, aku membuka notebook dari Javar dan menulis—halaman-halaman yang sudah mulai terisi dengan kata-kata yang tidak akan kubacakan kepada siapa pun. Ada sesuatu yang menenangkan dari menulis di halaman-halaman yang diberikan oleh seseorang untuk ditulisi. Seperti surat kepada diriku sendiri yang tidak perlu dikirim, seperti pembicaraan yang tidak perlu dijawab, seperti berpikir dengan tangan.
Ratih meneleponku sore harinya dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak ada habisnya: apa yang dimasak ibunya? Apa yang dikatakan ayahnya? Apakah mereka bertanya tentang pernikahan? Apakah ada cincin? Apakah ada pembicaraan tentang tanggal? Apakah ada—"
"Ratih, ini makan malam, bukan lamaran kolektif seluruh Indonesia," potongku, dan aku bisa mendengar kekecewaannya melalui telepon.
"Tapi mereka suka padamu, kan? Itu yang paling penting. Kalau orang tua sudah suka, segalanya menjadi lebih mudah. Percayalah padaku, aku sudah menonton banyak drama."
"Hidupku bukan drama, Rat."
"Hidup semua orang adalah drama, Lovi. Kita hanya tidak pernah memilih judulnya sendiri," jawabnya dengan filosofi yang tidak kuminta, dan aku menutup teleponnya dengan tawa kecil, dan aku kembali ke laporan mingguanku dengan wajah yang tidak bisa berhenti tersenyum.
Bunda meneleponku malamnya, dan entah bagaimana Bunda selalu tahu—selalu, tanpa pernah kuberitahu, tanpa pernah ada tanda-tanda—kapan ada sesuatu yang berubah dalam hidupku. "Kau terdengar berbeda," ucapnya, sebelum aku bahkan sempat mengatakan apa-apa tentang apa pun.
"Aku tidak terdengar berbeda. Aku terdengar sama persis seperti biasanya."
"Tidak. Biasanya kau terdengar seperti orang yang sedang menahan sesuatu. Sekarang kau terdengar seperti orang yang sudah meletakkannya."
Aku diam sejenak di ujung telepon, dengan notebook Javar di pangkuanku, dengan minggu yang sudah berjalan terlalu cepat dan terlalu lambat sekaligus. "Aku makan malam dengan orang tuanya," kataku akhirnya. Tidak perlu menjelaskan siapa "dia"-nya. Bunda tahu. Bunda selalu tahu.
Hening sejenak di seberang sana—hening seorang ibu yang sedang memilih kata-katanya dengan hati-hati. "Dan bagaimana rasanya?"
"Seperti pulang ke rumah yang tidak pernah kutinggali," jawabku, dan aku terkejut dengan kejujuran yang keluar begitu saja dari mulutku. "Seperti tempat yang seharusnya sudah kukenal sejak lama, tapi baru diizinkan masuk sekarang."
"Kalau begitu jangan berdiri di pintu terlalu lama, Nak," ucap Bunda pelan. "Orang yang berdiri di pintu terlalu lama lupa bahwa dia sudah diundang masuk."
Kami menutup telepon tidak lama setelah itu, dan aku duduk di dapuku yang kecil dengan kalimat Bunda yang masih tinggal di kepalaku. Sudah diundang masuk. Bukan memaksa masuk, bukan mengintip dari jendela—diundang. Dan aku sudah menghabiskan delapan tahun berdiri di pintu, memeriksa undangan itu dari segala sudut, mencari jebakan yang tidak pernah ada.
Senin pagi, di kantor, ada sebuah kotak kecil di atas mejaku—kotak kado sederhana dengan pita, dengan sebuah kartu yang ditulis dengan tulisan tangan yang sudah sangat kukenal: "Untuk Kepala Tim yang baru. Dari seseorang yang sudah lama tahu dia bisa."
Aku memegang kotak itu sebentar sebelum membukanya, dan aku memperhatikan sekeliling kantor yang mulai ramai—para anggota timku yang berdatangan satu per satu, Ratih yang sudah di mejanya dengan kopi paginya, senior-senior yang mulai menyapa dengan anggukan yang sudah lebih hangat dari minggu lalu. Tidak ada yang memperhatikan kotak kecil itu selain aku, dan aku menyukainya seperti itu—hadiah kecil yang hanya untukku, di tengah-tengah hari yang sibuk.
Aku membuka kotak itu dan menemukan sebuah notebook kecil—bukan notebook biasa, tapi notebook dengan sampul kulit yang bagus, dengan halaman-halaman kosong yang menunggu untuk ditulisi. Dan di halaman pertama, dengan tulisan tangan yang sama: "Setiap bab baru butuh halaman yang baru. Selamat menulis. —J."
Aku memegang notebook itu lama sekali, di kantor yang mulai ramai, dengan orang-orang yang lewat dan melihatku dengan tatapan bertanya, dengan wajah yang sudah tidak bisa menyembunyikan apa pun lagi.
Aku membalik-balik halaman-halaman kosongnya dan mencoba menghitung berapa tahun yang bisa ditulisi di dalamnya. Satu tahun? Dua tahun? Lebih? Dan aku memikirkan bahwa Javar tidak memberiku notebook—dia memberiku waktu. Waktu untuk ditulisi, halaman demi halaman, tahun demi tahun, dengan orang yang sama yang memberinya. Dan itu adalah hadiah yang paling berat dari semua hadiah yang bisa diberikan seseorang kepada orang lain, dan hadiah itu datang dalam bentuk kulit yang sederhana dengan pita yang sederhana, di meja kerja yang biasa, di hari Senin yang biasa.
Ratih muncul di samping mejaku dengan kopinya dan membaca kartu itu tanpa permisi, seperti biasanya. "Dia mengirimkanmu notebook. Orang-orang tidak mengirimkan notebook, Lovi. Orang-orang mengirimkan bunga atau cokelat atau barang-barang yang habis dimakan. Notebook itu untuk ditulisi. Itu untuk masa depan. Itu—" dia berhenti dengan mata yang berbinar, "—itu adalah cara paling romantis yang pernah kulihat dalam hidupku."
"Dia hanya memberiku notebook, Rat."
"Dia memberimu halaman kosong untuk masa depan kalian berdua," jawabnya dengan wajah yang sangat serius, dan aku tidak bisa membantahnya, karena entah bagaimana, entah mengapa, kalimat itu masuk akal dengan cara yang tidak bisa kubantah.
Aku menyimpan notebook itu di tasku—bukan di laci, tapi di tasku, dekat denganku, setiap hari. Dan aku mulai menulisi halaman pertamanya malam itu juga, dengan kata-kata yang tidak akan kubacakan kepada siapa pun, dengan tulisan tangan yang lebih hati-hati dari biasanya: "Halaman satu, hari pertama. Untuk semua yang baru dimulai."