10 NOVEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Minggu kedua sebagai kepala tim membawa tantangan yang tidak pernah kupelajari di buku-buku: bagaimana mengatakan tidak kepada orang-orang yang lebih senior darimu tanpa kehilangan rasa hormat mereka.
Masalahnya adalah Pak Willy—senior yang sudah bekerja di perusahaan ini sejak sebelum aku masuk kuliah, yang sudah terbiasa dengan cara-cara lama, yang tidak menyukai konsep promosi baru kami. Konsep kami terlalu "kekinian", katanya. Terlalu banyak warna. Terlalu sedikit "martabat produk".
"Aku tidak mengatakan konsepmu salah," ucapnya di meeting, dengan nada yang mengatakan bahwa konsepku sangat salah. "Aku hanya mengatakan bahwa kita sudah bekerja dengan cara tertentu selama bertahun-tahun, dan cara itu bekerja. Perubahan yang terlalu cepat berbahaya."
Seisi ruangan meeting menatapku. Menunggu. Menunggu apakah gadis dua puluh tujuh tahun ini akan mundur atau maju.
Aku memikirkan Pak Bos yang menyemprotku di presentasi beberapa minggu lalu, dan aku memikirkan Mbak Inggrid yang mengajukan promosiku, dan aku memikirkan tangan-tangan yang sudah bekerja untuk konsep ini sampai kantung mata tidak bisa diselamatkan. Dan aku memutuskan bahwa mundur bukanlah hal yang akan kulakukan hari ini, atau hari-hari lainnya setelah ini.
Aku menarik napas dan tidak mundur. "Pak Willy, Anda benar bahwa cara lama bekerja. Tapi cara lama bekerja untuk pelanggan yang lama. Produk baru kami menyasar pelanggan yang baru—pelanggan yang tidak pernah membeli produk kita sebelumnya. Kita tidak bisa menjangkau mereka dengan cara yang sama yang sudah tidak pernah menjangkau mereka. Itu bukan perubahan yang terlalu cepat. Itu perubahan yang sudah terlambat."
Jeda sejenak. Dan kemudian—hal yang tidak kuduga—Pak Willy tersenyum. Bukan senyum yang sinis. Senyum yang sebenarnya. "Kau tidak takut menjawabku. Bagus. Aku tidak suka bekerja dengan bos yang takut menjawab."
Dan meeting itu berlanjut dengan Pak Willy yang tidak lagi menentang—bukan karena aku memaksanya setuju, tapi karena aku memberinya ruang untuk berbeda pendapat dan kemudian menunjukkan kepadanya bahwa pendapatnya didengar. Aku sudah belajar itu dari Pak Bos, yang sudah melakukannya kepadaku, yang sudah melakukannya dengan tangan kanan dan tangan kiri yang tidak pernah dicampur.
Siang itu, Javar mengirimkan pesan: "Makan siang? Aku di dekat kantormu. Ada tempat yang ingin kutunjukkan padamu."
Aku menatap pesan itu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku menjawab undangan makan siang tanpa berpikir dua kali: "Jam dua belas. Aku akan turun."
Ratih yang melihatku menyimpan ponsel dengan wajah yang sudah berubah berhenti dari pekerjaannya dan menatapku dengan ekspresi yang tidak salah tafsir. "Makan siang dengan Mas Javar?"
"Mungkin."
"Kau tersenyum saat mengetik jawabannya. Itu bukan 'mungkin'. Itu 'sudah pasti dengan bunga-bunga'."
Aku tidak menjawabnya, karena menjawabnya berarti mengakui bahwa dia benar, dan aku sudah lelah dengan orang-orang yang benar akhir-akhir ini. Mereka benar terlalu sering, dan itu mengganggu.
Tempat yang ingin ia tunjukkan adalah sebuah warung kecil di gang belakang yang sudah ada sejak bertahun-tahun—warung dengan tiga meja, dengan pemilik yang sudah tua, dengan soto yang katanya "tidak pernah berubah sejak kau terakhir ke sini".
Aku berhenti di pintunya dengan ingatan yang datang tanpa diundang. Warung ini. Warung tempat kami dulu makan bersama, delapan tahun yang lalu, di antara kuliah-kuliah dan demo-demo, dengan uang yang pas-pasan dan waktu yang tidak terbatas.
Pemilik warung itu—wanita tua yang sudah lebih tua dari ingatanku—menghentikan pekerjaannya sejenak saat melihat kami masuk, dan wajahnya berubah dengan cara yang sangat pelan, cara orang yang mengenali wajah-wajah yang sudah lama tidak dilihatnya. "Astaga," ucapnya, hanya itu, lalu kembali ke pekerjaannya dengan senyum kecil, seperti tidak pernah ada delapan tahun di antaranya.
"Kau ingat tempat ini," ucap Javar. Bukan pertanyaan.
"Aku ingat tempat ini," jawabku, dan suaraku lebih pelan dari yang kumaksudkan. "Meja pojok. Kau selalu memesan yang sama. Tidak pernah berubah."
"Aku masih memesan yang sama," jawabnya, dan ia memesan untuk kami berdua tanpa bertanya—pesanan yang sama seperti dulu, pesanan yang sudah tidak berubah selama delapan tahun—dan kami duduk di meja pojok itu, di warung kecil itu, di antara semua yang sudah berubah dan semua yang tidak pernah berubah.
"Jadi," ucapku, sambil menunggu pesanan kami datang, "katakan sesuatu tentang hidupmu yang tidak kuketahui. Delapan tahun itu terlalu panjang untuk diisi hanya dengan 'merawat ayah'."
Javar menimbang pertanyaanku sejenak, lalu tersenyum kecil. "Aku bekerja di perusahaan ayahku. Perusahaan kecil, distributor alat-alat pertanian—tidak glamor, tidak heroik, tidak ada hubungannya dengan mimpi-mimpi yang dulu kubicarakan di podium-podium demo. Tapi perusahaan itu membayar pengobatan ayahku, dan itu lebih penting dari podium mana pun."
"Kau menyesal?"
"Aku menyesal banyak hal," jawabnya jujur. "Tapi tidak itu. Kalau aku harus memilih lagi—antara mimpi-mimpiku dan ayahku—aku akan memilih ayahku lagi. Seribu kali lagi. Yang kusesali adalah caranya. Bahwa aku pikir memilih ayahku berarti harus kehilanganmu."
Pemilik warung datang membawa dua mangkuk soto dan meletakkannya di meja kami dengan senyum yang tahu banyak hal—senyum orang tua yang sudah melihat terlalu banyak pasangan duduk di meja pojok ini untuk tidak tahu apa yang sedang terjadi. "Sama seperti dulu," ucapnya kepada Javar, lalu menoleh kepadaku. "Dan kau masih yang sama juga. Masih cantik. Masih galak kalau sambalnya kurang."
Aku tertawa—tawa yang keluar sebelum sempat kutahan—dan wanita tua itu kembali ke dapurnya dengan puas, meninggalkan kami berdua dengan dua mangkuk soto dan delapan tahun yang terasa sedikit lebih pendek dari sebelumnya.
"Kau bercerita tentangku kepadanya?" tanyaku.
"Aku bercerita tentangmu kepada semua orang," jawab Javar, tanpa menyesal, tanpa malu, seperti mengakui hal yang paling biasa di dunia. "Kau adalah satu-satunya hal dari masa laluku yang layak diceritakan."
Soto itu datang dengan asap yang masih mengepul, dengan aroma yang sama persis seperti aroma yang kuhafal dari delapan tahun yang lalu. Aku meminumnya pelan-pelan, dan rasanya membuka sesuatu di dadaku dengan cara yang tidak bisa kujelaskan—sesuatu yang sudah lama kututup, sesuatu yang tidak akan terbuka dengan makanan yang lebih mewah, dengan restoran yang lebih bagus, dengan tempat yang lebih megah. Tempat ini tidak megah. Tempat ini hanya benar.
Dan makan siang itu—soto yang sederhana, warung yang kecil, dua orang yang sudah kehilangan delapan tahun—terasa seperti makanan terbaik yang pernah kumakan dalam hidupku. Bukan karena rasanya, meski rasanya juga sangat baik. Tapi karena siapa yang ada di seberang meja, dan siapa yang memesan pesanan yang sama seperti dulu, dan siapa yang tidak pernah berubah dalam hal-hal yang paling penting.