12 NOVEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Ada pertanyaan yang sudah kupendam selama delapan tahun—pertanyaan yang sudah kubawa kemana-mana, ke kota-kota lain, ke pekerjaan-pekerjaan lain, ke hubungan-hubungan lain yang tidak pernah berhasil karena pertanyaan itu tidak pernah terjawab. Pertanyaan yang tidak pernah kutanyakan keras-keras karena aku takut dengan jawabannya, dan lebih takut lagi dengan tidak adanya jawaban.
Malam itu, di mobil Javar dalam perjalanan pulang dari makan malam—bukan di rumah orang tuanya kali ini, hanya di sebuah restoran kecil yang kami pilih berdua tanpa berdebat—aku akhirnya menanyakannya.
Makan malam itu sendiri berjalan mudah—terlalu mudah, mungkin, untuk dua orang yang sudah menghabiskan delapan tahun tidak berbicara. Kami membicarakan hal-hal kecil: pekerjaanku yang baru, perusahaan ayahnya, Ratih yang menurutnya "masih persis sama, hanya lebih berbahaya karena sekarang punya gaji". Kami tertawa beberapa kali. Dan setiap kali aku tertawa, aku bisa merasakan pertanyaan itu naik sedikit demi sedikit ke permukaan, seperti sesuatu yang sudah terlalu lama ditenggelamkan dan akhirnya kehabisan tenaga untuk tetap di bawah.
Aku memperhatikannya sepanjang makan malam—cara ia memegang gelasnya, cara ia mendengarkan dengan seluruh wajahnya, cara ia beberapa kali hampir mengatakan sesuatu lalu menahannya. Javar sedang menunggu. Aku bisa melihatnya. Ia tahu pertanyaan itu akan datang, sudah tahu sejak awal, dan ia hanya menungguku siap. Dan entah bagaimana, kesabarannya itu yang membuatku akhirnya siap—bukan keberanian, bukan tekad, hanya kesadaran bahwa orang ini sudah menunggu delapan tahun dan tidak akan berhenti menunggu, dan satu-satunya yang tersisa untuk dilakukan adalah bertanya.
Sebelum malam itu, aku sudah menyiapkan pertanyaan itu dalam berbagai bentuk di kepalaku selama bertahun-tahun. Versi yang marah. Versi yang dingin. Versi yang tidak peduli. Versi yang terlalu peduli. Tidak ada satu pun yang terasa benar untuk diucapkan keras-keras, karena semuanya adalah pertanyaan yang sama yang dibungkus dengan cara yang berbeda: kenapa kau meninggalkanku? Kenapa kau membiarkanku bertanya-tanya selama delapan tahun? Kenapa kau tidak mempercayaiku untuk memilih sendiri?
"Kenapa kau pergi?" tanyaku, dan suaraku keluar lebih pelan dari yang kurencanakan. "Delapan tahun yang lalu. Kenapa kau pergi tanpa mengatakan apa-apa?"
Mobil itu hening untuk waktu yang lama. Radio yang biasanya bermain pelan terasa terlalu keras, dan Javar menurunkan volumenya tanpa menoleh, dan tangannya di setir menjadi lebih erat—bukan erat marah, melainkan erat orang yang sedang menahan sesuatu yang sudah lama disimpannya.
"Aku sudah menunggu pertanyaan itu," ucapnya akhirnya. "Sejak aku kembali. Aku tahu kau akan menanyakannya, dan aku sudah menyiapkan jawabannya berkali-kali, dan tidak ada satu pun yang terasa benar."
"Aku tidak butuh jawaban yang benar. Aku butuh jawaban yang jujur," jawabku.
Dia menghentikan mobilnya di sisi jalan yang sepi—bukan di depan rumahku, bukan di tempat yang ramai—dan dia mematikan mesinnya, dan dia menoleh kepadaku dengan wajah yang sudah lama tidak kulihat: wajah Javar yang tidak dijaga, wajah Javar yang sudah lelah menyimpan sesuatu terlalu lama.
Aku tidak mengatakan apa-apa. Aku tidak mendorongnya. Aku sudah belajar dari bertahun-tahun bahwa jawaban-jawaban yang paling penting tidak pernah datang dari orang yang didorong—mereka datang dari orang yang diberi ruang untuk berbicara dengan caranya sendiri, dalam waktunya sendiri. Javar sudah menunggu delapan tahun untuk ini. Aku bisa menunggu beberapa menit lagi.
"Ayahku sakit," ucapnya. "Delapan tahun yang lalu, ayahku didiagnosis sakit yang membutuhkan pengobatan panjang dan mahal. Ibuku memintaku untuk berhenti dari kampus, dari demo, dari segalanya—untuk pulang dan membantu keluarga. Dan aku tidak bisa mengatakannya kepadamu, Lovia, karena aku tahu kau. Aku tahu kau akan ikut berhenti juga untuk membantuku, dan aku tidak akan membiarkanmu mengorbankan mimpimu untuk masalah keluargaku."
Aku menatapnya, dan seluruh kemarahan delapan tahun itu—kemarahan yang sudah kubawa kemana-mana seperti barang bawaan—mulai berubah bentuknya menjadi sesuatu yang lain, sesuatu yang lebih rumit, sesuatu yang lebih menyakitkan karena tidak bisa disalahkan kepada siapa pun.
Aku memikirkan semua malam yang kuhancurkan karena kemarahan itu, semua hubungan yang tidak pernah berhasil karena aku selalu membandingkan mereka dengan hantu yang tidak pernah kumengerti, semua tahun yang sudah berjalan dengan langkah yang salah. Dan Javar, di seberang mobil ini, sudah menghabiskan tahun-tahun yang sama dengan merawat ayahnya yang sakit—sendirian, tanpa aku, tanpa penjelasan yang bisa kuberikan kepadanya juga. Kami berdua sudah berjuang dalam perang yang sama tanpa tahu bahwa kami berjuang dalam perang yang sama.
"Kau memutuskan untukku," ucapku, dan suaraku gemetar bukan karena marah—karena mengerti, dan mengerti itu lebih menyakitkan dari marah. "Kau memutuskan apa yang terbaik untukku, tanpa bertanya kepadaku, selama delapan tahun."
"Aku tahu," jawabnya. "Dan itu adalah kesalahan terbesar dalam hidupku. Aku seharusnya mengatakannya kepadamu. Aku seharusnya mempercayaimu untuk memilih sendiri. Tapi aku dua puluh tahun dan aku pikir melindungi orang yang kucintai berarti memutuskan untuknya. Aku salah. Aku sudah salah selama delapan tahun."
Kami duduk di mobil itu, di jalan yang sepi, dengan delapan tahun yang terbentang di antara kami seperti sungai yang sudah lama tidak bisa dilalui. Dan aku tidak memaafkannya—belum, tidak secepat itu—tapi aku mengertinya, dan mengerti adalah langkah pertama yang tidak pernah bisa kulangkah sebelumnya.
Dia tidak meminta maafku. Dia tidak meminta apa-apa. Dia hanya duduk di sana, dengan tangannya di setir yang sudah mati, dengan wajah yang sudah tidak dijaga, dengan delapan tahun yang akhirnya sudah terbuka di antara kami. Dan untuk pertama kalinya sejak aku mengenalnya—sejak aula kampus, sejak demo-demo, sejak semua yang sudah berlalu—aku melihat Javar Adiwangsa tanpa topengnya, tanpa pertahanannya, tanpa jawaban-jawaban yang sudah disiapkan. Hanya Javar. Hanya orang yang sudah salah dan tahu bahwa dia salah dan tidak meminta untuk dibenarkan.
"Bagaimana ayahmu sekarang?" tanyaku, akhirnya, dengan suara yang lebih lembut dari yang kukira akan bisa kulakukan.
"Baik," jawabnya, dan ada senyum kecil di sana—senyum yang lega, senyum orang yang sudah melewati badai yang paling besar. "Pengobatannya selesai dua tahun yang lalu. Dia baik-baik saja sekarang. Dia yang menyuruhku mencarimu kembali. Dia yang bilang bahwa ayah yang sehat tidak seharusnya menjadi alasan anaknya kehilangan orang yang dicintainya."
Dan aku menatap keluar jendela, ke jalan yang gelap, dan aku tidak menangis—aku tidak akan menangis di mobilnya, tidak malam ini—tapi ada sesuatu yang retak di dadaku dengan cara yang tidak sakit: retakan yang membuka, retakan yang membiarkan cahaya masuk ke tempat yang sudah delapan tahun gelap.
Javar menyalakan mesinnya kembali tanpa diminta, dan kami melanjutkan perjalanan dalam keheningan yang sudah berubah maknanya—bukan hening yang penuh dengan hal-hal yang tidak terucap, melainkan hening yang lega, hening dua orang yang akhirnya selesai dengan rahasia terakhir di antara mereka. Di depan pagar rumahku, ia tidak mengatakan apa-apa yang besar. Hanya, "Terima kasih sudah bertanya." Dan aku menjawab, "Terima kasih sudah menjawab." Dan itu cukup. Untuk malam ini, itu lebih dari cukup.