14 NOVEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Dua hari setelah Javar menceritakan tentang ayahnya, aku masih memikirkannya. Bukan dengan kemarahan—kemarahan itu sudah pergi ke tempat yang tidak bisa kujangkau lagi—melainkan dengan sesuatu yang lebih sulit: penyesalan. Penyesalan delapan tahun yang sudah berjalan dengan sepatu yang salah, dengan jawaban yang salah, dengan kemarahan yang diarahkan ke orang yang salah.
Aku menghabiskan dua hari itu dengan bekerja lebih keras dari biasanya—kebiasaan lama yang tidak pernah berubah, bekerja untuk tidak berpikir—dan Ratih membiarkannya tanpa bertanya, karena Ratih sudah belajar bahwa ada hari-hari ketika aku tidak ingin ditanya, dan hari-hari itu adalah hari-hari seperti ini.
Di malam-malam itu, aku membuka notebook dari Javar dan menulis—tapi tidak menulis apa-apa yang berguna. Hanya kata-kata yang berputar-putar, hanya kalimat-kalimat yang tidak selesai, hanya pertanyaan-pertanyaan yang sudah terjawab tapi masih terasa seperti pertanyaan. Menulis untuk tidak berpikir, sama seperti bekerja untuk tidak berpikir—dua cara yang sama untuk menghindari hal yang sama: duduk dengan apa yang baru saja kuketahui dan membiarkannya mengubah sesuatu.
Di kantor, Mbak Inggrid memergokiku menatap layar komputer tanpa membaca apa pun selama sepuluh menit penuh. Ia tidak mengatakan apa-apa pada saat itu—Mbak Inggrid tidak pernah mengatakan apa-apa pada saat itu. Ia hanya muncul di dekat mejaku menjelang pulang kantor, ketika ruangan sudah sepi, dan duduk di kursi sebelah tanpa diminta.
"Ada dua kemungkinan kenapa kepala timku menatap layar kosong sepuluh menit," ucapnya. "Kemungkinan pertama: pekerjaan. Kemungkinan kedua: laki-laki. Dan pekerjaan tidak pernah membuatmu menatap kosong, jadi—"
"Ini bukan urusan kantor, Mbak."
"Aku tidak bertanya sebagai atasanmu," jawabnya, dan nadanya berubah menjadi sesuatu yang lebih lembut. "Aku bertanya sebagai orang yang sudah melihatmu menahan sesuatu selama bertahun-tahun dan berharap kau akhirnya berhenti menahannya."
Maka aku menceritakannya—tidak semuanya, tapi cukup: pertanyaan delapan tahun, jawaban yang akhirnya datang, ayah yang sakit, alasan yang tidak jahat. Mbak Inggrid mendengarkan tanpa menyela, dengan kepala yang sesekali mengangguk kecil, seperti orang yang sedang mencocokkan potongan-potongan puzzle yang sudah lama ia duga bentuknya.
"Tahu apa yang paling sulit dari memaafkan?" ucapnya akhirnya. "Bukan memaafkan orangnya. Itu bagian yang mudah. Yang sulit adalah memaafkan dirimu sendiri karena sudah menghabiskan bertahun-tahun marah kepada orang yang salah dengan alasan yang salah. Kau akan sampai ke sana, Lovia. Satu per satu."
Aku tidak menjawab, tapi aku membawa kalimat itu pulang, dan kalimat itu menemani malam-malam berikutnya seperti lilin kecil di ruangan yang sudah lama gelap.
Tapi pada malam kedua, ia tidak membiarkannya lagi.
"Berhenti," ucapnya, mengambil pena dari tanganku dan meletakkannya di luar jangkauanku. "Kau sudah menulis laporan yang sama tiga kali, dan setiap kali dengan kesalahan yang sama. Kau sedang tidak bekerja. Kau sedang bersembunyi. Bersembunyi dari apa?"
"Aku tidak bersembunyi."
"Lovia."
Aku meletakkan tanganku di atas meja dan menatapnya. "Dia menceritakan kenapa dia pergi. Delapan tahun yang lalu. Ayahnya sakit, dan dia harus pulang, dan dia tidak mengatakannya kepadaku karena dia tidak ingin aku mengorbankan mimpiku."
Ratih duduk di sampingku dengan wajah yang berubah—wajah yang mengerti tanpa perlu dijelaskan lebih lanjut. "Oh. Oh, Lovi. Itu—itu bukan alasan yang jahat."
"Aku tahu. Itulah masalahnya," jawabku. "Kalau alasannya jahat, aku bisa membencinya dan selesai. Tapi alasannya tidak jahat. Alasannya adalah orang yang mencoba melindungi orang yang dicintainya dengan cara yang salah. Dan aku tidak tahu harus marah kepada siapa karena itu."
Ratih diam sejenak, dan aku membiarkannya diam, karena ada pertanyaan-pertanyaan yang tidak memiliki jawaban yang cepat, dan ini adalah salah satunya. Delapan tahun kami berdua menyimpan kesalahpahaman yang sama dari dua arah yang berbeda: aku dengan kemarahan, dia dengan penyesalan. Dan kami berdua sudah lelah menyimpannya, dan kami berdua tidak tahu cara meletakkannya.
Ratih diam sejenak, lalu berkata dengan pelan, "Kau tidak harus marah kepada siapa pun. Delapan tahun sudah berlalu, dan kalian berdua sudah membayar harganya. Sekarang tinggal memutuskan: apakah kau mau membayar harga yang sama untuk delapan tahun lagi, atau kau mau berhenti membayar."
Aku menatapnya, dan untuk sesaat, Ratih bukan Ratih yang bercanda—Ratih adalah sahabatku yang paling bijak, dan aku mencintainya untuk itu.
"Aku tidak tahu cara berhenti membayar," jawabku, dan itu adalah hal paling jujur yang sudah kukatakan dalam waktu yang lama.
"Kau mulai dengan berhenti menghitung," jawabnya. "Berhenti menghitung apa yang sudah hilang, dan mulai menghitung apa yang masih ada. Dia masih ada, Lovi. Setelah delapan tahun, dia masih ada, dan kau masih ada, dan kalian berdua masih duduk di meja yang sama. Itu bukan hal kecil. Itu hal yang sangat besar yang kau tidak boleh sia-siakan dengan menghitung harga yang sudah dibayar lunas."
Malam itu, di notebook dari Javar, aku menulis untuk pertama kalinya dengan tangan yang tidak gemetar: "Delapan tahun yang lalu, kami berpisah karena tidak ada yang berbicara. Delapan tahun kemudian, kami bertemu lagi karena seseorang akhirnya mau berbicara. Aku tidak tahu apa yang akan terjadi selanjutnya. Tapi aku tidak lagi takut untuk mencari tahunya."
Aku membaca ulang kalimat itu sebelum menutup notebooknya, dan aku membiarkan kalimat itu tinggal di kepalaku saat aku mematikan lampu—kalimat yang sudah kutulis dengan tangan yang tidak gemetar, yang berarti kalimat itu benar, yang berarti aku sudah sampai ke tempat yang sudah delapan tahun kucoba untuk sampai.
Dan untuk pertama kalinya, aku tidak memikirkan delapan tahun yang hilang. Aku memikirkan tahun-tahun yang masih di depan—tahun-tahun yang belum ditulisi, halaman-halaman yang masih kosong, hari-hari yang belum dijalani. Delapan tahun yang hilang tidak akan kembali, dan aku sudah berhenti menagihnya. Tapi tahun-tahun yang di depan masih milik kami, dan kali ini aku tidak akan membiarkan siapa pun—bahkan diriku sendiri—memutuskannya untukku.
Dan aku menutup notebook itu dengan perasaan yang lebih ringan dari yang kumiliki dalam delapan tahun, dan aku tidur malam itu tanpa lagu-lagu pengantar tidur, tanpa film yang diulang-ulang, tanpa cara-cara yang tidak munjur—hanya dengan tidur yang nyata, yang dalam, yang sudah lama tidak kukenal.
Keesokan paginya, aku mengirimkan pesan kepada Javar: "Aku sudah berhenti marah. Bukan karena aku sudah memaafkanmu sepenuhnya—belum. Tapi karena aku sudah mengerti, dan mengerti adalah awal yang lebih baik dari marah. Terima kasih sudah mengatakan yang sebenarnya."
Balasannya datang satu menit kemudian: "Dan aku berhenti menyesal. Bukan karena aku sudah tidak salah—aku tetap salah. Tapi karena kau masih di sini, setelah delapan tahun, dan itu adalah hal yang tidak pernah kuberani harapkan. Selamat pagi, Lovia."
Selamat pagi. Dua kata yang sederhana, dua kata yang sudah delapan tahun tidak pernah kudengar dari mulutnya di pagi hari, dua kata yang entah bagaimana terasa seperti seluruh masa depan dalam satu kalimat.