17 NOVEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Ada satu hal yang tidak pernah kuduga akan kurindukan dari hubungan yang sudah rusak: hari-hari biasa.
Bukan hari-hari besar—bukan meja makan dengan orang tua, bukan acara peluncuran, bukan pengakuan di mobil yang diparkir di jalan sepi. Tapi hari-hari biasa. Hari-hari ketika tidak ada yang terjadi, ketika tidak ada yang harus diputuskan, ketika hidup hanya berjalan seperti hidup seharusnya berjalan: dengan kopi, dengan pekerjaan, dengan orang yang ada di sana.
Aku tidak pernah tahu bahwa aku merindukannya sampai ia datang kembali. Delapan tahun aku hidup dengan hari-hari besar—pekerjaan besar, mimpi besar, kekosongan besar—dan aku tidak pernah menyadari bahwa yang hilang adalah hari-hari biasa. Hari-hari yang tidak berarti apa-apa sampai kau kehilangannya, dan kemudian kau menghabiskan bertahun-tahun mencoba untuk menggantikannya dengan hal-hal besar, dan hal-hal besar itu tidak pernah cukup.
Minggu itu, hari-hari biasa itu mulai datang kembali. Javar menjemputku untuk makan siang tanpa direncanakan—hanya "aku lewat, kau lapar?"—dan kami makan di warung kecil yang sama, di meja pojok yang sama, dengan pesanan yang sama yang tidak pernah berubah. Aku mulai menghafal lagi bagaimana rasanya memiliki seseorang yang tahu pesananmu tanpa bertanya, yang tahu bahwa kau tidak suka sambal terlalu banyak, yang tahu bahwa kau selalu minum es teh tanpa gula tapi tidak pernah mengakuinya.
Di kantor, hari-hari sebagai kepala tim mulai menemukan iramanya. Timku—timku, masih terasa aneh mengatakannya—mulai bekerja dengan cara yang tidak lagi membutuhkan pembuktian. Pak Willy sudah berhenti menentang setiap konsep dan mulai menentang hanya konsep-konsep yang memang perlu ditentang, dan aku sudah belajar untuk menghargai perbedaan itu. Senior-senior sudah berhenti menatapku dengan tatapan menimbang dan mulai menatapku dengan tatapan orang yang bekerja dengan bos mereka. Dan aku mulai berhenti membuktikan dan mulai memimpin.
Ratih, di sela-sela semuanya, menjalankan rencananya untuk Pak Bos dengan dedikasi yang harus kuakui mengagumkan. Dia sudah membuat perhitungan-perhitungan yang rumit tentang jadwal Pak Bos, sudah mengumpulkan informasi tentang hal-hal yang disukai dan tidak disukainya, sudah menyusun strategi-strategi yang lebih detail dari strategi perang.
"Pak Bos sudah menikah, Rat," ucapku kepadanya untuk kesekian kalinya.
"Aku sudah memeriksanya. Dia duda. Istrinya meninggal tiga tahun yang lalu," jawabnya dengan informasi yang seharusnya tidak ia miliki dan seharusnya tidak ia bagikan.
"Kau menyeramkan."
"Aku berdedikasi," koreksinya dengan bangga. "Ada bedanya. Tipis, tapi ada."
Aku tidak berkomentar lebih lanjut, karena ada hal-hal yang lebih baik tidak dikomentari, dan rencana cinta Ratih adalah salah satunya.
Rencana itu mendapat ujian pertamanya Kamis siang, ketika Pak Bos memanggil Ratih ke ruangannya—secara resmi, melalui sekretarisnya, dengan alasan resmi yang berkaitan dengan dokumen promosi. Ratih kembali dari ruangan itu dua puluh menit kemudian dengan wajah orang yang baru saja naik wahana terlalu cepat.
"Bagaimana?" tanyaku, pura-pura sibuk dengan laporanku.
"Dia memujiku," ucap Ratih, masih dengan wajah yang sama. "Dia bilang dokumenku rapi. Dia bilang 'kerja bagus, Ratih'. Dia menyebut namaku. Dengan suaranya. Namaku, dari suaranya."
"Ratih, dia bosmu. Menyebut nama karyawan adalah bagian dari pekerjaannya."
"Kau tidak mengerti," jawabnya, duduk di kursi sebelahku dengan gerakan yang terlalu dramatis untuk kantor. "Ada jeda sebelum dia menyebut namaku. Jeda kecil. Seperti dia menimbang namaku dulu di mulutnya. Orang tidak menimbang nama orang yang tidak berarti apa-apa baginya."
Aku menatapnya lama—sahabatku ini, yang bisa menghitung jeda sebelum namanya disebut, yang menyimpan jeda itu seperti benda berharga—dan aku tidak tahu harus tertawa atau khawatir. "Kau tahu ini bisa berakhir buruk, kan? Dia bos kita. Ada aturan tentang ini."
"Semua hal terbaik di dunia ini punya aturan yang melarangnya," jawab Ratih dengan filsafatnya yang khas. "Itulah kenapa hal-hal itu terasa seperti petualangan."
Dan aku memutuskan, sekali lagi, untuk tidak berkomentar—karena aku sudah menghabiskan delapan tahun berhati-hati dengan hatiku, dan lihat ke mana itu membawaku: ke delapan tahun yang hilang. Mungkin Ratih yang nekat itu tahu sesuatu yang tidak kuketahui. Mungkin jeda kecil sebelum nama memang berarti sesuatu. Aku tidak lagi cukup ahli dalam hal-hal seperti ini untuk menghakimi siapa pun.
Tapi malam itu, di rumah, aku memikirkannya lagi—Ratih dengan perhitungan-perhitungannya tentang Pak Bos, dengan jadwal-jadwal yang sudah ia hafal, dengan informasi tentang duda dan tiga tahun. Ada keberanian dalam kebodohan semacam itu, keberanian yang tidak pernah kumiliki dalam hal-hal yang menyangkut hati. Ratih mengejar apa yang ia inginkan dengan cara yang tidak tahu malu, dan aku menghabiskan delapan tahun berlari dari apa yang kuinginkan dengan cara yang sangat tahu malu. Mungkin kami berdua bisa belajar satu sama lain, kalau kami cukup jujur untuk mengakui bahwa kami berdua sama-sama tidak tahu apa-apa tentang cinta.
Sore itu, Javar mengantarku pulang, dan kami berhenti di toko bunga di pinggir jalan—bukan untuk membeli bunga, hanya untuk melihat, hanya untuk berdiri di sana bersama tanpa tujuan yang jelas, dengan bunga-bunga yang berwarna-warni dan udara yang berbau seperti musim semi.
Di tengah-tengah bunga-bunga itu, Javar tidak berbicara banyak. Dia tidak pernah menjadi orang yang berbicara banyak di tempat-tempat yang tidak membutuhkan banyak bicara—satu hal tentangnya yang selalu kusukai sejak dulu, yang tidak pernah berubah, yang masih ada setelah delapan tahun. Dia berdiri di sampingku dan membiarkan aku memilih dengan pelan-pelan, dan tidak ada yang terburu-buru, dan tidak ada yang harus diputuskan, dan tidak ada yang lebih baik dari itu.
"Untuk mejaku di kantor," ucapku, memilih sejambak kecil bunga aster putih. "Kepala tim harus memiliki meja yang tidak menyedihkan."
Javar membeli bunga-bunga itu untukku sebelum aku sempat membuka dompetku, dan aku tidak berdebat dengannya tentang itu—tidak lagi, tidak kali ini—dan dia menatapku dengan tatapan yang menunggu perdebatan yang tidak datang, dan dia tersenyum dengan cara yang mengatakan bahwa tidak berdebat itu berarti sesuatu baginya.
"Kau tidak menolak lagi," ucapnya di mobil.
"Aku berhenti menolak," jawabku, menatap bunga-bunga di pangkuanku. "Mbak Inggrid yang menyuruhku. Dia bilang aku selalu menolak hal-hal yang baik untukku, dan dia benar, dan itu menyebalkan, dan aku berhenti."
Dia tertawa—tawa yang penuh, tawa yang lepas, tawa orang yang sudah menunggu bertahun-tahun untuk mendengar kalimat itu—dan dia menyetir dengan tangan yang lebih ringan dari biasanya, dan aku duduk di sampingnya dengan bunga aster putih di pangkuanku, dengan hari yang biasa, dengan hidup yang biasa, dengan hati yang sudah tidak biasa lagi.
Dan untuk pertama kalinya dalam delapan tahun, biasa itu terasa seperti hal yang paling luar biasa dari semuanya.