21 NOVEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Hari Sabtu itu Javar datang menjemputku dengan rencana yang tidak ia jelaskan. "Pakai sepatu yang nyaman," ucapnya lewat telepon, hanya itu, dan aku yang sudah mengenalnya sejak lama tahu bahwa pertanyaan-pertanyaan tidak akan dijawab sampai kami sampai di tempat tujuan.
Tempat tujuannya ternyata kampus kami.
Aku berdiri di gerbangnya dengan perasaan yang sulit kujelaskan—seperti membuka album foto yang sudah lama tidak berani kubuka. Gerbang yang sama. Jalan masuk yang sama, dengan pohon-pohon yang sekarang lebih tinggi dari yang kuingat. Dan di kejauhan, aula tua itu masih berdiri, tempat Javar dulu berpidato dengan suara yang menggelegar, tempat aku dulu duduk di barisan belakang sambil pura-pura tidak memperhatikannya.
"Sudah berapa lama kau tidak ke sini?" tanya Javar.
"Delapan tahun," jawabku. "Aku selalu memutar lewat jalan belakang kalau kebetulan harus lewat sini."
"Dan sekarang?"
"Sekarang aku berdiri di sini dengan orang yang menjadi alasan aku memutar," jawabku, dan Javar tertawa—tawa yang memantul di gerbang tua itu seperti gema dari masa lalu.
Kami berjalan masuk seperti dua orang turis di kota yang pernah mereka tinggali. Banyak yang sudah berubah—kantinnya sudah direnovasi, ada gedung baru di sebelah lapangan, poster-poster organisasi mahasiswa yang dulu kami kenal sudah digantikan nama-nama yang tidak pernah kami dengar. Tapi banyak juga yang tidak berubah: bangku panjang di bawah pohon beringin tempat kami dulu makan siang, tangga berlantai dua belas menuju perpustakaan yang dulu selalu membuatku ngos-ngosan, dan aula tua itu, dengan pintu kayunya yang masih berderit dengan nada yang sama persis.
Kami duduk di bangku beringin itu, dan untuk beberapa saat kami hanya diam, membiarkan tempat itu bicara sendiri.
"Aku sering memikirkan tempat ini selama di rumah ayahku," ucap Javar akhirnya. "Bukan gedungnya. Tapi versi diriku yang ada di sini. Versi yang berdiri di podium dan percaya bisa mengubah sesuatu. Aku sering bertanya-tanya apakah orang itu masih ada, atau dia ikut pensiun bersama mimpi-mimpinya."
Aku menatapnya—Javar yang sekarang, dengan kemeja rapi dan pekerjaan distributor alat pertanian, duduk di bangku tempat Javar yang dulu merencanakan demo-demo—dan aku mendengar sesuatu di suaranya yang tidak pernah kudengar sebelumnya: kerinduan. Bukan kerinduan kepadaku, kali ini. Kerinduan kepada dirinya sendiri.
"Kau masih orang itu," jawabku. "Orang tidak berhenti menjadi dirinya hanya karena hidup menyuruhnya menunda."
"Tidak semua penundaan punya jalan kembali, Lovia."
"Tapi kau tidak pernah mencoba mencarinya," jawabku. "Bagaimana kau tahu tidak ada jalannya kalau kau tidak pernah mencoba?"
Ia tidak menjawab. Ia hanya menatap aula tua itu lama sekali, dengan wajah orang yang sedang menimbang sesuatu yang berat, dan aku membiarkannya diam karena aku tahu—dari pengalaman delapan tahun—bahwa jawaban-jawaban penting tidak pernah lahir dari orang yang dipaksa bicara.
Kami memberanikan diri masuk ke aula itu. Pintunya tidak dikunci—Sabtu sore, kampus sepi, dan seorang petugas kebersihan hanya melirik kami sebentar sebelum kembali ke pelnya, sudah terlalu lama bekerja di sini untuk heran pada alumni-alumni yang datang bernostalgia. Di dalam, panggungnya masih sama. Podium kayu itu masih berdiri di tengah, sedikit lebih kusam, sedikit lebih tua, tapi masih podium yang sama.
Javar berjalan ke arahnya seperti orang yang ditarik oleh sesuatu yang tidak kasat mata. Ia naik ke panggung, berdiri di belakang podium itu, dan meletakkan kedua tangannya di tepinya—persis seperti dulu, persis seperti delapan tahun yang lalu, seolah waktu melipat dirinya sendiri di titik itu.
"Saudara-saudari sekalian," ucapnya, pelan, ke arah kursi-kursi kosong, dan suaranya menggema di aula yang sunyi dengan cara yang membuat bulu kudukku berdiri. "Kalian semua sudah pulang. Tapi saya masih di sini."
"Jangan melamun di podium, Jav," seruku dari barisan belakang—barisanku yang dulu, tempatku dulu pura-pura tidak memperhatikannya. "Kalau mau pidato, pidato yang benar. Aku penontonmu yang paling setia, ingat? Aku berhak menuntut kualitas."
Ia menatapku dari atas panggung, dan untuk sesaat aku melihatnya—kilat kecil dari orang itu, orator yang dulu bisa membuat ratusan mahasiswa berdiri dan bertepuk tangan. Kilat itu hanya bertahan sebentar, tapi ia ada. Ia masih ada. Dan aku tahu Javar merasakannya juga, karena ia turun dari panggung dengan langkah yang berbeda dari langkahnya naik: lebih ringan, lebih pasti, seperti orang yang baru saja memeriksa rumah lamanya dan menemukan bahwa fondasinya masih kokoh.
"Kau tahu apa yang kupikirkan waktu berdiri di sana?" tanyanya saat kami keluar dari aula.
"Apa?"
"Bahwa panggung itu tidak pernah meninggalkanku. Akunya saja yang pergi," jawabnya. "Dan kalau aku bisa pergi, berarti aku bisa kembali. Pertanyaannya cuma satu: maukah aku?"
Pertanyaan itu menggantung di udara kampus yang mulai gelap, dan tidak satu pun dari kami berusaha menjawabnya. Ada pertanyaan-pertanyaan yang harus diendapkan dulu sebelum bisa dijawab, dan aku sudah belajar—dari delapan tahun yang mahal harganya—untuk tidak terburu-buru dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu.
Di perjalanan pulang, kami berhenti di toko es krim kecil dekat kampus yang—anehnya, ajaibnya—masih buka setelah delapan tahun. Pemiliknya sudah digantikan anaknya, tapi rasa es krimnya sama: terlalu manis, terlalu murah, terlalu sempurna. Kami makan es krim itu sambil berdiri di pinggir jalan seperti dua mahasiswa miskin yang dulu pernah kami jadikan, dan untuk satu sore, delapan tahun itu tidak terasa seperti jurang. Ia terasa seperti jalan memutar yang panjang—menyebalkan, melelahkan, tapi tetap berujung ke tempat yang sama.
"Kau tahu apa yang paling aneh dari hari ini?" tanya Javar saat ia mengantarku sampai depan pagar.
"Apa?"
"Aku takut ke sini. Sudah bertahun-tahun aku takut ke sini, karena kampus ini mengingatkanku pada semua yang kutinggalkan. Tapi ternyata, datang ke sini denganmu mengubahnya. Tempat ini tidak lagi terasa seperti makam mimpi-mimpiku. Ia terasa seperti... titik awal. Lagi."
Aku menatapnya di balik kemudi, dengan sisa es krim yang masih menempel di ujung sendoknya, dengan mata yang memandangku seperti memandang sesuatu yang berharga, dan aku merasakan sesuatu di dadaku yang sudah sangat kukenal sekarang—perasaan yang tidak bisa kujelaskan dengan kata-kata, perasaan yang tidak punya nama yang cukup besar untuk menampungnya.
Malam itu aku menulis di notebook-ku: "Hari ini kami kembali ke tempat semuanya dimulai. Dan untuk pertama kalinya, tempat itu tidak terasa seperti akhir dari sesuatu. Ia terasa seperti bab yang menunggu untuk dilanjutkan. Oleh kami berdua. Bersama-sama, kali ini."
Aku menutup notebook itu dan memikirkan Javar yang berdiri di podium tua itu, dan untuk pertama kalinya aku bertanya-tanya bukan tentang apa yang sudah hilang dari hidupnya—tapi tentang apa yang mungkin sedang menunggu untuk kembali. Dan aku tidak tahu bahwa jawabannya akan datang lebih cepat dari yang kami berdua duga.