07 DESEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Keputusan besar itu tidak diambil di tempat yang besar. Ia diambil di meja makan rumah kontrakanku yang kecil, di antara dua cangkir kopi, satu notebook yang terbuka, dan daftar pro-kontra yang ditulis dengan dua tangan—tangannya menulis pro, tanganku menulis kontra, karena kami sepakat bahwa keputusan yang hanya dilihat dari satu sisi bukanlah keputusan, melainkan pelarian.
Kolam kontranya pendek, tapi jujur: jarak empat jam. Gaji yayasan yang lebih kecil dari gaji perusahaan ayahnya. Minggu-minggu di lapangan yang tidak bisa diprediksi. Dan aku—pekerjaanku di sini, timku, karier yang baru saja kumulai dengan susah payah.
Kolom pronya lebih pendek lagi. Hanya satu baris, ditulis dengan tangan Javar yang gemetar sedikit di akhir kalimatnya: "Ini satu-satunya hal yang membuatku merasa hidup lagi, selain kau."
Aku membaca kalimat itu tiga kali. Kemudian aku mengambil penanya dan menambahkan satu baris di bawahnya dengan tulisanku sendiri: "Dan aku tidak akan pernah menjadi orang yang memintamu memilih antara aku dan hidupmu. Itu bukan cinta. Itu penyitaan."
Javar menatap tambahan itu lama sekali, dan kemudian ia meletakkan penanya, dan berkata, "Kalau begitu aku akan menelepon Wisnu besok."
Dan begitulah. Keputusan yang menentukan bentuk tahun-tahun kami berikutnya diambil dalam waktu satu jam empat puluh menit, dengan kopi yang habis dua kali diseduh ulang, tanpa air mata, tanpa drama—karena kami berdua sudah menghabiskan jatah drama kami di kehidupan yang sebelumnya.
Reaksi orang-orang di sekitar kami datang berturut-turut seperti episode yang sudah dijadwalkan. Ratih menjerit—tentu saja—lalu langsung menghitung: "Empat jam itu dua kali lipat perjalanan ke rumah nenekku. Kau bisa pulang setiap dua minggu. Atau kau yang ke sana. Atau kalian ketemu di tengah-tengah, di kota kecil yang romantis, dengan penginapan murah yang bersih—aku punya daftarnya, jangan tanya kenapa aku punya." Aku tidak bertanya. Ada hal-hal tentang Ratih yang lebih baik tetap menjadi misteri.
Mbak Inggrid hanya mengangguk ketika kuberitahu, dengan cara mengangguk orang yang sudah menduga dari jauh-jauh hari. "Orang yang tepat tidak menahanmu di tempat, dan tidak membiarkanmu menahannya," ucapnya. "Kalian berdua sudah belajar itu dengan cara yang mahal. Jangan lupakan lagi."
Bunda berkata, di ujung telepon, setelah hening yang panjang: "Laki-laki itu akhirnya memilih mimpinya. Bagus. Laki-laki yang mengubur mimpinya akan menagihnya kepadamu suatu hari nanti, Nak, dalam bentuk yang tidak kau kenali. Lebih baik dia pergi empat jam sekarang daripada dia tinggal selamanya dengan hati yang tidak ada di rumah." Kemudian, dengan nada yang lebih ringan: "Tapi bilang padanya, rendangnya tetap menunggu di sini, dan rendang tidak suka ditinggal lebih dari sebulan."
Dan orang tua Javar—ayahnya khususnya—memberikan restunya dengan cara yang paling tidak kuduga: dengan menceritakan bahwa dulu, sebelum menikah, ia juga pernah harus memilih antara perusahaan keluarga dan mimpi mengajar di pedalaman, dan ia memilih perusahaan, dan tidak pernah menyesalinya, tapi juga tidak pernah berhenti memikirkannya. "Aku memilih dengan benar untuk zamanku," katanya kepada Javar, di depanku, sambil melipat korannya dengan rapi seperti biasa. "Kau pilihlah dengan benar untuk zamanmu. Jangan pakai takutku sebagai kompasmu."
Telepon kepada Wisnu keesokan harinya adalah tontonan yang layak dibayar. Javar menempatkannya di speaker—atas izin Wisnu—dan dalam tiga menit pertama aku sudah mengerti kenapa mereka berdua dulu bisa menggerakkan kampus: dua orang itu berbicara seperti dua mesin yang sudah lama tidak dinyalakan bersama dan tiba-tiba menemukan kembali ritmenya. Angka-angka berterbangan. Nama-nama pos belajar berterbangan. Rencana lima tahun dirangkai dalam lima belas menit dengan kecepatan yang membuat kepalaku pusing.
"Dan Lovia," ucap Wisnu dari ujung telepon, tiba-tiba, "kau harus tahu satu hal. Dari semua orang yang kudekati untuk posisi ini, Javar satu-satunya yang bertanya dulu, 'Boleh kubicarakan dengan seseorang dulu?' Orang lain langsung bilang iya atau tidak. Dia bilang ada seseorang. Delapan tahun aku mengenalnya, dan baru kali ini ada 'seseorang' yang lebih dulu disebut sebelum yayasan. Kau pasti orang yang luar biasa, atau orang yang sangat berbahaya. Mungkin dua-duanya."
Aku tertawa, dan Javar berkata, "Dua-duanya, Wis. Dan kau akan bertemu dengannya. Kami berencana datang ke sana akhir bulan, sebelum aku memutuskan jadwal mulainya. Dia harus melihat tempatnya dulu. Itu bagian dari kesepakatan."
"Kesepakatan?"
"Keputusan bersama," jawab Javar, menatapku dari seberang meja. "Semua keputusan besar, mulai sekarang, bersama. Itu aturannya. Aturan satu-satunya."
Wisnu diam sebentar di seberang sana, lalu berkata dengan nada yang jauh lebih lembut dari nada pengeras suaranya, "Kau tahu, Jav, aku menawarimu pekerjaan ini karena kau orator terbaik yang pernah kukenal. Tapi sekarang aku tahu kau akan lebih baik dari yang kukira. Orang yang sudah belajar memutuskan bersama tidak akan pernah memimpin sendirian. Datanglah akhir bulan. Kalian berdua. Aku yang menjemput sendiri."
Setelah telepon itu ditutup, Javar duduk di seberangku dengan wajah yang sulit kubaca—wajah orang yang baru menandatangani sesuatu yang besar dan baru menyadari besarnya setelah tintanya kering.
"Aku takut," katanya jujur. "Bukan takut gagal. Takut pergi. Aku sudah pernah pergi sekali, dan harganya delapan tahun. Aku takut jarak itu akan melakukan hal yang sama lagi."
Aku mengambil tangannya dari atas meja—gerakan yang sudah menjadi lebih mudah bagiku setiap harinya. "Dengar baik-baik, karena aku hanya akan mengatakannya sekali. Delapan tahun yang lalu kau pergi tanpa rencana kembali, tanpa penjelasan, tanpa aku. Kali ini kau pergi dengan jadwal, dengan alasan yang kumengerti, dengan tiket pulang setiap dua minggu, dan dengan aku yang tahu persis ke mana kau pergi dan kenapa. Itu bukan perpisahan yang sama. Itu bahkan bukan perpisahan. Itu hanya jadwal kerja yang agak jauh."
"Kau menjadikannya terdengar sederhana."
"Karena memang sederhana. Manusianya saja yang suka mempersulit." Aku menekan tangannya pelan. "Dan kalau suatu hari jarak itu mulai terasa berat—untukmu atau untukku—kita bicarakan. Bukan dipendam. Bukan diputuskan sendiri-sendiri. Dibicarakan. Itu aturan satu-satunya, katamu tadi."
"Aturan satu-satunya," ulangnya, dan ia mengangkat tangan kami yang bertaut dan menahannya di sana sebentar, seperti orang menandatangani perjanjian dengan cara yang lebih tua dari tinta.
Malam itu, setelah ia pulang, aku membuka notebook-ku dan menulis: "Hari ini kami memutuskan hal besar dengan cara yang benar. Tidak ada yang berkorban diam-diam. Tidak ada yang memutuskan untuk yang lain. Dua orang, satu meja, satu keputusan. Delapan tahun yang lalu kami tidak tahu cara melakukan ini. Sekarang kami tahu. Dan mengetahui caranya ternyata setengah dari perjalanannya."
Setengahnya lagi, aku tahu, adalah menjalankannya—hari demi hari, jarak demi jarak, keputusan demi keputusan. Tapi untuk malam itu, setengah saja sudah cukup untuk membuatku tidur dengan tenang.