14 DESEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Gosip kantor punya kecepatan tempuh yang melanggar hukum fisika. Kejadian jam tujuh malam bisa tiba di meja semua orang jam delapan pagi keesokan harinya, lengkap dengan tambahan-tambahan yang tidak pernah terjadi dan detail-detail yang tidak pernah ada.
Maka ketika Pak Bos menjemput Ratih dari lobi untuk kedua kalinya dalam satu minggu—kali ini dengan alasan "survei tempat untuk acara akhir tahun", alasan yang tidak dipercaya satu jiwa pun di gedung ini—pantry kantor berubah menjadi pasar.
"Aku dengar mereka makan malam sampai restorannya tutup."
"Aku dengar Pak Bos memesan lagu untuknya."
"Aku dengar ini sudah lama, bertahun-tahun, kita saja yang tidak tahu."
Aku, sebagai orang yang tahu persis kronologinya, menikmati gosip-gosip itu seperti menonton sinetron yang salah semua alurnya tapi tetap menghibur. Tidak ada makan malam sampai tutup. Tidak ada lagu. Dan "bertahun-tahun" itu sebenarnya "dua minggu, satu makan malam, satu survei tempat". Tapi mengoreksi gosip kantor itu seperti mengoreksi ramalan cuaca: tidak ada yang berterima kasih, dan besoknya salah lagi.
Yang lebih menarik dari gosipnya adalah Ratihnya sendiri. Sahabatku itu berubah—bukan berubah besar, bukan berubah yang mencolok, tapi berubah di tempat-tempat kecil yang hanya bisa dilihat oleh orang yang sudah mengenalnya bertahun-tahun. Ia berhenti menghitung jeda sebelum namanya disebut, karena sekarang namanya disebut tanpa jeda. Ia berhenti menghafal jadwal Pak Bos, karena sekarang jadwal itu dikirimkan kepadanya—oleh sekretarisnya, secara resmi, "untuk koordinasi acara". Dan yang paling aneh: ia berhenti panik. Ratih yang dulu hampir kabur ke toilet selamanya itu sekarang berjalan ke mobil jemputan dengan langkah orang yang tahu ke mana ia pergi.
"Apa yang kalian bicarakan waktu survei tempat?" tanyaku, Selasa malam, di apartemennya, dengan dua gelas cokelat panas dan sesi curhat yang sudah menjadi ritual mingguan kami.
"Tempat acara. Lima belas menit pertama." Ia tersenyum ke cangkirnya. "Sisanya kita membicarakan istrinya."
Aku menunggu. Ratih yang ini—Ratih yang baru—selalu butuh ruang untuk melanjutkan, dan aku sudah belajar memberinya.
"Dia bercerita banyak, Lovi. Bagaimana mereka bertemu. Bagaimana istrinya bisa membuat sopir taksi bercerita tentang cucunya dalam satu perjalanan. Bagaimana tiga tahun ini dia datang ke kantor bukan karena ada pekerjaan, tapi karena di rumah tidak ada yang menunggu." Ratih memutar cangkirnya pelan. "Dan aku tidak cemburu. Itu yang aneh. Aku pikir aku akan cemburu—kau tahu, bersaing dengan mendiang itu kan tidak mungkin, bagaimana caranya menang melawan kenangan. Tapi waktu dia bercerita, yang kurasakan bukan cemburu. Yang kurasakan adalah... dia sedang menitipkan sesuatu yang berharga ke tanganku. Cerita itu. Dan tugasku bukan menggantikan cerita itu. Tugasku cuma membuktikan bahwa tanganku cukup aman untuk memegangnya."
Aku menatap sahabatku lama sekali. "Ratih Ningrum. Siapa kau dan apa yang kaulakukan terhadap Ratih yang kutahu?"
"Aku tahu, kan." Ia tertawa, tapi matanya serius. "Aku sendiri tidak mengenali suaraku akhir-akhir ini. Jatuh cinta itu ternyata bukan seperti di drama, Lovi. Tidak ada musik latar. Yang ada cuma kau mendengarkan seseorang dan tiba-tiba sadar bahwa kau lebih suka mendengarkannya daripada membicarakan dirimu sendiri. Dan aku—Ratih—lebih suka mendengar daripada bicara. Kalau itu bukan cinta, aku tidak tahu lagi namanya apa."
Rabu siangnya, terjadi peristiwa yang membuat seisi lantai menahan napas: Pak Bos muncul di lantai kami—lantai operasional, tempat ia hampir tidak pernah turun—dan berjalan langsung ke mejaku. Bukan ke meja Ratih. Ke mejaku. Aku bisa merasakan tiga puluh pasang mata menempel di punggungku seperti stiker.
"Lovia. Sebentar." Ia berdiri di samping mejaku dengan postur orang yang terbiasa memimpin rapat direksi, lalu—dan ini akan kusimpan selamanya dalam ingatan—ia tampak ragu. Pak Bos. Ragu. Seperti orang yang lupa kata sandinya sendiri. "Kau... dekat dengan Ratih."
"Sahabat sejak kuliah, Pak."
"Bagus. Bagus." Ia mengangguk dua kali, berlebihan untuk ukurannya. "Makanan apa yang dia suka? Yang benar-benar dia suka, bukan yang dia pesan supaya kelihatan sopan. Aku perhatikan dia selalu memesan yang paling aman di restoran, dan aku curiga itu bukan kesukaannya, itu kebiasaan orang yang tidak mau merepotkan."
Aku menatap bos besar kami—orang yang menandatangani anggaran jutaan tanpa kedip—berdiri di lantai operasional menanyakan makanan kesukaan bawahannya dengan wajah orang yang sedang membongkar mesin yang tidak ia mengerti.
"Ayam geprek, Pak. Level lima belas. Dia akan bilang level tiga kalau ada orang lain, tapi level lima belas itu kesukaannya yang sebenarnya. Dan dia benci kue kering yang keras di ruang meeting—dia cuma memakannya karena sungkan."
Pak Bos mencatatnya. Benar-benar mencatatnya, di buku saku kulitnya, dengan serius seperti mencatat hasil audit. Kemudian ia menutup bukunya, berdehem, dan berkata dengan nada resmi yang dipaksakan: "Untuk keperluan... konsumsi acara kantor." Lalu berjalan pergi dengan langkah cepat orang yang tahu sedang diperhatikan seisi lantai.
Ratih muncul di sampingku sepuluh detik kemudian. "Apa yang dia tanyakan?"
"Konsumsi acara kantor," jawabku, dan kami berdua tahu itu bohong, dan kami berdua tidak membongkarnya, karena ada kebohongan-kebohongan kecil yang lebih baik dibiarkan hidup—terutama kebohongan yang ditulis dengan tinta di buku saku kulit oleh orang yang sudah tiga tahun tidak punya alasan untuk mencatat apa-apa tentang siapa pun.
Tapi kebahagiaan di kantor selalu ada pengawalnya, dan pengawal kali ini adalah kenyataan. Kamisnya, Mbak Inggrid memanggilku ke ruangannya—bukan untuk urusan pekerjaan, dan ia tidak membuang waktu.
"Kau tahu tentang Ratih dan Pak Bos," ucapnya. Bukan pertanyaan.
"Aku tahu, Mbak."
"Aku tidak akan melarang. Pak Bos berhak bahagia, dan Ratih—" ia berhenti, tersenyum kecil, "—Ratih adalah hal terbaik yang terjadi di kantor ini sejak mesin kopi baru. Tapi kau kepala timnya, dan aku atasanmu, jadi dengarkan baik-baik: selama ini masih dua orang yang saling mengenal, itu urusan mereka. Begitu ini menjadi hubungan resmi, ada aturan perusahaan tentang hubungan antara atasan dan bawahan langsung. Ratih tidak di bawah langsung Pak Bos, jadi jalannya ada, tapi tetap harus dilaporkan. Bukan untuk dihukum—untuk dilindungi. Supaya tidak ada yang bisa menuduh apa pun, kepada siapa pun, kapan pun. Kau mengerti maksudku?"
Aku mengerti. Kantor itu tempat yang hangat, tapi dindingnya punya telinga, dan Mbak Inggrid sudah cukup lama di sini untuk tahu bahwa kebahagiaan yang tidak dilindungi aturan adalah kebahagiaan yang bisa dirusak oleh satu kalimat di pantry.
Malamnya kusampaikan semuanya kepada Ratih, persis seperti disampaikan Mbak Inggrid, dan Ratih mendengarkannya dengan serius—lalu tertawa kecil.
"Lihat kita sekarang, Lovi. Setahun yang lalu kau menolak semua hal baik dan aku menghitung jeda nama orang. Sekarang kau yang bilang 'mau, resmi, dengan kata-kata' di lampu merah, dan aku yang diingatkan aturan perusahaan oleh Mbak Inggrid." Ia mengangkat cangkirnya seperti bersulang. "Kita tumbuh dewasa. Menyedihkan sekali. Jangan sampai orang tahu."
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Cinta di kantor itu seperti tanaman di pantry—semua orang melihatnya, semua orang membicarakannya, tapi yang membuatnya hidup bukan gosipnya. Yang membuatnya hidup adalah dua orang yang memutuskan untuk menyiraminya, diam-diam, setiap hari, tanpa butuh penonton."