21 DESEMBER 2020
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Perjalanan empat jam itu ternyata tidak terasa empat jam. Atau mungkin terasa, tapi dengan cara yang berbeda—empat jam yang diisi dengan lagu-lagu yang kami nyanyikan dengan fals tanpa penyesalan, dengan perdebatan tentang mana rest area terbaik di sepanjang tol (kami sepakat tidak ada yang sepakat), dengan cerita-cerita yang entah kenapa hanya keluar kalau diceritakan di dalam mobil yang bergerak.
Kota tujuan kami lebih kecil dari yang kubayangkan—kota yang tenang, dengan satu jalan utama, dengan pegunungan yang mengintip dari balik atap-atap rumah. Wisnu menjemput kami di depan kantor yayasan yang bukan kantor dalam bayanganku: sebuah rumah tua berhalaman luas yang dicat ulang dengan warna-warni cerah, dengan papan nama "Titik Terang" yang hurufnya dicat tangan, dengan anak-anak yang berlarian di halamannya seperti rumah itu memang milik mereka—dan aku langsung mengerti bahwa memang itulah maksudnya.
Wisnu persis seperti yang kuingat, hanya dengan lebih banyak uban dan lebih sedikit pengeras suara. Ia menyambut Javar dengan pelukan yang mengangkatnya sedikit dari tanah, dan menyambutku dengan jabatan tangan dan tatapan menilai yang hanya berlangsung dua detik sebelum ia menyatakan hasilnya: "Kau yang membuatnya bilang 'ada seseorang'. Bagus. Aku sudah muak menjodoh-jodohkannya dengan relawan-relawan. Empat tahun, nol keberhasilan. Rekor yang memalukan."
"Wis," protes Javar.
"Apa? Ini data lapangan. Kami yayasan yang berbasis data."
Ia membawa kami berkeliling—ke ruang belajar yang dipenuhi rak buku sumbangan, ke dapur umum tempat relawan memasak makan siang anak-anak, ke dinding yang dipenuhi foto-foto: anak-anak dengan seragam tambal sulam, relawan-relawan muda dengan wajah terbakar matahari, dan di tengah-tengahnya, sebuah papan besar bertuliskan angka-angka—berapa anak yang sudah bisa membaca, berapa yang melanjutkan ke SMP, berapa yang tahun ini masuk SMA.
"Sembilan pos belajar di delapan desa," jelas Wisnu. "Dua ratus relawan, kebanyakan anak-anak muda lokal yang kami latih sendiri. Masalahnya satu: kami tumbuh lebih cepat dari kemampuan kami mengatur diri. Aku orang lapangan, Jav. Aku bisa membujuk satu desa, tapi aku tidak bisa membangun sistem. Kau bisa. Dulu kau yang membuat organisasi mahasiswa berjalan seperti orkestra—aku cuma pengeras suaranya, kau yang menulis partiturnya."
Dan kemudian kami pergi ke salah satu pos belajar—tiga puluh menit dengan mobil melewati jalan yang semakin lama semakin tidak layak disebut jalan—dan di sanalah, di sebuah gubuk beratap seng dengan dinding papan yang separuhnya poster huruf, aku melihat hal yang membuat semua keraguanku tentang keputusan ini menguap seperti embun jam sembilan pagi.
Javar masuk ke gubuk itu dan disambut dua puluh anak yang tidak mengenalnya dengan tatapan penasaran, dan dalam lima menit—lima menit—ia sudah duduk di lantai bersama mereka, bercerita tentang sebuah negeri tempat huruf-huruf hidup dan berkelana, dan dua puluh anak itu duduk tidak bergerak dengan mata yang tidak berkedip, dan di pintu gubuk itu aku berdiri di samping Wisnu yang berkata pelan, tanpa menoleh: "Itu. Itu yang empat tahun ini kucari. Orang yang bisa membuat anak-anak lupa bahwa mereka sedang belajar."
Aku tidak menjawab. Aku tidak bisa. Tenggorokanku dipenuhi sesuatu yang besar dan tidak bernama—melihat Javar di lantai gubuk itu, dengan debu di celananya dan huruf-huruf hidup di tangannya, adalah melihat sebuah kunci masuk ke lubangnya dengan bunyi klik yang hanya bisa didengar oleh orang yang sudah lama menunggu di depan pintunya.
Saat cerita selesai dan anak-anak bubar bermain, seorang anak perempuan kecil—mungkin tujuh tahun, dengan pita merah yang sudah pudar warnanya—menarik ujung bajuku dan bertanya dengan bisikan yang dibuat keras supaya terdengar percaya diri: "Kakak itu temannya Kak Javar?"
"Iya, Nak. Kenapa?"
"Kak Javar akan tinggal di sini? Kata Kak Wisnu ada kakak baru yang akan mengajar kami."
"Kemungkinan besar, iya."
Anak itu menimbang jawabanku dengan serius yang jauh melebihi umurnya, lalu berkata, "Kalau Kak Javar tinggal di sini, Kakak akan sedih karena ditinggal. Ibuku bilang orang yang ditinggal itu sedih." Dan sebelum aku sempat menjawab, ia menambahkan, dengan logika anak-anak yang tidak bisa dibantah siapa pun: "Jadi Kakak harus sering-sering ke sini, supaya tidak sedih. Di sini tidak apa-apa. Kami tidak gigit."
Aku tertawa—dan menangis sedikit, dua-duanya, dalam waktu yang sama, di depan gubuk beratap seng itu—dan anak perempuan itu menatapku dengan bingung sebelum akhirnya ikut tertawa karena tertawa itu menular dan anak-anak tidak perlu alasan. Javar menoleh dari kejauhan, dari tengah kerumunan anak-anak yang berebut menunjukkan gambar mereka, dan mata kami bertemu, dan ia tidak bertanya kenapa wajahku basah—ia hanya tersenyum, seolah sudah tahu, seolah di kepalanya ia juga sedang dicengkeram oleh tangan kecil yang sama di ujung bajunya.
Di perjalanan pulang ke kota, hari sudah gelap, dan Javar menyetir dengan diam yang tidak biasa—bukan diam yang berat, melainkan diam orang yang sedang memproses sesuatu yang terlalu besar untuk diucapkan.
"Aku melihat masa depanku hari ini," katanya akhirnya, di lampu merah satu-satunya di kota kecil itu. "Dan yang menakutkan adalah, aku tidak takut. Empat tahun aku pikir mimpi itu sudah mati, dan ternyata dia cuma pindah alamat dan menungguku menemukannya lagi. Tapi—" ia menoleh kepadaku, "—aku juga melihat sesuatu yang lain hari ini. Aku melihat kau berdiri di pintu gubuk itu, dan aku berpikir: aku tidak mau membangun semua ini dan pulang ke rumah yang kosong. Aku sudah pernah memilih satu dan kehilangan yang lain. Aku tidak mau mengulanginya. Jadi sekarang aku bertanya dengan resmi, dengan kata-kata, seperti aturan kita: bagaimana perasaanmu setelah melihat semua ini? Jujur. Aku butuh yang jujur."
Aku memikirkannya sungguh-sungguh, di mobil yang berhenti di lampu merah kecil itu, di kota asing yang akan menjadi bagian dari hidupku entah dengan cara apa. "Jujur? Aku takut jaraknya. Aku akan selalu takut jaraknya, itu bawaan pabrik, tidak bisa di-return. Tapi hari ini aku melihat kau di lantai gubuk itu, dan aku mengerti satu hal: memintamu tidak ke sini sama saja dengan memintamu tidak bernapas. Dan aku tidak jatuh cinta kepada orang yang berhenti bernapas." Aku berhenti sebentar. "Tapi aku punya syarat."
"Sebutkan."
"Aku ikut kalau kau ke pos-pos itu. Tidak selalu, tapi sesering yang aku bisa. Aku mau kenal anak-anak itu, mau kenal relawannya, mau tahu nama-nama desanya. Kalau kau mau membangun hidup di sini, aku tidak mau menjadi orang yang menunggu di rumah tanpa tahu apa-apa tentang hidup yang sedang kaubangun. Aku mau jadi bagian dari peta itu, bukan cuma titik di luar pinggirnya."
Javar menatapku lama—lampu merah itu sudah berganti hijau dua kali, dan di kota kecil itu tidak ada satu pun mobil yang membunyikan klakson—dan kemudian ia berkata, dengan suara yang lebih bergetar dari yang pernah kudengar di podium mana pun: "Kesepakatan. Ditandatangani malam ini juga, di warung soto pertama yang kita temukan, karena tradisi harus dijaga bahkan di kota orang."
Dan kami menemukan warung soto itu, dan sotonya tidak seenak warung kami—tidak akan pernah ada yang seenak warung kami—tapi malam itu rasanya seperti soto terbaik di dunia, karena ditandatangani di atasnya adalah peta masa depan yang baru: dua kota, satu keputusan, nol rahasia.