11 JANUARI 2021
DIANDRA LOVIA SARADIKA
_______________________________
Aku ingin mengatakan bahwa hubungan kami berjalan mulus tanpa hambatan setelah malam tahun baru itu. Aku ingin, tapi notebook ini bukan tempat berbohong, dan kebenarannya adalah: minggu kedua Januari, kami bertengkar untuk pertama kalinya.
Bukan bertengkar besar. Tidak ada teriakan, tidak ada pintu yang dibanting, tidak ada kata-kata yang tidak bisa ditarik kembali. Tapi bertengkar tetap bertengkar, dan pertengkaran pertama selalu terasa seperti gempa pertama di rumah yang baru selesai dibangun—bukan besarnya yang menakutkan, tapi pertanyaannya: apakah fondasinya akan tahan?
Semuanya dimulai dari hal yang kecil, seperti biasanya. Transisi di perusahaan ayah Javar ternyata lebih rumit dari perkiraan—ada dua klien besar yang harus dialihkan dengan hati-hati, ada orang yang harus dilatih untuk menggantikannya, ada rapat-rapat yang memakan malam. Dan rencana makan malam kami hari Sabtu—rencana yang sudah kami buat sejak Senin, di restoran yang sudah kupesan mejanya—dibatalkan lewat pesan singkat, tiga jam sebelum waktunya: "Maaf. Klien dari Surabaya tiba-tiba minta ketemu malam ini. Aku tidak bisa menolak. Besok aku ganti, janji."
Aku menatap pesan itu di layar ponselku, di meja kerjaku, di akhir minggu yang panjang, dan sesuatu di dadaku—sesuatu yang sudah lama tidur, sesuatu yang kukira sudah mati—membuka matanya.
Suara kecil itu berbisik: ini dia lagi. Ini awalnya. Dulu juga dimulai dari pembatalan-pembatalan kecil.
Dan bagian terburuknya adalah: aku tahu suara itu tidak benar. Secara logika, aku tahu pembatalan ini wajar, bahwa transisi memang berat, bahwa klien dari Surabaya tidak bisa disuruh menunggu. Tapi luka lama tidak berbahasa logika. Luka lama berbahasa takut, dan takut itu—setelah delapan tahun dilatih—sangat, sangat fasih.
Aku tidak membalas pesannya. Bukan karena sengaja menghukumnya—atau mungkin iya, sedikit, kalau aku jujur—tapi karena aku tidak tahu harus membalas apa tanpa membalas dengan kemarahan yang bukan milik hari ini, melainkan milik delapan tahun yang lalu. Dan membalas dengan kemarahan pinjaman itu tidak adil, dan aku tahu itu, dan tidak tahu apa yang harus kulakukan dengan pengetahuan itu.
Jadi aku melakukan kesalahan klasik: aku diam. Diam yang dulu. Diam yang kuhafal.
Minggu pagi Javar datang ke rumah kontrakanku. Bukan menelepon dulu, bukan mengabari—datang, dengan wajah orang yang tidak tidur, dengan dua gelas kopi dari kedai yang kami suka, dan dengan kalimat pembuka yang langsung menusuk ke intinya: "Kau tidak membalas pesanku sejak kemarin. Dan kau bukan orang yang tidak membalas pesan. Jadi aku datang, karena diam kita yang dulu menghabiskan delapan tahun, dan aku tidak akan membiarkan diam itu masuk ke rumah lagi."
Aku membukakan pintu dan membiarkannya masuk, dan kami duduk berhadapan dengan dua kopi yang mendingin, dan—karena aturannya adalah keluar lewat mulut, bukan lewat pintu—aku mengatakannya. Semuanya. Tentang suara kecil yang bangun lagi. Tentang pembatalan yang terasa seperti deja vu. Tentang ketakutan yang aku tahu tidak logis tapi tidak bisa kumatikan, karena ketakutan itu dilatih selama delapan tahun dan tidak akan pensiun dalam delapan minggu.
"Aku tahu kau bukan Javar yang dulu," kataku, dan suaraku lebih bergetar dari yang kumau. "Aku tahu pembatalan ini bukan kepergian. Tapi ada bagian dari diriku yang tidak bisa membedakannya, dan bagian itu lebih keras suaranya dari bagian yang waras, dan aku benci itu. Aku benci bahwa aku masih bisa takut padamu."
Javar mendengarkan semuanya tanpa menyela—tangannya di sekitar gelas kopi, matanya tidak pernah lepas dari wajahku—dan ketika aku selesai, ia tidak membela diri. Tidak menjelaskan kliennya, tidak menjelaskan Surabayanya. Ia berkata:
"Kau benar takut. Dan aku salah, tapi bukan salah karena membatalkan—membatalkan itu kadang tidak bisa dihindari. Aku salah karena membatalkan lewat pesan singkat tiga jam sebelumnya, tanpa menelepon, tanpa menjelaskan, seolah kau orang yang bisa diberi kabar lewat dua kalimat. Dulu aku menghilang tanpa kabar. Kemarin aku membatalkan dengan kabar yang terlalu sedikit. Bedanya cuma derajat, dan luka lamamu tidak bisa membaca derajat—dia cuma membaca 'ditinggal' dan 'tidak ditinggal'. Aku seharusnya menelepon. Bukan mengirim pesan. Aku seharusnya memberimu suaraku, bukan teks."
Aku menatapnya. Itu bukan pembelaan diri. Itu sesuatu yang lebih langka: orang yang mengerti persis di mana letak lukanya, bukan di mana letak benarnya.
"Jadi," lanjutnya, "usulku: aturan baru. Kalau salah satu dari kita harus membatalkan sesuatu, wajib lewat telepon. Bukan pesan. Suara. Dan yang dibatalkan berhak marah selama sepuluh menit tanpa dianggap berlebihan, karena marah itu bukan tentang besar kecilnya pembatalan, tapi tentang harga yang sudah pernah kita bayar untuk hal-hal yang kelihatannya kecil."
"Sepuluh menit?" Aku tertawa kecil di tengah mata yang panas. "Kau menghitung waktu marah?"
"Aku orang sistem, Lovia. Kau tahu itu. Aku tidak bisa mengatur perasaanmu, tapi aku bisa memastikan perasaanmu selalu punya tempat duduk di meja." Ia meraih tanganku di atas meja. "Dan yang paling penting: terima kasih sudah mengatakannya. Keluar lewat mulut. Persis seperti aturannya. Kau tahu betapa besarnya itu? Delapan tahun yang lalu, kau akan diam. Dan aku akan diam. Dan diam itu akan menang lagi. Tadi malam aku tidak bisa tidur memikirkan pesanmu yang tidak terbalas, dan aku sadar: aku lebih takut diam daripada takut bertengkar. Itu kemajuan, kan? Untuk dua orang yang dulu kalah perang melawan diam?"
"Itu kemajuan," jawabku, dan membalas genggaman tangannya. "Tapi lain kali, kalau aku mulai diam—jangan tunggu semalaman. Datang lebih cepat."
"Deal. Dan kau, lain kali, kalau aku mulai bodoh—telepon aku dan katakan 'kau bodoh' sebelum diam itu sempat duduk."
"Kau bodoh," kataku, langsung.
"Nah." Ia tersenyum untuk pertama kalinya pagi itu. "Cepat sekali belajarnya. Aku bangga."
Kami menghabiskan Minggu itu di rumah kontrakanku—tidak jadi ke restoran yang sudah kupesan, tidak jadi ke mana-mana—hanya memasak mie instan dengan telur di dapur kecilku dan menonton film yang tidak selesai karena kami terlalu banyak bicara. Dan entah bagaimana, Minggu yang dibatalkan itu menjadi salah satu Minggu terbaik yang pernah kami punya, karena kami melewatinya dengan cara yang dulu tidak kami kuasai: rusak sedikit, diperbaiki langsung, tanpa menunggu delapan tahun.
Di notebook-ku malam itu kutulis: "Fondasi rumah itu tahan. Gempa pertama datang, dan rumahnya tidak runtuh—karena kali ini kami memperbaikinya bersama, hari itu juga, dengan aturan yang kami tulis sendiri: keluar lewat mulut, bukan lewat pintu."
Dan di bawahnya, sebelum menutup halaman, kutambahkan satu baris lagi—baris yang kutulis sambil tersenyum mengingat wajah lelahnya di depan pintu pagi tadi: "Dia datang. Itu bedanya dengan delapan tahun yang lalu. Dulu dia pergi tanpa pamit. Sekarang, bahkan untuk pertengkaran kecil, dia datang dengan dua gelas kopi dan tidak tidur semalaman. Aku akan menyimpan orang ini baik-baik."